
Waktu terus mengalir seperti air. Satu persatu dalam hitungan waktu yang tak pernah berhenti memutar hari berganti, menyeret tekad dan niat untuk tetap hidup dalam teka-teki yang tak pernah terpikirkan oleh siapapun, semua sama di mata Hyerin yang sudah pernah hidup dan beberapa kali reinkarnasi hingga sekarang takdirnya sebagai dewa kematian di masa depan. Dia tak ingin berhenti dengan kata cukup dan puas, Hyerin ingin tahu apa yang akan didapatkannya di masa depan setelah semua alasan direnggut darinya.
Perlahan Hyerin menutup mata, di depannya adalah aliran sungai panjang yang terus mengalir sepanjang musim. Telinganya menangkap jelas irama air yang berbenturan dengan batu dan menyapu pasir di air dangkal. Dan semua tidak ada yang berubah meski dia sudah hidup berkali-kali dan kembali datang ke ujung sungai berdiri di atas jembatan yang kokoh, irama dan suasananya masih sama termasuk semua kenangan masih tersimpan rapih.
Hanya kali ini berbeda, dia berdiri sendirian mencoba menjamah satu persatu kenangan yang masuk ke dalam pikirannya, tentang kehidupan, sahabat, semua tidak bisa dia lupakan. Apalagi tentang Rai yang sudah hilang dalam penantian. Andai saja waktu sedikit lebih cepat. Batin Hyerin selalu menyesalkan masalah yang dominan dan akhirnya dia harus lebih menyesal karena masih kuat mengingat hal itu.
"Yerin!" Panggil seseorang menembus indera pendengarannya membuat Hyerin terperanjat dan segera mencari sumber suara.
Rere berdiri di ujung jembatan tersenyum simpul dan berjalan ke arahnya. Sepintas bayangan Yora menerka lagi, membuat dia langsung menundukkan wajah.
"Sungainya masih sama?" Tanya Rere yang sudah berdiri di samping Hyerin saat itu.
Hyerin menganggukkan kepala meski dia masih menundukkan wajahnya.
"Kau bahkan masih ingat semuanya." Ucap Rere entah seperti kagum atau apa.
"Aku tidak seberuntung itu." Timpal Hyerin yang sudah tegak melihat ke arah sungai.
"Aku bahkan sudah lupa sejak kapan datang ke tempat ini atau bahkan tentang kehidupan ku dulu seperti apa."
"Itu hanya ingatan selamanya tidak bisa diulangi lagi." Jawab Hyerin yang memang kenyataannya dia tidak pernah berniat untuk masih mengenang semua ingatan itu.
"Aku tak pernah tahu jika ternyata tentang rumor mu itu nyata. Kau memang masih menyimpan banyak ingatan di masalalu dalam beberapa kali kehidupan. Padahal itu juga tidak mungkin kan." Selidik Rere yang masih senang mengobrol dan berniat untuk tetap melakukannya.
"Tidak ada yang penting." Ucap Hyerin singkat. Dia bahkan masih sama tetap bersikap dingin dan tidak memberikan kesempatan Rere untuk tahu semua hal.
Rere tersenyum simpul tidak membahas lagi topik yang sama, dia juga membiarkan Hyerin pergi dari hadapannya.
"Pasi aku akan tahu semuanya." Gumam Rere yang masih tetap tersenyum seolah baginya itu tak masalah, dia sudah memiliki rencana lain yang tak harus memaksa Hyerin untuk memberitahunya.
"Ternyata kau disini. Semakin dekat saja!" Ucap seseorang, Rere tidak merasa kaget dengan suara familiar dan selalu di dengarnya.
__ADS_1
"Sepertinya kau akan lebih lama lagi hidup di sisi Hyerin." Ucapnya lagi menerka pikiran Rere. Dari senyuman yang Rere perlihatkan seolah itu artinya benar.
"Aku tahu Hyerin memang spesial dan itu yang menarik darinya bukan? Lalu rencana mu apa?" Tanyanya masih semangat mengorek hati Rere.
"Kita lihat saja nanti. Sepertinya aku berharap jika dia bisa lebih lama lagi hidup." Seru Rere.
*****
Waktu belum juga berganti, Ken yang masih lemah tidur di atas kasur. Dia terus melihat ke arah jendela seperti menunggu kedatangan seseorang tentu saja orang itu adalah Hyerin.
"Kau masih tidak bisa apa-apa kan?" Sebuah suara menghalau.
Ken kaget dan memutar bola matanya melihat Hyerin berdiri di dekatnya saat itu. "Aku sudah sembuh, tentu saja ini bukan apa-apa." Jelas Ken yang meski dengan terbata-bata dia mengarang cerita. Padahal dalam hatinya dia masih merasakan seluruh badan yang remuk.
"Mau ikut?" Tanya Hyerin.
Hatinya kembali terhentak kaget mendengar pertanyaan Hyerin, apa itu untuknya?
"Aku mau pergi! Kemanapun. Tentu saja, itu boleh kan?" Ken dengan terburu-buru memutus pikiran Hyerin tentangnya, dia tidak ingin jika Hyerin menganggap dirinya sudah menolak ajakan itu yang memang sangat tidak mungkin didengarnya kan.
"Baiklah tapi jika itu memang tidak menyulitkan mu!" Timpal Hyerin dengan matanya yang bergerak meneliti ke arah Ken.
"Tubuhku baik-baik saja jangan terlalu dipikirkan." Seru Ken dengan percaya diri. "Aku lelaki tentu saja harus kuat kan!"
Hyerin menatapnya dan mengangguk.
Tak lama keduanya pergi ke tempat yang diinginkan Hyerin karena Ken hanya mengikutinya saja.
Sekejap mata dan tak membutuhkan waktu yang lama Hyerin dan Ken tiba di tempat yang langsung membuat Ken takjub. Ken tak menyangka jika dia akhirnya diajak ke tempat Hyerin dimana dia hidup dulu.
"Aku selalu berada di sungai ini, rumahku di sini dan kehidupan ku di sini." Ucap Hyerin.
__ADS_1
Ken hanya melihatnya dan diam tanpa mengucapkan apapun.
"Apa kamu tahu tempat ini?" Tanya Hyerin.
Ken langsung melotot seolah itu pertanyaan berat dan mengejutkan baginya. "Ah tidak. Sepertinya tidak." Ucap Ken masih dengan nada gugup.
"Sepertinya tidak ada yang penting, aku hanya menyia-nyiakan waktu dengan mengajakmu ke tempat ini."
"Itu tidak mungkin, justru aku berterimakasih karena sudah diajak keluar." Jawab Ken. Hyerin langsung melihatnya dan kebetulan mata mereka saling bertemu. "Aku jenuh terus diam saja dan ini menyenangkan." Lanjut Ken membenarkan kalimatnya tadi. Meski canggung Ken masih berusaha untuk membuat dirinya nyaman bagi Hyerin.
Hyerin menutup mata seolah sedang merasakan terpaan angin yang membelai wajahnya, lalu dia tersenyum simpul dengan semua yang dirasakan di tempat itu. Ken yang berada di sampingnya tak ingin berbicara dan melewatkan saat melihat Hyerin yang dekat di depan mata, ada perasaan takjub dan kagum. Ken tidak bisa menghentikan perasaan yang mengalir dengan begitu saja, dia hanya tahu jika saat ini dia sangat nyaman dan ingin seterusnya seperti saat itu.
"Aku seorang roh dalam banyak kehidupan sudah banyak bereinkarnasi, dan semuanya aku ingat. Kau tahu? Itu seperti beban di kepala ku." Ucap Hyerin tiba-tiba di tengah suasana yang larut dalam imajinasi Ken.
"Kau sangat beruntung bisa mengingat semuanya." Jawab Ken yang saat itu tahu betul bagaimana perasaan Hyerin menerima semua ingatan itu.
"Apa kau tidak terkejut sama sekali? Itu bukan hal yang aneh ya?" Tanya Hyerin heran.
"Bukan seperti itu. Maksudku lebih baik seperti kamu memiliki ingatan semua hal sedangkan aku ini tidak bisa mengingat apapun." Ucap Ken terakhir dia menghembuskan napas seolah berusaha tenang karena sudah bisa menjawab pertanyaan Hyerin. "Hampir saja Hyerin tahu, kalau aku memang tahu semua hal tentangnya saat ini." Batin Ken.
"Kau pikir jika seperti itu cukup menyenangkan? Aku bahkan tak sanggup dan merasa terbebani." Balas Hyerin.
"Mengapa harus terbebani? Anggap saja semua itu adalah mimpi yang pernah kamu alami. Lagipula itu hanya masalalu kan? Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Benar juga. Kau memang cukup pengertian." Seru Hyerin merasa senang karena ternyata kenyataannya ada orang yang memandang baik tentang satu-satunya kejadian yang hanya dialaminya saja. Tidak cukup menyesal dan harus terbebani, hidup dengan cara apapun saat ini untuk masa depan yang baik. Karena masalalu hanya sesuatu yang sudah tertinggal sebagai kenangan.
****
Sebenarnya hanya ada dua sisi pembeda dalam hidup sebagai roh atau manusia yang hidup, tentang baik dan buruk, keduanya memang tidak bisa dinilai dari kaca mata sendiri tapi itu didapatkan dari penentuan kaca mata orang lain.
Namun apa artinya setelah mati? Waktu seperti candu yang membuat nurani ingin kembali ke dekapan masalalu yang tak pernah mungkin. Lantas untuk apa hidup? Kedua pilihan tetap memiliki akhir yang sama, yaitu perjalanan.
__ADS_1
Selama helaan napas tak pernah putus, selama hidup memiliki tujuan, selama waktu tak mengakhiri, semua tetap memiliki cerita dan jalan yang berbeda. Seperti itu hidup, sebagai roh atau manusia yang hidup.