Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Dimensi lain


__ADS_3

Sekarang keduanya tidak bicara. Hyerin menatap Rai sesekali, tapi raut wajahnya kecewa karena Rai tidak balas menatapnya. Hatinya merasa bersalah, dia harus mengatakannya dan menjelaskan kembali dari awal.


Sudut mata Hyerin mengintip lagi ke arah Rai, tampak Rai diam saja dan melamun.


Entah mengapa kali ini dia merasa cemas, di bagian dunia manapun dia selalu sendirian tidak ada seorang teman yang akhirnya menemani, bahkan ketika menjadi roh dia mengawalinya sendirian.


Bayangan mimpi yang tampak nyata itu kembali membuat pikiran Hyerin tertekan, padahal dia hanya ingin seorang teman, tidak untuk menjadi sendirian memilah dan memilih segala sesuatu untuk dia jalani dan selesaikan.


Rai tiba-tiba berdiri, saat itu dia tampak membuat Hyerin terkejut. Ketika menatap Rai matanya menjelaskan bagaimana perasaan Rai saat itu, membuat Hyerin berulangkali berharap agar tidak lagi ditinggalkan oleh siapapun.


Rai mendekat hingga kedua mata itu saling membalaskan pandangan.


Dari tadi Hyerin sudah menahan rasa sedihnya, hingga dia tidak tahu ketika detik itupun air mata meluncur melewati Pipi.


"Aku tidak tahu apapun, kali ini kau bisa pergi dan lupakan kata-kata ku tadi." Ucap Hyerin saat itu.


Rai tak membalas ucapannya.


"Maafkan aku, aku Hannya tidak ingin sendirian lagi. Mimpi itu tiba-tiba terasa nyata. Aku Hannya ingin memastikannya dengan bertanya pada para roh yang ada di sini."


"Lalu?" Rai mulai bicara. Hyerin kembali antusias melanjutkan alasan yang ingin dikatakannya dari tadi.


"Aku ingin mengakhiri semuanya, kehidupan terlalu menyiksa hingga aku lupa bagaimana caranya untuk hidup." Hyerin menangis, dia menundukkan wajah tak mau jika kesedihannya terlalu dilihat oleh orang lain.


"Aku hanya ingin hidup, bereinkarnasi lagi, terlahir menjadi sosok yang berguna di kehidupan berikutnya. Aku tak ingin jika sesuatu membuat ku tak bisa kembali. Bahkan aku tak mengingat apapun, bagaimana aku hidup, dan mengapa aku menjadi seorang roh yang tak tahu apapun." Rai mulai bicara dengan lancar, semua sesak di dadanya perlahan memudar seiring ucapan yang terus dia katakan.


"Kita akan kembali, dan kau akan menemui semua ingatan mu kan." Ucap Hyerin meyakinkan.


"Sebenarnya untuk apa kamu hidup? Aku ingin tahu kenapa kau menjadi roh penasaran seperti ada sesuatu yang belum kau akhiri." Rai mulai bertanya lagi. Pertanyaan yang tidak sempat ia katakan pada Hyerin dulu.


Hyerin tampak menghela napas, bayangannya kembali mengingatkan dia pada sosok orang yang sudah membuat janji yang sama, untuk hidup dan kembali untuk bersama. Tak lain alasannya hidup dan menjadi roh adalah Rai.

__ADS_1


Hyerin menatap Rai di hadapannya sekarang, wajah dan warna suara bahkan sosoknya terlalu sama. Tapi dia tidak ingin banyak berharap.


Hyerin menundukkan kepala, dia masih belum menjawab pertanyaan tadi.


Rai mulai bingung. "Baiklah aku tak akan bertanya lagi, mulai sekarang mayo kita selesaikan semuanya. Kita akan mencari seorang roh di sini kan?" Rai mengingatkan persoalan tadi yang sempat dia debatkan bersama Hyerin.


Senyuman sedikit mengembang di kedua ujung bibir Hyerin. Benar sekali dia harus menyelesaikannya satu persatu.


Rai dan Hyerin akhirnya memilih kembali berjalan, bersamaan dengan itu Hyerin tampak mengingat jalan kemana yang harus dia tempuh untuk sampai ke tempat tujuannya.


Lamanya perjalanan tidak membuat keduanya mengeluh, namun terjebak dalam tubuh manusia benar-benar membuat Rai merasa lemah.


Napasnya yang sudah terdengar tak beraturan, bahkan Hyerin juga sudah tampak sangat kelelahan. Rai melihat lagi ke sekeliling. Dia memastikan di sana, namun rasanya kecewa karena tidak ada satupun roh yang bisa dia temui. Padahal harusnya semua roh ada dimanapun di dunia manusia, tadi saja dia bertemu dengan mereka tapi ketika memasuki lebih dalam hutan roh lain tidak ada.


"Kau bisa menemukannya?" Tanya Hyerin dengan napas yang ngos-ngosan.


Rai menggelengkan kepala. Harus bagaimana lagi karena memang tidak ada.


Sesuatu tampak membuat Rai mulai penasaran. Dia merasa sudah melihat sesuatu. "Itu dia!" Teriaknya.


Hyerin sampai terperanjat kaget mendengarkan Rai berteriak. Hyerin melihat ke arah Rai, tampak Rai yang terus menunjuk ke arah lain.


Hyerin segera melihat ke arah yang Rai tunjuk. Namun tidak ada apapun di sana.


"Orang tadi, dia di sana. Orang yang menyelamatkan mu!" Ucap Rai.


Hyerin mulai mencerna kenyataan itu. "Dia bukan manusia jika ada di tengah hutan seperti ini. Kau yakin jika dia manusia sebelumnya?" Tanya Hyerin.


Seperti diingatkan sesuatu, Rai benar-benar telah melewatkan hal pentingnya. Padahal dia tidak memastikan apapun, karena orang itu tiba-tiba datang menghampirinya.


"Petunjuk!" Ucap lagi Rai kembali membuat Hyerin syok.

__ADS_1


"Itu petunjuknya. Ayo kita pergi ke sana kita akan menemukan sebuah jawaban di sana!" Rai asal menyimpulkan.


Meski Hyerin tak setuju tapi tidak ada salahnya mencoba, dia juga mulai kehilangan kesadarannya dan terasa sudah mulai tersesat entah kemana kali ini dia akan pergi.


Dengan malas Hyerin mengikuti Rai berjalan ke arah yang sudah ditunjukkannya.


Dan sesuatu apak berubah di sana, Rai cepat menghentikan langkah Hyerin saat itu, sesuatu tampak ada batas tak kasat mata diantara tanah yang ada di hadapannya.


Rai mencoba batas itu dengan telapak tangannya. Tapi tiba-tiba keduanya sudah berada di tempat yang berbeda. Entah tempat seperti apa itu namun suasana yang tak biasa meyakinkan Hyerin jika itu bukanlah dunia manusia lagi.


Rai semakin bingung sekarang dia tidak melihat jalan untuk kembali, dia terasa sudah ceroboh sekali.


"Tempat apa ini?" Tanya Hyerin panik.


"Kalian sudah datang, padahal aku sangat lama menunggu di sini." Seseorang berbicara namun masih belum nampak siapa yang berbicara.


Hyerin terus mencari ke segala arah dia masih tidak menemukan apapun.


"Rai, seseorang bicara." Ucap Hyerin. Namun reaksi Rai memperlihatkan aneh, tampak dia tidak mendengarkan apapun.


"Seseorang?" Tanya Rai.


"Duduklah di sana dan coba kembali berkonsentrasi, kau bisa memasuki banyak dimensi kau pasti bisa melakukannya." Hyerin mendengarnya lagi. Terdengar seperti sebuah petunjuk, dia tidak ingin menyia-nyiakan petunjuk itu yang terpenting akhirnya dia bisa tahu apakah Yanng sebenarnya terjadi sekarang.


Hyerin memejamkan mata, dia harus mencari dan berkonsentrasi, sesuatu harus dia temukan dalam pandangannya. Entah bisa atau tidak tapi dia harus meyakini hal tersebut.


"Yerin, perhatikan lagi semua sudah berubah lagi." Ucap Rai.


Hyerin membuka matanya dan sedikit terkejut ternyata ada seseorang yang tampak seperti nenek tua, melihat ke arahnya dan mungkin dia yang berbicara tadi.


"Semua nya sudah menjadi normal lagi." Ucap Rai.

__ADS_1


Hyerin melihat ke arah Rai, dari sikapnya Hyerin menebak jika Rai tidak bisa melihat Nenek tua yang tampak di depan matanya.


__ADS_2