
"Kita pergi ke gedung itu saja, mungkin Rai sudah menunggu."
Tiba-tiba ucapan wanita itu mengudara di pikiran Hyerin. Sepanjang jalan perasaannya diselimuti dengan perasaan ragu. Apakah kali ini tindakannya sudah benar? Dia tidak bisa melupakan kejadian yang belum lama sudah membuat insiden yang paling membekas. Rasa trauma untuk membawa orang lain ke tempatnya semakin nyata dan mengganggu.
"Sebaiknya kita pergi saja, sangat salah jika harus melanjutkannya." Rengek Hyerin yang sangat cemas, raut wajahnya yang setengah mati merasa takut tidak bisa lagi dia sembunyikan.
"Tapi kita harus menemukan Rai. Itu lebih baik." Bantahnya yang semakin membuat Hyerin bingung.
"Tapi kenapa harus pergi ke tempat itu, jangan saja!" Ucap Hyerin yang masih menahan pendiriannya.
Orang tersebut menangkap perasaan takut yang sudah menghilangkan rasa percaya diri Hyerin. Dari binar matanya yang tajam dan kosong seperti orang linglung. Perasaan takut itu sudah mengubah Hyerin seutuhnya. Tapi juga tidak baik jika terus memaksakan, sebenarnya yang dikhawatirkan kini bukan tentang keselamatannya sebagai salah satu roh yang tidak berarti juga mempertahankan diri di dunia persimpangan seperti ini. Yang ditakutkan adalah Hyerin, karena dia adalah takdir untuk menyelesaikan permasalahan yang sangat besar ini.
Ditariknya napas dalam-dalam. "Tenang, semua akan baik-baik saja." Ucapnya yang sangat lembut menenangkan Hyerin.
Hyerin hanya membalas perkataan yang didengarnya dengan sebuah tatapan kosong, dia tidak bisa mengatakan satu katapun keluar dari mulutnya. Hyerin sudah mengutarakan semua kekhawatirannya, lantas jika kejadian itu kembali terjadi? Pikirannya kembali berhenti, langkah kaki yang tadinya berjalan juga berhenti. Hyerin menatap orang yang ada di hadapannya dengan tatapan memelas. "Tolong. Sekali ini saja!" Ucap Hyerin yang masih memohon.
"Tenang. Semua akan baik-baik saja." Sebuah kalimat yang meluncur lolos ke indra pendengarannya.
__ADS_1
Hyerin tidak berkomentar lagi, kali ini dia terlihat sangat tidak bersemangat, berjalan gontai dengan perlahan karena dia tahu hanya tinggal beberapa langkah lagi kaki nya kembali datang ke tempat yang sangat ditakutinya sepenuh hati.
"Itu pintu masuknya!!" Seru wanita itu pada Hyerin yang masih melamun, terlihat jika Hyerin tidak langsung menanggapi.
Melihat sebuah pintu masuk seperti sedang melihat pintu menuju ke neraka saja. Hyerin tidak sanggup, perasaan kalut dan bingung kembali bercampur. Namun keadaan tidak memberikannya sebuah pilihan lagi, karena pada akhirnya jika waktu kembali berganti Hyerin tetap pergi ke tempat yang ada di hadapannya itu.
Sangat pelan Hyerin memberanikan diri memasuki tempat yang masih terlihat ramai. Tubuhnya bisa langsung tembus memasuki gedung dan sampai ke dalam gedung itu.
Matanya menerobos mengamati setiap celah yang tertutup oleh orang-orang. Masalahnya waktu belum berganti dan kejutan itu bisa kapan saja terjadi. Dia sudah melihat arah jalan yang akan membawanya ke sebuah ruangannya itu.
Sangat hati-hati Hyerin meneliti ke setiap tempat dan menarik lengan wanita itu yang ternyata juga tidak pernah lengah. Dia mengawasi semua tempat satu persatu oleh matanya.
Dia tahu jika tempat Hyerin bukanlah tempat yang aman, untuk setiap jengkalnya sangat tidak aman apalagi jika waktu saat itu berganti tanpa aba-aba. Dia tidak pernah merasa aman ketika harus mengambil keputusan untuk melanjutkan penyelidikannya dan memilih langsung menangani kasus yang sebenarnya tidak 1 persen memiliki kemungkinan berhasil. Namun tidak ada pilihan, jika dibiarkan lebih lama iblis yang menyerupai Rai dapat membuat semuanya tidak adil.
Tetap waspada mengikuti Hyerin tepat di belakangnya. Hingga dia melihat Hyerin berhenti dan menunjukkan sebuah pintu yang mungkin dia maksudkan sebagai tempatnya. Kali ini dia memilih untuk masuk ke dalam ruangan tersebut, bukan lagi Hyerin yang harus memimpin jalannya.
Tepat memasuki sebuah pintu yang sedikit terbuka, matanya langsung menangkap sebuah pemandangan yang di dalamnya ada begitu banyak dokter terdiri dari 3 orang dokter dan beberapa perawat, juga seseorang yang terbaring di atas kasur. Nalurinya sangat penasaran dan semakin mendekat ke kerumunan yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Matanya langsung terpana, tubuhnya hanya bisa mematung. Bersikap seperti sangat tidak percaya dengan penglihatan yang sudah didapatkannya saat itu. Gadis yang terbaring lemah hampir mati sebagai manusia hidup adalah gadis yang mirip dengan Hyerin. Karena sangat tidak percaya matanya spontan mengalihkan perhatian ke arah Hyerin yang sudah berdiri di belakangnya. Apakah artinya ini? Apakah Hyerin sebenarnya masih hidup? Tanyanya yang langsung membuyarkan seisi pikirannya saat itu. Di dalam pikirannya hanya terngiang jelas wajah gadis yang sedang membisu di atas kasur pasien.
Dokter-dokter kemudian satu persatu meninggalkan ruangan. Sedangkan wanita itu masih mematung dan menghiraukan Hyerin yang sibuk mengamati setiap inci ruangan. Hatinya seperti sudah melakukan perjalanan panjang yang sangat melelahkan, tidak ada yang terasa selain perasaan lelah. Begitupun kini, perasaan yang menggambarkannya penuh dengan perasaan bingung. Ketika Hyerin melihat ke arahnya dan ke arah gadis yang sedang berbaring di atas kasur itu, saat itu juga hatinya seperti sedang menerima sebuah teror yang membuatnya takut. Namun melihat Hyerin yang bersikap santai dan biasa saja, layaknya tidak menyadari gadis yang berbaring di atas kasur itu. Dia hanya bisa mematung dan membisu. Tidak percaya dengan hal yang sudah dilihatnya. Semua di luar nalar dan logika. Apakah Hyerin benar tidak melihat dan menyadari gadis yang ada di atas kasur? Sekali lagi matanya memastikan dan masih melihat ada orang yang sama di tempat itu.
"Kau sangat aneh seperti itu. Dengar di sini memang sering banyak pasien masuk ke ruangan ku. Biasalah saja!" Pinta Hyerin yang masih tidak menyinggung apapun.
Mendengarkan perkataan Hyerin dia kembali terkejut, hingga untuk menjawab perkataan Hyerin pun harus berpikir panjang dulu.
"Ah. Tidak ada." Ucapnya singkat yang memperlihatkan senyuman aneh.
Hyerin duduk di bawah lantai dengan santai, arah matanya, pandangannya tidak mengarah ke atas bagian kasur pasien itu. Jika diperhatikan Hyerin memang tidak bisa melihatnya.
Bingung, matanya hanya melongo melihat kejadian di luar akal. Apakah dia perlu menanyakannya langsung? Tapi jika berada di posisi Hyerin kini dia bisa langsung menyadari orang yang berada di atas kasur itu, sedangkan Hyerin tidak menunjukkan jika dirinya tidak melihatnya.
Ding, Ding, ding.
Suara jam dinding bergema lagi. Setengah mati kaget mendengarkan suara jam yang langsung mengubah suasana seketika.
__ADS_1
Hyerin yang masih terduduk juga bisa merasakan terkejut yang tidak biasa. Kini di dalam ruangan hanya menyisakan dia sendiri. Tidak ada satu orang pun. Hyerin hanya mematung dan dengan hati-hati membalikan wajah menatap ke semua sudut ruangan. Sangat lambat dan hati-hati.