
"Yerin ibu sudah menyiapkan semua bekal untuk ke sekolah. Sekali lagi ibu tanya, kamu yakin mau pergi ke sekolah hari ini?" Tanya ibunya dari arah dapur yang masih sibuk membungkus kotak nasi untuk anak satu-satunya.
Hyerin yang duduk di kamar tidak terdengar segera menjawab membuat ibunya terheran dan sedikit bergerak ke arah pintu mengintip putrinya itu yang sedang di kamar. Hyerin terlihat mematung tidak berekspresi, dia menahan pandangannya dalam lamunan ke arah jendela.
Pemandangan yang membuat ibunya bisa langsung terkejut dan panik.
"Yerin! YERIN!" Teriaknya terdengar semakin meninggikan nada suara sambil berlari menuju Hyerin.
"Kau tidak apa-apa? Yerin jawab ibu!" Ucap ibunya dengan panik sambil memeluk Hyerin yang langsung tersadar dan membalas pelukan ibunya.
"Tidak apa-apa Ibu, aku baik-baik saja." Ucap Hyerin menenangkan dengan segaris senyum yang mengembang.
Ibunya kembali tertegun merasa heran lagi mendengar cara berbicara anaknya. Ke dua matanya meneliti ke setiap inci sudut mata Hyerin saat itu, binar matanya menunjukkan sesuatu yang sudah berubah, cara menatap Hyerin membuat Ibunya merasa telah terjadi perubahan yang besar.
"Aku baik-baik saja ibu!" Ucap lagi Hyerin yang langsung menyadarkan ibunya.
Karena gugup takut jika putrinya itu tersinggung dengan sikapnya, ibunya segera menjauh dan pamit untuk kembali melanjutkan pekerjaannya tadi yang tertunda. "Ibu siapkan lagi. Tadi, ada yang belum selesai!" Ucapnya sedikit ragu dengan wajah yang dia palingan dari tatapan Hyerin. Ibunya terburu-buru pergi kembali ke arah dapur.
__ADS_1
Padahal Hyerin sangat emosional, meski diperlakukan dengan bagaimanapun Hyerin yang dulu selalu bersikap serba salah hingga membuat Ibunya tidak bisa melakukan apapun selain menyalahkan diri sendiri. Hal itu yang membuat Ibunya tadi merasa aneh dengan nada bicara Hyerin berubah.
"Ibu mana bekalku? Yerin berangkat sekarang!" Pinta Hyerin yang membuat lamunan Ibunya buyar. Ibunya spontan terkejut dan terburu-buru menyerahkan kotak nasi yang sudah disiapkan dari tadi tanpa mengatakan apapun hingga Hyerin sudah pergi dari rumah.
Ibunya tidak bisa menghindari keanehan yang terjadi setelah kesadaran Hyerin dari koma. Dan ini adalah kejutan barunya, dia merasa jika putrinya adalah orang lain bukan putrinya yang dulu.
Dari arah dapur Ibunya segera menyusul, berlari ke arah Hyerin pergi. Dari jendela yang terbuka diamatinya setiap gerak-gerik Hyerin saat bersama kedua temannya. Sekilas setelah dilihat lagi tidak ada yang aneh, keakraban Hyerin dengan teman-temannya masih sama seperti dulu, menunjukkan jika Hyerin masih mengingat betul tentang kebiasaannya termasuk sikapnya yang tidak berubah kepada mereka. Namun nyatanya pemandangan itu tidak cukup menjelaskan perasaan tadi, sikap Hyerin mungkin hanya berubah hanya pada dirinya.
Setelah berpikir lagi cukup dalam Ibunya merasa sia-sia sudah meragukan putrinya sendiri hanya karena satu kali penglihatan dan hatinya yang salah mendeskripsikan. Ibunya segera bergegas ke arah dapur menyiapkan beberapa bekal yang akan dibawa untuk pergi kerja. Saat matanya teralihkan ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi, seketika sikapnya langsung berubah drastis. Panik karena tidak menyangka waktu sudah terlewatkan banyak sedangkan persiapan untuk pergi bekerja saja belum selesai, yang harusnya dia lebih awal pergi kerja sebelum jam 08.00 tapi apa daya kali ini kesibukannya bertambah karena Hyerin sudah tinggal lagi di rumah.
Dengan hanya memasukan beberapa bekal yang dibungkus plastik, seperti roti tawar tanpa selai dan sebungkus camilan sisa semalam. Sangat sederhana tidak seperti menyiapkan bekal untuk Hyerin. Baginya bukan masalah yang terpenting semua kebutuhan putrinya terpenuhi itulah prioritas utama nya. Selain itu tentang sesuatu yang berkaitan dengan dirinya sendiri dia bisa menyesuaikan saja.
Kepergian Hyerin ke sekolah pada hari pertamanya kembali terulang dengan kehangatan dan keceriaan bersama kedua temannya Yora dan Rei. Sambutan hangat Yora yang sudah sangat merindukan Hyerin begitupun dengan ungkapan Rei yang sudah berterus terang sudah merindukannya dalam satu tahun terakhir.
Karena koma Hyerin harus kehilangan satu tahun masa sekolahnya, dia kali ini masih duduk di kelas yang sama seperti satu tahun lalu, namun dengan adik tingkatnya, tidak lagi satu kelas dengan kedua sahabatnya yang sudah di kelas terakhir pada musim itu.
Siapa sangka jika kabar tentang Hyerin mengejutkan semua pihak. Tapi siapa yang tahu juga jika takdir sudah berkehendak meski itu di luar kendali. Kejutan takdir akan terjadi jika itu memang harus terjadi. Bagi Hyerin takdirnya adalah kabar baiknya, karena dia memiliki kesempatan untuk kembali menghirup udara segar dan hadir di tengah-tengah suasana sekolah, bisa menjalani hidup dengan penuh makna setelah dia diberikan kesempatan lagi.
__ADS_1
"Yerin kau tahu Rei sudah punya pacar loh!" Goda temannya memancing Rei untuk berbicara, karena sedari tadi Rei hanya terdiam saja.
"Kau itu bawel yah." Protes Rei yang seperti tidak terima dengan perkataan temannya.
Tapi Yora masih menggodanya juga dengan semua rahasia Rei yang dia beritahukan kepada Hyerin di hadapannya sendiri. Rei sangat kesal, karena dia tidak berharap jika masalah itu Hyerin tidak boleh tahu, entah apa alasannya tapi dia tidak ingin Hyerin tahu.
"Oh ya, Yerin kau sekarang tinggal kelas. Apa tidak apa-apa? Apa ingin ada yang kau inginkan?" Tanya Rei pada Hyerin dengan sedikit canggung karena malu.
"Ah Rei so tahu banget yah gak seru!" Ucap Yora menarik tangan Hyerin dan menjauhi Rei.
Bahkan Hyerin belum menjawabnya, selain dia hanya membalasnya dengan tersenyum.
Rei kesal karena selalu saja seperti itu, bentuk perhatiannya pada Hyerin selalu tidak diindahkan. Dia kesal karena perhatiannya yang tidak bisa dia lakukan kepada siapapun selain kepada Hyerin tidak selalu tersampaikan benar karena ulah Yora, tapi dia harus bagaimana lagi. Sifat Yora yang kekanakan memang seperti itu. Tidak mengerti jika selama ini Rei selalu ingin dekat lebih dekat lagi dengan Hyerin.
Di dalam kelas dengan suasana yang berbeda termasuk semua orang yang berbeda. Hyerin sendiri merasa menjadi pusat perhatian orang-orang. Karena satu tahun tidak sekolah dan kini dia terpaksa masuk di kelas bersama adik kelasnya dulu.
Guru menjelaskan materi di depan semua siswa dengan semangat. Namun matanya alih-alih teralihkan sesaat ketika melihat Hyerin yang asyik memandangi ke arah jendela. Selama pelajaran Hyerin tetap memandangi arah yang sama. Guru itu tidak langsung menegur, melainkan membuat semua siswa di kelas sibuk untuk mengerjakan soal. Kemudian dalam kesempatan dia menghampiri Hyerin untuk mengalihkan perhatiannya. Sedikit heran, Hyerin tidak merespon meski sudah beberapa kali tangannya disentuh, semakin lama malah terlihat semakin janggal. Karena merasa takut guru itu menjauhi Hyerin dan terburu-buru keluar kelas tanpa mengalihkan perhatian siswa lainnya.
__ADS_1
Entah apa yang dilihat Hyerin selama pembelajaran, dia tidak menghiraukan kelas dan membuat seorang guru ketakutan.