
"Dia tidak tahu apapun, sebaiknya kita beritahu saja dia semua yang kita tahu. Lagipula itu tidak merugikan." Saran seseorang yang langsung memecah hening.
Sani langsung memandangi orang itu.
"Kau tahu siapa Rai itu sebenarnya? Kau tahu Rai itu sangat berbahaya dan kau tahu tempat ini sudah tidak aman bagi siapapun bahkan bagi kami."
Sani melihat ekspresi orang yang sudah memberinya penjelasan dengan sangat detail.
"Rai adalah dewa kematian yang sudah melakukan perjanjian dengan iblis, karena itu di sepanjang waktu banyak roh yang hilang tanpa kabar di tempat ini. Kita tidak bisa tahu kematian itu sedang mengintai." Timpal yang lainnya.
Sani membulatkan mata mendengar sebuah fakta yang berhasil membuat isi kepalanya serasa mau pecah. Dia tidak menyangka ada sesuatu yang sangat besar terjadi dan itu sangat berbahaya bagi siapapun.
Yang ada dipikirannya Sani sangat tidak menyangka ada sebuah insiden besar yang terjadi, sekilas dia berpikir apakah Ken menyembunyikan hal ini darinya?
Sani tidak memiliki keberanian lagi untuk menjawab, dia seperti sedang diintrogasi dengan banyak pertanyaan dari orang-orang dan menyudutkannya.
"Sudah tidak ada gunanya lagi. Apakah dia tidak memiliki mulut untuk bicara." Keluh seseorang yang langsung diperhatikan Sani saat itu.
"Kau sebenarnya darimana?" Pertanyaan seseorang langsung memecah suasana yang tidak terkendali saat itu.
Sani hanya bisa menatapnya tajam.
Tatapan orang lain langsung berubah padanya, semua terpengaruhi oleh pertanyaan itu.
__ADS_1
Sepasang mata menyelidik ke arah Sani.
"Kau seorang roh kan? Tapi terlihat asing kalau kau tinggal di sini. Sebenarnya tempat mu sangat jauh? Apa tujuan mu sebenarnya ke tempat ini?" Tanya satu orang wanita yang mendekat ke arah Sani.
Sani tidak bisa bergerak, rasanya seluruh tubuhnya kaku. Bukan perasaan takut tapi dia lebih merasa gugup.
"Cepat jawab!" Terdengar suara dari wanita yang tidak asing. Wanita itu meyakinkan Sani untuk segera memberikan jawaban agar yang lain tidak bertanya-tanya.
Perlahan Sani hanya bisa menelan ludah, berusaha membangun kepercayaan untuk menjawab. "Aku tidak tinggal di sini. Aku hanya menjalankan tugas mencari informasi tentang Rai." Dengan perlahan Sani menjelaskan semua yang ada dalam pikirannya dengan hati-hati.
Sani mengabsen setiap ekspresi dari orang-orang. Dan ternyata mereka semua seperti tidak puas dengan jawabannya.
Suasana menjadi hening, semua diam dan saling berbisik satu sama lain. Sani hanya mematung sendiri menahan perasaan ingin melarikan diri saat itu juga.
"Kamu bisa bekerja sama?" Tiba-tiba sebuah pertanyaan dari seorang lelaki menarik kembali kesadaran Sani, dia terperanjat karena tidak menyangka pertanyaan itu terdengar olehnya. Padahal dia sudah bersusah payah menyusun rencana agar bisa bekerjasama dengan mereka semua, tapi sesuatu terjadi di luar dugaannya.
"Sepertinya tujuan kita sama, tidak ada salahnya jika kita bekerjasama dalam hal ini dengan begitu misi mu berhasil dan tujuanku beres." Jelasnya berterus terang.
Sani masih terdiam tidak menyangka dia bisa seberuntung ini.
"Baiklah selama itu tidak merugikan ku." Jawabnya dengan senang. Sani akhirnya mendapatkan jalan yang akan dia ceritakan pada Ken.
"Di tempat ini masih aman, dan kamu hanya perlu selamat di perjalanan untuk sampai lagi ke tempat pertemuan kita. Setiap 4 waktu sekali kita bertemu di tempat ini, hal itu terhitung dari hari ini. Dan ingat jangan lengah semua tetap waspada terutama semua yang ada di sini, karena iblis itu pasti sudah tahu wajah kita semua. Terkecuali, Sani."
__ADS_1
Dengan seksama Sani mengikuti semua arahan yang diceritakan oleh perempuan itu. Saat namanya disebut lagi membuat Sani terkejut, dia mengerti jika dalam keadaan saat ini hanya dirinya yang bisa selamat.
Kabar baik yang Sani dapat hari ini membuat hatinya sedikit membaik, dia hanya perlu bercerita kepada Ken apa yang dia dapat hari ini. Ken pasti memuji usaha dan keberuntungannya itu.
Saat semua pertemuan diakhiri Sani melangkah sendiri keluar dari ruangan itu. Dia berniat untuk menemui Ken. Mungkin kali ini Ken sudah ada di tempatnya.
Perasaan yang sudah membaik membuat Sani sangat bersemangat. Saat berada di luar gedung dihirupnya udara dalam-dalam, diakhiri dengan sebuah senyuman lalu Sani secepat cahaya hilang dari tempat itu. Sudah jelas jika tujuannya adalah menemui Ken.
Padahal ada satu hal yang tidak Sani ketahui, Ken dengan perasaan khawatir pergi ke sana kemari mencari dirinya demi untuk menyampaikan bahwa iblis itu pasti bisa membahayakannya. Ken sudah mendatangi tempatnya dan Sani tidak ada di tempat biasa. Keadaan ini tidak mudah ditebak Ken terutama dia tidak bisa memastikan kemana perginya Sani, padahal saat itu Ken sangat tidak bisa tenang jika belum bertemu dengan Sani.
Kepergian Sani membuat Ken tidak bisa bernapas dengan leluasa. Setelah mencari ke sana kemari mendatangi setiap tempat yang pernah dia datangi, tapi Sani masih tidak terlihat ada di antara penglihatannya saat itu.
Ken tidak tahu tentang Sani dan apa yang dilakukannya jika tidak sedang bersamanya, karena Sani tidak lagi menceritakan apapun setelah pergi ke tempat ini. Ken sangat menyesal mengapa dia membiarkan hal itu.
Sani melihat sebuah bangunan yang ada di depan matanya saat itu. Dia sangat senang dan bersemangat untuk menemui Ken. Tidak ada waktu lagi untuk menyimpan semua informasi yang dia tahu, Sani berniat untuk menceritakan semuanya setelah bertemu Ken saat ini.
Perlahan Sani membuka sebuah pintu usang yang dipegang oleh tangan kanannya. Sani langsung mendorong pintu hingga terbuka lebar. Saat menatap ruangan Sani tidak langsung melihat Ken, hatinya penasaran dan segera masuk lebih dalam ke dalam ruangan. Tapi di sepanjang semua tempat yang dia datangi Sani masih tidak melihat Ken saat itu. Dia mulai sedikit curiga lagi.
Tiba-tiba pikirannya langsung cemas, teringat sebuah kata-kata yang disampaikan orang-orang tadi, tentang iblis itu.
Sani berpikir jika Ken mungkin bernasib buruk.
Dengan perasaan yang sangat cemas, Sani segera mempercepat langkah kakinya saat itu. Dia langsung berniat untuk pergi mencari kejelasan tentang Ken. Tapi langkahnya terhenti lagi. Ada seseorang yang menghalangi tubuhnya saat itu. Dari ujung kaki matanya terus mengabsen bagian tubuh orang itu, hingga matanya kembali terbelalak saat melihat Rai yang sudah menghalangi jalannya. Sani terdiam karena tidak tahu apa yang akan dia ucapkan untuk menyapa.
__ADS_1
Sebuah senyuman terlukis di sudut bibir Rai yang dilihat Sani. Tapi ekspresi Sani berubah, dia merasa tidak mengenali Rai dan hatinya juga mengatakan sangat asing dengan orang yang ada di hadapannya saat itu.
Sani hanya memundurkan langkah secara teratur, hatinya tiba-tiba tidak terkendali dan entah apa sebabnya. Perasaan takut langsung menguasai pikirannya. Sani mencoba melihat ke kiri ke kanan berniat untuk memastikan jika ada orang di tempat yang tidak jauh darinya saat itu. Tapi sesuatu langsung terasa menghantam kepalanya hingga dalam hitungan detik kepalanya terasa pecah dan ngilu bercampur dengan perasaan sakit secara perlahan. Untuk meringis kesakitan pun Sani tidak memiliki energi, tubuhnya terasa lemas hingga ke dua kakinya langsung ambruk ke lantai.