
Rai mendekat, dia tidak puas saat melihat Hyerin yang membeku bungkam dan tampak sangat kesal sekali. "Kau benar-benar bisa menahan haus ya? Sudah terbiasa baik ketika menjadi manusia." Bisik Rai di telinga Hyerin dengan berani.
Sontak saja Hyerin langsung membalas ucapan itu dengan tatapan mata sinis.
"Sudahlah lupakan. Aku lelah sekali." Nada bicara Hyerin langsung melunak. Rai tak menyangka jika Hyerin menyerah dengan cara elegan seperti itu, harusnya dia mendapatkan Omelan dari wanita yang biasa cerewet dan serba salah.
"Kau tunggu di sini aku akan belikan banyak bekal untuk perjalanan." Membalas perkataan Hyerin tadi, Rai kini bicara sangat lembut seakan tidak ada perang dingin sebelumnya.
Hyerin tak menjawab dengan perkataannya, dia cukup membalas ucapan Rai dengan menatapnya melihat Rai sudah sadar sendiri dengan kebutuhan dia tanpa diminta.
Kini hanya dia sendirian, harusnya tidak apa-apa karena masih siang dan ternyata ada satu dua orang yang berlalu lalang di tempat itu.
Sesekali mata Hyerin melihat penasaran ke arah langit, dia sempat bergumam apakah dirinya benar-benar sedang berada di dimensi manusia sebagai manusia yang utuh? Terasa seperti mimpi. Tapi rasanya Hyerin tak ingin bersyukur dengan keajaiban kecil ini, karena lambat laun kekhawatiran yang sering diceritakan Rai dari awal sedikit demi sedikit dia sudah paham.
Pasti ada tujuan tersendiri, sebuah alasan yang tidak dia ketahui dengan benar, bahkan dia tidak tahu dewa mana yang sudah berhasil menyeretnya pada roda takdir yang tidak dimengerti seperti ini.
Jika nantinya akan terjadi sesuatu hal yang buruk, mungkin dia sangat menyesal karena keajaiban ini. Tapi siapa yang tahu juga kejadian buruk itu akan seburuk apa?
Sekarang rasanya Hyerin mulai merasa sesak, dia seperti sebuah boneka yang sedang dimainkan oleh seseorang, hidup dan kematiannya benar-benar tergantung takdir itu. Bahkan jika diingat-ingat lagi fakta ini lebih mengerikan dibanding dulu saat dia pertama kali datang ke dunia roh tanpa satu ingatan pun. Tidak ada yang mending dari keduanya memang.
Namun masalahnya bukan dirinya sendiri yang terjebak dengan kondisi abnormal seperti ini, Rai juga orang yang pernah dia anggap sebagai Rai di masa lalunya. Mengapa mereka dua terikat dengan takdir yang sama? Apakah itu berarti karena Rai memang orang yang paling dia cari.
Tak terasa melamun dari kejauhan samar tampak bayangan Rai yang sudah tersenyum lebar berjalan membawa sekantong penuh, mungkin isinya adalah makanan.
Beruntung sekali, setidaknya Hyerin sudah bisa mengatasi salah satu cobaan terberatnya yaitu ketika haus dan lapar.
__ADS_1
"Kau menurut sekali, syukurlah." Seru Rai ketika baru saja kembali.
Kata-katanya memang menyinggung sekali. Apalagi Rai yang tidak langsung menawarkan minuman dan makanan yang dia janjikan.
Hyerin masih diam memandangi Rai yang lagi-lagi duduk membuka sekantong penuh makanan dan memilih salah satunya tanpa kembali menawarkan Hyerin, jelas sekali Hyerin ada di dekatnya saat itu. Mengesalkan sekali. Lagi-lagi Hyerin harus merasa kesal karena sudah dipermainkan. Andai saja dia mempunyai uang dia akan membalas perlakuan Rai agar bisa merasakan apa yang dia rasakan saat ini.
Beberapa menit Hyerin harus tersiksa lagi menahan kesal karena tingkah Rai, tapi mau bagaimana lagi? Dia hanya bisa menarik napas dan membuat hatinya menjadi lembut kembali.
Rai sangat puas, dia sudah mempermainkan Hyerin yang biasanya lebih arogan dan angkuh darinya. Tapi ketika dia melihat Hyerin yang sengaja menarik napas berusaha membuat dirinya tenang, seketika Rai merasa bersalah jika saja sikap bercandanya sudah keterlaluan mungkin dia akan menjadi seseorang yang tidak bisa dimaafkan.
Rai mulai diam menghentikan makannya. "Kau lapar sebaiknya cepat makan." Seru Rai memandangi Hyerin yang masih diam saja.
Rasanya Rai sudah lupa suatu aturan tertentu. Jika perempuan lebih mempunyai ego yang tinggi dibanding kepedulian pada dirinya sendiri. Rai memutuskan mengambil makanan itu, membuka bungkusnya dan langsung menyodorkan kue dengan tangannya sendiri.
"Cepat ambilah! Aku tidak akan membunuhmu dengan membuatmu lapar, memangnya semudah itu kau akan mati." Nada bicara Rai sudah tercampur dengan rasa kesalnya, lebih tepatnya Rai tidak tahan sekali ketika menghadapi seorang perempuan yang benar-benar mendiamkannya seperti itu.
"Aku tidak berniat mati dengan rencana konyol temanmu itu." Ucap Hyerin untuk pertama kalinya, dia juga sudah bersikap berani mengambil tawaran yang sudah Rai tawarkan beberapa kali.
Bagi Rai itu tidak apa-apa, jika harus membujuk seorang wanita beberapa kali anggap saja jika dia sedang berbuat baik.
"Aku rasa perjalanan kita masih panjang." Ucap Rai, dia berniat untuk membangun sebuah obrolan diantara keduanya.
Tak disangka Hyerin langsung bereaksi cepat, menatap Rai dengan sinis. "Kalau keberatan jangan ikut, aku tidak pernah memaksamu kan?" Hyerin terdengar lebih tidak terima dengan keluhan Rai. Tentu saja dia tersinggung lagi karena dengan perkataan Rai seperti itu maka asumsinya Rai sudah mengeluh dan tidak bisa meneruskan perjalanannya.
Rai cukup syok mendengarnya. "Maksudku, tidak seperti itu." Rai masih membela diri, tapi Hyerin sudah jelas tidak akan mudah goyah dengan kata-katanya. "Aku tidak akan mudah menyerah, memangnya perjalanan kecil seperti ini sangat sulit bagi seorang lelaki?" Lanjutnya lagi bicara. Rai tidak ingin melihat kemarahan lain di mata Hyerin karena itu dia kembali mengoceh.
__ADS_1
Hyerin menarik kembali matanya, kini dia fokus dengan makanan dan air minum yang ingin segera membasahi tenggorokannya yang mengering.
"Ternyata kalian disini. Gawat sekali!" Seseorang tiba-tiba saja datang membuat Hyerin kaget dan tak sengaja menyemburkan air minum yang penuh di dalam mulutnya itu.
"Astaga kau membasahi bajuku." Keluh Rai ketika itu.
Normalnya seorang perempuan akan malu dengan kecerobohan seperti itu, karena alasannya Rai tidak membahas lagi tentang bajunya yang basah.
"Kau datang tiba-tiba sudah seperti hantu saja." Gerutu Rai merasa kesal pada temannya, dia sengaja mengabaikan Hyerin yang duduk dan menundukkan wajah.
"Gawat sekali. Aku sudah tidak bisa memikirkannya lagi." Keluhnya tampak membuat penasaran sekaligus khawatir.
"Kau ingin mengatakannya sekarang?" Rai segera menyadarkan kekhawatiran temannya itu.
Buru-buru melihat Rai dan Hyerin dengan serius. "Kalian harus cepat-cepat mengakhiri perjalanan konyol ini."
"APA?" Hyerin cepat bereaksi saat mendengarkan ucapan itu, tampak seperti rencananya yang mulai diragukan lagi.
"Sekarang kau katakan dengan singkat dan jelas!" Rai segera menengahi mencegah amarah Hyerin yang akan meluap begitu saja.
Temannya tampak menarik napas memberikan beberapa detik jeda yang mendebarkan.
"Kalian harus benar-benar menyudahi rencana ini, maksudku setidaknya kini semua roh akan mengincar keberadaan kalian. Kau tahu apa yang orang-orang itu katakan? Para sekte itu sudah menyebar rumor yang akan membuat kalian tidak bisa melakukan apapun lagi." Terangnya dengan bersusah payah.
Tampak dari ekspresi Hyerin, dia tidak terlalu langsung mengerti namun sebaliknya Rai yang cukup mendalam dengan ekspresi wajahnya itu menjelaskan dia lebih memahami artinya.
__ADS_1