Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Kemanakah Ken?


__ADS_3

"Re!" Panggil Hyerin lirih. Rere langsung melihat ke arahnya, Hyerin nampak murung dengan wajah yang tertunduk. "Jadi karena ini yang bikin kamu pingsan?" Cetus Hyerin.


"Ini yang ingin aku sampaikan saat ini, tapi masalahnya lelaki tadi sudah tidak ada entah kemana." Terang Rere yang ternyata dia sudah menyimpulkan lebih awal, pantas saja Rere tidak begitu terlihat kaget seperti Hyerin.


Hyerin menarik napas. "Sekarang apa yang bisa kita lakukan?" Ucap Hyerin sambil memandangi satu persatu orang yang masih terjebak di dalam kabut.


"Kamu harus tolong mereka, bawa mereka semua ke dalam gedung."


Mendengar pernyataan yang terdengar untuknya membuat Hyerin langsung membulatkan mata tanda terheran. "Aku sendirian?" Spontan pertanyaan itu keluar.


"Siapa lagi, kami di sini semua tidak akan ada yang selamat dari kabut itu." Rere beralasan, tapi ada benarnya karena kejadian Rere juga hanya dia yang selamat.


"Tidak ada yang bisa membantu?" Hyerin masih tidak bisa percaya, terdengar dari nada bicaranya.


"Yerin, kita berbeda. Kamu bukan lagi seorang roh kan." Rere masih memberikannya pengertian.


"Jadi karena itu." Tebak Hyerin yang sudah mengerti.


Tanpa diminta dan ragu lagi Hyerin berjalan menerobos kabut tebal yang sudah seperti pembatas antara gedung dan di sekelilingnya.


Satu persatu dan semua dalam jangkauannya akhirnya bisa dipindahkan ke dalam gedung, Rere hanya menyaksikan dari dekat tanpa bisa membantu. Tentu saja karena dia hanya roh biasa.


"Sudah aku pindahkan semuanya." Ucap Hyerin menghampiri Rere yang tampak gusar tidak tenang.


"Re!" Panggil Hyerin.


Rere terlihat tak fokus karena setelah beberapa dipanggil dia baru berbalik.

__ADS_1


Hyerin ikut diam tidak tenang, pertanyaan langsung muncul di benaknya.


"Apakah kabut seperti ini terjadi di seluruh tempat?" Tanya Hyerin.


"Sepertinya ia. Orang tadi juga mengatakan yang sama." Balas Rere.


Hatinya terhenyak kaget, yang dia ingat kini adalah Ken. Bagaimana bisa Ken bertahan di luar sana sendirian.


"Aku akan ke tempat Ken!" Seru Hyerin. Dia bahkan tak memperhatikan lagi ketika Rere berbicara padanya.


"Aku tidak bisa terus di sini, Re!" Sebut Hyerin panik.


"Tapi itu belum pasti kan! Sebaiknya kita cari orang tadi, lihat dia sekarang tidak ada di tempat ini!" Rere memberikan sebuah saran yang tidak mengenakan bagi Hyerin. Bagaimana bisa Hyerin mendengarkan saran itu sedangkan Ken dalam ketidakpastian ada di luar sana.


"Yerin! Tolong hanya sebentar saja." Rere masih mencoba memohon.


"Aku tidak bisa di sini sendirian bagaimana jika kabut itu masuk ke dalam gedung tiba-tiba." Dari cara bicaranya Rere lebih memperhatikan keadaannya di gedung itu. Bahkan tak sedikit tersisa kesempatan Rere untuk mengingat Ken di luar sana.


Tanpa basa-basi lagi Hyerin pergi sendirian ke tempat sebelumnya, dimna Asia terakhir pergi meninggalkan Ken di tempat itu.


****


Tempat ini cepat sekali berubah, tidak seperti dalam ingatannya yang sudah bertahan berabad tahun lamanya. Duku tidak pernah terjadi fenomena yang membuat dia harus berulangkali menahan napas. Apalagi tentang iblis, hanya pada masa sekarang iblis muncul di depan matanya dalam sosok Rai, juga sosok lain yang pernah dikenalnya.


Kabut semakin tebal menyelimuti sempurna jarak pandang antara retina dan cahaya yang diterimanya. Hyerin melihat ke kanan dan kiri, dia seperti berjalan di tengah lautan yang gelap saja, bahkan gedung di tempat terakhir kali dia meninggalkan Ken di dalamnya sudah dipenuhi kabut.


"Ken masih di dalam?"

__ADS_1


"Ken!"


Beberapa kali Hyerin berusaha memanggil sebuah nama yang terus mengusiknya. Celaka karena Ken tidak juga menyahuti panggilannya.


Hyerin semakin cemas, dia melihat samar jika kini keberadaannya tepat di dalam kamar yang seharusnya ada Ken di sana. Matanya masih mencari, tangan yang terus meraba setiap permukaan kasur bahkan kaki yang tak melewatkan satu jengkal pun lantai. Ken tidak juga ada di sana.


Jantungnya harus kembali terguncang, Hyerin melanjutkan pencarian dengan berpindah ke tempat lain di gedung itu, andai saja Ken ada seharusnya dia tidak terlalu jauh bisa berjalan keluar kamar karena kecepatan kabut menyebar begitu cepat.


Di beberapa ruangan yang tak terasa sudah berulangkali dia masuki tanpa terlewatkan. Hyerin tidak bisa tenang dan tidak bisa terima jika Ken sudah bisa dipastikan tidak ada di tempat itu. Lantas kemana perginya Ken?


Dnegan sekuatnya Hyerin memutar otak dan muncul beberapa tempat yang harus ditujunya, beruntung jika dia bisa menemukan Ken tapi jika tidak, apakah itu artinya?


Hyerin tidak tahan diam dan menerka-nerka pikirannya sendiri. Dia tidak ingin banyak mengatakan mungkin tapi kenyataannya tak pernah terjamah oleh kedua matanya sendiri.


Pertama Hyerin akan pergi ke tempat Ken, dia sedikit tahu bahwa jika perubahan waktu Ken pasti kembali ke tempat itu dan harusnya dia ada di sana.


Dengan bekal semangat dan keyakinan yang hanya tersisa sedikit saja, baginya sudah cukup untuk pergi dan melanjutkan pencarian tanpa ada satu orangpun yang menghalangi. Rasanya untuk apa? Diam saja tak akan mengubah situasi kan?


Dari kejauhan di tempat itu yang terlihat hanya tebal kabut dimana-mana, sama seperti di gedung sekolah terakhir kalinya. Hyerin tak menemukan Ken, karena dugaannya Ken tidak mungkin bertahan di tempat itu kan? Dia diam lagi memikirkan tempat lain yang bisa didatanginya. Dan pilihan kedua adalah pusat alun-alun kota. Mau tidak mau meskipun kengerian yang sudah dibayangkan dari tempat berawalnya masalah, tapi dia harus ke tempat itu memastikan jika di sana ada Ken.


Tapi sayang, Hyerin harus menelan pahit lagi karena di tempat itu tak ada satupun roh yang tinggal dan menetap, entah kemana semua roh pergi.


Hyerin kembali lagi berpikir dia tidak ingin banyak yang terlewatkan olehnya. Seperti jika saja ada roh yang tinggal sebelumnya di sana, seharusnya mereka ada seperti dalam keadaan pingsan. Tapi saat matanya melebar memastikan semua tempat yang sudah dikunjunginya, di setiap tempat itu tak ada satupun jejak roh yang tinggal. Kesimpulannya lebih pada kesan roh sudah tidak ada lagi entah kemana.


Kemanakah pantasnya orang-orang pergi? Pikir Hyerin. Tak satu katapun yang bisa menjelaskan jawaban untuk pertanyaannya itu.


Mengapa masalah rasanya kian rumit, satu persatu Hyerin kehilangan orang yang bisa sangat dipercayainya dengan cara di tempat yang tidak bisa dia tebak.

__ADS_1


Sekarang baru terasa sesak, apa yang bisa dilakukannya? Apakah Ken sama seperti Rai yang sudah pergi dari hidupnya? Apakah dia tidak bisa bertemu lagi dengan Ken?


Hyerin seperti kehilangan arah, tubuhnya tak kuasa hingga roboh di tengah-tengah kabut yang menyelimutinya. Sekarang memang tidak akan ada satupun roh yang selamat dari kabut itu, selain dirinya.


__ADS_2