
"Sudah ku peringatkan, cara baik-baik tidak akan mempan. Mereka tidak bisa paham dengan tujuan kita " Seorang lelaki mulai meninggikan nada bicaranya. Terdengar kesal senada dengan raut wajahnya.
Seorang wanita berdiri gusar di balik jendela sambil membagikan edarannya ke luar. Ujung jari tangan yang dia gigit sendiri menjadi caranya tenang untuk fokus berpikir, meski tidak mudah karena gangguan dari temannya yang terus mengoceh.
"Sekarang aku tidak mau bertanggung jawab lagi. Kita akan sulit untuk mendekati Hyerin, padahal sudah tidak ada cara untuk membebaskan mereka berdua." Celotehnya masih terdengar kesal.
"Sudah diam, semua akan baik-baik saja!" Bentak wanita itu memperlihatkan rasa kesalnya juga, lebih ke perasaan terganggu karena temannya itu terus saja mengomel.
"Bagaimana caranya Re?" Tanya lelaki itu.
"Kenapa sih kita harus mengikuti alur rencana ini. Kita bisa gunakan cara lain." Jawab Rere terdengar sedikit merasa enteng dengan cara berpikirnya itu.
"Bagaimana lagi?" Timpal lelaki itu yang tidak bisa yakin dengan ucapan temannya.
"Aku juga berpikir. Tapi sepertinya kita harus terus terang dengan mereka berdua karena sepertinya mereka berdua tidak akan membahayakan atau berkhianat seperti yang dikatakan orang-orang itu." Ucapnya terdengar seperti asumsi.
Lelaki itu hanya berdecak kesal, dia sepenuhnya tidak bisa menerima apapun yang dipikirkan Rere. Bagaimana jika dia akan mengalami masalah setelahnya?
Lelaki itu duduk dan terlihat menyandarkan tubuhnya. Menghela napas dan berusaha berpikir wajar.
"Aku yakin mereka tidak akan mencelakakan kita. Hyerin wanita itu bukan iblis kan?" Tanya Rere yang masih terus berkutat dengan pikirannya.
"Bukan." Jawab temannya enteng.
"Musuh kita hanya iblis kan?" Timpal lagi Rere.
Lelaki itu hanya Memandangi Rere tanpa menjawabnya.
"Dia bukan iblis jadi kita bisa bekerjasama, tidak adil kan jika Hyerin harus diserahkan begitu saja pada iblis itu untuk menyelamatkan teman kita. Itu tidak adil." Ucap Rere masih terus meyakinkan cara berpikirnya itu.
"Aku tidak ingin melakukannya!" Ucapnya dengan penekanan.
Temannya langsung menoleh ke arah Rere dengan tatapan yang terus dia tujukan hanya padanya. Pandangannya meneliti ke arah Rere, melihat segaris tekad dari wajah Rere, itu artinya Rere hanya akan melakukan apapun yang sudah dia niatkan sendiri tidak ada alasan lain.
Lelaki itu menghela napas lagi dan menghembuskan nya. "Terserah dan aku hanya akan mengikuti!" Tiba-tiba nada bicaranya berubah. Lebih lembut dan seperti sangat menghargai itikad Rere meski dengan berat hati.
__ADS_1
Mendengar kata-kata itu Rere langsung tersenyum. Dia sangat senang dan langsung memeluk temannya itu. "Aku tahu kamu hanya temanku, kan?" Ucap Rere yakin.
Apapun hanya untuk Rere dan apapun menurut Rere. Bagi dirinya dan untuk hidupnya, tidak ada alasan untuk mengabaikan keinginan Rere sebagai temannya. Dia memang memiliki banyak teman jauh sebelum Rere datang, tapi hadirnya Rere seperti sesuatu yang tidak akan tergantikan dan hubungan rumit keduanya tidak akan berakhir hingga akan banyak masalah, banyak cerita luar yang ikut campur, tapi bagi seorang sahabat akan selalu saling mengalah dan mengingatkan. Begitulah keduanya. Dengan melakukannya memberi sebuah kepuasan dan tenang, itu artinya sepakat. Rencana akan berjalan dengan cara yang Rere pikirkan, yaitu mendekati Hyerin dan Ken dengan gaya mereka bukan cara orang lain yang memaksakan. Karena itu sangat adil kan.
###
"Pertama kita akan pergi!" Ucap Hyerin memisahkan ruangan sepi yang hanya ada dua orang itu.
Ken melihat ke arah Hyerin. Dari raut wajahnya ken menyaksikan keseriusan dan tekad yang baru terlihat.
"Kau akan melakukan semuanya. Kita pasti bisa keluar dari masalah ini."
Hyerin melihat ke arah Ken dan tidak lagi mengubah pandangannya itu.
"Hyerin!" Tiba-tiba sebuah suara dari luar mengubah sikap Hyerin dan Ken karena terkejut.
Mata Ken membulat begitu mendapatkan sosok yang dilihatnya saat itu. Rere. Dia bisa sampai tahu tempat ini. Ken masih berdiri dan diam, dia tidak langsung pergi hingga terlihat Rere semakin mendekat.
"Aku akan terus mencari kalian. Dimana pun!" Ucap Rere terlihat kelelahan.
Ken terllihat mengerutkan dahinya, dia tidak percaya karena Rere datang sendiri pasti ada lelaki menyebalkan itu.
"Dia tidak ada di sini." Ucap Rere karena mendapati Ken dan sikapnya yang memperlihatkan jika Ken terus mencari sesuatu ke luar.
Ken terperanjat dan diam seperti dia tidak mendengarkan orang yang berbicara padanya.
Hembusan angin langsung membuat keduanya hilang dari edaran.
Ken tidak tinggal diam. Dia sangat terkejut dan langsung mencari Hyerin dengan berlari ke sana kemari.
"Ini rencananya." Ucap Ken kesal.
Dia harus pergi lagi ke tempat itu padahal sudah dengan susah payah dia bisa pergi ke sini.
"SIAL." Gumam Ken sangat kesal.
__ADS_1
Dia berdiri tenang dan sorot matanya sudah berubah lagi. Ken langsung hilang dari edaran.
Tidak lama Ken tiba di tempat yang tidak ingin dia datangi lagi, gedung sekolah ini. Dia harus menyusuri ke setiap ruang atau pergi ke ruangan sebelumnya karena di sana pasti ada Hyerin.
Ken terus mengendap membaca situasinya. Dia sangat akurat dan tidak pernah ceroboh.
Tapi bagaimana dia akan melakukannya, keadaan siang orang-orang berlaku ke sana kemari.
Ken terlihat menarik penglihatannya. Dia berdiri dan menyandarkan punggung ke tembok dinding. Menghembuskan napas dan membuangnya pelan.
"Wanita itu sudah tertangkap loh. Kita tahu kan dia seperti apa? Tapi ketua selalu bermurah hati." Percakapan antara dua orang yang jaraknya tidak begitu jauh berhasil menerobos masuk ke dalam indera pendengarannya. Ken bisa langsung mengerti dengan percakapan yang sedang dia dengar. Pasti orang yang sedang mereka bicarakan adalah Hyerin.
Apa yang harus dilakukan lagi? Ken tidak mudah mendapatkan sebuah rencana yang biasa cekatan terpikir oleh otaknya. Tapi kini, hal itu tidak mudah.
Ting... Ting... tong...
Mata Ken langsung membulat, dia menahan napasnya di tenggorokan karena saking terkejut.
Sudah mendengarkan lagi alunan jam dinding yang berdentang keras menjadi pengingat kebebasan para roh.
Kali ini yang membuat Ken merasa terkejut karena setelah nada terakhir jam dinding yang terdengar, semua orang dipindahkan lagi ke tempat awal, begitupun dirinya.
Apa yang akan terjadi pada Hyerin jika dia sekarang bertemu langsung dengan iblis itu?
Ken tidak bisa tenang.
Sedangkan suasana secepatnya berubah menggantikan.
Hiruk pikuk pemandangan tergambar jelas di pikiran Ken setelah mendengar riuh obrolan di luar gedung. Dia masih terdiam dan mengumpulkan lagi semua tekadnya yang tercecer.
Sekarang sudah saatnya.
Pergi ke tempat Hyerin dan memastikan lagi jika dia selamat di tempat itu.
Ken berdiri dan sudah menemukan lagi keyakinannya.
__ADS_1
Ken langsung pergi lagi.
Dan tidak lama dia sudah berada di depan gedung rumah sakit tempat dimana Hyerin seharusnya ada.