Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Hyerin yang bungkam


__ADS_3

"Jadi seperti itu ceritanya?" Tanyanya pada Rai.


Hyerin, Rai, dan seorang dewa kematian sudah berada di tempat awal yang ditemukan Hyerin. Bukan lagi bertiga melainkan beberapa roh yang hanya bisa dilihat Hyerin juga tampak berkumpul.


"Sekarang kalian bisa mencari tahunya?" Tanya Rai yang tak ingin basa-basi lagi.


"Akan kami usahakan, tapi semoga saja kalian bertahan sampai hari besok." Seseorang menjawab pertanyaan Rai.


Mendengarnya Rai langsung diam, dia tahu maksudnya.


"Rai, sebaiknya kau ingat kejadian sebelum kalian memang terperangkap dalam kondisi saat ini." Timpal yang lain mulai membuat suasana menjadi riuh.


"Benar sekali!" Seseorang membetulkan tanggapannya.


"Memikirkan hal lain ya?" Ucap Rai mengulangi kata-kata temannya dengan penasaran. "Heh, kau sudah lakukan apa saja?" Rai balik bertanya pada Hyerin yang dari tadi membuat Rai sedikit kesal karena Hyerin hanya diam saja.


Hyerin terperanjat mendengarnya, dia tidak langsung menjawab karena cukup.canggung jika berbicara sendirian sebagai seorang wanita di hadapan para lelaki.


"Tidak ada gunanya." Keluh Rai yang jelas-jelas tegas terdengar oleh Hyerin.


"Aku. Aku tidak melakukan apapun." Jawab Hyerin terbata dengan mata yang gugup membalas tatapan setiap pasang mata. "Tidak ada sesuatu yang tidak berguna aku lakukan." Sambungnya lagi dengan diakhiri senyuman. Hyerin langsung menghembuskan napasnya setelah bicara seolah dia sudah mengatakan sesuatu yang cukup membuatnya canggung.


Tak disangka semua pasang mata itu masih memperhatikan ke arahnya, saat Hyerin mengalihkan penglihatannya dia langsung sadar jika orang-orang itu masih menatapnya penuh selidik. Alhasil Hyerin cukup salah tingkah, benar saja dia tengah menutupi fakta yang mengganggu untuk dirinya.


"Jika kau berbohong, itu artinya kau sudah mempertaruhkan nyawa kita berdua." Ancam Rai yang tidak begitu nyaman dengan tingkah Hyerin.

__ADS_1


Hyerin tertegun mendengarnya, dia hanya bisa menelan ludah. Bibirnya benar-benar kaku dan suaranya seketika menghilang jika berbicara lagi tentang isi dalam pikirannya sekarang.


Mata Hyerin masih memandangi satu persatu orang yang datang pada Rai, jika dihitung-hitung Rai cukup mempunyai banyak teman, mereka juga datang dalam waktu yang singkat tidak perlu membutuhkan waktu yang lama.


Hyerin pikir Rai memiliki satu hubungan baik yang tidak dimilikinya pada orang-orang, tapi bukan saatnya memuji, sekarang Hyerin hanya tinggal diam-diam bertanya pada Rai secara perlahan mengenai anak kecil itu.


"Rai ada yang ingin aku sampaikan." Seseorang tiba-tiba berbicara membuat perhatian Rai langsung teralihkan padanya.


"Para sekte itu sudah menangkap banyak iblis, satu persatu iblis tidak ada yang lolos dan kabarnya pengikut mereka semakin banyak." Dia berbicara sambil memandangi Hyerin seperti ada sebuah maksud yang ingin disampaikan.


Hyerin dengan polosnya masih menganggap jika tatapan itu bukan apa-apa baginya. Bahkan setelah mereka pergi Hyerin juga masih bungkam sama seperti niat awalnya yang tidak akan membicarakan masalahnya ini.


"Kita harus menunggu sampai besok." Keluh Rai tampak sekali cemas. Entah mengapa Hyerin tak merasakan kecemasan di hatinya walaupun itu hanya sedikit.


"Kita akan memikirkan cara jika besok kita masih hidup." Ungkap Rai membuat hati Hyerin terhenyak bertanya-tanya.


"Memangnya kau sudah berguna?" Ledek Hyerin tak mau kalah. Rai tidak begitu tertarik dengan ocehan yang akan membuat dia merasa jengkel, untuk saat ini dia hanya harus fokus pada tujuannya. Lagi pula kehidupan ini hanya teka-teki Rai tak ingin sia-sia karena dia lengah.


"Andai kan kita mati besok, sekarang kau mau melakukan apa?" Tanya Rai tak begitu memperhatikan Hyerin.


Seperti yang sudah diduga, mendengarnya Hyerin hanya diam saja dan berbicara pada Rai jika dia tidak tahu apapun.


Rai menarik napas lagi. Hatinya tidak bisa begitu saja mempercayai Hyerin, dia merasa ada sesuatu yang Hyerin tahu namun tidak dikatakannya.


"Aku tahu jika kau sudah melakukan perjanjian dengan iblis, pergi dari dimensi itu dan datang kemari. Apa kamu tahu jika di tempat ini lebih bahaya dari sebelumnya?" Rai kembali mengingatkan Hyerin mungkin tentang sesuatu yang tidak Hyerin tahu.

__ADS_1


Hyerin mematung, mencerna kata-kata Rai yang tiba-tiba saja mengatakan hal itu padanya.


"Aku tidak pernah membedakan roh yang datang ke tempat ini, teman ku saja banyak seperti mu. Tapi apa kau menyadarinya sesuatu yang aneh?" Rai mulai memancing obrolan dengan Hyerin. "Kau mempunyai satu yang tidak dimiliki orang-orang. Sampai sekarang saja aku penasaran bagaimana bisa kau lolos dari orang-orang itu." Rai terus mengingatkan Sani.


"Kau sudah sadar sekarang?" Rai terus menekan Hyerin dengan pertanyaannya.


"Jika saja aku tak penasaran, aku tak akan terlibat masalah seperti sekarang."


Pernyataan terakhir Rai membuat Hyerin sedikit tersinggung, mengapa kesannya seperti dia pembawa masalah.


"Aku tak berharap jika akhirnya mati karena ulah mu juga!" Ketus Rai, semakin lama obrolannya tidak mencerminkan sikap sebelumnya. Atau karena dia memang sudah menunjukkan sikap aslinya.


Rai menjadi diam, entah mengapa Hyerin merasa jika dia sudah benar-benar bersalah. Melihat Rai setelah berbicara seperti tadi sudah membuat Hyerin sedikit merinding. Apa yang akan dilakukan Rai jika dia akhirnya tahu Hyerin menyembunyikan dugaannya sendiri.


Tanpa berbicara lagi Hyerin langsung merobohkan tubuhnya ke atas kasur, ada begitu banyak masalah, terlalu banyak yang tidak dia ketahui. Karena kelemahannya ini Hyerin berpikir untuk bertanya pada Rai, tapi setelah mendengar kata-katanya tadi dia tidak begitu yakin jika Rai akhirnya akan menganggap dia bukan hanya karena ada sesuatu saja yang dia butuhkan darinya.


Pintu terdengar dibuka, Hyerin menoleh dan sudah melihat Rai pergi. Untuk sekarang setelah melihat ekspresi Rai membuat hatinya semakin goyah, Rai seperti sedang marah, atau karena dia tahu jika sekarang Hyerin sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak dikatakannya?


Hyerin berdiri dan menatap bingung ke arah pintu, dia berjalan bolak balik sambil mencoba mencerna setiap ide yang dibuat oleh pikirannya, terutama dia harus benar-benar membuat keputusan yang tidak akan merugikannya nanti.


Tapi apa salahnya bicara dengan Rai jika saja dia menemui seorang anak kecil dan ada sesuatu yang membuatnya curiga.


Hyerin tertegun, namun pikirannya tak pernah diam terus berdebat dengan setiap alasan yang muncul.


Setelah dipikirkan lagi tidak ada yang salah, lagi pula Hyerin tak ingin menunda masalah itu sampai besok, bagaimana jika Rai benar bahwa waktu yang mereka miliki hanya sampai hari ini saja. Bukankah Hyerin hanya sudah meninggalkan masalah itu?

__ADS_1


Terburu-buru Hyerin langsung memburu pintu, pergi dan mencari Rai yang entah pergi kemana lagi.


__ADS_2