Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Ingatannya


__ADS_3

Sepintas bayangan bermunculan dipikirannya. Hyerin hanya bisa menunggu sambil memandangi setiap orang yang keluar masuk ruangan. Dia tidak memperdulikan bagaimana bayangan yang muncul adalah sebagian ingatannya yang pulih. Terlintas dirinya yang pernah mengamati setiap pemandangan yang sama dan merasa tak asing ketika berpapasan dengan dokter lelaki yang masuk ke ruangan.


Rasa bosan mulai merasuki pikiran. Dia bisa tidak tahan jika terus berlama-lama berdiam diri menahan dirinya untuk tidak keluar dan menjelajah sendiri mencari pembenaran yang terus mengusik hatinya.


Saat dia melangkah keluar melewati pintu matanya langsung melihat lelaki tadi yang sedang menuju ke arahnya. Hyerin berhenti sedangkan lelaki itu segera maju semakin mendekatkan jaraknya.


Tatapan mata Hyerin yang penuh tanya seolah dimengerti baik oleh lelaki itu, lantas lelaki di hadapannya langsung menarik tangan Hyerin keluar menuju arah yang Hyerin ingat arah ini membawanya keluar gedung.


Hatinya sedikit lega ketika Hyerin berhasil melewati pintu keluar dan berada di luar gedung. Kakinya spontan mengambil kesempatan berjalan sendiri, namun langkahnya kembali tertahan. Membayangkan bagian dirinya yang pernah juga menginjakkan kaki yang sama di tempat sama di hadapannya. Semua yang terlihat bayangan itu pun memperlihatkannya juga bagaimana dia pernah melihat semua tempat dalam dua warna berbeda. Satu keadaan yang sama dengan hiruk pikuk orang-orang seperti yang dilihatnya sekarang, dua dimana keadaan menggambarkan bagian dirinya yang melihat tempat sangat asing dan jauh berbeda dengan keadaannya saat itu. Hyerin berjalan lagi dan sepintas terlihat ekspresi yang berbeda dari seorang lelaki yang dilihatnya masuk ke dalam gedung. Hyerin segera membalikkan badan dan melihat ke arah pintu gedung.


Hatinya masih bertanya-tanya namun dia enggan bertanya, hanya bisa memandangi lagi lelaki yang ada dihadapannya. Wajah yang tidak asing dan ekspresi wajah yang pernah dilihatnya. Dia tidak lama sepintas melihat lalu segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Terlihat dari kejauhan beberapa orang yang memiliki wujud yang sama dengannya. Dengan polos Hyerin segera berlari ke arah orang-orang tanpa memperdulikan lelaki yang sudah membawanya keluar dari gedung sedang mematung. Namun usahanya gagal, sebelum lebih jauh pergi lagi-lagi lengan tangannya ditarik dan digandeng bersamaan di tempat itu. Spontan dia hanya terkejut namun dengan enteng menerima perlakuan lelaki yang ada di sampingnya.


Terik matahari di siang hari hampir tidak menyisakan tempat yang teduh. Jika melihat ke kiri dan ke kanan tempat teduh hanya di bawah pohon rindang di tepi jalan. Aroma udara langsung masuk ke dalam hidung dan menjelaskan kesegaran di tempat itu. Daun yang jatuh dari ranting pohon hampir menghiasi semua ruas jalan. Hyerin juga melihat keindahan dari taman kota yang sangat memikat hatinya.


Dilihatnya lelaki yang masih bersikap dingin sekilas, seolah sudah tahu lelaki itu membawa Hyerin duduk di kursi taman kota.


Semua bayangan langsung bermunculan tanpa henti. Hyerin yang kaget hanya melongo terdiam menerima semua ingatan yang bertubi-tubi masuk ke dalam pikirannya. Sampai-sampai napasnya terasa sesak karena terlalu banyak ingatan yang diterimanya tanpa henti.


Bayangannya memperlihatkan bagaimana dirinya pernah juga menjelajah di seluruh tempat yang terlihat oleh kedua matanya. Begitupun di sebuah pusat kota di sebrang alun-alun dia melihat seorang wanita yang pernah ditemuinya juga seorang anak kecil yang menangis melihat ke arahnya, dan orang-orang yang tidak pernah disapanya. Semua terlihat sangat nyata.

__ADS_1


Tubuhnya mematung diantara semua orang yang berlalu lalang. Perlahan dalam hitungan detik banyak bayangan yang masuk menjadi potongan ingatan yang menjadi lengkap. Ekspresinya yang menunjukkan tidak bisa tenang dan tahan dengan waktu singkat begitu banyak bayangan menghantui.


Lelaki yang sedang berdiri tak jauh langsung menangkap tubuh Hyerin yang hampir terjatuh sekaligus ke tanah. Mata Hyerin terlihat linglung dia berusaha menahan sesuatu yang dilihat menyakiti isi pikirannya.


"Rai." Ucap Hyerin saat sepasang matanya menangkap wajah lelaki yang sudah bersamanya sejak awal.


Rai langsung membulatkan mata seolah tidak percaya dengan sikap Hyerin.


"Kamu sakit? Sepertinya ada yang salah." Terang Rai. Dan untuk pertama kalinya Rai terlihat berekspresi di hadapan Hyerin.


Beberapa saat Hyerin tak menjawab. Dia mengamati dan merasa aneh, namun secepatnya Hyerin memperbaiki sikapnya. "Ah tidak. Tidak ada." Ucapnya segera menjawab dan sedikit tersenyum. Nada ragu-ragu nya bisa disadari. Rai langsung menjatuhkan tubuh Hyerin yang sudah ditahan oleh ke dua tangannya.


"AW..." Hyerin meringis dan membalas tatapan Rai dengan sinis.


Hyerin hanya bisa bersusah payah bangun dengan kedua tangannya. Bisa diperhatikan jika tubuhnya masih belum normal, terlihat saat beberapa kali Hyerin meringis menahan sakit di kepalanya.


Meskipun sesekali Rai mencuri pandangan ke arah Hyerin yang dilihatnya sangat kesulitan, tapi dia tetap mempertahankan diri menahan ego dengan kembali bersikap dingin dan tak acuh.


Dalam kesempatan ketika Hyerin berjalan di belakang Rai atau ketika mereka berteduh duduk di sebuah kursi taman, pandangan Hyerin terus memperhatikan ke arah Rai yang terlihat melamun kehilangan fokus dan sikap seperti biasanya. Rai lebih banyak diam dan tidak pernah memandanginya lagi ke dalam mata Hyerin.

__ADS_1


Ke dua pasang mata yang terlihat menghindari tatapan Hyerin ke arahnya. Sikapnya yang tidak biasa membuat banyak pertanyaan di dalam hati Hyerin.


"Rai. Aku, aku tidak ingat apapun." Ucap Hyerin ketus.


Sekilas Rai melihat namun dengan tatapan yang ragu. "Oh... Itu tidak apa-apa." Ucapnya.


"Rai. Aku seorang roh di sini, mungkin dalam banyak kesempatan aku bisa hilang seketika." Terang Hyerin.


Rai langsung balas menatap mata Hyerin dengan tajam. Tapi hanya bertahan beberapa detik kemudian dia memalingkan wajahnya ke sembarang arah. "Oh itu... Mungkin saja." Balasnya.


"Rai orang-orang banyak yang hilang dan aku sangat merasa bersalah." Hyerin sekilas melihat ekspresi ke arah Rai yang menurutnya dia tidak tenang. Hal tersebut menjadi salah satu kesempatan bagi Hyerin untuk bertanya langsung tentang insiden yang sudah dialaminya.


"Bagaimana? A_apakah sesuatu terjadi?" Tanya Rai dengan nada ragu dan masih tidak bisa menatap mata Hyerin.


Nada suara, sikap, ekspresi wajahnya semakin membuat Hyerin penasaran. Seolah dia merasa ada sesuatu yang salah seperti Rai mengetahui apa yang disembunyikan olehnya.


Hyerin tidak lagi balik bertanya, dia fokus melihat ke arah Rai yang tidak biasa.


Akhirnya kedua pasang mata bertemu, sudah bisa ditebak Rai tidak bisa bertahan lama memandangi Hyerin.

__ADS_1


Rai langsung berdiri dan mengubah lagi sikapnya. Dia tak acuh langsung mengambil ancang-ancang untuk pergi.


"Rai aku sudah tahu." Ucap Hyerin sambil menahan Rai dengan menarik lengannya.


__ADS_2