Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Sani dan orang-orang


__ADS_3

Sani menetap lagi pada sebuah rumah yang tidak beratap dan sebagian dinding roboh. Saat


dia langsung tiba di tempatnya Sani segera keluar rumah menuju halaman, dia terkejut di depan matanya ada Ken yang terlihat terburu-buru menghampiri.


"Kau tidak apa-apa? Tidak terjadi apapun kan?" Ucap Ken memastikan kekhawatirannya.


Sani memandanginya aneh.


"Ada apa Ken?" Tanya Sani.


Ken menatapnya dan langsung terdiam tidak menjawab. "Tidak ada." Ucapnya saat melihat ekspresi Sani.


"Ada yang kau terus sembunyikan, apa itu Ken?" Melihat sikap Ken yang semakin menambah kecurigaannya, Sani tidak tahan dia tidak bisa bersabar lagi.


"Tidak ada Sani, aku tadi hanya khawatir saja." Jawab Ken.


Melihat Ken yang tidak berani menatapnya semakin menambah keyakinan bahwa Ken sudah menyembunyikan sesuatu. "Apa itu Ken? Cepat katakan!" Nada suara Sani nyaris terdengar kesal.


"Sudah ku bilang tidak ada. Ayo sebaiknya kita cari Rai saja!" Jelas Ken menangkap tangan Sani yang kemudian Sani menepisnya menolak untuk ikut.


Ken menatapnya lagi. "Ayo ikut saja kita harus cari Rai!" Setengah memohon, Ken berusaha meyakinkan Sani yang sudah terlihat kesal.

__ADS_1


Sani tidak menjawab, dia segera menjauh dari Ken pergi tanpa menghiraukan kata-kata yang terus diteriakkan kepadanya. Saat Ken mendekat dia sudah tidak melihat Sani dimana-mana. Rasa cemas semakin membuatnya frustrasi saja, yang pasti Ken langsung menemui Sani saat dia melihat seseorang yang terus mengikutinya di belakang ketika perjalanan menuju tempatnya. Itulah sebabnya kenapa Ken telat sampai di rumah. Ken merasa ada sebuah ancaman yang mengintai, entah itu apa yang pasti ancaman itu adalah sebuah hal buruk yang mengincar dirinya dan Sani.


Ken berpikir sesaat dengan perasaan yang sudah tidak bisa tenang lagi, dia mencoba membuat dirinya waras untuk bisa berpikir kemana perginya Sani dalam keadaan seperti ini.


Ken tidak bisa menunggu sebuah jawaban yang tidak pasti. Dia memutuskan pergi kemanapun untuk menemukan Sani.


Saat kepergian Ken tidak lama ada orang yang datang mencarinya. Orang itu adalah Rai yang terlihat lebih khawatir dari Ken. Rai bisa tahu dimana dia karena sebagai dewa kematian Rai tinggal bertanya kepada dewa kematian lainnya dan itu sangat mudah baginya. Tapi kedatangannya itu sedikit terlambat karena Ken juga tidak ada di tempat. Rai terlihat was-was seperti ada sesuatu yang ingin segera dia sampaikan. Rai juga terlihat menyesal karena tidak memberitahu dari awal tentang iblis itu. Bagaimana jika mereka berdua bernasib sama dengan Tania dan orang-orang, pikiran itu membuat Rai tidak bisa bernapas dengan tenang saja.


Karena Ken tidak ada di tempat, Rai berencana untuk kembali ke tempat awal yang sudah dijanjikan dengan kedua orang itu. Dia juga segera pergi tanpa menunggu waktu lebih lama lagi.


Sedangkan Sani yang terlihat sangat sedih menyusuri jalanan di alun-alun kota. Semua pemandangannya sudah berubah, Sani tidak harus merasa aneh karena dia bisa terbiasa dengan kehidupan roh, diapun sudah lama tinggal di dunia yang sudah mengurungnya. Rasanya Sani ingin cepat mengakhiri kehidupan setelah semua kenangannya lenyap.


Pikirannya yang tidak stabil dan hati yang terluka karena Sani hanya mempercayai Ken dan Ken sudah menyembunyikan terlalu banyak yang tidak diketahuinya. Hal itu membuat hatinya sakit, bagaimanapun Sani hanya ingin Ken memberikan kepercayaan padanya, dengan begitu Sani bisa melupakan sakit hatinya. Tapi apa yang terjadi? Sani tidak mendapatkannya meskipun dia sudah lama tinggal di samping Ken.


Matanya mencari-cari ke setiap sudut ruangan. Sani hanya merasakan sunyi dan tidak ada orang di sana, dia mencoba mencari lebih masuk lagi ke dalam gedung. Saat melangkahkan kaki tatapannya langsung tertahan, di depan matanya ada seorang wanita yang juga memandanginya dengan tajam dan teliti. Sani bisa merasakan jika wanita itu bukan roh biasa yang tidak ingin berurusan atau sekedar lewat tanpa sengaja di tempat itu. Saat Sani melangkah ke arah lain matanya menangkap lagi tatapan wanita itu uang bergerak mengikuti Sani. Hingga Sani terdiam beberapa saat. Dia memikirkan apakah jadi masalah jika dia langsung bertanya saja.


Apa yang akan ditanyakan nya? Pikirannya terus memutar pertanyaan yang sama seiring kaki yang terus membawanya melangkah semakin dekat dengan wanita yang ada di depan matanya.


Jaraknya sudah tidak terlalu jauh, tapi wanita itu terlihat sangat terkejut dan langsung meraih tangan Sani dan menariknya untuk mengikutinya. Sani tidak mengerti apa yang sedang terjadi, dan mengapa wanita itu terlihat sangat panik.


Untuk pertama kalinya Sani melihat sebuah pintu pada dinding, mirip seperti jalan rahasia. Dia terburu-buru ditarik ke dalam tanpa diberi kesempatan untuk bertanya.

__ADS_1


Sani langsung berada di sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat beberapa orang. Satu hal yang membuat dia merasa heran, ekspresi orang-orang yang panik dan takut setengah mati. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Sani tidak berhenti terus bertanya-tanya dalam hatinya.


Seseorang yang tidak dikenalinya langsung menghampiri dan mengangkat wajah Sani dengan tangannya, mencoba mencari dan menatap mata Sani dalam-dalam. Sani tidak melawan dia langsung mengikuti keinginan orang itu, dia juga paham dan tahu apa yang dilakukan orang itu. Orang yang tidak dikenalinya itu mencoba mencari tahu informasi melalui matanya.


Sedangkan orang-orang yang menunggu di bagian belakang memperhatikan isyaratnya pada mereka.


"Tenang saja tempat ini tidak akan mudah ditembus oleh dewa kematian, kita tahu bahwa orang-orang sebelumnya selamat dengan bersembunyi di tempat ini kan!" Jelasnya terdengar seperti analisa yang tidak dipahami Sani.


Seorang wanita lagi muncul dan Sani langsung mengenalinya. Dia tahu bahwa wanita itu yang pernah dia temui ketika pertama kali dia ke tempat ini. Sani bisa menyimpulkan mungkin mereka semua yang ada di ruangan adalah temannya.


"Sekarang katakan, kau sudah menemui Rai kan? Apa yang kau dapatkan darinya?" Tiba-tiba sebuah pertanyaan terdengar padanya. Sani hanya menggelengkan kepala karena dia tidak mendapatkan apapun seperti sebuah informasi, yang sering menemui Rai mungkin adalah Ken.


"Ayolah jawab saja dengan jujur, kita perlu semua informasi itu. Kau tahu tentang Rai?" Tanyanya lagi memastikan.


Sani menggelengkan kepala tanda tidak tahu.


Seseorang mendekat dan melihat lebih dekat ke arah matanya, memastikan jika sikapnya itu tidak bohong.


"Pendatang baru lagi, kenapa kau datang ke tempat ini, sungguh jika banyak orang seperti mu itu akan sangat merepotkan." Keluhnya yang semakin membuat Sani terheran.


Teringat kata-kata itu pernah diucapkan Rai, dia sangat ingat jika Rai juga mempertanyakan dan menyesalkan kedatangannya dengan Ken. Hal itu berarti ada sesuatu yang sangat penting dan tidak diketahuinya.

__ADS_1


"Dia tidak tahu apapun, sebaiknya kita beritahu saja dia semua yang kita tahu. Lagipula itu tidak merugikan." Saran seseorang yang langsung memecah hening.


__ADS_2