Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Akemi bagian 2


__ADS_3

"Sekarang ceritakan semuanya ceritamu!" Pinta Susan terdengar sangat lembut.


Hyerin hanya terdiam dan menahan perasaannya yang sudah sangat terasa sesak di dada dan mungkin bisa meledak menjadi tangisan yang tidak bisa ia bendung lagi. Matanya sedikit menoleh ke arah Susan yang masih menunggu keberanian dirinya untuk bercerita. Susan yang tenang, lembut, ceria... Mengapa dia tidak bisa seperti Susan? Padahal Susan lebih besar menanggung beban dan kesedihannya sangat lebih besar dibandingkan dirinya sendiri.


Hyerin mengambil napas panjang, dia mencoba membaca hatinya hingga tenang, sampai ada yang dikatakan hati ya dengan yakin untuk segera bercerita, mengadukan semua kisahnya dan untuk didengarkan orang lain.


Dia kembali menghirup napas panjang dan membiarkannya masuk ke celah-celah hidung hingga terasa mengalir ke paru-paru. Untuk kedua kalinya Hyerin berusaha untuk menenangkan hati. Seolah semuanya terdengar sangat kencang, setiap suara yang membisik pun terdengar kencang di telinganya. Mungkin karena Hyerin gugup.


"Aa..aku. Sangat bahagia. Memiliki keluarga lengkap. Ada ayah dan ibu. Hidup nyaman diantara kebahagiaan semua orang, tidak ada yang sulit bagiku karena... em... a_aku memiliki teman yang banyak. Oia... sangat banyak." Ucapnya dengan nada gugup, bahkan untuk mengatakan setiap kata yang dirangkainya Hyerin tidak pernah diam. Dia melihat ke kiri, ke kanan, dan kedua tangan yang tidak pernah diam.


Senyuman canggung tersungging di sudut bibir, seolah kebohongan yang mengalir begitu saja dengan percaya diri. Susan hanya menanggapinya dengan janggal. Dia tidak bertanya ataupun balik meminta Hyerin untuk bercerita lagi.


"Eh... kenapa tidak membawa ku juga ke tempat orang tua mu, ayo bolehkan aku juga tahu." Pinta Susan.


"Emm... Mereka tinggalnya selalu berpindah-pindah. ia sejak aku tiada mereka berpindah lagi. Aku kurang tahu kemana mereka pergi." Dengan sigap Hyerin kembali menjawabnya asal.


"Emm... Baiklah. Mungkin kalau ada waktu kita bisa bertemu kembali kan?" Tanya nya.


Hyerin hanya tersenyum lgi dan tidak langsung menjawab.

__ADS_1


Keduanya langsung terdiam dan berekspresi sama saat suara jam dinding tiba-tiba terdengar. Hyerin lalu menatap Susan di hadapannya. Satu detik kemudian Hyerin menempati gedung dan di tempatnya seperti biasa. Suasana keramaian... Suara orang-orang, langkah kaki setiap orang, dan riuh pembicaraannya langsung hilang seketika. Suasana berganti menjadi hampa. Ruangan yang kotor, jejak kaki, dan tiang-tiang yang rapuh masih menjadi dekorasi permanen yang dilihat di sekeliling tempat. Kali ini hanya dia satu-satunya lagi tidak ada yang lain.


Tempat sebesar rumah sakit umum di kota ternama hanya menyisakan dirinya sendirian. Kemudian Hyerin menyeret kakinya menuju ruangan seperti biasa. Dia tidak tahan jika harus berjalan sendirian di luar ruangan pasien yang besarnya cukup untuk menampung satu orang dengan nyaman. Meski pemandangan kasur kotor, dinding rapuh, dan hitam juga lemari dan jam mati tidak membuat dia harus menyesal dan ingin pergi. Seperti yang sudah dikatakan guru wanita waktu itu, di sini adalah tempat teraman nya. Apalagi mengingat keadaan yang semakin menjadi begitupun orang-orang yang tidak memijaknya malah balik menyalahkan dan membuat Hyerin tertekan karena semua gunjingan, rumor, kabar, langsung menyerangnya dari semua arah. Kenyataan sekarang semakin memberikan Hyerin sedikit alasan untuk pergi keluar dan memuaskan rasa penasarannya. Yang dia tahu, jika dia sampai keluar dan bertemu satu orang yang bersikap akrab atau pun mengganggunya maka petaka itu akan terjadi lagi.


Hyerin hanya membuang napas dengan berat. Kaki dan tubuhnya sangat terasa lemah, apalagi perasaan bosan terus merusak suasana hatinya. Belum lagi dengan setiap urusan pribadi yang belum tuntas menjadi bayang-bayang yang terus mengingatkan seperti alarm.


Pikirannya kembali melayang pada pertemuan tadi dengan Susan. Dia sudah berbohong lagi dan sekarang harus merasa menyesal. Tapi bukan salahnya kan? Dia berbohong seperti itu hanya... dirinya yang tidak mampu mengakui semua rasa bersalah terbesarnya itu.


Berulangkali matanya bolak balik melihat jam mati yang bertengger di meja pasien. Masih tepat pada pukul 08.00, waktu selaku berhenti tepat di jam kematiannya.


Sangat dalam Hyerin hanya mengamati jam dengan suasana hatinya yang belum tenang.


"Sejak kapan kau tidur?"


"Tidak..." Ucap Hyerin membentak. Kakinya segera menggulingkan tubuh Akemi dengan sekuat tenaga ke lantai.


"Kau lancang ya, kapan aku membolehkan mu datang seenaknya dan tidur di kasur ku, kau itu laki-laki membuat risih saja tahu.!" Hyerin sangat kesal, namun sebenarnya dia terkejut dengan keberadaan Akemi.


Akemi yang masih meringis sakit di atas lantai tidak memperdulikan Omelan dari mulut Hyerin. Yang terlihat dia hanya sangat lelah dan mengantuk, mungkin itu alasannya kenapa dia tidak memperdulikan Hyerin.

__ADS_1


Dengan kesal Akemi malah langsung tidur di lantai tidak memperdulikan Hyerin yang berbicara. Padahal dengan sikap nya seperti itu malah semakin menambah emosi Hyerin.


"Hey tidak tahu malu, tidur di tempat orang sembarangan." Hardik Hyerin tidak sabar sambil dia ikut turun ke lantai.


"Bawel. Siapa milik siapa? Aku juga di tempat ini, lebih dulu aku dibandingkan kau. Jadi diam saja sana tidur." Ucap Akemi yang nyaris tidak bisa membukakan matanya dan menatap ke arah Hyerin, dia benar-benar mengantuk.


"Ia. Kan di rumah sakit ini ruangan banyak, kenapa harus di sini. Sana pergi, dasar kau harus tahu aku risih." Rengek Hyerin yang tidak terima dengan kehadiran Akemi dengan egois.


"Masa bodo." Bentak nya.


Alih-alih Akemi malah tidur, bukannya dia menuruti keinginan Hyerin yang sudah memintanya pergi.


Sudah tidak ada cara, yang terlihat Akemi sudah tertidur pulas. Dengan hati yang terpaksa dan tidak ikhlas akhirnya dia harus mengalah sendiri, toh Akemi tidur di lantai tidak di kasur dengannya.


Seketika pikiran Hyerin berhenti, dia mengingat betul pada waktu itu Rai yang tidur di kamar dan dia tidur di atas kasur dengannya. Dengan sangat malu Hyerin menekan dalam-dalam ingatan yang muncul sembarangan dan yang tidak pernah ingin diingatnya lagi, itu hanya kesalahan dan tidak pernah ingin diulanginya. Dengan rona wajah yang memerah dan cemberut Hyerin kembali naik ke atas kasur dan membenarkan posisi tidurnya. Dia berbaring dengan tenang meski sebenarnya dia tidak pernah bisa tenang apalagi kalau hanya diam seperti sekarang semua ingatan terus membuatnya merasa stress.


Dia tidak pernah tenang dimana pun dengan semua keadaan.


Cahaya remang membungkus tubuh Hyerin dengan seprai warna putih kontras sedikit terlihat, sedangkan di atas lantai tidak jauh darinya Akemi tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2