Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Perdebatan


__ADS_3

Sekian lama waktu berlalu tak terasa hingga suara jam dinding kembali menjadi pertanda, waktu cepat berganti dan suasana langsung berubah.


Hyerin masih duduk tidak peduli lagi dia sekarang mendengarkan suara pergantian waktu yang selalu terdengar baru sebelumnya, kali ini suara itu seperti biasa saja.


Riuh suara satu persatu mulai membisik melewati indera pendengarannya. Keramaian suasana yang dipenuhi orang-orang hilir mudik tidak juga membuat Hyerin bergeming sedikitpun. Hal yang sama dirasakan Ken, dia juga masih tetap bertahan duduk menemani Hyerin yang terus diam saja.


Ken lebih cekatan, dia langsung menghalangi tubuh Hyerin saat seorang roh melintas di dekatnya. Dia sadar jika saja tempatnya sekarang tidak begitu aman untuk Hyerin. Saat matanya bolak balik mengamati dari sisi berseberangan Ken melihat roh lain bermunculan. Kecemasan saat itu mulai merasukinya, dengan sigap Ken kembali membawa Hyerin ke tempat lain.


"Padahal aku bukan seorang penjahat kan." Cetus Hyerin. Dia sadar sudah berada di tempat berbeda lagi.


Mendengar kata-kata cetus itu membuat Ken salah tingkah, dia tidak bermaksud menyinggung Hyerin tapi bagaimana lagi menjelaskan situasinya saat itu.

__ADS_1


Ken yang mulai salah tingkah hanya sekilas dilihat Hyerin, tapi kemudian Hyerin kembali tak acuh. Dia berdiri dan duduk di sebelah pintu ruangan sempit seperti sebuah gudang. Hyerin tidak tahu dia ada dimana dan dia terlihat tidak peduli juga.


"Kita tidak bebas kemanapun, dimana-mana banyak roh lain. Seperti yang kamu dengar di gedung sekolah itu." Jelas Ken.


"Aku sudah tahu." Jawab Hyerin singkat.


"Keadaannya sudah tidak lagi mudah, semua orang bisa melakukan hal yang lebih buruk. Dan kamu tahu sejak Rai tiada." Kata-kata Ken berakhir, dia hampir saja mengatakannya lagi.


Hyerin hanya bisa memalingkan wajah dan bersikap seperti tidak pernah mendengarkan kata-katanya itu, meski kalimat Ken sangat jelas terlintas dan terlebih dia sadar dengan maksud Ken dan kata-katanya. Tidak lain Ken ingin kembali mengatakan jika orang-orang sudah mengikuti jejak Rai yang salah dan kini semua orang menyalahkan Rai yang kehadirannya mungkin tidak bisa ditemui lagi.


Hyerin hanya terus murung menekuk wajahnya dan tidak membiarkan siapapun untuk memperburuk kondisi hatinya saat itu. Sekarang dia tidak ingin mendengarkan apapun apalagi sebuah ceramah atau ocehan terutama masalah berbelit yang belum juga selesai. Kali ini saja, dia ingin bebas dari beban itu.

__ADS_1


Sebaliknya Ken bersyukur karena dia tidak meneruskan kalimatnya tadi, meski kembali terdengar tidak sengaja atau Hyerin mulai berpikiran lain lagi karena ucapan itu, tapi setelah melihat ekspresi Hyerin membuat dia kembali menyimpulkan. Sebaiknya Hyerin dibiarkan sendirian, tanpa harus mengingatkannya untuk tidak pergi dari tempat itu Hyerin bisa langsung mengerti kan. Setidaknya Hyerin butuh sendiri untuk mencerna semua kenyataan yang masuk dan hatinya yang terus berdebat sendiri. Dia butuh waktu dan kewarasannya sendiri. Melihat Hyerin yang diam saja Ken langsung berlalu tanpa mengatakan apapun. Rasanya dia harus melakukan hal itu.


Ken berjalan dengan hati-hati, ke dua pasang mata yang selalu terjaga dari apapun. Hatinya selalu harus tenang dan fokus ketika berjalan sendirian, hal seperti itu harus dilakukannya juga karena ancaman yang orang katakan bisa saja impas pada dirinya juga, apalagi kebersamaannya dengan Hyerin sudah beberapa kali disadari oleh orang lain.


Ken menghela napasnya dengan lega. Setidaknya sudah sejauh ini dia berhasil menghindari ancaman bahkan maut yang mengundang. Dia hanya perlu tidak mempercayai orang lain, iblis itu pasti terus memikirkan cara untuk menjebaknya. Seperti itu kan? Karena siapapun yang pernah berinteraksi dengan Hyerin roh itu bisa langsung hilang. Untuk masalah ini Ken belum tahu apa sebabnya, apakah ada sebuah rahasia yang tidak diketahuinya sama sekali, atau hanya sesuatu yang disengaja. Entahlah tapi karena rumor itu Ken harus selalu hati-hati dimana pun.


Di jalanan gang yang berada diantara dua gedung berdekatan Ken berdiri di sana dengan tenang. Dan pikirannya terus berdebat tidak karuan. Apalagi hatinya yang sesekali membuat dia tidak waras. Ken sangat tidak tahan selalu berada dekat dengan Hyerin, rasanya sangat sesak, setiap kali dekat dan melihat raut wajahnya Ken langsung membayangkan Sani yang harus kehilangan nyawanya bersama Hyerin. Tiba-tiba seketika amarah mendesak, tapi dia tidak bisa melakukan apapun meski hatinya sudah dipenuhi oleh amarah yang terus membuatnya tidak bisa tenang dan lebih dari itu.


Rasanya sangat muak, rasanya ingin sekali melampiaskan semua kekesalannya itu, dengan apapun caranya hingga hati Ken bisa puas. Dia tidak bisa menerima kematian Sani dengan diam saja. Apalagi terus bersikap baik kepada orang yang menjadi penyebab dari semuanya. Tapi pikiran tadi sudah sangat mengganggu, dia tidak bisa langsung menyerahkan Hyerin dan semua selesai dengan mudah. Dia ingin sekali Hyerin lebih tersiksa lebih dari keadaannya ketika mendengar kabar Rai yang sudah tiada. Lebih dari itu dan lebih dari rasa sesak di dadanya.


Pandangan Ken langsung berubah, sorot matanya tidak seperti tadi lagi. Dia berubah dan entah apa yang akan direncanakan selanjutnya, dalam dua situasi dia ingin selamat tapi dalam satu keadaan dia tidak bisa berpihak kepada iblis. Bagaimanapun iblis itu yang sudah membunuh Sani, sangat tidak mungkin kan jika dia berpihak pada iblis hanya untuk mencelakai Hyerin. Itu tidak terdengar bijak.

__ADS_1


Ken mulai tersenyum sinis, yang terpenting baginya sekarang dia sudah mendapatkan kepercayaan Hyerin. Dia sudah bisa berbicara dan kembali memberikan pengaruh yang lebih banyak dan mudah. Dalam pikirannya hanya ada rencana balas dendam, dia harus melakukannya untuk kepergian Sani. Tidak, Sani masih ada dia masih hidup. Tiba-tiba Ken langsung berteriak frustrasi, sorot matanya penuh amarah. Rasanya dia tidak bisa menahan kesabarannya lagi, tapi dia harus tetap waras dan melakukan semuanya dengan hati-hati tanpa kesalahan tanpa harus terlihat seperti semua karena ulahnya. Seperti itu kan?


Kedua mata Ken tertutup dengan napas yang naik turun dari dadanya. Ken harus baik, dia harus seperti baik-baik saja dan seolah sudah melupakan semuanya. Dia harus mendapatkan kepercayaan yang lebih dari Hyerin, begitulah rencananya. Semua akan selesai seperti yang dia inginkan, dan semua itu hanya perlu sebuah kesabaran yang lebih banyak lagi.


__ADS_2