
"Sekarang. Aku sudah kehilangan ingatan, tidak ada sedikitpun yang bisa membantu, aku hanya berharap jika kamu akan menjadi teman di tempat yang sangat asing ini." Terang Hyerin, sepenuh hati kata-katanya mewakili perasaannya saat itu.
"Aku tahu kamu begitu berat mendengarkan situasinya. Tapi aku tidak bisa membiarkan semua kenyataan diabaikan di depan mataku sendiri. Sekali ini saja tolong yakin, jika perlu kita bawa orang lain ke tempat ini untuk membuktikan kata-kata ku itu." Tania masih terdengar meyakinkan.
Hyerin menemukan kejujuran dari sorot mata Tania. Dia ingin sekali mempercayainya, tapi mengapa begitu berat?
"Lanjutkan lagi ceritamu tentang Rai!" Perintah Hyerin mengalihkan lagi pembicaraan.
Tania sedikit tertegun, dia sadar jika Hyerin masih belum bisa menerima kenyataan yang ia ceritakan padanya. "Rai bukan dewa kematian. Karena itu kamu melihat ada dua Rai yang berbeda."
Hyerin mengalihkan perhatiannya, dia belum pernah menceritakan Rai yang ke dua tapi Tania bisa langsung menebaknya.
"Jangan terheran seperti itu, sudah ku katakan aku mengetahui semuanya dari awal karena..."
"Karena apa maksudmu?" Langsung Hyerin merespon saat perkataan Tania tiba-tiba melambat.
"Karena aku sudah lama tinggal di sini. Bisa dikatakan jika aku penyidik yang tidak diketahui orang bahkan oleh Rai."
Hyerin menyelidik menatapnya tajam. Dia selalu merasa ada yang dibuat-buat atau perkataan Tania adalah bohong. Tapi untuk apa juga wanita yang ada di hadapannya tiba-tiba muncul dan mengatakan jika dia sudah lama mengetahui semua hal dan teka teki tentang Rai.
"Apa yang harus ku lakukan? Semuanya seperti bohong." Protes Hyerin. Dari nada suaranya terdengar seperti sudah frustrasi, kesal, dan bingung. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya setelah mendengar semua ini.
"Baiklah terserah saja. Percaya atau tidak sekarang adalah pilihanmu. Yang terpenting aku akan memperingatkan sesuatu, sebaiknya kamu cepat pergi dari dunia ini atau sesuatu yang buruk bisa terjadi." Tekan Tania.
__ADS_1
Hyerin tidak menjawab, pergulatan hatinya semakin menyiksa. Dia tidak bisa begitu saja dengan mudah menerima setiap kenyataan yang disebutkan orang lain. Hyerin bukanlah orang yang mudah percaya.
"Dengarkan aku Hyerin, tolong kamu harusnya bukan di tempat ini. Kamu masih hidup dan harus melanjutkan semua kehidupan mu!" Tania masih terus memaksa. Padahal sudah jelas bagaimana reaksi Hyerin yang tidak senang dengan setiap pernyataan yang diutarakannya. "Aku tidak peduli kau mau membenci ku setelahnya, aku juga tidak ingin hal buruk terjadi. Kamu adalah setengah roh yang masih hidup, dunia ini bukan tempat mu. Dan Rai mungkin tahu jawabannya mengapa dia tetap menahan kamu di sini dan ingat bahwa semua orang yang tiba-tiba menghilang. Apakah kamu tidak memikirkannya lagi?" Masih sambung Tania mengoyak seluruh isi pikiran Hyerin saat itu.
"Sudah Tania. Cukup! Aku bukan tidak memikirkannya. Sudah ku katakan aku sangat terganggu jika kamu mengatakan bahwa aku masih hidup. Karena. Tidak ada bedanya. Aku hidup atau mati aku bahkan tidak tahu lagi semua tentang asal-usul, hubungan, dan semuanya hilang tidak ada yang aku ingat lagi. Sekarang apa yang bisa ku lakukan? Kamu bisa mengerti kan?" Hyerin sudah tidak tahan lagi dengan perasaan yang menyiksanya saat itu.
Hingga suasana menjadi hening seketika. Keduanya bungkam untuk lagi berbicara. Perasaan canggung yang tiba-tiba muncul membuat Tania dan Hyerin tidak lagi mengatakan apapun, bahkan Hyerin tidak peduli jika Tania sudah berdiri menghadap pintu keluar.
"Semua gara-gara ambisi Rai, kita lihat saja apa yang akan dilakukan dia selanjutnya." Ketus Tania sambil membuka pintu bersiap keluar.
Hyerin terperanjat mendengar pintu terbuka. Dia segera berlari dan menahan Tania. "Jangan pergi seperti ini!" Pinta Hyerin berusaha menhan Tania.
"Kamu lebih baik mencari kebenarannya sendiri. Tidak ada gunanya kan?" Bentak Tania terdengar kesal.
"Mau seperti apa? Jangan berdebat lagi, tolong dengarkan!" Nadanya melambat terdengar lembut. Tania sudah menyerah dan sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan Hyerin, dia tidak seperti itu. Membiarkan bayang-bayang hal buruk yang akan terjadi membuat Tania akan berusaha keras meski sangat sulit untuk meyakinkan ketegasan hati Hyerin.
Hyerin terdiam. Dia cukup sedih dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Sudah ku katakan jangan berdebat, dan jangan seperti ini." Saran Tania meyakinkan. Terdengar lebih lunak dari sebelumnya.
"Jangan pergi. Seperti orang-orang yang sudah pergi." Ucap Hyerin terdengar berat, suaranya menahan Isak tangis. Bagaimanapun dia adalah perempuan yang butuh teman dan pertolongan.
"Baiklah, tapi jangan berdebat lagi." Ucap Tania.
__ADS_1
Akhirnya keadaan mereda. Hyerin bisa berdamai dengan Tania yang baru saja dia temui sebagai temannya kini.
"Sekarang ayo kita rencanakan sesuatu." Saran Tania membuat Hyerin segera berpikir. Dia dan Tania tidak bisa terus berdiam diri saja. Ada banyak kasus yang harus diselesaikan.
"Kamu sebelumnya bercerita tentang teman-teman mu. Apakah kita bisa menemuinya dan bekerja sama?" Tanya Hyerin. Dia masih ingat jika Tania dan teman-temannya melakukan misi yang sama.
"Aku tidak bisa melibatkannya dan semua orang dalam bahaya. Sekarang aku sudah terlanjur mengambil resikonya mungkin suatu saat mereka juga akan menyadarinya tidak secara langsung." Elak Tania yang menunjukkan kekhawatiran nya.
Hyerin menatapnya tidak mengerti. "Jadi hanya kita berdua? Kamu yakin sudah cukup?" Tanya Hyerin. "Bukankah mereka akan sangat membantu, kenapa kamu tidak memikirkan hal itu?" Hyerin semakin penasaran.
"Kamu belum sadar juga, semua orang yang hilang adalah yang dekat denganmu. Bagaimana aku bisa menyeret orang ke dalam situasi yang sangat berbahaya ini?" Jelas Tania. Sekarang lebih jelas lagi sebenarnya Tania sudah mengambil resiko yang sangat bahaya untuk dirinya sendiri.
Hyerin sangat merasa bersalah, melihat Tania yang tidak bisa sedikitpun bernapas di dekatnya. Mungkin yang dipikirkan Tania sekarang atau di waktu yang akan datang kejadian yang serupa akan juga terjadi menimpanya.
Menyadari semua yang lebih terkesan adalah karena sebabnya membuat Hyerin terdiam. "Sebaiknya kita sudahi saja. Walaupun itu tidak bisa menjamin keselamatan mu."
"Apa yang kamu katakan? Kau tidak mengingat orang-orang sebelumnya yang sudah berkorban?" Langsung timpal Tania lebih tersulut emosi.
"Tapi aku tidak bisa membiarkannya lagi orang-orang hilang di depan mataku sendiri. Dan jangan sampai terjadi lagi." Terang Hyerin lebih khawatir.
"Selagi kita bersama seperti ini tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Kita hanya harus bersama-sama." Ucap Tania memberikan alasan.
Tapi bagi Hyerin dia masih ingat dengan betul bagaimana wanita yang sedang bersamanya pernah hilang di depan matanya sendiri. Dan dia tidak bisa melakukan apapun.
__ADS_1