
Dewa kematian adalah seseorang yang harus terus dihindari, tapi masalahnya semua orang memiliki bentuk dewa kematian yang berbeda, dan ada bahayanya lagi bahwa dewa kematian yang tidak ada hubungannya dengan roh tertentu dapat membunuh dan membuat semua kesempatan hidup di dunia ini berakhir.
Hyerin terus menimbang semua kenyataan yang didapatkannya. Tanpa disadari jam terdengar berbunyi lagi. Perasaan panik yang spontan menyerang melihat ke sana kemari ke setiap sudut ruangan yang sudah berubah begitupun dengan tubuhnya. Hyerin masih berdiri mematung.
Perhatiannya teralihkan pada kehadiran orang-orang yang tadinya ada di sekolah dan saat Hyerin melihat semua orang menghilang dari pandangan. Dia tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaan cemas mengenai dugaannya bahwa orang-orang hilang dan hanya menyisakan satu sosok orang yang sedang berdiri tak jauh darinya. Matanya menangkap sosok orang tersebut dengan yakin.
Hyerin membayangkan sebuah keberanian diri untuk menyapa orang tersebut yang ternyata dari sudut pandangannya wanita itu adalah Clara orang yang tidak lagi asing, dia adalah teman Desy. Hyerin masih bisa mengingatnya dengan betul teman yang selalu bersama Desy itu. Namun perhatiannya segera teralihkan dengan pertanyaan mengenai keberadaan Desy. Biasanya setiap ada Desy di tempat tersebut Clara selalu tidak jauh dari sisinya.
Hyerin yang terheran dan masih bertanya-tanya mendapati ekspresi kesal tergambar dari raut wajah Clara. Hal tersebut membuat Hyerin ragu dan takut untuk melangsungkan percakapan.
Hyerin tidak bisa sabar mematung, dengan perasaan ragu dan sedikit keberanian dia akhirnya bertanya dengan ketus padahal dia tahu akan ke arah mana obrolannya dan bagaimana tanggapan dari orang tersebut.
"Kemanakah perginya Desy?" langsung tanya nya tanpa basa basi.
Clara sedikit melihat ke arah Hyerin, tapi dia malah semakin kesal membalas pertanyaan Hyerin dengan sikapnya yang dingin, tanpa menjawab orang tersebut malah mendelik kesal dan meng tak acuhkan Hyerin yang masih mematung menunggu sebuah jawaban.
"Sudah aku peringatkan Desy untuk tidak bersikap akrab pada orang baru. Apalagi orang baru itu berasal di tempat itu." Celotehnya tanpa jeda mencerca Hyerin dengan pernyataan yang tak pernah dimengerti nya. Hyerin melongo tak mengerti.
__ADS_1
"Ada yang salah denganku?" Tanya Hyerin memastikan.
"Dasar pembawa sial!!" Bentaknya yang sangat membuat Hyerin terkejut, kemudian Hyerin tidak lagi melihat temannya Desy yang sudah berlalu meninggalkannya tanpa sebuah kejelasan.
Kali ini temannya Desy bersikap tidak biasa, bahkan memakinya dengan kata-kata yang tidak enak didengar apalagi Hyerin yang tidak mengerti letak kesalahannya itu. Hyerin terus menimbang dan mengingat lagi setiap sikapnya, namun tidak ada yang bisa membenarkan karena kenyataannya Hyerin tidak begitu mengobrol dan tidak pernah bertegur sapa dengan Clara.
Hyerin hanya mematung kemudian dia melihat pemandangan orang-orang yang sedang belajar di kelas membuat Hyerin sedikit iri, dulu dia tidak mementingkan sekolah, hanya asalkan bisa sekolah dan setelah selesai sekolah nanti mendapatkan pekerjaan.
Hyerin berlalu dari gedung sekolah, kini dia kembali ke jalan dan menyusuri jalan sampai dia kembali ke pusat kota, di alun-alun kota Hyerin ingat sudah bertemu dengan perempuan yang tidak menyebutkan namanya itu. Setelah hatinya menimbang dia akan kembali memberanikan diri untuk menemuinya. Hyerin sangat bersemangat untuk menemuinya. Dia tidak sabar untuk bertanya semua hal lagi seperti yang sudah diceritakan padanya.
Tapi langkah kakinya tertahan, dia melihat kerumunan orang memenuhi jalan, semua orang berlari ke arah yang sama dan kebetulan orang-orang melewati Hyerin tepat di depan matanya.
Hyerin segera menutup mulut, melihat kengerian langsung dari sebuah kecelakaan lalu lintas membuat ke dua kakinya terasa lemah. Dia tak tahan lagi dan segera berlari menjauh. Tidak lama terdengar suara ambulan mendekat. Hyerin tidak mencari tahu lebih lanjut dari apa yang dilihatnya. Dia sangat tidak kuasa.
Pemandangan itu meneror nya, Hyerin hanya bergidik ngeri ketika pikirannya terus mengulang ingatan yang sama. Tanpa tersadar Hyerin sudah sampai di tempat tujuan awalnya. Ekspresi wajahnya sedikit kecewa Hyerin tidak lagi melihat sosok wanita itu, wanita yang pernah ditemuinya. Kemanakah perginya wanita itu? Hatinya terus bertanya tidak tenang.
Hyerin mencari di sekitar tempat, di setiap orang-orang yang berlalu lalang dan dari para roh yang ada di jalanan. Namun nihil, dia tidak menemukan sedikitnya petunjuk.
__ADS_1
"Kamu tahu, kabarnya ada salah satu dewa kematian yang menggila lagi, selain dia memacari agen nya dia juga membunuh roh lain. Itu dilakukan agar umurnya bertambah panjang." Celoteh seseorang mengalihkan perhatian semua roh yang sedang berkumpul.
"Sut. Jangan sampai berita ini didengarkan oleh agennya nanti kita semua mati oleh dewa kematian itu."
"Katanya lagi ada pasien di kamar no 13, gara-gara itu dewa kematian yang sama bangkit lagi."
"Kita harus benar hati-hati dan cepat menemukannya lalu membungkam roh pembawa sial itu."
"Itu benar, ayo kita temukan sama-sama dan cepat bungkam mulutnya itu."
Hyerin mematung dan tak bisa berkata-kata, memilih melangkah mundur karena merasa sesuatu akan mengancam kehadirannya.
Dia berlari tanpa arah namun yang terlihat semua roh di tempat itu sedang menggunjingkan cerita yang sama. Sepanjang edaran penglihatannya dia merasa tidak ada tempat yang aman. Kemanakah kali ini harus pergi?
Dia kembali mengingat dan mencerna kata-kata yang terdengar. Kata-kata sindiran yang menyebutkan roh dari kamar 13. Hyerin mencoba menghubungkan semua fakta yang dia saksikan sendiri. Antara hubungannya Akemi, dewa kematian, dan roh di kamar 13. Mereka menceritakan kengerian dulu yang sudah terjadi, tentunya Hyerin tidak bisa menebak kejadian seperti apa sehingga semua orang menceritakan hal yang sama.
Dalam waktu singkat semua hal tidak membiarkannya bernapas, yang tentu itu bukan salahnya kan? Siapa juga yang ingin disalahkan, dijadikan sebagai bahan gunjingan, dan semua roh kemudian membenci nya. Padahal dia tidak melakukan satu hal pun yang membuat semua orang tidak aman. Tapi alih-alih mendapatkan semua informasi dia malah mendapatkan ancaman yang tidak pasti dan yang tidak diinginkannya.
__ADS_1
Mengapa harus cepat berlalu di luar kendalinya? Dia tidak pernah berpikir bahwa semakin hari akan membaik, nyatanya salah. Tebakannya salah. Padahal tidak pernah ada yang diinginkannya lebih dari perasaan aman di tempatnya. Nasibnya sangat menyedihkan lebih dari yang dialami dalam kehidupannya dulu.