Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Pukul 08.00


__ADS_3

Pandangannya tak pernah buyar. Mencari ke sana kemari ke setiap tempat yang akan didatanginya tanpa ragu. Keyakinan hati akan menemukan semua jawaban dari teka teki yang masih tidak bisa dimengertinya membuat tekadnya semakin kuat, namun tanpa tahu semakin lama perasaan lelah mengikis rasa semangatnya secara perlahan, hingga Hyerin menemukan batasan dalam dirinya. Jauh dalam pandangannya ke depan tidak ada yang memperlihatkan sebuah pertanda baik, seperti yang sudah dilihat Hyerin sebelumnya. Gedung-gedung berjajar terlihat usang, sebagian tidak utuh lagi, dari tanah pun tidak terlihat ada satu tanaman yang tumbuh hidup menghijau. Hampir setengah putus asa, Hyerin hanya menghela napas panjang, pencarian yang semakin terasa sia-sia. Dia tidak mengerti kemanakah perginya orang-orang yang secepat cahaya lagi hilang dari pengawasan. Dia tidak mengerti orang-orang datang seenaknya dan pergi sesuka hati, padahal ada begitu banyak pertanyaan yang sudah terkumpul jauh dalam memori ingatannya.


Setengah kesal Hyerin kembali berjalan sampai dia harus merasa putus asa dengan semua keadaan. Matahari yang sangat terik hampir membakar kulitnya, bau sampah, bau debu yang dihembuskan angin membuat rasa kesalnya semakin bertambah. Mengapa baginya sangat sulit?


Di tengah-tengah perdebatan hati yang membuatnya merasa frustrasi, kata-kata wanita itu terngiang mengudara sebagai peringatan yang langsung menjadikannya pusat perhatian. Wanita yang menyebutkan namanya adalah Desy, Hyerin ingat dengan jelas setiap kalimat yang dilontarkan begitu tegas. Tiba-tiba hatinya terasa goyah merasakan sesuatu yang sedang dikerjakan adalah suatu kesalahan, tujuannya mungkin bukan mencari orang-orang, dia harus secepatnya pulang ke tempat pertama dia tersadar di tempat ini, begitulah Desy memperingatkan.


Pertimbangan yang kemudian menjadikannya olokan tak terasa menghabiskan waktu dengan begitu saja. Hyerin menatap ke sebuah gedung seperti Gereja dengan megah dilengkapi menara jam menunjukkan waktu pukul 15.00. Matanya terbelalak, Hyerin tak menyangka sudah menghabiskan waktu beberapa jam hanya untuk memikirkan pertimbangan dari tindakannya. Dia segera bergegas ke arah yang membawanya kembali ke jalan pertama dia keluar dari gedung rumah sakit itu sampai ke jalan tempatnya sekarang.


Hyerin kembali mengingat setiap jalan yang dihubungkan oleh ingatannya itu. Tujuannya tak lain hanya harus bisa kembali ke rumah sakit seperti apa yang diperingatkan, sebelum ada sesuatu di luar kendali. Bisa saja ada hal yang terjadi, jika tidak untuk apa Desy memperingatkannya?


Perasaan kalut menambah rasa gelisah dan pikiran yang tidak lagi bisa dikendalikan. Hyerin bingung bahkan untuk mencerna setiap ingatan yang muncul.


Dalam ingatan yang semakin terlihat samar Hyerin masih sangat berusaha meyakinkan hati pasti bisa menemukan jalan yang akan membawa dia ke tujuannya. Sambil tergesa dengan kedua mata yang tak pernah diam mengamati semua tempat dan pikiran yang sepenuhnya terpusat untuk mempertimbangkan setiap tindakannya, seperti sebaiknya akan memilih pergi ke jalan mana? Mungkin orang lain akan menganggapnya sebagai kegiatan yang sangat merepotkan, tapi Hyerin tidak bisa menyerah dengan keadaan yang tidak memberikannya pilihan. Pikirannya masih tetap menyemangati untuk mencari dan bisa pergi ke arah yang membawanya percaya bahwa dengan keyakinan dia bisa membuatnya mungkin, dirinya masih sanggup jika untuk mengitari semua tempat dan jalanan hingga akhirnya dia akan mengatakan berhasil.


Kesibukan Hyerin sepenuhnya menyeret semua perhatian pikiran dan matanya bekerja kompak, yang tanpa disadari seseorang sudah mengikutinya dengan santai membuntuti dari belakang bahkan jaraknya tidak begitu jauh, namun hal tersebut belum disadari Hyerin.


Matanya kembali menangkap sebuah pemandangan taman kota, kursi taman, tanaman mati terbengkalai, dan tiang-tiang lampu jalan. Hyerin sedikit lega dia mengekspresikan temuan yang didapatkan dengan gembira. Akhirnya dia menemukan semua yang dia ingat. Untuk melepaskan rasa lelah Hyerin melangkah ke arah kursi taman, maksudnya akan duduk di sana untuk menenangkan hati lebih dulu.


Rambut panjang sepundak yang kian terurai diterpa angin menyentuh tubuh Hyerin yang terlihat masih tenang bersandar ke kursi taman. Kedua matanya menutup menghindari terik matahari yang sangat cerah menyilaukan. Aturan napasnya yang berat terlihat dari pergerakan dada dan pundak naik turun beraturan. Kakinya seirama bergerak mengayun mengikuti angin. Dia ingin merasa tenang tanpa terusik lagi oleh semua kenyataan. Namun lagi-lagi saat dia menutupkan mata maka sedetik itu pun semua penglihatan nyata masuk ke dalam pikiran.


"Ding. Ding."


Alunan suara jam langsung mengudara di telinga menjadikannya pusat perhatian.


Hyerin segera menyadarkan diri, awalnya dia menyangka jika suara jam itu hanya lamunannya saja, tapi yang diperlihatkan tidak ada apapun. Hyerin hanya membulatkan mata mengamati pendengarannya yang selalu mendengarkan suara jam berdenging begitu dekat di telinga. Kemudian dia bangkit dan langsung mengamati sekeliling. Seperti dalam tebakannya, satu persatu bayangan samar terlihat muncul kemudian semakin lama semakin jelas. Semua seisi kota perlahan berubah, pemandangan di depannya sudah berganti lagi, meski tempatnya sama tapi semua sudah berubah. Sebaliknya Hyerin mendapati dirinya yang semakin samar diterpa cahaya.


Taman kota tempat dia berdiri sekarang sudah sangat berubah dengan drastis, semua tumbuhan tumbuh dengan baik. Hiasan bunga adalah salah satu identik keindahan hampir terlihat dimana-mana dari sepanjang jalan trotoar di kiri jalan. Hyerin juga melihat pusat kota tidak jauh di depannya, begitupun semua orang berdatangan semakin ramai. Mendapati sekelilingnya sudah berubah dia menyimpulkan jika aturan waktu di dunia ini diatur dengan suara jam dinding yang entah dari mana asalnya. Kini adalah waktunya dia berada di dunia manusia. Ekspresi wajah Hyerin cepat berubah menandakan jika dia mengerti sesuatu hal lagi. Mungkin sekarang adalah waktunya, kesempatan mencari setiap informasi yang akan didapatkan.


Ingatannya kembali mengulang sebuah gedung rumah sakit tempat pertama dia terbangun. Tidak menunggu lama Hyerin berjalan menyusuri jalan dengan setiap ingatan yang akan menuntunnya. Karena perubahan dalam penglihatannya tidak begitu berbeda hal tersebut memudahkan Hyerin menyusuri jalan yang sama untuk mencari rumah sakit yang dimaksudkan.


Kali ini dia sudah melewati beberapa gedung yang terbayangkan olehnya sebuah gedung sangat usang, sampah berserakan dimana-mana dan hampir menumpuk dibiarkan. Sepanjang dalam pengamatannya kali ini Hyerin menangkap sosok orang yang jika diingat-ingat lelaki itu pernah ditemuinya di sekitar rumah sakit. Spontan dia langsung panik dan mengejar orang yang dimaksud dalam keramaian. Hyerin berusaha menghindari tubuh orang-orang yang akan menabraknya, sebelum kemudian dia sadar jika dirinya kini transparan.

__ADS_1


Hyerin berlalu lagi mengikuti orang tersebut yang ternyata sudah begitu saja hilang dari pengamatan. Dia langsung panik, mencari ke sana kemari ke semua tempat dia datangi namun tidak menemukan orang tersebut yang tanpa dia sadari jika lelaki itu sudah dulu mengikuti, dirinya tanpa sengaja menangkap sosok lelaki yang pernah ditemuinya itu. Padahal tinggal selangkah lagi dia hanya perlu bertanya jalan ke arah rumah sakit, tapi lagi-lagi kesempatan itu hilang.


Sampai Hyerin di sebuah gedung di depan pusat kota dia kembali menemukan kejanggalan yang sama. Berulang-kali dirinya memastikan sekelompok orang yang dilihat adalah samar sangat kontras berbeda dengan manusia di sekitarnya. Ternyata seorang roh, Hyerin kali ini bisa melihat roh berdatangan di tempat tersebut tanpa harus berusaha dia cari lagi. Benar tidak adil, setelah berusaha keras namun dengan enteng semua berdatangan.


Roh orang mati yang terlihat transparan di dunia manusia, tapi satu hal yang tidak dimengerti nya tentang aturan waktu diatur seiring suara jam dinding terdengar. Hyerin memastikan sesuatu, dia berlari ke sebuah toko yang tak jauh dari seberang jalan dan mengamati sebuah jam menunjukkan waktu berbeda. Ternyata pukul 12.00 jam menunjukkan waktu yang berbeda dengan aturan waktu di dunianya.


Langkah yang gontai menyusuri jalanan luas di sebuah pusat kota, dia tidak memperdulikan setiap angkutan umum atau orang-orang di hadapannya.


Hyerin berjalan bebas hingga tidak menyentuh apapun yang nyata.


Dia kembali mengulang langkah yang sama, menyusuri jalan sesuai dengan ingatannya.


Kemanakah jalan yang singkat untuk mencari gedung rumah sakit itu? Hatinya sangat gelisah. Kemudian dia terpikirkan sebuah ide yang muncul sebagai solusi. Pertama dia akan mencari roh yang sama dan menanyakan langsung tempat yang dia tuju, mereka bisa tahu karena mereka mungkin lebih lama tinggal. Mendapatkan asumsi tersebut Hyerin segera membedakan satu persatu orang yang ditemuinya. Akhirnya dia melihat seseorang yang duduk mengamati luas pemandangan di pusat kota.


Hyerin mengumpulkan keberanian untuk menghampiri.


"Apakah Anda bisa membantu saya?" Hyerin berusaha menghalau lamunan orang tersebut.


Sudah ke dua kalinya orang memanggil dia sebagai pasien dan kaitannya dengan angka 13.


"Mengapa orang memanggilku demikian?" Tanya nya polos.


Orang tersebut tidak menjawab, dia hanya menghampiri Hyerin yang jaraknya hanya tersisa beberapa jengkal saja. Mendapati orang yang terlalu dekat membuat Hyerin sedikit tidak nyaman.


"Kemari ! Kamu anak baru pasti tidak tahu segala sesuatunya kan?" Sambil tangannya meraih ke dua tangan Hyerin dan sebelah tangan kanan Hyerin ditempelkan ke bagian dada. Hyerin merasakan sebuah tato yang diukir, meski tidak bisa melihat dari sebuah cermin tapi bayangan pikirannya menggambarkan sebuah angka 13 persis dengan yang teraba oleh tangannya.


"Setiap orang mempunyai identitas berbeda-beda dan di tempat yang berbeda di tubuhnya. Tanda 13 sangat terkenal, menunjukkan kamu adalah pasien no 13."


"Lalu ada orang mengatakan nama saya, padahal."


"Itu karena kami para roh bisa langsung mengetahui identitas roh yang lain semacam Indra keenam, manusia sering mengatakannya seperti itu." Sambungnya lagi memberikan penjelasan pada Hyerin dengan sangat detail.

__ADS_1


"Bagaimana caranya?" Tanya Hyerin masih tidak mengerti.


Perempuan itu menyipitkan ke dua matanya semakin menegaskan penglihatan ke arah Hyerin.


"Apa kamu tidak bisa melakukannya?" Tanya perempuan itu lagi yang terdengar seperti memastikan.


"Apa?" Hyerin menjawab dengan ragu.


"Sekarang lihat dan coba kenali saya dari penglihatan mu itu!" Jelas perempuan tersebut yang ternyata masih tidak bisa membuat Hyerin mengerti.


Beberapa saat Hyerin tidak menjawab dan memilih memalingkan wajah ke sisi yang lain. Ekspresinya yang bingung langsung bisa terlihat dengan tegas.


"Kamu tidak bisa membaca pikiran, atau tidak bisa melakukan seperti yang dilakukan roh lain?" Pertanyaan yang dilayangkan pada Hyerin membuat dirinya tertegun, mendapati sebuah fakta tidak bisa membuat dia mengelak. Hyerin hanya mengangguk halus dan tertunduk.


Tidak ada lagi sebuah pernyataan yang terdengar, Hyerin mengintip sedikit ke arah perempuan itu. Di luar dugaannya perempuan tersebut menghentikan semua perkataan membiarkan Hyerin terdiam.


Hyerin merasa jika perempuan itu mulai tak acuh, keadaan seketika membuatnya canggung.


Hyerin tidak ingin menunda lebih lama lagi, dia perlu bertanya sesuai dengan tujuan awal.


"Sebenarnya saya hanya ingin menanyakan sesuatu, jalan menuju rumah sakit." Hyerin bertanya lagi meski keadaan sudah tidak nyaman. Dia tidak mendapatkan jawaban, tapi perempuan tersebut menunjukkan arah ke sebrang jalan. Sekali lagi Hyerin mengamati perempuan tersebut yang tiba-tiba saja bungkam sebelum dia pergi ke arah yang ditunjukkan.


Tubuh Hyerin sepenuhnya hilang dari pandangan, tanpa dia ketahui sebenarnya seseorang sedang mengawasi mereka berdua. Seorang lelaki menatap tajam ke arah Hyerin, hal tersebut membuat perempuan itu langsung berubah. Lelaki yang terus mengikuti Hyerin, kali ini dari kejauhan lelaki tersebut masih mengikuti Hyerin.


####


"Ding. ding."


Pandangannya menatap ke celah langit yang hampir tidak menyisakan cahaya sedikitpun. Hyerin menoleh ke sumber suara yang masih selalu terdengar dekat.


Dia tidak menyangka waktu berlalu sangat cepat dan semua penglihatan Hyerin sepenuhnya kembali berubah. Ke dua mata yang menyaksikan orang-orang kemudian hilang satu persatu hingga kini yang terlihat hanya luas jalanan kosong dan dirinya sendiri. Hyerin tidak lagi terheran dia mulai terbiasa dengan pergantian waktu di dunianya kini. Namun setelah pandangan kini terganti secara perlahan Hyerin melihat di sekelilingnya berubah, bangunan kosong dan terlihat usang.

__ADS_1


Kepanikan menerjang ingatan terdalamnya, sekejap mata Hyerin sudah berada di rumah sakit tepat di dalam gedung. Hyerin berlari menuju pintu terbuka yang ternyata itu adalah ruangannya. Pintu segera ditutup rapat-rapat, Hyerin bersembunyi di balik pintu sambil mengendap berusaha menahan napasnya yang terdengar berat karena panik. Kemudian matanya melihat lagi jam dinding yang menunjukkan pukul 08.00, jam tersebut mati seperti dugaannya dia selalu berada di tempat tepat pada waktu terhenti di jam 08.00.


__ADS_2