
Sepasang mata yang melotot di depan matanya saat itu membuat dirinya bahkan tidak bisa bernapas sekalipun. Tubuhnya pun kaku tidak bisa dia gerakkan. Hatinya paham seseorang yang ada di depan matanya adalah iblis yang sudah membunuh banyak roh di dunia ini dengan kejam. Bagaimana jadinya jika satu detik ini dia langsung kehilangan diri dan tewas di tangan iblis yang ada di hadapannya. Pikirannya kalut bahkan tidak memberi kesempatan untuk menangis karena takut.
Braak...
Terdengar sebuah suara tabrakan yang terjadi sekilas di luar penglihatannya. Wanita itu langsung menutup mata dengan kedua tangan dan tidak menghiraukan lagi apa yang terjadi sebenarnya. Dan suara itu berasal dari mana? Dia juga tidak bisa membuat pikirannya bertanya lagi.
"Makhluk tidak tahu malu." Terdengar suara Rai membuyarkan ketakutan wanita itu. Secara perlahan wanita itu melepaskan tangan yang dia gunakan untuk menutupi matanya. Dia melihat Rai sudah berdiri menggantikan tempat iblis tadi.
Sedikit napasnya lega, dia masih merasakan tubuhnya dan iblis itu sudah tidak ada di hadapannya. Karena sangat takut sekali lagi tanpa kesadarannya wanita itu langsung menarik tubuh Rai dan memeluknya lagi dari belakang.
"Satu lagi saja, itu seharusnya kan tidak masalah untukmu. Kau sudah dari dulu kan melakukannya." Terdengar suara iblis itu menjawab.
Wanita itu tidak bisa mencerna percakapan keduanya dia terlalu takut untuk memikirkan hal lain selain dari nasib hidupnya sendiri.
"PERGI!!" Teriak Rai dengan nada tinggi. Yang dari teriakannya bisa menggetarkan hati wanita itu hingga bergetar takut.
Saat itu tidak terdengar lagi ada percakapan di antara kedua orang tadi. Wanita itu yang masih tenggelam karena rasa takutnya tidak bisa sedikitpun melepaskan erat pelukannya.
Hingga Rai mencobanya lagi melepaskan tangan wanita itu dengan lembut.
__ADS_1
"Sudah jangan datang lagi ke tempat ini, sekarang kamu mengerti kan seperti apa iblis itu. Beritahu semuanya untuk menjauhi tempat ini!" Ucap Rai dengan lembut. Ekspresinya juga tidak dingin lagi.
Wanita itu memandangi Rai dan mengangguk tanda memahaminya. Dia tidak berpamitan tapi langsung menghilang dari hadapan Rai.
Rai hanya bisa menarik napasnya dan membuangnya dengan pelan. Dia sangat lega karena keselamatan wanita itu. Padahal Rai tahu iblis tadi masih tidak jauh dari tempatnya tapi di luar pikirannya sendiri karena iblis itu tidak melakukan apapun atau tidak membiarkan wanita pergi hidup-hidup, yang terjadi adalah sebaliknya.
"Punya simpanan wanita lain rupanya." Ledek iblis itu yang langsung membuat Rai mengalihkan penglihatannya.
"Eh tapi kan masih ada Hyerin, kau kan pernah mengatakan jika cinta mu selamanya hanya Hyerin." Disusul dengan tertawaan yang tidak tanggung-tanggung terdengar nyaring mengisi ruangan.
Rai tidak menanggapi baginya tidak ada yang penting jika harus meladeni iblis yang membuatnya sudah sangat muak.
Rai langsung berjalan ke arah iblis itu yang terus memandanginya dengan tatapan licik dan menunjukkan senyum puasnya.
Rai hanya sekilas melihatnya kemudian dia tidak acuh lagi. Dia memilih berlalu pergi hingga jauh dari iblis yang dibencinya.
Meskipun bersikap seolah tidak simpati dengan kata-kata iblis tadi tapi, Rai tidak bisa menghilangkan sedikit gangguan dengan pertanyaan terakhir iblis itu yang terngiang jelas dalam pikirannya. Rai tahu maksudnya. Sebuah penawaran lagi yang berulangkali sudah dia lakukan di masalalu.
Apakah perjanjian itu akan diulanginya lagi atau tidak? Bimbang, Rai tidak bisa menampik jika dia butuh banyak waktu untuk menunggu Hyerin, lagipula dia sudah tidak bisa bereinkarnasi lagi, itu artinya jika sekali saja Rai pergi dia tidak bisa kembali lagi datang.
__ADS_1
Langkah kakinya berakhir di pintu keluar gedung itu. Rai masih melihat waktu belum bergulir. Saat melangkah keluar tiba-tiba sangat kebetulan waktu kembali terdengar berdenging. Suara jarum jam berdentang mengudara.
Tanda dari pergantian waktu sekaligus perubahan suasana di sekeliling yang terlihat.
Keadaan normal sebagai manusia yang hidup menurutnya adalah kenangan yang tidak akan pernah dia lupakan. Rai akan kembali memuji kehidupan yang tidak bisa diulanginya itu. Andai saja dia tidak pernah melakukan sebuah perjanjian, mungkin saat ini dia akan bereinkarnasi dan kembali hidup sebagai Rai di masa depan.
Rai segera terperanjat karena lamunannya yang terlalu tidak masuk akal. Nasi sudah menjadi bubur, dia tidak akan mengingat lagi sesuatu yang sudah dilakukannya dan apapun yang sudah terjadi. Baginya itu hanya akan kembali menoreh ingatan yang menyakitkan. Tapi bagaimana dia akan menghadapi setelah hari berganti ini? Apakah dia bisa siap untuk menerima takdir? Jawaban yang mungkin adalah tidak, karena Rai tidak siap jika dia harus pergi selamanya.
Rai langsung pergi lagi melanjutkan langkah kakinya yang terhenti.
Langkah gontai sebagai roh yang tak kasat mata berjalan di antara semua yang hidup sebagai sesuatu yang tidak dianggap ada. Tubuh Rai menyelinap ke kerumunan dan tidak berhenti untuk terus berjalan sambil menundukkan wajahnya.
"Ibu! Ibu! Ibu!" Sebuah teriakkan yang terdengar lebih nyaring dari semua keramaian yang terdengar. Suara itu sedikit membuat Rai terganggu dan dia memastikannya mencari sumber suara yang masuk ke dalam Indra pendengarannya.
Betapa terkejutnya. Rai melihat pemandangan yang sangat mengiris hatinya lagi. Dari kejauhan Rai melihat roh anak kecil yang terus meneriaki Ibunya dan Ibunya tidak akan pernah menoleh atau menyadari kehadirannya sebagai manusia. Anak kecil yang polos dan tidak tahu menahu tentang hidupnya sendiri harus terjebak di tempat yang seharusnya jangan dia singgahi ini. Sedikit hatinya tergerak, Rai berniat untuk mendekat. Tapi Rai terhenti lagi saat melihat sebuah tangan yang menarik lengan anak kecil itu. Tangis langsung pecah dari bibirnya, tapi itu yang disebut takdir, semua sudah terjadi berdasarkan takdir untuk hidupnya.
Rai kembali berjalan ke arah lain, dia semakin terlihat murung dan tidak berdaya lagi. Selain karena memikirkan nasibnya, Hyerin, dan iblis itu, dia juga tidak bisa berhenti memikirkan tentang Ken. Rasa bersalah yang tersisa di ujung ingatannya itu.
Teringat tentang Ken, Rai berniat untuk menemui seseorang dan ingin langsung menanyakannya. Dia juga teringat masih ada yang ingin dia cari tahu lagi dari orang-orang di gedung itu. Rai hanya tinggal pergi dan langsung masuk ke ruangan yang sudah diberitahukan padanya.
__ADS_1
Tanpa menunggu waktu dan melihat situasinya Rai langsung pergi ke gedung yang ada dalam pikirannya itu.
Secepat kilat dia sudah berada di depan gedung. Rai sedikit menarik napasnya, karena kerumunan manusia yang memenuhi gedung sedikit membuatnya grogi, padahal dia sendiri tahu jika dirinya tidak bisa langsung terlihat. Tapi tetap saja itu tidak cukup, Rai tidak terbiasa berbaur dengan orang-orang dan kali ini dia harus melakukan nya.