
Pohon yang sangat rimbun tumbuh subur di ruas jalan yang dilewatinya. Udara segar langsung masuk menyebar ke Indra penciuman, sorot matahari yang teduh karena cuaca kali ini terlihat sedikit mendung, membuat Hyerin dengan leluasa melihat ke arah langit yang tertutup awan dan kabut abu-abu. Ini yang sangat dirindukannya sebagai manusia, hidup dengan kehangatan semua orang dan bisa merasakan semua yang tercipta di alam dengan ke dua tangannya. Kali ini hanya tubuhnya uang samar dan tidak terlihat oleh siapapun manusia yang ada di hadapannya.
Tiba-tiba langkahnya terhenti, Hyerin melihat seorang roh yang sedang bicara dengan seorang anak kecil manusia. Dia tercengang karena ada roh yang bisa melakukan hal tersebut. Tapi kemudian pikirannya mengingatkan jika bisa ditemui manusia yang memiliki Indra ke enam, dapat melihat roh dan dunia roh. Tanpa sadar Hyerin mendekat, seorang roh yang melihatnya kemudian terdiam menghentikan pembicaraan sambil menatap ke arah Hyerin. Sedangkan Hyerin hanya membalas tatapannya dengan biasa saja. Dia membungkuk dan mengucapkan halo ke arah seorang anak yang ada di hadapannya dengan ramah. Sedangkan seorang roh yang di sampingnya merasa kesal karena Hyerin tanpa basa-basi menirukan tindakan nya. Tapi beberapa saat ada yang berbeda lagi, anak tersebut tidak bereaksi dengan perkataan Hyerin, begitu pun serah bola matanya tertuju ke arah lain dan malah kembali menatap seorang roh yang ada di sampingnya. Hyerin mematung karena dia tidak mengerti, sepertinya anak tersebut tidak bisa melihat ke arahnya. Seorang roh yang di sampingnya juga bereaksi sama, dia terheran dan melihat ke arah Hyerin juga ke anak kecil tersebut.
"Ini ada temanku." Terangnya dan mengarahkan tangan ke arah Hyerin. Anak kecil di hadapannya menoleh ke arah yang sama lalu ke arah kanan dan kiri, kemudian dia menggelengkan kepala.
Mendapatkan reaksi yang tak biasa roh tersebut tanpa pamit langsung menggandeng tangan Hyerin dan meninggalkan anak kecil itu.
Hyerin mengikuti dari belakang ke tempat yang akan dituju oleh seorang wanita yang erat menggandeng tangannya.
Ke duanya berhenti berjalan tepat di sebuah gedung yang jaraknya tidak jauh dari tempat tadi. Seorang wanita yang ada di hadapan Hyerin melihat ke semua sisi seperti sedang memastikan bahwa tidak ada orang yang melihat ke arah mereka, terutama roh yang lainnya.
Hyerin dibawa ke sebuah ruangan di gedung itu, dia hanya melihat ke sekeliling yang banyak dipenuhi orang. Dari pemandangan yang terlihat Hyerin bisa menebak jika gedung tempatnya sekarang adalah sebuah kafe.
Tiba di depan sebuah pintu wanita itu menyuruh Hyerin untuk segera masuk ke dalam ruangan yang tentunya mereka langsung bisa menembus pintu tanpa harus membukanya.
Hyerin yang penuh tanya berdiri menghadapi wanita yang ada di hadapannya sekarang. Dia tidak mengerti wanita itu sudah membawanya mungkin ke tempat wanita ini tinggal.
Dilihatnya wanita tersebut menghela napas panjang mengisyaratkan jika dia baru saja merasa lega setelah melewati kesempatan yang sangat sulit.
"Untung saja." Ucapnya pada Hyerin.
Kemudian dia duduk dan menyarankan Hyerin untuk duduk juga.
Hyerin masih diam memendam semua pertanyaan yang sudah terlintas di dalam otaknya.
__ADS_1
"Sekarang coba tunjukkan identitas mu yang asli Hyerin." Saran wanita itu menyebutkan matanya.
Hyerin sedikit tercengang dia bisa langsung tahu namanya. Mungkin memang seperti itu seharusnya, roh memiliki kemampuan untuk mengenali roh lain tanpa harus bertanya.
Hyerin masih terlihat ragu, terlebih dia sekarang mulai waspada karena takut orang yang ada di hadapannya adalah orang yang sama seperti yang lainnya, menceritakan keburukan tentang pasien di kamar 13 itu.
"Tenanglah, ayo coba tenang!" Ucapnya pada diri sendiri. Kemudian wanita itu kembali menghela napas dan berusaha menenangkan diri saat itu juga.
Di sisi lain Hyerin sibuk memikirkan apakah dia sebaiknya pergi saja?
"Coba sekarang kamu lihat ke arah saya dengan sangat teliti." Sarannya lagi. Dan berhasil membuat hati Hyerin meluluh, dia melihat ke arah wanita itu dan ingatannya langsung sibuk mengenali seorang wanita yang ada di hadapannya.
Tiba-tiba dia ingat seorang wanita yang memasuki ruangan kelas. Akhirnya Hyerin bisa menebak jika wanita itu adalah seorang guru di tempat sekolah, kali ini dia sudah sangat yakin.
"Sudah ingat? Sekarang tidak ada alasan untuk takut lagi!" Pintanya yang langsung disetujui oleh Hyerin.
Mendengarkan penjelasannya Hyerin langsung ingat dengan obrolan yang diucapkan orang-orang terhadapnya.
"Pertama jangan berkeliaran dengan hanya memakai pakaian terbuka seperti ini, dan jangan lagi berada di jalanan, tempat-tempat umum, atau di tempat banyak roh lain yang akan mengenalimu." Jelasnya tanpa memberikan jeda waktu bagi Hyerin untuk mengatakan ucapannya.
"Sekarang yang perlu dilakukan gunakan pakaian tertutup terutama yang menutupi identitas mu, jangan sembarangan menatap orang lain, karena bagi roh pada biasanya bisa langsung mengenali mu."
Hyerin masih terdiam dan ingatannya kembali memutar satu kejadian ketika Desy bisa langsung mengenali nya.
"Sekarang saya tanya, apa kamu tidak bisa melakukan hal yang sama? Seperti yang dilakukan oleh para roh lainnya?" Tanya nya sangat serius.
__ADS_1
Hyerin dengan sedikit ragu menganggukkan kepalanya dengan mata yang membalas tatapan wanita itu.
"Sangat disayangkan ternyata kamu sudah sangat jauh terlibat dengan Akemi. Sudah tidak ada jalan lagi." Pernyataan wanita itu semakin menambah rasa penasaran Hyerin. Mengapa semua orang sangat menyesali pertemuan Hyerin dengan Akemi itu.
"Apakah Akemi sudah sangat bersalah?" Jawab Hyerin mulai membuka suara.
"Kau sudah mendengarkan semua rumornya, kenapa masih berani untuk menjalani suatu hubungan dengan Akemi? Jauhi saja dia!" Tekannya yang semakin membuat Hyerin penasaran.
"Memang apa salahnya? Kenapa semua orang mengatakan hal yang sama?" Tanya Hyerin dengan serius.
Wanita yang ada di hadapannya lagi-lagi membuang napas seperti mengeluh dengan pertanyaan Hyerin.
"Kau ingat dengan Desy?" Tanya wanita itu yang langsung dibenarkan Hyerin.
"Desy sudah hilang dan kabarnya tidak masuk ke sekolah lagi. Ada banyak kemungkinan apakah dirinya sudah benar-benar menyerah dan meninggalkan tempat ini. Atau seseorang sudah membunuhnya."
Hyerin yang mendengarkan kembali membulatkan mata tanda dia sangat kaget dengan penjelasan yang tiba-tiba didengarnya. Namun, hatinya lebih cenderung mengatakan jika Desy sudah dibunuh oleh seseorang.
"Desy murid yang sangat ceria, dia sangat optimis dan ingin hidup lebih lama." Sambung lagi setelah beberapa saat terdiam, kali ini wanita itu berbicara dengan nada yang pelan dan lembut.
Hyerin membalas tatapan wanita itu dan mengerti bagaimana kesedihan tersembunyi di balik matanya.
"Kami semua di sekolah kembali mengira jika rumor dulu sudah berulang kembali. Setiap orang yang dekat dengan pasien kamar 13 satu persatu hilang tanpa kejelasan. Dan itulah yang ditakuti kami semua saat ini bahwa dewa kematian dari kamar 13 mengacau dan akan membunuh secara brutal."
"Mengapa? Mengapa hal itu bisa terjadi?" Tanya Hyerin yang berekspresi tidak percaya begitupun hatinya yang tidak bisa menghadapi jika dia adalah pasien di kamar 13.
__ADS_1
"Orang mengatakan jika dewa kematian tersebut membunuh demi mempertahankan umurnya, dia ingin terus hidup. Dari sana dugaan semakin jelas mengarah kepada Akemi, bahwa dia adalah dewa Kematian dari kamar 13. Dia lebih lama sudah ada di dunia ini, lagi pula hal tersebut sudah terbukti ketika ada kasus bahwa Akemi membunuh seseorang, rumornya ada saksi dan ada buktinya."
Hyerin tidak sedikitpun mendengar setiap perkataan yang seperti dibuat-buat. Dia juga mendengarkan hal yang sama dari orang-orang di sekolah. Kini dia harus bingung lagi dengan kebenaran yang masih terlihat samar baginya.