Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Kerja sama


__ADS_3

Rai terus menyeret kakinya ke tempat yang terus dia lihat. Setidaknya dia akan merasa puas karena tidak lagi merasa penasaran.


Saat mendekat Rai semakin mendekatkan wajahnya ke sebuah dinding yang jika dilihat dari kejauhan tidak ada apapun. Tapi saat melihatnya lebih dekat dinding itu seperti ada sebuah pintu pemisah yang hampir tidak bisa dikenali. Apakah sebuah ruangan rahasia dan tersembunyi? Tebaknya.


Rai menatap segaris celah diantara dinding dan membentuk sebuah pintu. Sekarang dia yakin bahwa wanita tadi sudah berkata jujur.


Akhirnya dia sekarang tahu sesuatu, Rai mundur beberapa langkah seperti mengambil sebuah persiapan. Dalam hitungan detik dia langsung berlari dan tubuhnya menghantam dinding itu, secara tidak sengaja dinding nya mulai bergeser ketika berbenturan dengan tubuhnya, kemudian langsung terbuka.


Rai tercengang saat melihat isi dari dinding tadi atau dari balik pintu rahasia yang ditunjukkan wanita itu. Matanya sampai membulat, terkejut melihat beberapa orang yang berkumpul di dalam ruangan itu. Dan yang lebih membuatnya kaget adalah semua ekspresi orang-orang di dalamnya. Mereka terlihat berekspresi sama, yaitu takut dan kaget sama sepertinya.


"Bagaimana bisa? Itu!" Sebut seseorang dari mereka yang langsung menunjuk ke arahnya.


Rai melihat di antara mereka ada wanita yang ketakutan tadi. Seperti tahu apa yang akan terjadi Rai tidak menunggu waktu dan segera meraih tangan wanita itu. Sesuatu terjadi sesuai dengan dugaannya. Semua orang seisi ruangan langsung menghilang kecuali dia dan wanita tadi yang sekarang terlihat sangat ketakutan dan tak hentinya memohon. Rai masih tidak mengerti mengapa orang-orang bersikap sama seperti wanita ini.


"Tunggu, apa aku sudah berbuat salah?" Tanya Rai dengan santai sambil mendekat.


Wanita itu semakin ketakutan.


Rai hampir kehilangan kendali karena sudah tidak tahan lagi, semua yang dirasakannya semakin menambah stress saja.


"Jangan seperti itu. Aku tidak berbuat apapun kan?" Tanya Rai yang masih menggenggam tangan wanita itu, Rai tidak ingin kehilangan lagi wanita itu seperti teman-temannya.


Wanita itu tidak menjawab, mungkin karena merasa sangat takut hingga otaknya tidak bisa memberikan sebuah perintah untuk bicara.


Rai semakin kesal dan melepaskan tangan wanita itu. Dia kembali berjalan mundur dan keluar dari ruangan itu.


"Dengar ya aku tidak melakukan apapun. Aku tidak salah kan? Lagi pula tadi kau yang datang, dan itu kebetulan. Jadi jangan bersikap seperti aku adalah orang jahat." Jelas Rai bersikeras meyakinkan wanita yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Lihat sudah aku lepaskan. Dan cepat pergi karena aku pun akan pergi juga." Jelas Rai meski dia tidak mendapatkan sebuah jawaban. Rai bersikap tidak peduli lagi, dia membuang wajahnya ke arah lain. Dan bisa langsung disadari dari sikap yang diperlihatkan Rai bahwa dia sangat kesal karena ketidak tahuannya.


Wanita itu cukup tercengang dengan sikap Rai, dia terlihat mulai penasaran, terlihat dari tatapannya yang mulai melihat ke arah Rai.


Tanpa diduga wanita itu berdiri dan tidak lagi memperlihatkan rasa takutnya. Berjalan menghampiri meskipun dengan canggung. "Maaf. Aku sudah bersalah." Ucapnya pada Rai meski dia masih menjaga jaraknya.


Rai menatapnya dengan serius dan tidak menjawab apapun.


Saat melihat reaksi Rai wanita itu langsung menundukkan kepala. Bola matanya yang bergerak ke kanan dan ke kiri tanpa terkendali menandakan jika dia sedang bersiap untuk pergi lagi.


"Sudah ku tangkap. Tolong jangan pergi. Dan sebaiknya kita selesaikan suatu kesalahpahaman ini dengan berbicara satu sama lain." Saran Rai dengan nada santai.


Wanita itu tidak menjawab tapi memandangi Rai dengan tatapan penasaran.


Rai langsung membuang wajah ke arah lain. "Ku harap perkataan ku tidak ada yang salah lagi." Ucap Rai.


"Baik ayo kita selesaikan!" Timpal wanita itu yang langsung membuat Rai memperhatikannya dengan gembira. Akhirnya Rai bisa berbicara dengan seseorang untuk pertama kalinya.


Wanita itu malah berjalan melaluinya sampai di depan pintu, kemudian tangannya membenahi pintu itu hingga tertutup kembali. Jadi kali ini di dalam ruangan hanya ada Rai dan dirinya.


"Kenapa ditutup lagi?" Tanya Rai polos.


Wanita itu tidak menjawab dia hanya sedikit tersenyum kemudian mengambil sebuah kursi dan duduk di depan meja saat itu.


Rai terlihat bingung, tapi dia spontan berjalan mengikuti wanita itu untuk duduk berhadapan dengannya.


"Sekarang mulai dari cerita ku." Ucap wanita itu terdengar seperti pembukaan untuk diskusinya.

__ADS_1


Rai mulai memperhatikan dengan serius.


"Tempat ini adalah satu-satunya persembunyian paling aman dari dewa kematian manapun. Artinya tidak ada dewa kematian yang bisa masuk ke tempat ini." Jelasnya yang langsung membuat Rai mengangkat satu alisnya karena terheran. Pikir Rai dia adalah dewa kematian tapi buktinya bisa masuk ke tempat ini.


"Kami semua terbentuk dalam satu kelompok kesatuan untuk mengumpulkan semua informasi terutama mengenai kejadian yang terjadi sekarang." Jelasnya lagi. Kali ini Rai langsung mengerti, mereka semua sama seperti Sani dan Ken tapi apakah tujuan mereka sama juga atau mereka adalah kelompok yang sama?


"Anggota kami hilang dan hanya tersisa beberapa orang, insiden itu kami tahu jika semuanya ulah seorang IBLIS."


Mata Rai langsung membulat saat mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan wanita itu.


"Kau bekerja sama dengan iblis itu?" Tiba-tiba Rai mendapatkan sebuah pertanyaan yang langsung membuatnya salah tingkah dan terdiam tidak bisa menjawab.


Memang kenyataannya dia bekerja sama tapi tidak untuk insiden yang terus terjadi akhir-akhir ini.


Suasana langsung hening saat itu. Rai terus terdiam tidak mengatakan apapun di hadapan wanita itu. Dia tidak bisa mengakui dirinya jika sudah bekerjasama dengan seorang Iblis dan diapun tidak bisa berbohong. Rai terus berpikir dan menimbang apapun yang masuk ke dalam pikirannya.


"Sekarang giliran mu!" Ucap wanita itu.


Seperti disambar petir sekaligus, Rai terkejut bukan main saat sebuah pertanyaan yang tidak diharapkan terdengar lantang oleh Indra pendengarannya. Dia yakin tidak bisa mencari sebuah alasan yang bagus untuk jawabannya.


Apakah dia harus berkata jujur? Mengatakan jika dirinya sudah melakukan perjanjian terlarang dengan Iblis dan dia mulai kehilangan kendali pada iblis itu?


Rai semakin tertekan karena dia tidak bisa langsung menjawab pertanyaan.


Beberapa saat suasana menjadi hening. Sekilas Rai menatap mata wanita itu dengan serius, mencari alasan untuk berkata yang sejujurnya dan bisa memulai sebuah kerjasama yang akan disetujui oleh wanita itu.


"Aku bukan dewa kematian. Iblis yang sudah melakukan semua insiden yang terjadi." Ucap Rai dengan mata yang tidak lepas membalas tatapan wanita itu.

__ADS_1


Rai bisa menebak jika dari reaksi yang ada pernyataannya itu belum cukup.


"Hyerin sedang sekarat dan aku mencari orang lain yang bisa mempercayaiku. Hyerin satu-satunya alasan mengapa semua yang terjadi karena perjanjian yang sudah ku lakukan. Tapi siapa yang akan mengerti lagi jika Hyerin adalah segalanya bagiku. Dan sudah cukup, jika tidak ada orang yang ingin membantu aku yakin bisa mengatasinya sendiri." Rai berterus terang mengeluarkan semua kata-kata yang muncul dipikirannya saat itu.


__ADS_2