
Hyerin sudah berdiri di luar, matanya mengamati ke sepanjang sudut tanpa terlewatkan. Kali ini dia cemas, apapun yang terjadi dia harus secepatnya bicara pada Rai.
Sialnya terjebak dengan kondisinya sebagai manusia membuat Hyerin tak bisa pergi kemana saja dengan mudah. Harusnya Rai juga tidak cukup jauh, tapi masalahnya dari kanan dan kiri ke arah manapun Hyerin tak tahu kemana perginya Rai, dia khawatir jika saja dia benar-benar sudah terlambat.
Hyerin tak menyerah, dikumpulkan nya sisa napas setelah rasa cape dan bingung, tidak berlari cukup jauh hatinya menerka lagi jika Rai pergi ke arah lain. Diikutinya naluri yang membuat Hyerin kesulitan sendiri.
Tapi sepanjang dia berlari, selama dia menghabiskan waktu. Rasa putus asa kian membuat kakinya lemas, ditambah perasaan capek untuk pertama kalinya lagi dia rasakan.
Keringat bercucuran dari atas dahi, semakin lama jika dia terus saja berlari napasnya menjadi sulit, Hyerin tidak bisa terus berlari seperti melarikan diri. Dia harus kembali memikirkan sebuah cara, dengan membayangkan jika dirinya menjadi Rai kemana dia akan pergi sekarang. Celakanya Rai kemungkinan akan pergi ke tempat dimana teman-teman nya biasa ada. Menyedihkan sekali Hyerin tak tahu kemana itu.
Saking capeknya Hyerin tak peduli lagi jika dia duduk lemas di atas jalanan yang ramai, orang-orang berjalan dan melihatnya nyinyir. Hyerin tak mempermasalahkan, yang terpenting dia bisa menemukan Rai bagaimana pun caranya.
Belum lama berpikir saat matanya melihat ke arah depan tampak orang yang tidak asing lagi sedang berjalan ke arahnya. Senangnya setengah mati karena orang itu tampak seperti Rai.
Rai berjalan santai menatap heran ke arah Hyerin yang tiba-tiba duduk saja di tengah jalan. Hyerin tampak bermasalah di mata Rai, karena itu dengan terburu-buru Rai mempercepat langkah kakinya.
"Heh. Ngapain duduk gini di tengah jalan?" Rai berbicara sewot merasa malu melihat tingkah Hyerin.
"Malu tahu, cepat berdiri!" Linta Rai saat itu, matanya juga tak berhenti menerima tatapan setiap orang yang tampak heran menatap ke arahnya.
Hyerin diam saja, dia butuh waktu untuk mengumpulkan napas agar kembali normal dan tidak terasa sesak di dadanya. Sesaat gak langsung meladeni Rai yang sudah memakinya sesuka hati.
Masih tak mendengarkan juga, Rai dengan geram langsung menggendong Hyerin dengan kedua tangannya sambil menggerutu tak bisa di telinga Hyerin.
"Malu tahu, malah diam terus." Komentar Rai yang cukup emosi.
"Ngapain di tengah jalan? bikin repot aja." Rai masih meluapkan emosinya.
"Turun!" Pinta Hyerin sedikit mendelik ke arah Rai.
"Udah salah aja masih songong!" Saking gemasnya Rai tak segan mencubit pipi Hyerin bagaikan anak kecil.
__ADS_1
"Tadi aku pergi muter-muter terus, udah capek pergi bolak balik. Eh orangnya tiba-tiba muncul di depan mata." Sindir Hyerin mengatakan kejadian tadi yang dia alami.
"Mau ngapain nyari-nyari? Tinggal diam saja di kamar tadi, aku juga pasti balik lagi kan?" Sebenarnya cara bicara Rai bercampur dengan kekhawatirannya juga.
"Ya makanya itu, kalau pergi bilang-bilang. Salah sendiri." Sani tak mengindahkan kata-kata Rai bahkan dari caranya bicara mencerminkan jika dia tidak merasa bersalah sudah melakukan kesalahan.
Rai menarik napas menghadapi orang yang tidak bisa mendengarkan maksudnya.
"Udah diam saja cape bicara terus." Ketus Rai dia berjalan lagi ke arah sebelumnya.
Di dalam rumah tadi, Hyerin dan Rai masih saling diam. Sebenarnya Hyerin akan mengatakan semuanya namun ketika matanya lagi-lagi mengabsen ke arah Rai, keberanian itu hilang lagi.
"Rai!" Ucap Hyerin ragu, matanya bahkan tidak berani menatap ke arah Rai.
"Hem." Rai tidak berbicara.
"Aku sudah tahu sesuatu." Hyerin melanjutkan kata-katanya.
"Kenapa kau lama sekali mengatakannya ?" Rai dari tadi sudah tidak sabar, sampai di momen ini dia mengerti jika Hyerin akan bicara jujur padanya.
"Aku bertemu dengan seorang anak kecil, dia mengajakku berteman. Itu dua hari yang lalu."
"Terus?" Timpal Rai yang tidak sabar.
"Satu hari selanjutnya aku pikir dia manusia biasa yang hanya kebetulan bisa melihat ku." Hyerin menahan napasnya. Dia berusaha keras untuk mengatakan dengan hati-hati.
"Dan tadi dia menemukan ku lagi. Mengatakan jika kemanapun aku pergi dia akan tahu. Dia aneh, anak kecil seusianya sangat aneh jika tiba-tiba saja mengajak seorang roh untuk berteman. Dan tidak terkejut sama sekali ketika aku menjadi manusia." Hyerin menceritakan semuanya berdasarkan sudut pandang dan apa yang dia rasakan sekarang.
"Akhirnya ketakutan ku terjadi juga." Gumam Rai.
"Apa?" Hyerin balik bertanya sebenarnya tadi dia tidak mendengarkan jelas hanya melihat saja jika Rai menanggapi pembicaraannya.
__ADS_1
Rai balik menatapnya.
"Aku ingin hidup sekarang, sebaiknya kau pikirkan lagi bagaimana caranya agar kita bisa hidup." Rai langsung duduk mengabaikan Hyerin. Dia memang tampak tertekan entah apa yang dipikirkannya, jelasnya hal itu buka. kabar baik.
"Apa aku sudah melakukan kesalahan?" Tanya Hyerin bingung.
"Mau apa banyak nanya? Sekarang lebih baik kau berpikir jangan nanya terus." Sengit Rai jengkel.
Hyerin benar-benar tak mengerti letak kesalahannya.
"Maafkan aku, sebenarnya kau tak salah hanya saja kau tidak banyak tahu." Rai berbicara lagi.
"Sekarang dengarkan aku baik-baik, sebaiknya kau bisa membunuh anak itu kalau tidak bukan hanya hidup mu, hidup ku juga akan berakhir. "
Hyerin terperanjat mendengarkannya. Apa yang salah dengan seorang anak?
"Dia bukan manusia, bisa saja iblis, bisa saja orang-orang dari sekte itu yang memiliki maksudnya. Namun tujuannya pasti akan merugikan kita semua." Rai membicarakannya seolah dia sudah tahu semua, bagi Hyerin yang awam dan tidak tahu menahu tetap saja anggapan itu masih janggal dan aneh.
Tak lama setelah berbicara tiba-tiba muncul lagi seorang roh, Hyerin tidak lagi terkejut karena dia sudah mengenalnya yang tak lain adalah teman Rai.
"Kau pasti sudah tahu kabar buruk nya kan?" Tebak Rai.
Hyerin melihat sebuah anggukan.
"Dia tidak apa-apa sepertinya sekarang masih aman, jika bisa tolong menjaga rumor tentang kita berdua aku tidak tahu harus bagaimana jika berhadapan lagi dari orang-orang itu." Terang Rai.
Tak lama lagi orang yang baru saja datang sudah tidak ada lagi.
Rai tampak frustasi, namun Hyerin tidak tahu jelasnya karena apa, dia tidak tahu seberapa besar bahayanya saat ini, bahkan hal itu membuat Rai lebih cemas seperti sekarang.
"Untuk sekarang sebaiknya kita tidak keluar dari rumah ini, jangan menemui siapapun di luar. Aku tidak bisa menjamin keselamatan siapapun, bahkan masalah ini sudah membuat kita benar-benar ada dalam bahaya."
__ADS_1