
"Pokoknya jangan sampai berkedip atau memikirkan apapun tentang mereka." Bisikan terdengar begitu dekat dengan tempatnya duduk saat itu. Hyerin langsung berbalik dan melihat seorang roh yang dari wajahnya sudah tidak asing lagi baginya.
"Diam jangan ngomong!" Dia memperingatkannya lagi. Seolah tak mengharapkan Hyerin untuk berbicara.
Hyerin hanya terdiam menuruti kata-kata yang dilontarkan oleh mulutnya.
Tanpa kata-kata lelaki itu langsung berdiri dan tampak akan pergi.
"Eh tunggu!" Hyerin langsung mencegahnya. Dia sangat penasaran dengan sosok lelaki yang tiba-tiba muncul saat ini. Padahal dia juga seorang dewa kematian, dirinya yang sudah membawa roh nenek itu.
Karena perkataan Hyerin kakinya langsung berhenti, tubuhnya bergerak kembali menoleh ke arah Hyerin."Jangan banyak tanya, pokoknya aku malas." Terangnya membuat Hyerin hanya bisa mengangkat sebelah alisnya.
Hyerin tak lagi bicara dia membiarkan lelaki itu pergi dengan begitu saja, lagi pula untuk apa berurusan dengan orang sepertinya, tidak penting. Hyerin tak ingin berbicara dengan orang yang akan sulit untuk diajaknya bicara, hanya sesederhana itu alasannya.
Dari tempat tadi pemandangan yang Hyerin lihat sekarang sudah berubah menjadi normal seperti awal lagi. Benar-benar aneh, selama ini Hyerin tak pernah menyaksikan kejadian itu yang baginya sangatlah baru. Sedihnya Hyerin juga tak tahu apapun, tak memiliki teman dan apapun.
Perasaan putus asa tak bisa Hyerin sembunyikan, dia lelah dengan perjalanan yang hanya begitu saja, bahkan sekarang sangat menyedihkan dia sebenarnya sudah tidak memiliki lagi alasan untuk terus hidup menjalani semua kehidupannya sekarang.
Saat berniat untuk pergi lagi yang entah kemana namun tiba-tiba Hyerin merasakan sebuah tangan yang menyambar pergelangan tangan, ditariknya hingga Hyerin harus berjalan ke arah orang itu. Yang paling menjengkelkan saat dia melihat orang yang sudah lancang seperti itu tak lain adalah lelaki tadi yang masih sama. Hyerin semakin tak mengerti rasanya dia seperti sedang dipermainkan.
"Lepas!" Ucap Hyerin singkat sambil tetap berusaha melepaskan tangannya. Tapi apa yang dia lihat dari ekspresi lelaki itu? Wajahnya tampak santai dan terus saja tersenyum-senyum sendiri bahkan dia bersikap seolah tidak melakukan sesuatu yang salah, seperti sudah seenaknya menarik Hyerin bahkan sudah memaksa Hyerin untuk pergi bersamanya.
__ADS_1
"Lepas! Lancang sekali, lepas!" Bahkan Hyerin berteriak di telinganya. Tapi apa yang lelaki itu lakukan? Ekspresi wajahnya masih sama semakin membuat Hyerin kesal.
"Sudah sampai!" Cetusnya langsung melepaskan erat genggaman tangannya.
Tanpa merasa bersalah, tanpa mengatakan apapun, lelaki di hadapan Hyerin hanya memperlihatkan garis senyum nya. Sedangkan Hyerin begitu kesal, alasannya sudah sangat jelas karena dia tidak begitu bisa berdamai dengan perlakuan orang asing hang sudah sangat lancang dan seenaknya.
Lelaki itu kemudian duduk di dekat Hyerin, dengan santai dia duduk dan tanpa mengatakan hal apapun.
"Siapa kau?" Tanya Hyerin dengan nada berat pertanda dia sudah benar-benar kesal.
"Aku dewa kematian dan satu-satunya yang asli. Beda dengan yang lain." Terangnya semakin membuat Hyerin bingung. Kali ini pikiran Hyerin benar-benar tak mengerti maksud dari perkataannya itu apa.
"Kau hanya roh kotor, sudah tersentuh iblis. Aku? Tentu saja dewa kematian yang murni." Ucapnya lagi dengan santai.
Hyerin kembali memandangi lelaki itu dengan wajah kesal, mengapa kali ini Hyerin malah bertemu dengan orang yang tak berperasaan seperti itu sampai-sampai beraninya mengatai dia kotor.
"Mau kemana?" Tanya lelaki itu. Hyerin tak ingin menghiraukannya dia hanya mendengar tapi tetap fokus melangkahkan kakinya. Tidak rugi juga lebih baik Hyerin tak bertemu dengan siapapun daripada dia harus berhadapan dengan orang sepertinya.
"Lelaki yang menyedihkan tadi dia adalah iblis. Dia pergi karena dipaksa untuk pergi dari dimensi ini, tak mungkin ada iblis yang bisa tetap tinggal di dimensi ini sangat mustahil." Tanpa diminta lelaki yang masih belum menyebutkan namanya langsung mengoceh tentang sesuatu yang akan membuat Hyerin penasaran.
Benar saja Hyerin berhenti terdiam, bagaimanapun Hyerin ingin tahu karena selama dia tinggal di dimensi ini Hyerin merasa tak pernah tahu apapun. Dia takut, jika akan ada sesuatu yang lebih buruk dari sebelumnya.
__ADS_1
Hyerin berbalik, berdiri di hadapan lelaki yang angkuh di matanya. Meskipun begitu dia masih tidak bisa memandangi wajah orang angkuh yang membuatnya sekejap saja bisa langsung kesal.
"Mau selamat kan sekarang? Gak mau kan kalau kamu kaya orang tadi. Ih amit-amit bisa malu." Ledeknya yang semakin membuat Hyerin geram.
"Eh... kalau mau pergi, ya tinggal pergi saja lagian aku gak bisa bantu apapun." Ucapnya lagi terdengar plin-plan.
Sekarang tidak ada lagi alasan untuk Hyerin agar tetap kuat menghadapi orang angkuh sepertinya. Sangat kesal sekali, Hyerin langsung memalingkan wajah dan bergegas mengangkat kaki. Dia tidak harus mendengar embel-embel yang tidak menguntungkan, lagi pula dia bukan satu-satunya roh yang bisa membantu.
Bukannya mengatakan maaf seperti yang Hyerin bayangkan, tapi malah terdengar suara tertawa yang nyaring dan sangat puas. Hyerin tak pernah menyangka mengapa sampai bisa ada orang seperti itu yang dia temui sekarang benar-benar sial.
"Rai! Di sini kamu." Teriak seseorang yang langsung membuat Hyerin kembali diam mematung meskipun dari tadi dia sudah memutuskan akan pergi.
"Ngapain kesini lagi, iblis gak boleh disini loh!" Jawabnya.
Di sisi lain Hyerin mendengarkan dengan jelas bagaimana seseorang memanggil nama lelaki itu dengan sebutan orang yang tidak asing lagi bagi Hyerin. Saat berbalik Hyerin melihat seseorang seperti temannya, akrab mengobrol dan entah mengapa Hyerin penasaran dengan sebutan nama yang diucap beberapa kali.
"Gak penting banget sih bahas itu terus. Sekarang pulang gak? Udah banyak yang nanyain." Celotehnya.
Di sisi lain Hyerin hanya berdiri menyaksikan dua orang yang sedang mengobrol. Berapa lama pun itu Hyerin tak berniat untuk pergi, matanya masih melihat ke arah mereka yang tidak pernah memperdulikan kehadirannya.
Selama mengobrol lelaki yang diteriaki nanya adalah Rai matanya beberapa kali berpaling menatap Hyerin, entah karena heran atau apa yang dipikirkannya hingga beberapa saat temannya nampak pergi dan tak lama sudah tidak ada di antara Hyerin dan lelaki itu. Namun Hyerin masih berdiri di tempat, bahkan saat Rai memandanginya tidak membuat Hyerin pergi juga.
__ADS_1
"Eh orang aneh. Baru lihat ya ada orang ganteng kaya gini." Godanya pada Hyerin. Tapi memang tidak berhasil membuat Hyerin bicara bahkan berkedip.
"Ih serem. Pergi deh! Cepat pergi!" Ucapnya mulai merasa aneh pada tingkah Hyerin.