Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Apa yang diketahui Ken


__ADS_3

Napasnya seperti berhenti di tengah-tengah tenggorokan membuat Hyerin diam tidak bisa bersuara dan seolah semua kata-katanya hilang dari pikiran.


"Rai sudah tiada."


Sebuah kalimat yang terus diingatnya.


"Kau bicara apa? Bagaimana Rai?" Tanya Hyerin terlihat khawatir.


"Apa yang terjadi?"


"Rai? Bagaimana? Dimana?"


Ucap Hyerin tak hentinya bahkan tidak memberikan kesempatan kepada Ken untuk berkomentar.


"Kau jangan so tahu, bicaramu seperti orang yang tidak tahu malu. Kau tidak tahu apa-apa! Jangan lancang!" Hyerin terlihat tidak stabil, dengan bentakan dari amarahnya yang terus meledak.


Ken diam dia hampir tidak bisa memikirkan apapun lagi. Dia tidak percaya sudah mengatakan semua yang diketahuinya kepada Hyerin, padahal sejak awal dia tidak ingin mengatakannya karena semua ucapan itu belum terbukti juga.


Melihat Ekspresi Hyerin yang terus marah membuat Ken bingung, dia merasa salah juga karena memang sudah berani mengatakan itu. Yang dia lakukan hanya diam dan tidak bisa bereaksi apapun.


"Kau sama saja seperti mereka. Kau pembohong terus saja mengumbar kebohongan. Itu hobi mu kah?"


"Kau lancang!"


"Kau pembohong."

__ADS_1


"Kau tidak tahu malu!"


Hardik Hyerin karena sangat tidak terima dengan semua yang dikatakan Ken saat itu.


Setelah lama memaki, Hyerin langsung diam lagi. Pandangannya terlihat kosong dan hanya menyisakan kebingungan yang terlukis di wajahnya. Hyerin sangat bingung dan tertekan.


Bahkan kedua tangannya gemetar seperti kehilangan energi banyak, dan sangat nampak rasa frustrasi di wajahnya saat itu.


Ken yang melihatnya hanya bisa berdiri dan bingung. Dia tidak bisa membiarkan Hyerin terus larut dalam perasaannya yang buruk. Mungkin juga itu bisa memicu Hyerin melakukan sesuatu yang buruk. Dia kan sangat menginginkan Rai dan ingin segera bertemu dengannya. Dan bagaimana bisa Ken langsung mengungkapkan sebuah kabar buruk langsung kepada Hyerin.


"Ayo pergi!" Ucap Ken dan langsung pergi membawa Hyerin dari tempat itu. Ken berniat membawa Hyerin ke tempat yang lebih aman karena tidak baik juga jika terus berada di tempat terbuka dan mengundang orang-orang akan berdatangan.


"Tolong sadarlah cepat! Kau tidak bisa diam terus!" Ucap Ken ragu-ragu.


Ken langsung terkejut lagi begitu melihat mata Hyerin yang bergerak ke arahnya melihat dengan baik.


"Apa yang kamu ketahui lagi tentang Rai?"


Ucap Hyerin.


Ken tidak langsung menjawab, dia bingung dan tidak menyangka Hyerin akan mengatakan itu.


Apa sebaiknya semua katakan saja semudah seperti tadi? Pikiran Ken benar-benar bingung. Tapi memang dia tidak bisa terus memendam kebenarannya sendirian, apalagi setelah dia tadi sampai salah berbicara dan mengatakannya. Hyerin akan terus curiga dan tidak akan melepaskannya dengan mudah, Hyerin akan terus bertanya dengan sangat penasaran.


Lamanya menimbang akhirnya Ken sudah menyimpan pilihannya.

__ADS_1


Ken akan mengatakan semuanya dengan mudah dia tidak peduli dengan sesuatu yang terjadi setelahnya, yang terpenting dia mendapatkan ketenangan karena sudah mengatakan langsung pada Hyerin. Dan dia tidak perlu lagi menyimpan semua beban itu di hadapan orang lain, karena dia sudah mengatakannya. Bukankah itu pilihan yang bijak? Dia tidak benar-benar salahkan? Dia hanya perlu mengatakan semuanya apa adanya.


Setelah berkutat dengan pemikirannya sendiri Ken sudah mengambil kesimpulan. Kemudian Ken berbalik tapi binar matanya menangkap sosok Hyerin yang tidak baik-baik saja. Kem juga bisa mengerti dan sangat tahu bagaimana itu rasanya kehilangan orang yang benar-benar sangat berharga. Ketika dia kehilangan Sani, dan akhirnya kesalahpahaman sudah selesai tapi tetap saja Ken merasa sedikit kecewa karena Sani terlibat dengan masalah Rai dan Hyerin tanpa sepengetahuannya hingga di waktu terakhirnya yang harus hilang menjadi abu.


Perasaan Ken berubah lagi, dia tidak tega hatinya juga merasa sedih dan bisa membayangkan hal yang sama.


Ken duduk di sebelah Hyerin seolah dia juga sedang duduk di tempat yang sama dan dengan keadaan yang sama juga.


Hyerin diam, tapi tangisannya tidak bisa dia sembunyikan lagi.


Sangat sesak, hati yang sudah hancur. Entah mengapa Hyerin terpengaruh dan kali ini dia menyerah dengan perasaannya, dia tidak lagi memiliki keyakinan bahwa Rai masih ada di suatu tempat, jika saja Rai masih ada dia yang akan lebih dulu mencari dan menemukannya. Tapi kenyataan tidak seperti itu kan?


Kenyataan itu seperti angin di musim panas, berlalu begitu saja dan hanya meninggalkan sejuk beberapa saat. Diantara kesadarannya sebagian hati meyakinkan jika fakta itu memang benar, tapi sebagian besar hati Hyerin tidak bisa menerimanya dia tidak ingin semua kenyataan itu ada di pihaknya. Dia tidak berharap akan cepat berakhir seperti ini.


"Anggap saja tadi aku sudah berbohong. Tidak terdengar seperti kenyataan yang akan membuatmu ingin cepat mengakhiri semuanya. Seiring berjalan waktu rasanya ingatan tentang kehilangan seseorang itu bukan apa-apa." Ucap Ken berusaha menarik suasana dan menyadarkan Hyerin.


"Dulu di sampingku selalu ada Sani, dan kami selaku pergi kapanpun bersama. Saat mendengar Sani sudah tiada rasanya langit sudah runtuh seketika. Tapi bagaimana lagi." Ucap Ken menghentikan ceritanya lagi.


Hyerin mulai menoleh ke arah Ken. Dia seperti sedang bercermin dan melihat dirinya dalam sorot mata Ken. Mendengarkan orang lain yang kehilangan sudah cukup menggoyahkan hatinya, dan sekarang rasa sakit itupun ia rasakan juga. Hyerin ingat pertemuannya dengan Sani, andai saja tahu jika pertemuan itu malah membuat petaka Hyerin tidak pernah ingin dipertemukan dengan Sani. Rasanya sangat bersalah sudah membuat Ken sendirian.


"Setelah itu aku merasa tidak ingin melihat orang lain bersedih karena hal yang sama. Karena langit tidak akan cepat berubah dan waktu tidak bisa bergerak mundur atau diam menunggu." Ucap Ken dan langsung mengakhiri perkataannya, dia tidak lagi berbicara atau bertanya. Ken seolah mengerti yang dibutuhkan Hyerin adalah tempat yang tenang dan suasana yang mendukungnya.


Sebaliknya Hyerin mulai merasa bersimpati dan sedikit merasa bersalah, bagaimanapun saat itu Sani bersamanya dan jika saja iblis itu tidak datang maka tidak akan terjadi sesuatu hal seperti sekarang.


"Benar mungkin, jika Rai memang sudah tidak ada. Kabar itu terdengar tidak nyata bagiku. Dan mengapa aku tidak tahu apa-apa." Ucap Hyerin seraya menundukkan kepala dan mulai kembali menangis.

__ADS_1


Ken hanya bisa melihatnya yang masih larut dalam kesedihan. Kehilangan itu rasanya tetap sama dan bekasnya tidak bisa begitu saja hilang kan. Rasa sesaknya masih ada, dan teka-teki nya masih saja terus membayangi.


__ADS_2