Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
SOP Buntut


__ADS_3

Gemuruh langit siang saat burung pagi menyerbu mentari yang cerah dari arah timur. Daun menghijau di setiap jengkal tanah dan tertata rapih di taman kecil dengan rumah sederhana. Angin yang tiba-tiba kencang menggebu melewati tatanan baju basah yang ditata di halaman belakang rumah. Hari Minggu yang panjang dan rutinitas pagi diawali dengan menjemur pakaian. Ibunya Hyerin selalu meluangkan waktu di hari Minggu yang panjang untuk keluarga. Aroma masakan tiba-tiba menggugah selera dari arah dapur, menyadarkan Hyerin yang terlelap dalam tidurnya.


Hyerin berusaha membuka mata yang baginya sangat berat, berulangkali dia bangun tapi akhirnya tidur lagi. Tapi saat aroma sop buntut dari arah dapur menyeruak ke dalam hidungnya membuat Hyerin segera bangun. Dia masih ingat aroma masakan Ibunya meski rasanya sudah sangat lama tapi bagi Hyerin tidak ada yang berubah.


Matanya mengintip ke arah jendela. Saat menyadari Hyerin yang terus memandangi dari dalam kamar Ibunya langsung tersenyum senang. Namun tidak lama terlihat Ibunya seperti panik dan tergesa-gesa berjalan menuju ke dalam rumah. Dari arah kamar Hyerin bisa menebaknya, Ibunya pasti lupa jika dia sedang memasak. Hyerin kembali menyandarkan kepala di atas bantal lagi.


"Ko gak ngasih tahu ibu kalau Ibu sedang masak?" Teriak Ibunya yang hanya dibalas senyum oleh Hyerin.


Hyerin mendengar peralatan dapur seperti piring yang sedang ditata. Dia menarik napas dan bersiap bangun dari atas kasur.


"Ibu masak kesukaanku ya?" Tanya Hyerin dengan ceria saat dia mengintip dari pintu.


Ibunya tidak langsung menjawab, dia tersenyum lagi dan segera menyembunyikan wajahnya dari Hyerin. "Ayo cepat makan semua sudah siap nih." Ucap Ibunya sambil menata piring menuju meja makan.


Hyerin tersenyum lagi tanpa mengatakan apapun. Dia sebenarnya tahu jika saat itu Ibunya berusaha menyembunyikan air mata yang terlanjur sudah membanjiri pipi. Hyerin tahu jika Ibunya pasti sangat terharu karena perubahan sikapnya, dan berharap dirinya bisa hidup lama bahagia seperti sekarang. Tapi lagi-lagi pikiran itu mengganggu. Karena ingatan di masalalu yang menceritakan tentang kematiannya lagi.


Sejenak Hyerin memandangi kaca di kamar mandi. Apa memang harus dia kembali dalam kematian dan meninggalkan Ibunya hingga terlarut dalam kesedihan lagi? Hyerin tidak bisa membuang rasa sedih yang langsung sesak di dadanya saat itu. Sebenarnya apa yang diinginkan takdir? Mengapa dia harus terjebak dalam ingatan dan kehidupannya sekarang? Padahal lebih baik dia hidup normal dan tidak tahu semuanya, dari pada dia harus menanggung beban seperti ini karena ingatan di masalalu.


"Yerin, apa kamu baik-baik saja?" Terdengar sebuah suara menghalau perhatian Hyerin.


Secepatnya Hyerin menyalakan kran air dan membasuh wajahnya. "Ia Bu, ini sudah selesai!" Jawab Hyerin dari dalam.


Saat membuka pintu Hyerin langsung melihat sebuah pemandangan yang sangat dirindukannya. Ibunya yang duduk di kursi meja makan dan tersenyum simpul, kali ini dia akan makan bersama lagi dengan Ibunya. Secara perlahan Hyerin berjalan menuju sebuah kursi yang sudah tersedia. Di atas meja sudah dihidangkan makanan yang sangat dirindukannya itu. Pasti semua dibuat dengan penuh perasaan tulus dan cinta dari Ibunya. Hyerin tak tahan lagi dia ingin menangis karena hatinya tersentuh oleh kasih sayang Ibunya. Tapi itu tidak boleh kan? Hyerin tidak boleh terlihat sedih agar Ibunya tidak juga sedih.


"Ini masakan yang paling enak!" Puji Hyerin sambil tersenyum.


"Ibu cepat makan!" Pinta Hyerin saat melihat Ibunya masih belum mengambil nasi dan makanan.


Ibunya hanya mengangguk dan langsung mengambil nasi.


"Rasanya seperti sudah sangat lama, Yerin akhirnya bisa makan masakan spesial buatan Ibu." Hyerin berterus terang.

__ADS_1


Dan ucapannya membuat Ibunya lagi-lagi harus menyembunyikan tangisannya yang spontan jatuh.


Hyerin terdiam, dia mengintip ke arah Ibunya yang juga diam dan menundukkan kepala. Dia tahu mungkin Ibunya kembali menangis.


"Minggu ini Yerin mau istirahat saja ya tidak ke sekolah." Ucap Hyerin.


"Ia kamu istirahat saja di rumah, Ibu juga akan menemani Yerin ko." Jawab Ibu ya dengan lembut.


Hyerin tersenyum lagi, sebenarnya dia ingin pergi ke rumah sakit di kota itu mungkin persetujuan Ibu bisa memudahkan rencananya. Diawali dengan rencananya ini.


"Setelah makan Yerin mau mengunjungi sungai di seberang sekolah?" Tanya Ibunya.


Hyerin langsung teringat jika di waktu kecil dulu dia sangat sering bermain di sungai itu, dirinya, Ibu dan Ayah. Apa mungkin Ibunya ingin dia mengingat lagi tentang Ayah?


"Ayo Bu, pasti sudah banyak yang berubah." Jawab Hyerin langsung mengiyakan.


Ibunya sedikit terheran karena Hyerin tidak lagi menolak. Hatinya sedikit tersentuh karena memang niat Ibunya ingin kembali mengenang Ayah Hyerin dan masa kecil Hyerin dulu.


"Wah makan enak tapi gak undang Yora nih." Ucap Yora takjub sambil terduduk di samping Hyerin.


Ibunya sudah terbiasa melihat pemandangan Yora dan Hyerin di rumah.


"Makan ya Yora!" Ajak Ibunya Hyerin.


"Yerin! Rei masuk ya!" Teriakan kedua terdengar dan membuat obrolan antara Yora dan Hyerin terputus.


Ternyata Rei.


"Makan enak nih!" Ucap Yora sambil menunjukkan makanannya dalam piring.


Rei segera mendekat dan langsung mengambil piring yang masih tersisa.

__ADS_1


"Aku makan ya Bu!" Ucap Yora tanpa basa-basi lagi.


Karena sudah sangat akrab pemandangan seperti ini sudah biasa dan selalu menjadi pemandangan favorit Ibunya.


"Hari ini ikut gak?" Tanya Hyerin yang masih menyantap makanannya.


"Kemana?" Tanya Yora yang masih menguyah makanannya.


"Sungai di seberang sekolah." Ucap Hyerin yang langsung membuat Yora tersedak.


Yora mengambil minum untuk meredakan makanan yang tersedak di tenggorokannya.


"Serius Yerin?" Tanya Rei tidak percaya.


"Kita kan sudah biasa pergi ke sana sejak kecil, rasanya kali ini aku mulai merindukan sungai itu dengan suasananya." Jelas Hyerin.


Ibu Hyerin yang duduk di sampingnya terdiam tidak mengatakan apapun, sebenarnya ide itu adalah kemauannya.


"Betul tuh. Kita sambil makan-makan yah." Celetuk Yora.


"Di pikiranmu hanya makan saja!" Protes Rei.


"Syirik aja, kan ada Bibi mumpung libur kita sekalian liburan. Pasti menyenangkan!" Timpal Yora.


"Ibu siapkan dulu semua yang akan dibawa yah." Ucap Ibunya Hyerin sambil membereskan piring dan membawanya ke atas pencucian.


Hyerin tersenyum sendiri melihat Yora dan Rei dan juga kehangatan yang sudah lama dia rindukan. Pasti rencana Ibu berjalan lancar dan menyenangkan, dia berharap tidak akan ada yang mengganggu.


Hyerin menyusul Ibunya merapihkan piring, dalam pikirannya sudah banyak sekali rencana yang terpikirkan. Matanya langsung teralihkan ke arah Ibunya. Tapi dari penglihatan yang didapatkan membuat Hyerin mematung dan matanya membulat.


Lagi-lagi dengan waktu yang tidak tepat dia mendapat penglihatan itu. Semua suasana transparan dan roh lain mulai terlihat semakin jelas bermunculan di depan matanya.

__ADS_1


__ADS_2