
Hyerin sebentar diam, tapi bola matanya terus bergerak menatap Rai yang bungkam dengan isi pikirannya.
Napas itu tiba-tiba terasa berat, entah apa artinya untuk menjadi manusia atau roh? Karena sejatinya dia sudah pergi meninggalkan dunia, tapi tidak sesederhana itu mengapa dia harus terjebak diantara dua kehidupan ini.
Aturan para roh yang menurutnya hanya dibuat-buat saja. Hyerin tak ingin memperdulikannya lagi, dia muak akan semua hal yang terus mengejar dan dalam singkat waktu hilang lagi tanpa jejak, kemudian dia dihadapkan lagi dengan masalah baru. Seperti itu roda cerita yang sedang dia jalani sekarang.
"Rai kau harus memutuskannya, setidaknya kita harus tetap taat dengan para sekte itu. Selama ini bukankah seperti itu?" Terdengar ucapan seorang teman pada Rai. Menariknya mata Hyerin langsung bergerak menatap keduanya dengan tanda tanya.
Rai kemudian membalas tatapan Hyerin seolah ingin menjelaskan sesuatu. Tapi bola matanya berbalik lagi menatap seorang teman yang ada di hadapannya saat itu. "Aku ingin sekali menyerah." Seru Rai memberikan sebuah pernyataan. Mendengar hal itu Hyerin langsung menatap Rai kesal.
"Tapi ini akan sia-sia. Sekarang bukan nasib ku saja yang siap tapi orang lain juga. Mungkin suatu saat itu akan menimpamu juga kan?" Lanjut Rai seperti membenahi perkataannya.
Temannya menarik napas tampak bimbang. "Aku tidak lagi mempunyai cara untuk menolong kalian berdua." Ucapnya sambil menundukkan wajah.
"Tenang saja aku tak ingin membebani siapapun disini. Lagipula kami hanya perlu melanjutkan jalan saja kan." Ucap Rai menegaskan.
Sedikit bisa bernapas lega, akhirnya Rai sudah memutuskan pilihan.
Sebelum ada perkataan pamit Rai sudah berdiri dan menahan matanya pada Hyerin yang masih terdiam. "Mari kita lanjutkan lagi, bukankah perjalanannya belum selesai." Seru Rai berniat mengajak Hyerin.
Temannya yang berdiri tak jauh di dekat Rai hanya bisa memperlihatkan raut wajah yang muram. Sebenarnya yang dirasakan hatinya jauh lebih berat, dia tahu apa konsekuensi nya jika melawan para sekte itu tapi di sisi lain dia juga sebagai roh tak ingin kehilangan hidupnya.
Rai berbalik berniat untuk mengajak bicara pada temannya, tapi sayang dia tidak menemukan apapun. Itu tak masalah karena Rai sudah tahu kemana perginya dia dengan suatu alasan untuk kehidupannya juga. Ini adil, setidaknya dia tidak ingin membiarkan Hyerin menempuh segala sesuatunya sendirian.
__ADS_1
Hyerin menatap Rai seolah mengiyakan meski dia tidak mengatakan apapun juga. Keduanya berjalan di bawah terik, menyusuri jalanan asing yang entah akan membawanya pada tempat yang sudah mereka putuskan.
"Apa kau pernah merasa ragu?" Tanya Hyerin tiba-tiba di tengah perjalanan.
Rai sedikit merasa terkejut dengan sebuah pertanyaan itu, dia pikir Hyerin tidak meyakini jalannya sendiri atau dia sangat ketakutan.
Rai berbalik ingin memastikan, benar saja Hyerin tampak lebih ketakutan dari biasanya.
"Kita sudah memilih jalannya, sekarang kita harus menyelesaikannya dengan percaya diri." Ucap Rai meyakinkan. Dia menggenggam kedua tangan mungil Hyerin, memberikan sedikit perasaan yakin dan nyaman.
Entah mengapa perasaan gugup langsung menyelimuti hati Hyerin, dia hanya bisa memalingkan matanya dari tatapan Rai saat itu. Bukan karena malu tapi dia sedikit gugup dan merasa ada sesuatu yang tidak asing baginya. Erat tangan itu dan kehangatan yang dia rasa tak ubahnya seperti Rai.
Saat ingatan Rai kembali lagi berulang dalam memorinya Hyerin segera melepaskan tangan. "Kita sebaiknya buru-buru." Ucap Hyerin mengalihkan suasana saat itu.
"Benar juga, kita harus cepat menemukan tempat itu bukan." Rai menyetujui ide Hyerin.
"Kita sekarang akan jalan kemana?" Tanya Rai yang tanpa disangka berhasil menghentikan langkah kaki Hyerin.
Hyerin menatap Rai tampak kikuk. "Oh itu, kita jalan terus saja." Hyerin ragu-ragu mengatakannya. Tapi benar saja dalam hati Hyerin tiba-tiba tahu kemana dia harus berjalan sekarang.
Hyerin segera mendahului Rai, meski sejauh ini perasaan yang berusaha dia tahan lama kelamaan mungkin akan nampak.
Hyerin tak berharap jika Rai saat itu berhasil melihat ke arahnya, melihat raut wajahnya saat ini. Hyerin tak ingin Rai tahu tentang masalah yang dia debatkan dalam hatinya sendiri saja.
__ADS_1
Rai tiba-tiba berlari dan menyeret tangan Hyerin, tindakan Rai langsung membuat Hyerin terkejut tapi dengan spontan Hyerin mengikuti apa yang dilakukan Rai saat itu.
"Mereka disini." Ucap Rai lirih.
Hyerin tahu tidak ada tempat yang bisa membuat dirinya aman dari jangkauan para roh, mereka berdua adalah manusia terbatas oleh ruang dan dimensi, sedangkan para roh bebas bisa pergi ke dimensi manapun.
Rai masih berusaha menghindar tapi tiba-tiba sekumpulan roh yang begitu banyak menghentikan langkah Rai dan Hyerin.
Kedua pasang mata terbelalak melihat ada sekumpulan roh di depan mata mereka, berkumpul berniat untuk menghadang perjalanan itu.
Tanpa bisa mengatakan apapun, mulut Rai seolah terkunci begitupun Hyerin dia tidak bisa memikirkan sebuah cara.
"Kalian roh yang dirumorkan itu." Sebuah suara tua yang menjelaskan suasana saat itu. Kemudian disusul dengan suara lainnya.
"Mereka dikejar oleh sekte iblis, cepat kita sembunyikan!" Seru lagi suara lain yang sekejap mata kompak menyetujui.
Hyerin bertanya-tanya meski yang bisa dia lakukan hanya diam saja. Dia tidak tahu apa yang diinginkan oleh roh-roh itu dan apa yang dilakukan oleh mereka sekarang?
Secara naluri Hyerin memang mengikuti arahan para roh itu, yang dia pikirkan sekarang hanya bagaimana caranya untuk menghindari orang-orang yang mengejar keberadaannya.
Sekejap mata semua roh berkumpul dan menghalangi tubuh mereka, Hyerin tampak bingung tapi beruntung karena orang yang bersamanya sekarang adalah Rai, artinya dia tidak sendirian. Harusnya jika disembunyikan oleh tubuh para roh saja tidak cukup kan? itu tidak membuat tubuhnya juga terhalang. Tapi entahlah dia hanya bisa yakin dengan usaha yang dilakukan oleh para roh itu.
Memang terdengar keributan yang bisa dia bayangkan ada berapa banyak orang yang melintas dekat sekali dengan keberadaan Hyerin dan Rai.
__ADS_1
Sejauh ini selama suara itu belum hilang perasaan takut bercampur dengan gugup, Hyerin tidak tahu harus melakukan apa dia tidak tahu apakah cara ini akan berhasil atau tidak? Dan bagaimana jika tidak.
Sebelum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, suara-suara tadi sudah hilang sekejap mata. Hati Hyerin merasa sangat lega namun dia masih tidak bisa tenang, sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa para roh itu sudah membantunya?