
Hyerin Masih bingung apa.yang sedang terjadi padanya saat ini dan alasan orang-orang cukup membencinya, bahkan pertama kali ini dia menerima perlakuan tidak baik dari seorang lelaki.
"Kebiasaan kalau ada orang baru." Gertak Rai yang tak lama langsung ada di hadapan lelaki tadi.
"Kamu buta gak lihat dia itu seperti apa? Kamu yakin bawa dia?" Perkataan Rai tak diindahkan dan sepertinya Hyerin sudah mengerti sedikit dengan situasinya. Hyerin merasa jika Rai membawanya kemari adalah suatu kesalahan.
"Kamu buta gak lihat orang yang ada di hadapan kamu itu apa?" Rai balik membalas perkataan orang itu. Tapi satu kali jawaban Rai sudah berhasil menghentikan sikapnya yang angkuh.
Hyerin tak mengerti apapun yang dikatakan Rai itu, dia hanya bisa diam saja mendengarkan perdebatan di depan matanya.
Tak lama setelah Rai bicara orang itu pergi berlalu tanpa mengatakan apapun.
"Udah beres, sekarang pergi lagi ke sana!" Ucap Rai menunjukkan arah ke tempat orang-orang tadi.
Hyerin tak bisa membayangkan sikap mereka sebelumnya, karena itu alasannya sudah cukup mengapa Hyerin tak ingin kembali lagi ke tempat itu.
Bukannya mendengarkan perkataan Rai, tanpa mengatakan apapun Hyerin malah berjalan ke arah yang berbeda.
"Kau salah arah." Tegur Rai.
Hyerin tak mengindahkan perkataan Rai. Dia benar-benar sudah tidak ingin berurusan dengan semua yang tidak dimengerti nya.
__ADS_1
Acuh tak acuh Hyerin berjalan seolah dia tidak mendengarkan apapun.
"Kau terus jalan kesana jangan berharap bisa selamat ya!" Ancam Rai yang saat itu sengaja menggertak Hyerin. Tapi apa yang terjadi setelahnya bukanlah yang diharapkan Rai karena Hyerin masih tak acuh tetap pergi tanpa mendengarkan perkataannya.
Tak peduli mau apapun yang terjadi setelah ini, Hyerin terlalu bosan karena sudah bergelut dengan banyak fakta yang tidak masuk akal. Apakah dia iblis atau bukan baginya tak masalah, Hyerin hanya akan hidup dengan menemukan jalannya sendiri kan. Apapun yang terjadi, kali ini dia tak ingin melibatkan siapapun dan berteman dengan siapapun lagi, tak ada bedanya Hyerin masih bisa membayangkan rasa sakit ketika kehilangan mereka semua.
Belum jauh dari tempatnya tadi Hyerin kembali melihat kesibukan manusia yang di matanya adalah sesuatu yang biasa dan normal-normal saja. Sekarang dia tak mengharapkan apapun selain bisa hidup diantara kenyataan di sekelilingnya sekarang.
Saat berbalik mata Hyerin begitu jeli menangkap sosok anak kecil dengan rupa yang sama. Hyerin masih ingat jika anak kecil itu yang tiba-tiba datang dan mengajaknya berteman kan? Entah mengapa sekarang Hyerin begitu yakin jika anak kecil itu masih memperhatikan ke arahnya dan mungkin masih memiliki pemikiran yang sama.
Tak berhasil menghindar anak kecil itu sudah berlari menuju ke arahnya. "Mau berteman sekarang?" Tanyanya dengan nada datar.
mulut Hyerin seolah langsung terkunci dibuatnya saat spontan mendengar perkataan seorang anak kecil padanya. Hyerin tak langsung menanggapi matanya mengabsen ke kiri dan ke kanan, Hyerin cukup khawatir karena di sekitar banyak sekali manusia dan apa yang akan mereka pikirkan tentang anak kecil yang berbicara sendiri.
Hyerin masih bingung akan mengatakan apa hingga anak kecil sepertinya bisa mendengarkan perkataannya dan segera pergi.
"Kita akan mencoba berteman kan." Jawab Hyerin ragu-ragu. Sebelum melanjutkan perkataannya anak itu malah sudah berlari melewatinya, dia berbalik dan tersenyum sebagai tanda terimakasih. Ternyata anak itu berlari karena tampak seorang sudah berjalan ke arahnya.
Sedikit perasaannya lega, setidaknya anak tadi sudah pergi dan membiarkan Hyerin tenang. Aneh sekali, apa yang anak kecil lihat darinya?
Hyerin kembali berjalan dan anggap saja dia sudah melupakan kejadian tadi, begitu mudah kan.
__ADS_1
Belum sempat pergi menjauh tiba-tiba mata Hyerin kembali terbelalak melihat seseorang yang memperhatikannya begitu tajam sampai-sampai Hyerin sadar jika orang itu memang sedang memperhatikan dirinya seorang.
Seorang lelaki yang berdiri diam memandangi Hyerin dengan tatapan yang entah berarti apa, tapi tak lama sedetik bernapas lelaki itu sudah berdiri tegak di hadapannya, sekarang Hyerin yakin lelaki itu bukan manusia melainkan seorang roh sama sepertinya.
"Apa yang_" Ucap Hyerin yang langsung terhenti. Pemandangan yang tampak sudah berubah, satu persatu setiap sudut tak terbantahkan, mata Hyerin mengabsen apa yang dilihat nya sekarang.
Kali ini kakinya benar-benar gemetar, Hyerin membayangkan jika tempatnya berdiri sekarang bukan lagi dimensi manusia dimana dia sebelumnya tinggal, lantas tempat apa?
Sebelum bertanya tak sabar Hyerin sudah kehilangan orang tadi yang tiba-tiba menghilang entah kemana. Hyerin semakin panik dia benar-benar tidak tahu akan melakukan apa sekarang? Apakah dia bisa keluar dari tempat ini? Pikirannya selama itu hanya ingin kembali ke tempat sebelumnya, Hyerin tak ingin kali ini dia akan tetap tinggal di tempat asing lagi yang dia sendiri tidak tahu.
Lama hatinya bertanya-tanya semakin lama semakin membuatnya resah terjebak dengan pertanyaannya sendiri. Selangkah pun Hyerin tak pergi, bahkan dia sudah berpikir jika sejengkal tanah dari tempatnya berdiri adalah sesuatu yang akan membuatnya ada dalam keadaan berbahaya, karena alasan itu Hyerin tak ingin beranjak pergi.
Waktu berlalu dan perasaannya semakin membuat pikirannya tertekan, Hyerin bingung tapi dia masih enggan untuk beranjak. Keinginan kuatnya hanya ingin kembali ke tempat manusia dimana dia merasa aman untuk yang terakhir kalinya, dia merasa hidup di dimensi itu adalah pilihan terbaiknya selama ini, dan harapannya agar bisa kembali tak peduli seberapa jauh perasaannya menyiksa.
Dan semakin kuat hatinya, sekejap mata lagi Hyerin sudah berada di satu tempat di tengah orang-orang banyak yang tampak sedang berkumpul melingkar sedangkan dirinya hanya berdiam diri diantara mereka.
Dalam kebingungan yang tak beralasan itu Hyerin menangkap sesuatu yang membuatnya merasa heran, yaitu karena ekspresi semua orang saat melihatnya. Mengapa hatinya berasumsi jika orang-orang tengah bingung dengan kedatangannya dan orang-orang terlihat sibuk saling bertanya satu sama lain.
Permasalahan terbesarnya yaitu apa yang sedang mereka lakukan.
"Iblis itu sudah lolos, setidaknya dia mempunyai waktu." Seseorang berbicara dan mengalihkan mata Hyerin hingga berhasil menemukan tempatnya berdiam.
__ADS_1
Seorang roh yang tampak seperti memimpin perkumpulan. Yang membuat Hyerin semakin terkejut saat Rai tiba-tiba datang berjalan santai dan tanpa diduga berhasil melangkah melewati orang-orang hingga melepas satu persatu rantai yang mengunci tubuh Hyerin. Tanpa mengatakan apapun dan anehnya orang-orang hanya bisa melihat Rai juga membiarkannya melakukan hal itu. Setelah terlepas Rai meraih tangan Hyerin dan menyeretnya untuk pergi.