
Dengan kesepakatan Rai membiarkan Ken pergi bersama Sani sedangkan dirinya menyebutkan akan menyusul.
Raut wajah Rai saat itu langsung berubah ketika Sani dan Ken dipastikan sudah pergi.
Ada tujuan lain yang menantinya di sana. Rai sebenarnya tidak bisa tenang karena dia belum kembali memastikan Hyerin apakah dia sudah sadar atau keadaannya masih sama.
Rai terburu-buru menyiapkan diri seperti menarik napas, memperbaiki penampilannya, dan meyakinkan kembali untuk bertemu dengan Hyerin.
"Kita akan bertemu lagi." Ucap Rai pada dirinya sendiri. Dia langsung hilang dari pandangan dan tujuannya tak lain hanya untuk menemui Hyerin.
Sedangkan Sani dan Ken pergi ke tempat lain tanpa tujuan, bisa disebutkan seperti itu karena Ken tidak pasti menyebutkan rencananya pada Sani sebagai instruksi.
Ken diam di sebuah tempat yang jauh dari keramaian manusia ataupun roh yang terlihat kesana kemari. Sani yang melihatnya juga langsung terdiam dia mulai heran dengan keadaan Ken yang tidak biasa. Ken lebih banyak diam dan seperti sedang melamun berpikir sesuatu yang tidak diberitahukannya.
"Apa yang kamu pikirkan lagi?" Tanya Sani setelah lama menunggu.
Ken kemudian menatapnya tanpa mengatakan apapun.
"Ada yang kau sembunyikan, itu benar kan?" Protes Sani lebih terlihat tidak tenang.
Ken menatapnya dengan serius. "Sekarang kita hanya bisa menyelamatkan diri masing-masing, sebenarnya aku berencana untuk menyudahi kontrak ini karena aku sendiri tidak bisa menjamin keselamatan mu Sani." Jelas Ken terlihat khawatir.
"Sudah setengah jalan, aku pun tidak mengharapkan bisa selamat. Tania saja bisa hilang apalagi dengan aku yang tidak tahu apapun." Jawab Sani dengan enteng.
__ADS_1
"Kenapa kamu berkata seperti itu, harusnya kamu tetap hidup dan cepat saja. Ku mohon untuk menyudahi kontrak ini." Ken mengalihkan tubuhnya membelakangi Sani, sepertinya dia tidak bisa lagi berdebat. Pikirannya saat itu kacau karena bukan hanya tentang keselamatan Sani, tapi tentang iblis yang tidak disebutkan Rai tadi. Bertemu Rai adalah sebuah kesalahan itu yang dia pahami kini.
"Dan kamu? Mau mati saja seperti itu?" Tiba-tiba Sani mulai tersulut emosi.
"Sudahlah jangan dibahas lagi, sebaiknya sekarang kita fokus saja!" Cela Ken terlihat sangat stress dengan pikirannya sendiri. Ken lagi-lagi menarik napas dan membagikan pandangannya ke arah lain.
"Ken, cukup dengan Tania. Bisa kan kita saling menjaga satu sama lain!" Rengek Sani yang hampir tidak bisa menahan lagi kesedihannya saat itu. "Dan terbuka satu sama lain, aku tahu dalam misi ini aku hanya orang baru tapi bisa kan kamu mempercayaiku agar aku lebih berguna lagi!" Perkataan Sani langsung bisa membuat Ken mengalihkan perhatian ke arahnya.
"Maaf kan aku, sebenarnya aku hanya takut kembali mengorbankan banyak orang dalam misi ini yang kita sendiri tidak tahu untuk apa." Ken berusaha menenangkan Sani dengan kata-katanya.
"Tapi kita juga tidak bisa keluar seenaknya kan? Menjalankan atau tidak akhirnya akan tetap sama." Sani mengatakan sesuatu yang tidak pernah dipikirkan oleh Ken. Sedangkan dalam hatinya Ken sangat takjub karena Sani bisa memahami situasi bukan hanya di sekitarnya tapi juga situasi hatinya saat itu. Ken tidak perlu lagi mengatakan apapun karena apa yang dikatakan Sani memang benar.
"Kamu anggap saja bahwa aku menyetujuinya dan aku berjanji kita pasti bisa mencari kebenarannya."
"Kau pasti berpikiran sama kan. Kehidupan itu sangat singkat dan hubungan juga sangat singkat. Sekarang kita hidup sebagai manusia dan siapa yang tahu jika besok kita terjebak di tempat ini." Terang Dani dengan nada lembut dan santai seperti menikmati aroma keramaian di depan matanya saat itu.
"Dan sesuatu yang sudah pergi adalah hal yang paling dirindukan." Ken menambahkan cerita Sani.
"Sudah berapa lama ya?" Tanya Sani sambil membalas tatapan Ken lalu tersenyum kecil, menandakan jika Sani menikmati kehidupannya sebagai roh yang mungkin dia bisa lupa satu hal bahwa waktunya tidak tertinggal banyak.
"Sudah sangat lama." Jawab Ken sambil tersenyum juga.
Keduanya memang menikmati kebersamaan sebagai teman yang dipertemukan tidak sengaja di tempat itu.
__ADS_1
"Mengapa kita bisa sesantai ini ya?" Diikuti dengan tawa dari Sani. Kata-katanya menyinggung tentang kehidupannya sebagai roh.
"Ikuti saja alurnya, apa yang bisa kita lakukan karena semua akan berakhir juga pada waktunya."
Kemudian Sani terdiam. Namun jauh dalam ingatannya Sani mulai kembali mengabsen setiap rinci potongan memori yang terlintas ketika dia masih hidup sebagai manusia. Sani sangat senang dan mencintai kehidupannya sepenuh hati. Keluarga, teman, seseorang yang dicintainya, semua dia miliki. Sebelum kematian itu datang. Sani tidak pernah tahu apa alasan sebenarnya dia berada di tempat yang banyak orang katakan bahwa kehidupan di dunia roh ini adalah tempat bagi roh yang penasaran, yang belum tuntas dengan janji, atau ada keinginan yang belum terselesaikan. Sani sama sekali tidak bisa mengingatnya. Namun tentang keluarga dia sedikit ingat, hanya sedikit. Mata Sani langsung terbelalak, sekarang ini dia yakin tidak mengingat lagi apapun.
Sani langsung terlihat gelisah dia bingung dengan dirinya sendiri dan dengan ingatan yang perlahan terhapus.
"Apa ada yang salah?" Tanya Ken mulai cemas.
Sani tidak menjawab dia tetap memperlihatkan wajahnya yang gelisah.
"San, coba tenang dan katakan padaku!" Pinta Ken saat itu. Namun suaranya tidak diindahkan juga, Sani tidak langsung menjawab atau mengatakan satu kalimat pun.
Ken tidak menanyainya lagi dengan banyak pertanyaan, dirangkulnya kedua bahu Sani hingga tubuhnya tenggelam dalam pelukan Ken. Ken tidak tahu apa yang akan dilakukannya untuk menenangkan Sani yang terllihat saat itu sangat membutuhkan pertolongannya.
"Ken, aku tidak bisa mengingat wajah mereka lagi, aku tidak bisa mengingat apapun lagi." Ucap Sani mencoba mempertegas setiap kalimatnya yang terbata karena sesenggukan menangis.
Ken terdiam setelah mendengar alasan Sani, sepertinya bagi Ken itu bukan sesuatu yang aneh lagi terlihat dia lebih tenang saat mendengarkan alasannya.
"Tidak apa-apa tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Ucap Ken menenangkan. "Kamu tahu, setiap lama roh tinggal di sini semua ingatannya tentang masalalu akan hilang secara perlahan sampai semuanya tidak akan ada yang kau ingat lagi."
Sani langsung terdiam seperti sangat kaget mendengarkan penjelasan Ken. Bagaikan disambar petir di tengah hari, dia tidak percaya dan tidak berharap hal itu juga terjadi pada dirinya. Alasan apa yang membuatnya bisa bertahan selain karena semua kenangan tentang keluarganya. Dan kini saat semua hilang rasanya semua energinya dikuras habis.
__ADS_1