Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Janji!


__ADS_3

"Kok kita bawa anak ini ke sini. Gak bakalan kenapa-napa kan?" Tanya Rere pasti. Dia masih ragu jika pilihannya itu benar.


Hyerin melotot menatap Rere memberikannya isyarat agar diam.


Anak kecil yang dia bawa bersama kini sudah berada di gedung sekolah, matanya tak henti menatap heran ke setiap sudut ruangan. "Ibu ada di sini, Kak?" Tanyanya terdengar polos.


Hyerin mendekat mencoba untuk bisa berbicara baik-baik dan tidak membuat dia merasa tidak nyaman. Tapi dari awal Hyerin tidak berniat untuk membohonginya, anak kecil itu seperti salah paham. "Ade siapa namanya?" Tanya Hyerin lembut dan pertanyaannya itu dibalas dengan tatapan manis yang dingin memandangnya.


"Adik." Jawabnya singkat.


"Tenang kok, kakak ini bukan orang jahat dan pokoknya kamu aman disini." Jelas Hyerin.


Adik kecil memutar bola matanya heran ke arah Hyerin, sepertinya dia tidak mengharapkan datang ke tempat orang yang baru pertama kali dia temui.


"Oh ia, mama Adik nanti kita cari sama-sama ya. Adik masih ingat gak terakhir ketemu mama kapan dan dimana?" Hyerin segera membahas tentang Ibunya, karena dia pikir itu yang diharapkan anak kecil itu, dia ingin tahu tentang Ibunya.


Adik menggelengkan kepala, menahan bibirnya yang hampir mengeluarkan suara tangisan padahal air matanya mungkin sebentar lagi akan meluncur.


"Pokoknya kita akan cari Ibu, dimana pun." Hyerin memberikan kesan positif agar anak kecil itu tidak sampai ingin cepat pergi. "Asalkan sama kakak, kamu gak perlu khawatir sendirian lagi. Gak apa-apa kan tinggalnya sama kakak?" Ucap Hyerin mulai memberikan pilihan uang harus dijalani anak kecil itu, menerimanya sebagai kawan dan teman yang mulai kini akan bersama, terutama untuk menjalankan misi Hyerin yang masih bingung akan dibawa kemana.


Rere melihat Hyerin takjub, meski mungkin dalam umur Hyerin lebih muda tapi dia lebih andal dalam urusan anak kecil. "Aku pergi dulu ya." Ucap Rere terlihat ingin segera pergi, dia tidak ingin jika kehadirannya mengganggu Hyerin dan anak kecil itu, terutama saat Rere menangkap sorot mata anak kecil itu yang sedikit melihat ke arahnya dengan tatapan takut.


"Mereka teman Kakak, kamu ingat ya mulai dari sekarang anggap mereka juga seperti teman." Hyerin meyakinkan Adik untuk menerima Rere dan temannya agar jika ke depannya nanti tidak akan membuat dia kesulitan jika sewaktu-waktu tidak membawa Adik bersama.

__ADS_1


Adik dengan polos menganggukkan kepala. Sifatnya sebagai anak kecil yang baru berusia 7 atau kurang memang terlihat khas. Beruntung kali ini Hyerin tidak sedikit merasa kesulitan.


Hyerin menarik napas dan menatap anak kecil yang dalam waktu singkat sudah bersamanya. "Adik, Ibu kamu itu baik kan?" Tanya Hyerin ketus.


Adik menganggukkan kepala masih belum terlalu banyak mengobrol. Tidak apa karena lambat lain nanti anak kecil akan mudah beradaptasi dan akan mudah ditanya banyak.


"Adik, kalau ayah gimana? Kamu gak ketemu Ayah?" Hyerin masih tidak patah semangat mengajak anak kecil itu untuk bisa bicara padanya.


Adik menggelengkan kepala. Bagi Hyerin untuk bisa mengartikan sikap anak kecil itu gampang-gampang susah, seperti saat ini saat dia menggelengkan kepala begitu banyak arti yang muncul di kepala Hyerin, pastinya bagi Hyerin harus sangat hati-hati untuk mengobrol apapun itu.


"Kamu punya banyak teman?" Hyerin masih bertanya.


Adik menggelengkan kepala.


Sekilas membuat Hyerin bingung, dia was-was jika akhirnya harus kehabisan akal untuk menyikapi anak kecil ini. "Kakak punya banyak teman, tapi di tempat ini tidak." Ucap Hyerin tersenyum.


"Ibu, Adik mau ketemu." Gumamnya lirih.


Hyerin menatap lekat sebuah mata yang melihatnya dengan penuh sendu, entah seberapa besar kesedihan yang tersimpan di balik manik mata yang polos itu. Pasti sangat sedih kehilangan Ibu di usianya sekecil itu. Yang paling membuat Hyerin penasaran dan sangat ingin segera menanyakan sesuatu pada anak kecil itu, Hyerin tak sabar dan sangat tidak sabar. Mengapa anak kecil itu sudah melakukan perjanjian dengan iblis, apakah dia sengaja melakukannya.


Hyerin mulai berpikir dalam, dia harus mencari cara dengan kemampuan berpikirnya dan kekuatan ingatan agar bisa membahas inti dari permasalahannya. Tapi bagaimana? Dia harus memancingnya dengan cara apa?


Apakah langsung bertanya saja tentang iblis?

__ADS_1


Hyerin semakin gusar tak tahu apa yang bisa dilakukannya, apakah dia akan berhasil atau sia-sia saja membawa anak kecil sejauh itu ke tempatnya sekarang.


"Kakak." Terdengar suara yang lirih memanggil, Hyerin langsung menebaknya jika itu adalah panggilan pertama untuk dirinya.


"Ada yang ingin kamu katakan? Katakan semuanya pada Kakak. Kakak ini gak jahat gak pernah nyakitin orang, buktinya Adik baik-baik saja kan disini." Tekan Hyerin terus memberikan keyakinannya pada anak kecil itu.


Sebentar Adik melihat serius ke arah Hyerin.


"Kakak janji gak jahat ya!" Ucapnya sambil mengacungkan jari kelingking ke arah Hyerin. Hyerin tahu apa maksudnya itu adalah salam janji yang dilakukan anak kecil. Kemudian Hyerin memajukan jari kelingkingnya sampai bisa saling bertaut dengan anak kecil itu. Tak disangka senyuman pertama terlukis di sudut bibir memperlihatkan betapa cantiknya menjadi anak kecil yang masih polos dan hidup menyenangkan.


"Janji!" Ucapnya membuat Hyerin terperanjat karena saking terlenanya dengan wajah Adik yang manis dan enak dilihat.


"Janji!" Balas Hyerin tersenyum juga.


"Kakak aku mau cerita, tapi jangan bilang-bilang." Ucapnya memperingatkan. "Rahasia." Bidiknya yang mulai berani mendekatkan diri dengan berbisik ke telinga Hyerin.


Hyerin mengacungkan jempol tanda setuju. "Kita sebaiknya bicara di dalam berdua, biar gak ada orang yang lihat ya!" Ucap Hyerin sengaja, sebenarnya Hyerin ingin anak kecil itu sepenuhnya percaya dan bisa menceritakan semuanya dengan detail. Karena dari cerita yang akan didengarnya Hyerin berharap bisa menemukan banyak hal yang akan membuka masalahnya sekarang, semoga saja karena selain Ter atas waktu Hyerin juga harus bertindak cepat agar tidak ada yang terlambat.


Hyerin memegang tangan anak kecil itu memasuki gedung sekolah yang di dalamnya begitu banyak manusia. Awalnya Hyerin merasa tarikan tangan dari anak kecil itu, mungkin dia gugup dan tidak bisa berhadapan dengan orang banyak.


"Mereka semua gak bakalan lihat kita, dan Kakak jamin di sini tempat yang paling aman." Jelas Hyerin dengan sangat antusias dan semangat.


Respon yang diharapkan tidak terjadi, kali keduanya Hyerin harus bisa memutar otaknya lagi.

__ADS_1


"Gak bakalan ada yang denger kok, janji!" Ucap lagi Hyerin. Sebentar Hyerin melihat ke sekeliling dia melihat sudut ruangan paling belakang yang cukup bisa untuk mengobrol. "Di sana!" Tunjuk Hyerin ke arah sudut ruangan.


Dah Dig dug rasanya, dia harus sabar menata semua perkataannya dan harus bisa meyakinkan dengan sepenuh hati. Hingga kata setuju terakhir dikatakan oleh anak kecil itu.


__ADS_2