
Hyerin masih berusaha fokus berjalan, tidak menatap apapun bahkan tidak berani menoleh ketika salah satu roh menatapnya. Dia berjalan layaknya manusia normal lain.
"Apa yang kau pikirkan sekarang?" Tanya Rai tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.
Tanpa bicara apapun Rai langsung menarik lengan Hyerin cepat bersembunyi di balik salah satu gedung.
"Kenapa?" Tanya Hyerin cemas.
"Semuanya ada di sana, para anggota sekte itu mereka di sana. Kita benar-benar tidak bisa bersembunyi dimana pun. Kita sudah selesai." Ungkap Rai saat itu juga. Hyerin tak bisa mengatakan apapun lagi, dia bingung dan hanya bisa bungkam.
"Seseorang sudah mengadu." Ungkap Hyerin dengan nada gemetar.
"Tentu saja, lambat laun juga akan cepat ketahuan." Rai diam lagi napasnya naik turun seirama dengan detak jantungnya.
"Jika kita ditemukan, apakah kita memang tidak akan dibiarkan hidup?"
"Apa yang kau pikirkan? Tentu saja, memangnya mau apa mereka di sana." Rai tampak putus asa. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
"Kita sekarang manusia kan. Kita bukan iblis." Hyerin masih bersikukuh dengan pendapatnya.
"Tidak ada yang selamat dari para sekte itu." Terang Rai semakin mempertegas ucapannya.
Beberapa saat diam lagi, Rai seperti sudah kehabisan kata-kata untuk berbicara.
"Kalian di sini." Seseorang berbicara, Hyerin penasaran dan berbalik melihat seorang roh yang tak dikenalnya tiba-tiba datang.
"Kau siapa? Mau apa? Cepat pergi!" Rai langsung mengusirnya.
"Tunggu!" Ucap Hyerin.
"Nenek!"
Tampak roh itu tersenyum. "Aku bertemu lagi dengan cucu yang sudah menemani ku. Tadi aku kira siapa yang selalu tidur di kamar atas, ternyata kau." Ucapnya.
"Basa-basi apalagi, kita tidak bisa bersembunyi kan? Kau mau kita ditemukan?" Rai yang cemas segera memotong pembicaraan Hyerin dan Nenek yang sudah menjadi roh.
__ADS_1
"Kau diam dulu." Geramnya Hyerin langsung melarang Rai untuk bicara.
"Kalian jangan di sini, ikut dengan ku!" Ucap Nenek.
"Jangan!" Rai tidak bisa menerima seorang roh yang tiba-tiba saja datang.
"Kau langsung mempercayainya hanya karena dia nenek itu? Bagaimana jika kita tidak selamat karena ulahnya." Oceh Rai, logisnya memang seperti itu Rai tidak bisa percaya pada orang lain apalagi ketakutannya sekarang cukup beralasan.
Hyerin tak mengindahkan perkataan Rai, dia memilih menuruti perkataan Nenek dengan mengikutinya berjalan sesuai arahan nenek.
"Andai saja kau gunakan sedikit akal sehatmu, awas saja jika kau salah aku tidak mau berurusan lagi." Gerutu Rai, meskipun dia memang marah dan tidak terima dengan tindakan Hyerin namun bukan pilihan yang baik jika dia berjauhan dengan Hyerin.
"Nenek mempunyai seorang saudara, kau harus pergi kesana temui saudara Nenek semoga saja dia sedikit tahu tentang masalah kalian.
"Nek, apa nenek bisa mengantarku?" Tanyanya.
"Nenek tidak bisa pergi ke rumahnya, tidak ada roh yang bisa datang kesana." Jelas Nenek itu.
"Bagus sekali itu, cepat kita pergi ke sana." Setelah mendengar penjelasan Nenek Rai bersemangat pergi ke sana.
Hyerin tidak bisa berkata-kata rasanya dia tidak akan bertemu nenek lagi. Perasaannya sangat sedih.
"Cucu ku aku tidak bisa mengantar mu lebih dari ini, kamu bisa menemui rumah yang ada di ujung jembatan itu. Cepatlah!"
Hyerin tidak mengatakan apapun, dia langsung berjalan saja bersama Rai yang juga mengikutinya. Tempat yang disebutkan Nenek tidaklah sulit dia langsung bisa tahu dimana rumah yang diceritakan nenek.
"Sekarang ceritakan kita harus jalan kemana?" Rai langsung bertanya tanpa sedikit berpikir khawatir.
Hyerin tidak menjawab hanya terus berjalan saja.
"Kita harus segera menemukannya, kamu mau kalau para pengejar itu cepat menemukan kita?" Sengit Rai.
Hyerin masih tidak menjawab juga.
"Heh, kau diam saja." Protes Rai yang akhirnya mereda karena Hyerin tidak lagi bicara.
__ADS_1
"Baiklah, aku anggap kau masih tidak tahu apapun. Sambil kita berjalan akan ku ceritakan lagi semua yang tidak kau ketahui." Pilih Rai.
Entah apa yang dipikirkan Nenek, tapi Hyerin mengerti arti dari ucapannya, perasaannya, dan juga arti dari masalahnya sekarang. Nenek dia sudah pergi beberapa hari yang lalu, dia juga masih datang ketika menjadi roh, nenek masih mengerti apa artinya dari membalas Budi. Padahal Hyerin tak berharap itu terjadi karena Nenek akan kembali pergi dengan cara yang tidak diinginkannya.
#####
Nenek tersenyum ketika melihat Hyerin berjalan jauh bersama seorang dewa kematian yang sudah membawanya waktu itu. Tentang masalah Hyerin Nenek tidak akan pernah mengatakan alasannya meskipun dia tahu sejauh mana balasannya nanti.
Tidak begitu lama setelah Hyerin pergi muncul lagi sekelompok roh yang datang dengan beberapa orang diantaranya.
"Nenek, kau yang paling tahu dimana gadis itu. Kau sudah tahu sekarang siapa kami, dan aku berharap kau tidak menyembunyikannya. Tidak ada gunanya lagi."
Nenek tak bergeming sedikitpun, dia tidak menjawabnya.
"Kau ingin mati juga setelah menjadi roh?" Ucapnya mengancam.
Nenek masih tersenyum untuk membalas perkataannya.
"Harusnya kalian mulai berpikir sekarang, kehidupan seseorang, takdir seseorang, sebaiknya tidak lagi kalian ikut campur. Kalian bukan dewa. Aku harap banyak roh yang sadar dan tidak takut lagi dengan keberadaan kalian." Nenek tampak mengucapkannya dengan sungguh-sungguh.
"Seharusnya roh seperti mu juga mati saja, sia-sia sekali aku melihatmu masih berdiri seperti sekarang." Dengan amarahnya dia bicara seolah semua kata-katanya benar dan dia sangat mampu membuat nenek tiada.
Tanpa disangka seseorang muncul membawa Nenek hingga entah kemana perginya, Nenek langsung menghilang sekejap mata.
Sekelompok roh yang kadang orang menyebutnya adalah sekte pembasmi iblis, namun sebenarnya mereka bukan sekte itu mereka hanya sekelompok roh yang menganggap benar membuat semua roh takut dan mati karena pengadilannya.
Mereka sudah tahu tentang Hyerin dan Rai yang tiba-tiba menjadi manusia. Itu tidak lah adil bagi mereka, karena orang yang sudah mati lama tidak mungkin menjadi manusia. Mereka hanya iri dan akan terus mengejar Hyerin mengadilinya lagi dengan cara apapun.
"Kita sudah menemukannya dimana." Ucap seseorang di dekat seseorang yang tampak pemimpin dari mereka.
"Segera habisi dia." Ucapnya tegas.
"Bagaimana caranya?" Sebuah pertanyaan tidak membuat raut wajahnya senang.
"Habisi dia!" Namun sebuah kata-kata yang dia ucapkan langsung membuat orang yang baru saja datang memberikan informasi lenyap bagaikan debu diterbangkan angin.
__ADS_1
Perjalanan sekte ini tidak lagi sejalan dengan orang sebut sebagai keadilan, itu hanya keegoisan dari seseorang yang sangat membenci iblis, itulah alasannya mengapa mereka ada. Namun seperti yang pernah seorang roh katakan, jika ada kehidupan yang tidak bisa direnggut paksa, dan ada takdir yang tidak bisa diambil. Semua yang hidup, maupun roh semuanya menginginkan hidup.