Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Cerita Rai


__ADS_3

Kedua pasang mata hanya bisa menatap dalam-dalam sebuah ruangan yang sejak kejadian itu tetap membawanya ke tempat yang sama. Samar lagi terlihat bayangan yang bermunculan namun tidak lama hilang lagi. Hyerin yang sangat merasa bersalah tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak bisa membiarkan orang-orang hilang, tapi apa yang bisa dilakukannya.


Hyerin tertatih melangkahkan kaki yang masih terasa ngilu ketika dia berdiri di atas lantai. Tapi dia tidak bisa berdiam diri saja, harus ada yang dilakukannya.


Kenop pintu ditariknya hingga pintu terbuka. Hyerin berjalan lagi keluar. Dia segera terkejut hingga menarik mundur lagi kakinya. Matanya melotot memandangi Rai berdiri dan bersandar ke sebuah tembok.


"Astaga..." Ucap Hyerin.


Rai balik menatapnya melihat Hyerin yang ketakutan. "Apa? Sekarang mau kemana lagi?"Tanya Rai ketus.


"Ah... Tidak aku hanya ingin keluar." Jawab Hyerin terlihat menarik napas kemudian berjalan melewati Rai yang sedang berdiri. Matanya yang tidak pernah diam mengamati arah suara dari langkah kaki seseorang, dia melihat Rai yang mengikuti. Sebenarnya dia tidak begitu merasa masalah jika Rai mengikutinya, mungkin dengan begitu dia bisa aman dari orang yang mirip dengan Rai. Mungkin Rai juga bermaksud seperti itu.


Membayangkan kengerian yang sudah terjadi membuat Hyerin merasa tidak percaya mengapa bisa terjadi dan menimpanya. Yang dia lihat orang yang mirip dengan Rai bukanlah orang biasa, dia kasar, jahat sedangkan Rai sebaliknya. Semoga saja dengan fakta yang sudah ditemukan menjadi kabar baik bahwa selama ini orang yang menghilangkan semua orang adalah kembaran Rai bukan Rai yang asli.


"Eh... Rai tidak ada, kemana perginya?" Tanyanya dalam hati. Dia mengamati ke sepanjang tempat yang terlihat namun Rai sudah tidak ada. Hyerin tidak menunggu lama dia segera pergi.


Suasana yang sama, sepi tidak terlihat satu orang pun hal tersebut mungkin karena waktu yang belum berubah juga. Sekilas dia kembali memikirkan tentang Akemi yang masih teka-teki. Hyerin bisa melihat bayangan Akemi yang selalu berlari menghampirinya. Tapi kini setelah beberapa waktu dia tidak lagi melihat Akemi dan kemana perginya.


Di sepanjang jalan Hyerin melihat lagi suasana yang sama, ketika dia berpapasan tak sengaja dengan orang tak dikenal maka reaksi yang dilihat selalu sama. Mereka seolah kesal atau memang sebelumnya dirinya sangat mengesalkan? Perbuatan apa yang sudah diperbuatnya dia sama sekali tidak bisa membayangkan dan ingat. Jika dikatakan adalah sebuah kebetulan tidak mungkin karena dari beberapa kesempatan mereka semua tetap bereaksi sama.


Pikirannya semakin penasaran dan tidak bisa jika hanya diam saja, Hyerin memberanikan diri berlari ke arah anak kecil dengan seorang ibu yang sekilas melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Hey... Hey. Kenapa menghindar? Ada yang salah? Aku tidak mengerti bisa bantu menjelaskan?" Tanya Hyerin berterus terang. Meski orang yang diajaknya bicara tidak bereaksi malah terlihat sedikit menghindar seperti takut.


Mendapati orang lain tidak seperti yang diharapkannya akhirnya Hyerin hanya bisa kecewa dan tidak melanjutkan usahanya lagi. Sangat percuma, bisa dilihat jika tidak akan ada orang yang mau berbicara dengannya, selain orang-orang di tempat itu. Benar sekali seharusnya Hyerin segera pergi ke tempat orang-orang itu dan memberi tahu nya bahwa perempuan itu sudah tidak ada dan ada kejadian yang sangat membuat dia takut. Sebuah kejadian yang sangat mengerikan. Dia sendiri juga harus memberi tahu jika ada orang kembaran Rai yang sudah ditemuinya, dan orang itu yang sudah membuat orang-orang hilang bukan Rai.


Sekarang perasaan antusiasnya membawa keberanian untuk Hyerin agar segera menemui orang-orang.


Tepat di pusat kota Hyerin melihat kerumunan orang di depan matanya. Dia sedikit memundurkan kaki dan merasa tidak mungkin lagi harus meneruskan jalan bukankah orang-orang masih bersikap sama? Dia berbalik ke arah belakang dan melihat Rai yang sudah berada mengikutinya. "Sejak kapan?" Tanya hatinya. Namun dia segera kembali bergerak berjalan maju lagi menyembunyikan wajahnya dan bersikap seolah tidak menyadari kedatangan Rai. "Mungkin tidak apa-apa kan?"


Hyerin berjalan sambil menundukkan wajah melewati orang-orang dan menuju ke arah gedung yang kemarin.


Dia mempertahankan tubuhnya tetap tenang berjalan melewati orang-orang, tanpa disangka tiba-tiba suara jam kembali berdenging dan terdengar dekat lagi. Spontan dia meneliti ke sembarang arah yang kemudian memperlihatkan pemandangan yang berbeda, secepat cahaya semua berubah di depan matanya. Suasana yang berubah lebih terlihat hidup dengan warna langit cerah berwarna biru terang, dan pohon menghijau di sepanjang jalan, ada juga orang-orang yang berlalu lalang dan tidak terhitung banyaknya. Hyerin melihat dirinya yang berbeda, terlihat samar dan mungkin akan transparan. Jika dirinya seorang roh kali ini dia tidak bisa menyentuh benda hidup di dunia makhluk hidup. Sesaat dia kembali tersadar bahwa tujuannya ke tempat itu, dan Rai? Hyerin cepat berbalik memastikan, ternyata masih ada.


Apa tidak apa-apa jika Rai mengikutinya sampai ke tempat itu? Berulangkali hatinya bertanya-tanya. Tapi jika sengaja menghindar apa tidak apa-apa juga? Hyerin terlihat bingung dan kesal sampai tak terasa dia berhenti tepat di tempat yang ingin dia tuju. Hyerin tidak bisa menghindari perasaan yang mulai gugup apalagi saat melihat seorang yang sama dengannya melihat ke arahnya memasuki gedung itu. Perasaan ragu terus membayangi, langkahnya semakin cepat memasuki ruangan dan melewati orang-orang. Kafe yang ramai dikunjungi, di sepanjang tempat yang dia lihat matanya tak pernah lepas mengamati setiap orang, mencari orang-ornag yang seharusnya ada di gedung ini. Tapi kemana perginya mereka? Apa karena waktu sekarang mereka semua tidak di tempat ini? Lantas kemanakah perginya? Hyerin terlihat tidak sabar mencari ke beberapa ruangan. Dia masih tidak melihat satu pun orang yang dicarinya, perasaan yang mulai kesal dan membuatnya bingung. Dia tidak tahu harus mencari kemana sesudah ini.


"Hey kau terus mengikuti saja? Kau akan terus mengikuti?" Tanya Hyerin yang langsung menghampiri Rai dengan dekat. Tapi Rai tidak merespon, dia bersikap biasa saja dan terkesan dingin menanggapi Hyerin. Sebaliknya Hyerin yang melihat sikap Rai mulai terbiasa dan tidak memperdulikan lagi, terserah Rai ingin mengikutinya ataupun apa, terserah saja. Pikir Hyerin sambil kembali pergi keluar gedung.


Kali ini dia hanya berdiri beberapa saat di luar gedung, Hyerin tidak tahu lagi harus pergi kemana. Orang-orang hilang tanpa jejak padahal ada hal yang sangat penting. Dia hanya menghembuskan napasnya lalu berjalan mengikuti arah kaki yang membawanya.


Ketika Hyerin sibuk berkutat dengan .adalah dalam hatinya, dia merasakan sebuah tangan menariknya wajahnya langsung melihat Rai yang tetap dingin dan tidak berekspresi apapun. "Sebenarnya apa yang ingin dilakukan Rai?" Tanya nya dalam hati. Matanya tidak pernah lepas melihat wajah Rai. Berulangkali Hyerin mencoba menarik tangan dari genggaman Rai tapi hal itu tidak berhasil. Alih-alih dia hanya bisa pasrah saja dan terserah Rai kali ini ingin membawanya ke mana.


Ke dua mata Hyerin melotot saat terperanjat melihat banyak orang di hadapannya. Spontan dengan panik Hyerin berusaha lagi menarik tangan Rai dan mengisyaratkan agar cepat putar arah kemana pun selain harus terus melanjutkan jalannya. Rai tidak menggubris sedikitpun. Sudah terlanjur mereka semakin mendekat ke arah kerumunan orang.

__ADS_1


Saat itu juga Hyerin tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi orang-orang ketika melihat ke arahnya. Dia hanya bisa menutup mata melewati kerumunan yang semakin dekat dan akhirnya berhasil.


Rai segera melepas tangan Hyerin tanpa aba-aba, Hyerin terperanjat dan memandangi Rai dengan kesal. Melihat Rai yang masih bersikap dingin membuat Hyerin tidak lagi mempermasalahkan. Karena tidak akan ada yang berubah, Rai tetap akan bersikap tidak peduli.


Ke duanya malah terdiam, tidak saling bicara.


Rai tetap terlihat tenang, diam, tidak mencoba untuk bertanya atau apapun yang akan dilakukannya.


"Kau. Kau kenapa terus mengikuti sejak dari tadi?" Tanya Hyerin berbicara lembut dan ragu-ragu.


Rai balik melihat ke arah Hyerin. "Kau melihatnya kan?" Jawabnya singkat.


Hyerin hanya menarik wajahnya tidak lagi membalas tatapan Rai. Dia berpikir memang benar selain mungkin ada alasannya dia sendiri melihat bagaimana orang-orang tidak memperdulikannya ketika melihat Rai tepat bersamanya.


"Orang-orang akan tetap menganggap jika roh dari kamar 13 pembawa sial, sebenarnya mereka bukan ingin menghardik tapi mereka takut kejadian di masalalu terulang lagi gara-gara kedatangan roh dari kamar 13." Yang tanpa disangka Rai baru pertama kalinya membuka suara menerangkan sebuah keadaan kepada Hyerin.


Hyerin terdiam dan mencerna baik kata-kata Rai. "Apakah sebelumnya juga ada roh dari kamar 13?" Tanyanya teliti.


Rai melihat lagi membagikan tatapannya ke arah Hyerin dengan serius. "Akemi, dia roh dari kamar 13."


Seketika Hyerin terdiam mematung mendengar nama Akemi disebut-sebut. Bagaimana bisa orangnya adalah Akemi, bukankah dia melihat dalam bayangannya jika Akemi selalu berlari dan menghampirinya. Hyerin tidak mengerti dan hanya terdiam.

__ADS_1


Melihat Hyerin yang tidak bereaksi membuat Rai kembali berbicara. "Akemi seorang roh dia juga memiliki dewa kematian yang sama, tapi karena sebuah perjanjian membuat dia menjadi roh yang abadi tetap tinggal di tempat ini, dan hal tersebut membuat dewa kematiannya di luar kendali. Bukan menjadi dewa kematian lagi lebih tepatnya seperti iblis yang memburu para roh." Jelasnya detail.


Hyerin baru pertama kali mendengar sebuah penjelasan yang kini akan terus terngiang jelas diingatan nya. Mendengar sebuah penjelasan dia yakin Rai sedang membicarakan fakta tentang orang yang sama seorang dewa kematian yang sama, ya benar orang yang menjadi dewa kematian itu adalah orang yang mirip dengannya. Dan sekarang semakin jelas fakta di balik masalalu.


__ADS_2