
Hyerin menghela napas berat, hanya bisa tertunduk menuntun matanya agar tetap diam. Hatinya masih terus bertanya hal yang sama tapi apakah memang harus bertanya pada mereka sekarang?
Mata Hyerin kini berpapasan dengan mereka, para roh yang sudah berjasa membantunya melewati sesuatu yang sulit seperti tadi. Sembari mengabsen Hyerin bertanya lagi dalam hati apakah mungkin dia bertanya pada mereka yang sama sekali tidak dia kenal?
"Sekarang kau sudah aman, tak perlu melotot seperti itu." Celoteh seseorang menyindir.
Hyerin sama sekali tak terkejut dengan pernyataan itu. Dia menarik tatapannya lagi pelan.
"Sekarang kalian harus menceritakan semuanya!" Timpal lagi yang lain bicara.
Hyerin langsung melihat tatapan mereka yang sudah berubah, bukan hanya membuat hatinya terkejut tapi kali ini Hyerin yakin tidak mudah untuk menghindari mereka semua.
"Apa yang mau kalian tahu?" Pada situasi yang membuat Hyerin bungkam beruntung sekali karena Rai mulai bicara.
Mendengar ucapan Rai mereka kini mengalihkan perhatian padanya.
"Pertama kenapa kalian bisa kembali menjadi manusia?" Pertanyaan ketus dan sudah bisa ditebak.
Rai tampak santai mendengar pertanyaan yang sudah tidak asing baginya.
"Kalian itu harusnya tetap roh seperti kami kan! Kenapa sekarang kalian menjadi manusia? Apa rumor nya benar?" Seseorang bicara tegas.
Mendengar nada bicara yang berbeda saat itu juga Rai langsung melotot pada orang itu. "Memangnya kau pikir itu mungkin?" Rai malah balik bertanya.
Semua yang mendengar hanya tercengang dan bertanya-tanya. Tidak ada yang salah dengan pernyataan Rai, yang benar hanya kata-katanya saja kan. Memang kenyataannya itu tidak mungkin.
__ADS_1
"Berhenti berbelit-belit!" Bentaknya lagi pada Rai, dia menjadi orang yang paling tak terima dengan jawaban Rai. "Tapi kenyataannya seperti itu kan, sekarang kalian menjadi manusia. Mustahil kalian tidak tahu!" Sangkal nya bersikeras.
Rai menarik napas, pertanyaan menarik seperti itu memang tidak bisa dia jawab alasannya bukan karena dia tidak bisa menjelaskan tapi karena mereka semua tidak akan percaya.
"Kenyataannya seperti itu, kami tidak tahu!" Tegas Rai berniat menyudahi perdebatan yang tak berguna menurutnya.
"Kau pikir kami percaya?" Jawab mereka.
Rai memalingkan wajahnya, beralih menatap Hyerin dengan penuh makna.
Kemudian Rai berdiri dan mengejutkan merek semua. Tak menghiraukan apapun, Rai langsung menarik lengan Hyerin mengabaikan mereka yang ada pada dimensi di hadapannya. Rai tak peduli dia tidak perlu meminta izin untuk pergi kan? Dan yang terpenting dia tidak peduli apapun yang dikatakannya mereka tidak akan ada yang percaya.
Hyerin tercengang, menatap heran ke arah Rai yang sama sekali tidak membalas pertanyaan Hyerin dalam hatinya.
Selangkah demi selangkah Rai dan Hyerin pergi, jalannya tidak baik dan tidak mudah karena mereka para roh berusaha menghalangi. Sia-sia karena usaha mereka tidak akan berhasil menghentikan langkah Rai dan Hyerin. Mereka hanya para roh yang tak memiliki wujud nyata sedangkan Rai dan Hyerin adalah manusia.
Rai tampak muak, dia seolah sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pastilah bukan sesuatu yang mulus kan? Rai harus terus menghindari mereka, melarikan diri pada setiap jalan.
Perjalanan belum berakhir, keduanya hanya perlu sampai dan urusan nanti bagaimana atau akan seperti apa itu bukanlah suatu Masalah yang diperdebatkan, tapi kini pertanyaannya akan sampai kapan mereka berdua menyudahi jalan cerita ini?
"Kau tak takut?" Celoteh Hyerin pelan, dia sebenarnya tidak berniat untuk bicara pada Rai seperti itu.
"Pulanglah sekarang kalau itu masalahmu!" Jawab Rai singkat. Tak disangka kata-kata itu keluar dari mulutnya.
Sedikit terhenyak mendengar jawaban itu membuat Hyerin tak bisa bicara lagi.
__ADS_1
Hati Hyerin masih canggung, meski Rai bukanlah dia yang sebenarnya namun entah mengapa sebagian besar naluri Hyerin tak ingin menerima kenyataan itu.
Sudut mata Hyerin sedikit mengintip ke arah Rai, melihat raut wajahnya dan terkadang Hyerin menerka sendiri apa yang dikatakan oleh hati Rai meski itu mungkin salah besar.
Sedikit tidak sadar, dari tadi mungkin tangan keduanya saling bertautan. Dan yang pertama menyadarinya adalah Hyerin, ketika ingin menarik tangannya tapi entah mengapa Hyerin menghentikan niat itu, kuasa hatinya mencegah dia melakukan hal itu.
Walaupun singkat dan sesingkat-singkatnya pertemuan dengan Rai dulu, pada beberapa kehidupan dan pada dimensi yang sama Hyerin masih tidak bisa melupakan bagaimana rasanya saat tangan Rai menggenggamnya erat. Dan sekarang masih menjadi misteri apakah orang yang sedang bersamanya kini adalah Rai yang sama? Mengapa sampai sejauh itu Hyerin tidak bisa menerima kenyataan.
Dulu Hyerin mungkin pernah berpikir jika pertemuan dengan Rai hanya satu kali terjadi dan tidak akan pernah terulang lagi. Hal itu memang benar, karena Rai masih tetap menunggunya pada beberapa kehidupan di tempat yang sama, bertahan menjadi roh di dimensi yang tidak bisa didatangi Hyerin ketika dia hidup tapi tempat yang akan didatangi Hyerin ketika dia menjadi roh. Dan sangat disayangkan karena Rai memiliki keyakinan yang tidak bisa dibandingkan dengan perasaannya sendiri, kadang Hyerin berpikir jika cintanya itu tidak pantas dirinya tidak seharusnya menjadi seseorang yang dinantikan Rai.
"Melamun lagi. Sebaiknya kau sekarang katakan kita akan pergi kemana?" Ucapan Rai langsung membuyarkan pikiran Hyerin yang masih terus bernostalgia dengan banyak penyesalan-penyesalannya.
Sedikit terkejut, Hyerin harus bisa bersikap biasa saja.
"Kita sebaiknya melalui jalanan ini tapi aku rasa tempatnya masih jauh." Jawab Hyerin. Dia diam lagi tapi sebenarnya hatinya langsung bertanya-tanya tentang bagaimana dia tahu apa yang dikatakannya itu terjadi spontan dan Hyerin rasa jalanan itu bukanlah sesuatu yang asing baginya.
Rai tanpa bertanya lagi langsung menuruti apa yang dikatakan Hyerin saat itu.
"Apa yang akan kita temui nanti?" Rai bertanya lagi setelah lama berjalan.
"Apa?" Hyerin terkejut sampai menghentikan langkahnya. Kedua mata mereka berpapasan.
"Sudahlah lanjutkan lagi jalannya!" Ucap Rai seperti tak tega melihat ekspresi yang diperlihatkan Hyerin saat itu.
Bagaikan taj terjadi apapun Hyerin masih bisa bersikap biasa saja, tapi pertanyaan Rai memang sudah berhasil mengusiknya sekarang. Benar saja apa yang akan dia temui nanti? Apakah dirinya tahu? Seperti itulah masalah yang dihadapi Hyerin. Namun sayang karena dirinya sendiri tidak tahu. Lantas bagaimana jika tidak ada perubahan apapun atau setelah sampai di tempat yang dia yakini ternyata tidak ada seorang pun yang bisa ditemui, atau tidak pernah ada apapun di sana awalnya.
__ADS_1
Hyerin mulai tidak bisa fokus, samar sekelebat bayangan muncul di kepalanya. Ada sebuah jalan dua pasang kaki yang melewati jalanan itu bersama. Seperti itulah yang tampak hanya sesingkat itu saja tidak ada bayangan lain yang akan menjelaskan kesulitan pertanyaan hatinya.