Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Hyerin?


__ADS_3

Rai menundukkan kepala tidak mengindahkan ucapan Ken saat itu, dia membisu dan tidak melawan sedikitpun.


"Kau tahu, mereka semua tidak berdosa. Dan kau masih percaya diri hidup bebas pergi kemana saja seenaknya. Kau itu iblis sebenarnya!" Caci Ken.


"Semoga saja kau bernasib sial! Seseorang yang berharga bagimu itu masih hidup kan? Kita lihat saja nanti." Ken mengakhiri perkataannya dengan sedikit senyum menantang Rai yang masih tidak bereaksi.


"Aku minta maaf karena terlambat memberitahu. Tentang iblis itu jika ada kesempatan akan ku bunuh sesuai dengan dendam kalian." Akhirnya Rai berbicara. Ken mendengarnya dan tidak merespon dengan kata-kata. Dia malah kembali menunjukkan senyum sinis dan pergi dengan begitu saja.


Rai hanya melihat kepergian Ken saat itu, dia tidak mungkin mencegahnya atau menenangkan hatinya. Semua benar, selama ini atas insiden yang terjadi memang karena salahnya. Tapi siapa yang tahu jika iblis itu akan melakukannya. Rai cukup menyesal dan semakin tersulut emosi ketika mendengar setiap harinya kasus yang dilakukan iblis yang tidak tahu diri. Tapi apa yang bisa dilakukan Rai? Dia bahkan tidak tahu cara mengendalikannya.


Jauh dalam hatinya Rai sangat mengerti apa yang dirasakan Ken saat itu, karena semua yang dirasakan oleh Ken, Rai pun mengalaminya kini.


Rai segera terperanjat bangun pikirannya kembali melayang pada Hyerin.


Tanpa memikirkan apapun lagi, Rai langsung pergi dari tempat itu.


Kini adalah waktu semua roh tinggal pada dunianya. Karena perjanjian waktu manusia dan roh bisa hidup berdampingan dalam batas waktu yang ditentukan oleh pergantian jam.


Rai menatap Hyerin dalam-dalam. Dia tidak bisa sedetikpun pergi dan mengabaikan matanya dari Hyerin, meski sangat menyakitkan saat melihat Hyerin yang tidak berdaya itu, tapi apa daya Rai hanya bisa menahan semua sesak yang semakin menusuk di dadanya.

__ADS_1


Tidak ada satupun orang yang akan mengerti tentang kisahnya, Rai tidak bisa terus menanti dalam batas dua dunia yang memisahkan mereka. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Hyerin sudah menjalani takdir meski dia hidup seperti patung. Hidup namun tidak bisa menghirup napasnya layaknya dia hidup. Andaikan Rai bisa menyudahi kesaktiannya itu, mungkin akan membuat Hyerin kembali menjadi roh seutuhnya dan bereinkarnasi.


Sangat lama Rai memandangi Hyerin yang terbaring di atas kasur. Meski membukakan mata tapi Hyerin tidak bereaksi sedikitpun.


Apa salahnya sehingga takdir membuat dia seperti itu.


Rai tak kuasa dia kembali menangis sejadinya sendirian. Perasaannya sudah hancur, setelah penantian panjang dia harus melihat Hyerin kembali menanggung takdir yang menyakitkan. Beruntung di tempat itu tidak akan ada satupun orang yang melihatnya menangis, karena dia hanya seorang roh tak kasat mata.


Di setiap penantian selalu berakhir dengan kekecewaan. Hingga sekarang. Jika saja kesempatan itu datang meski hanya satu kali, Rai berjanji untuk memperbaiki semua masalah dan tidak lagi melakukan perjanjian dengan iblis itu. Dia akan menerima takdirnya dan pergi dengan damai.


Tiba-tiba terdengar sesuatu yang mengejutkan. Rai segera menyelidik dan saat mengangkat wajah melihat ke arah Hyerin terlihat dari monitor di sampingnya yang menandakan jika pasien itu sudah meninggal? Apa yang terjadi? Rai panik tidak bisa mengendalikan diri. Dia berteriak sia-sia, karena tidak akan ada satu orang pun manusia yang mendengarkannya saat itu. Rai berlari mencari seorang dokter, kebetulan seorang dokter sedang berjalan ke arahnya. Rai semakin mempercepat langkah kakinya dan terus memberitahu dokter bahwa pasien di dalam kamar yaitu Hyerin sudah sekarat. Apa daya usahanya hanya sia-sia. Dokter itu tidak mendengarkan bahkan siapapun di ruangan itu yang dia lihat, sebaliknya tidak ada yang bisa melihat ke arahnya dan menyadari kehadirannya.


Rai sangat frustasi karena tidak bisa melakukan apapun. Namun dia kembali tersadar bukankah dia adalah dewa kematian Hyerin? Mengapa dirinya langsung panik, seharusnya sekarang adalah waktunya untuk menjemput Hyerin.


Rai terus berlari dengan senang karena dia akan bertemu lagi dengan Hyerin yang terus dinantikannya.


Setelah tiba di depan pintu hatinya berdebar, segaris senyum melebar di ujung bibir nya.


Namun saat memasuki ruangan semua keindahan dari ekspresi Rai tiba-tiba berubah. Hanya hening. Rai tidak mengatakan apapun, tidak juga bisa mengekspresikannya. Apakah dia harus senang atau sebaliknya?

__ADS_1


Hyerin di depan matanya tampak biasa sedang duduk dan berbicara dengan seorang perawatnya sambil melepas setiap alat yang tadinya menempel di tubuh. Rai mematung dan hanya menundukkan kepala.


Takdir selalu mempermainkan dan memberi kejutan yang tidak bisa disangka-sangka oleh siapapun. Hyerin sembuh seketika setelah melewati sekarat yang Rai sendiri menyaksikan dengan kedua matanya. Beberapa waktu lalu hingga sekarang Rai sudah melihat Hyerin sembuh dari koma dan sekarat.


Apa jadinya, tidak mungkin menghentikan takdir. Jika harusnya terjadi memang akan terjadi juga.


Rai hanya bisa pasrah memalingkan wajah dan perlahan mundur menjauh.


Kecewa, apakah dia harus melampiaskan kekecewaannya. Ini adalah kekalahannya lagi. Rai masih terdiam di bawah naungan langit. Menyandarkan diri di sebuah gedung terlihat kosong dan lapuk dimakan usia. Rai tidak bisa melakukan apapun meskipun dia sebenarnya adalah dewa kematian.


Ingatan tentang masalalu kembali menyergap, tentang semua hal dalam beberapa hitungan kelahiran Hyerin dan kedatangannya ke dunia ini. Semua kenangan tidak akan pernah Rai lupakan, apalagi untuk sekarang. Rasanya dia tidak mungkin untuk melupakan semua pengorbanannya selama ini.


Semua akan sia-sia jika kesempatan itu tidak datang untuk kedua kalinya. Tapi apa yang bisa Rai lakukan? Meskipun dia adalah seorang dewa kematian namun kelahirannya sebagai dewa kematian bukanlah sesuatu yang sempurna, usianya dibatas dalam hitungan waktu.


Dan sekarang adalah waktunya? Waktunya yang hanya sedikit.


Perasaan bimbang membuat Rai kehilangan akalnya. Dia masih terpuruk dan tenggelam dalam kesedihannya sendiri.


Sangat tidak mungkin jika dia kembali melakukan sebuah perjanjian terlarang itu, tapi jika tidak apakah waktunya cukup untuk menanti Hyerin yang tidak pasti kapan dia akan kembali ke tempatnya ini?

__ADS_1


Kepada siapa Rai akan menanyakan semua rasa bimbang nya? Dia tidak memiliki satu orangpun yang ada di sisinya. Semua tidak dia miliki termasuk Hyerin yang hanya datang dan pergi lagi.


Waktu terus berlalu tanpa siap menunggu. Rai semakin terpuruk dalam kesedihannya, dia bimbang dan tidak bisa melakukan apapun yang akan membuatnya paham tentang takdir dan caranya dia menerima semua takdir itu. Semuanya terasa sangat sulit. Dia hanya memiliki satu tekad untuk hidup dan menjalaninya. Itu hanya untuk Hyerin dan untuk menunggu kesempatan itu datang baginya lagi.


__ADS_2