Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Suara yang kembali


__ADS_3

"Wanita tadi?" Ucap Rai tidak melanjutkan kata-katanya.


Rai bingung sebenarnya siapa yang sudah datang menemui Hyerin, karena yang dilihatnya hanya sosok wanita tapi langsung menghilang sebelum dia berhasil mengenalinya.


Rai melihat Hyerin melamun di atas kasur, seharusnya dia sudah tidur karena waktu sekarang bagi manusia adalah waktunya tidur. Tapi hal itu tidak dilakukan Hyerin. Raut wajahnya memperlihatkan jika Hyerin sangat sedih dan terbebani oleh sesuatu yang tidak diketahui. Rai sebenarnya ingin mendekat dan memeluk erat Hyerin, bertanya apa yang membuatnya sulit? Tapi dia hanya bisa memastikan dari kejauhan. Rai tidak berani mendekat karena yang dia rasakan sekarang ada jarak yang mengharuskan dirinya tidak dekat dengan Hyerin lagi.


Rai memalingkan wajah dan kembali menarik mundur kakinya. Saatnya dia merasakan sedih dan batin yang tersiksa. Mengapa takdir tidak begitu adil untuknya? Tidak memberinya pilihan untuk mengakhiri semua insiden yang sudah terjadi. Dia hanya ingin sekali saja berakhir bahagia dengan Hyerin, itu keinginannya. Tapi takdir selalu mengambil dirinya atau Hyerin, sekarang pun keadaannya tidak adil. Rai hanya memiliki waktu yang tersisa sedikit, itu tidak mungkin untuk menunggu Hyerin hingga meninggal dan datang lagi sebagai roh padanya. Dan di satu sisi jika dia berakhir sekarang itu artinya dia tidak pernah bisa kembali lagi, baginya yang sudah melakukan kerjasama dengan Iblis membuat kehidupannya berhenti, artinya tidak ada reinkarnasi lagi. Dan yang terpikirkan adalah cara untuk bisa mengakhiri semuanya.


Rai sudah ada di jembatan dan sungai yang ada di ujung rumah Hyerin. Tak menyangka dia harus bersedih sendirian di tempat Hyerin.


Hatinya tidak siap, dia tidak bisa jika harus berakhir sekarang dan untuk selamanya. Rai masih menginginkan untuk mengakhiri kisahnya yang belum lengkap bersama Hyerin. Tapi dia tidak bisa menerima cara salah lagi dengan melakukan perjanjian iblis itu.


Bagaimana caranya? Batinnya terus bertanya dengan bimbang.


Rai ingin banyak bertanya jika ada orang yang bisa memahami dan memberinya saran dari masalah ini. Tapi siapa? Dia tidak pernah mempunyai teman lain.


Saat Rai berbalik lagi melihat ke arah rumah Hyerin, dia menangkap sosok wanita tadi yang masuk ke dalam rumah. Dengan panik Rai ingin menghentikan roh itu dan bertanya dari tujuannya.


Rai langsung sigap menghampiri. Di dalam rumah dengan langkah ragu dan penglihatan yang dia bagikan ke semua sisi untuk mencari sosok lain yang ada di dalam rumah.


Mata Rai langsung terhenti saat dia melihat ke arah pintu kamar dan Hyerin yang langsung menghadap ke arahnya. Jantungnya langsung berdetak tak beraturan lagi. Dia langsung panik dan segera menghilang pergi ke tempat jauh.


"RAI!!"


Sedangkan tanpa dia sadari Hyerin berteriak memanggilnya. Hyerin bingung saat suara yang tiba-tiba keluar dari mulutnya itu. Dia juga terkejut mengapa ada Rai yang hanya sekilas datang lalu pergi lagi.


"Ada apa Nak?" Teriak Ibunya.

__ADS_1


Hyerin melihat Ibunya memasuki pintu dan berlari dengan cemas ke arahnya.


Hyerin menggelengkan kepala.


"Ibu." Ucap Hyerin. Ekspresinya menjelaskan jika dia masih bingung dengan suaranya yang tiba-tiba,ada lagi.


"Suara mu sudah kembali?" Tanya Ibunya langsung memeluk erat Hyerin, tanda meluapkan rasa bahagianya itu.


Hyerin hanya terdiam, sama tidak percaya dengan kejadian ajaib yang sudah terjadi sekarang. Tapi itu tidak berarti membuatnya bisa senang, Hyerin lebih sedih karena dia hanya sekilas melihat Rai yang lalu langsung pergi dari hadapannya. Sangat disayangkan, karena Hyerin menyimpan banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan nya langsung.


Pikiran Hyerin kembali melayang pada sebuah rencana yang dipikirnya cukup matang. Dia ingin pergi ke rumah sakit tempat dulu dia dirawat, karena penglihatannya yang sesekali bisa melihat tempat roh memudahkan Sani untuk mencari Rai. Dia tidak butuh teman pergi sendiri saja bisa sampai ke tempat tujuan.


"Nak Ibu temani tidurnya?" Tiba-tiba tanya Ibunya ketika masuk ke kamar.


Hyerin melihat Ibunya dan kemudian dia tersenyum tanda menyetujui permintaan itu. Ibunya sangat senang karena akhirnya bisa semakin dekat dengan Hyerin.


Hyerin diam sejenak dia tidak langsung menjawab, tapi pikirannya masih membayangkan sebuah rencana itu.


"Ibu Hyerin ingin bertanya sesuatu." Ucap Hyerin.


Ibunya tersenyum lagi.


"Ibu selama Hyerin koma sangat lama ya, dulu Hyerin dirawat dimana?" Ucap Hyerin mengawali pembicaraan.


"Hyerin dirawat di kota, di sana rumah sakitnya sangat lengkap dan semua staf rumah sakit sangat baik." Jelas Ibunya.


"Apa Hyerin bisa pergi ke sana lagi Bu?" Tanya Hyerin terdengar ragu.

__ADS_1


Ibunya diam. "Yerin mau pergi ke sana?" Tanya Ibunya.


Dengan ragu Hyerin menganggukkan kepala.


"Boleh, Ibu temani ke sana ya!"


"Yerin pergi saja dengan Yora dan Rei Bu, sebaiknya Ibu istirahat saja di rumah." Cetus Hyerin terlihat tidak sengaja mengucapkan kata-kata itu.


"Boleh, Ibu minta mereka untuk menemani Yerin ke sana ya?"


Hyerin tak menyangka jika alasannya ingin pergi ke sana semudah ini.


"Apa Ibu saja yang pergi?" Tanya Ibunya lagi saat melihat Hyerin yang diam tidak menjawab.


"Tidak Bu, Hyerin pergi dengan mereka saja." Jawab Hyerin.


Jauh dalam hatinya dia merasa keberatan jika harus pergi bersama kedua temannya. Hyerin tidak ingin melibatkan mereka dalam masalah lagi, tapi jika sudah seperti ini apa yang bisa dilakukannya? Hyerin hanya tinggal menunggu waktu berlalu dan tepat pada hari yang ditentukan dia tinggal pergi bersama. Cukup disesalkan, tapi tidak ada cara lain kan?


Akhirnya malam cepat berlalu.


Langit gelap di luar rumah dengan cahaya remang dari bulan yang kebetulan saat itu bulan purnama, sinarnya lebih terang.


Hyerin sudah terlelap tidur dengan Ibunya, sedangkan di luar rumah masih tetap setia sosok Rai yang terus mengawasi rumah dari kejauhan. Rai tetao menjaga jarak dan masih bertahan dengan pendiriannya. Dia tidak berani menemui Hyerin, dan entah sampai kapan.


Saat itu wajahnya terlihat murung. Setelah semua masalah jauh dari yang diinginkan, kali ini permintaannya ingin sekali saja kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya itu, dia ingin bahagia dalam satu waktu dengan Hyerin yang sudah lama dinantikannya. Terdengar tidak egois kan? Hanya sebuah permintaan sederhana.


Kilau matanya beradu dengan sorot cahaya bulan purnama pada malam itu, Rai sendirian dan menunggu di luar hingga hari dan waktu terus berganti lagi. Dari semua waktu itu rasanya dia tidak ingin melewatkan waktu yang semakin dekat dengannya. Hanya tinggal dalam hitungan jam, seharusnya dia sudah memiliki cara agar bisa memperpanjang umurnya itu. Tidak mungkin dia harus tiada sebelum Hyerin datang lagi pada waktunya. Tapi dengan cara apa dan bagaimana? Apakah dirinya bisa kembali mengambil kesempatan itu atau sebaliknya? Siapa yang tahu, Rai hanya menunggu takdir mengundangnya.

__ADS_1


__ADS_2