
Suasana seketika mendingin, jam dinding mati yang masih bertengger di atas meja, ranjang pasien yang sudah meninggalkan jejak hitam dengan debu tebal, dan di sudut ruangan gelap berhasil mengikat perhatian Hyerin, ada kesaksian bisu sedang mengawasinya menjadikan rasa takut yang perlahan tampak semakin jelas. Mungkin dibalik sudut ruangan gelap itu ada gelak tawa sedang memperhatikan Hyerin yang meradang tidak jelas karena takut. Walaupun sebenarnya ketakutan itu adalah khayalan yang dibuat-buat tapi dia tidak bisa menghentikan kewaspadaannya. Matanya tak henti mengawasi apapun yang dilihatnya dengan jelas, hingga tak terasa waktu baginya sangat melambat lama, apalagi menunggu rasa cemas dari ketakutannya yang tidak mereda, malah membuat tubuhnya hilang kendali, tidak bisa lagi menahan rasa tidak nyamannya terus menerus. Kemudian Hyerin berdiri dan tidak diam ke sana kemari.
Sayup angin dingin yang menembus pori-pori kulit serasa langsung membeku di dalamnya, bahkan untuk mengepalkan ke dua tangannya pun terasa sulit.
Tak... Tak... Tak...
Spontan kesadarannya terperanjat, pupil matanya melebar mendengar suara dari luar yang bagaikan bom mengejutkan dan berhasil kembali membuat degup jantungnya berirama tidak beraturan. Dia pun tidak bisa menyembunyikan bagaimana suara napasnya yang bagaikan sudah melakukan lari maraton.
Setelah Indra pendengarannya dengan jelas menangkap sumber suara yang semakin lama semakin mendekat, sekujur tubuhnya memberikan reaksi yang sangat berlebihan, begitu pun nalurinya mengatakan sesuatu yang buruk sedang mendekat.
Pikirannya kosong, akal dan logika tidak bisa menjelaskan sebab raga dan hatinya bisa merasakan takut yang sangat menyudutkan. Dia tidak mengerti sebenarnya orang seperti apa di luar sana? Mengapa tubuhnya spontan bereaksi dengan berlebihan.
Hyerin masih berusaha sembunyi dari perasaan takut di sebuah ruangan gelap yang tidak memperlihatkan tubuhnya sedikitpun, mengendap pada celah-celah gelap dan berharap tidak akan menemukan apapun yang lebih menakutkan dari perasaan yang tiba-tiba menyerangnya itu. Tanpa sadar dan diketahuinya seorang lelaki di luar yang sedang berjalan ke arah pintu dan Hyerin sedang waspada mendengarkan suara dari sepatunya di dalam ruangan tersebut. Namun sebelum pada jarak 2 meter kemudian langkahnya tertahan tidak melanjutkan dan memilih segera menjauh menghilang dari tempat.
Beberapa menit berlalu Hyerin mendapatkan kembali perasaannya yang sedikit mereda. Hatinya bertanya gambaran orang seperti apa di luar yang berhasil mempermainkan raga dan hatinya dengan perasaan takut. Sebelum pertanyaan terus berlanjut kesadaran Hyerin lebih dulu memperingatkan tentang keberadaannya saat ini. Hanya terheran, Hyerin bisa langsung berada di ruangan dengan sangat gampang setelah pendengarannya lagi-lagi diperingatkan oleh suara jam dinding tepat pada pukul 08.00. Tapi kali ini hal tersebut tidak dipedulikannya, Hyerin malah menjatuhkan tubuhnya dengan enteng di atas kasur, dia sudah merasakan semua lelah, semua keadaan yang seperti jebakan baginya, terlebih pikiran yang selalu merasa frustrasi karena banyak pertanyaan muncul, segala bentuk ingatan yang menyiksa, lalu akan ada hal apa lagi? Dia tidak begitu paham apakah harus tetap peduli lalu mendapatkan semua perasaan kalut, atau tidak memperdulikannya dan terbiasa? Dia berusaha menghilangkan semua itu, berusaha memendam dalam-dalam apa yang dikatakan hati dan logikanya terlampau otak dan memori ingatannya penuh hanya diisi dengan banyak teka teki tak terbantahkan.
Hyerin hanya menghela napas panjang dia memutuskan untuk bisa terbiasa dengan semua yang sedang berlangsung. Dia harus terbiasa dan menganggap setiap kejadian yang akan datang adalah hal wajar, tidak perlu khawatir dengan kegelisahan hati yang kemudian tidak bisa dikendalikan.
Kali ini pada kesempatan yang sama dirinya hanya ingin merasa tenang, sedikit saja waktu yang dia butuhkan untuk merasa tenang. Kemudian kedua matanya terlelap dan menyaksikan dengan santai bagaimana setiap bayangan akan terus bermunculan, dan semua suara yang terngiang diingatan mengenai kata-kata dari Desy dan seorang perempuan lain yang sudah ditemuinya. Mengingat apa yang dikatakan membuat Hyerin kembali bangkit dengan tubuh yang langsung berdiri di lantai. Mungkin dirinya belum mencoba jika roh lain bisa melakukannya mengapa dia tidak bisa? Begitulah gertak hatinya, Hyerin segera mengambil napas sambil menutup kedua matanya dalam-dalam.
Satu menit kemudian tidak ada yang berubah, Hyerin masih menyaksikan tempat yang sama. Kemudian dia harus mencobanya dengan sebuah gerakan memutar atau gerakan melompat tinggi? Hyerin kembali menutupkan mata sambil berputar kencang hingga tubuhnya tersungkur jatuh ke lantai.
Setengah kesal karena dia harus sedikit meringis menahan sakit. Saat membuka mata dia langsung mendapati sebuah kaki yang dibungkus kain hitam dari warna celana sedang berdiri tegak di hadapannya membuat Hyerin tidak berkata-kata.
__ADS_1
Dia langsung melompat menghentakkan tubuh ke arah belakang. Kedua matanya melebar melihat sosok lelaki yang lagi-lagi selalu muncul mengejutkan.
"Apa aku hantu yang selalu mengagetkan?" Bentaknya setengah kesal.
Hyerin hanya mematung mengumpulkan semua kesadaran.
"Aku?" Tanyanya yang gemetar.
Lelaki tersebut hanya berdecak kesal memalingkan pandangan ke sembarang arah.
Hyerin yang melihat secara langsung bagaimana ekspresi kesal dari orang lain dengan tingkahnya, dia kembali berusaha memperbaiki keadaan. Dimulai dengan memperbaiki cara duduknya dan berusaha menyembunyikan wajah gugup di depan lelaki itu.
Kali ini situasinya berbeda, dia yang baru pertama kali berbicara lagi dengan seorang lelaki asing yang tidak dikenalnya sama sekali.
Tapi kemudian Hyerin malah berteriak mendapati lelaki itu semakin mendekatkan wajahnya mengarahkan pandangan tepat di depan wajah yang hampir tidak berjarak satu inci pun. Lelaki tersebut hanya mengernyitkan dahi dengan mata yang seperti sedang memberikan isyarat. Hyerin mulai bergerak hati-hati sambil menelan ludah berusaha mencari napasnya.
"Kenapa tidak ada tanda apapun, biasanya di dahi." Celoteh lelaki tersebut sambil memundurkan wajahnya dan segera bangkit berdiri di depan Hyerin yang masih terduduk.
"Kau tidak mempunyai nya?" Tanya lelaki itu yang langsung menangkap pandangan Hyerin.
Masih terbata, Hyerin mencoba memberikan penjelasan.
"Apa yang kau maksudkan?" Tanya Hyerin dengan lancar.
__ADS_1
"Sebagian orang mempunyai nya, bahkan di tangan, di kaki, di tubuh." Lelaki tersebut menjelaskan dengan memperagakannya.
Hyerin menatap kesal mendapati pandangan ke arahnya. Kedua tangan langsung dia gunakan untuk menutupi bagian yang dia maksudkan dan yang dimaksudkan perempuan itu, tepat di bagian dadanya Hyerin mendapatkan tanda itu.
Tanpa disengaja diawali dengan perdebatan satu sama lain dan akhirnya obrolan ringan diperdengarkan ke duanya.
Dalam percakapan Hyerin dan lelaki itu yang sudah memperkenalkan diri dengan sebuah Nama Jepang Akemi dan kemudian dilanjutkan dengan cerita Akemi yang sudah lama berada di gedung rumah sakit lebih dulu dari Hyerin. Sementara Hyerin yang terus mendengarkan sebagai pendengar setia cerita dari Akemi, dan ada beberapa fakta yang harus diketahui Hyerin. Yang pertama semua roh memiliki setiap identitas ditandai dengan gambar seperti tato melekat di bagian tubuh manapun, juga hampir semua roh bisa mengetahui mengenai identitas roh lain dari kemampuannya yang jika disebut manusia adalah Indra keenam. Selain itu semua tempat roh awalnya tiba di dunia ini di tempat yang berbeda hal tersebut sesuai dengan tempat kematiannya di dunia manusia.
Sepanjang cerita yang terdengar seperti akan diakhiri Hyerin masih tidak bereaksi sedikitpun, bukan tidak ada alasan dia hanya benar-benar tidak mengetahui segala sesuatunya termasuk dirinya sendiri, tidak memiliki kemampuan seperti yang diceritakan Akemi.
"Apa kau pun bisa mengingat tentang kematian? Semacam satu kejadian yang membuat kamu mati dan kemudian ada di tempat ini?" Tanya Akemi dengan santai.
Hyerin hanya mematung dengan ekspresi datar. Apa yang harus diingatnya? Dia bahkan sudah melewatkan ingatan dengan kematiannya sendiri?
Hyerin tidak menyangka ada orang yang akhirnya menanyai dirinya dengan pertanyaan itu?
"Kau pun tidak mengingatnya?" Tanya lagi Akemi memastikan.
Hyerin menggelengkan kepala.
"Aduh baiklah. Tenang saja itu bukan sebuah masalah yang serius!"
"Aku sendiri tidak mengingat semuanya, bahkan identitas diriku sendiri." Terang Akemi sambil menenangkan.
__ADS_1
Hyerin masih memandangi Akemi sambil membayangkan kejadian pada dirinya dan orang lain. Tapi, kesedihannya tidak dapat mereda. Hyerin sebaliknya mengenali semua identitas dirinya kejadian di semasa dia hidup, namun dia hanya tidak tahu cerita kematiannya saja.