
Hyerin hampir tidak bisa bernapas, meski kelihatannya aman-aman saja di tempatnya sekarang tapi ternyata dia bisa menemui salah satu orang seperti tadi.
Matanya menoleh lagi ke arah lain, orang-orang, keramaian, dan juga kesibukan mereka. Tidak ada yang aneh di mata Hyerin, harusnya seperti itu.
"Kau baik-baik saja?" Seorang bibi tiba-tiba datang menghampiri, ekspresinya membuat Hyerin sedikit tertarik.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya lagi sambil melihat ke arah Hyerin.
Mungkin memang tidak baik-baik saja, Hyerin masih meringis ketika tiap kali tubuhnya digerakkan.
"Kau ternyata tidak cukup baik untuk pulih, sayang sekali padahal tidak mudah tetap berjalan sendirian seperti itu di luar." Bibi itu masih bicara padanya.
"Bibi, tadi ada orang yang membuat aku seperti ini tapi kemudian dia kejar dan melarikan diri." Ucap Hyerin berharap dia akan tahu sesuatu dengan mengatakannya.
"Oh, tidak aneh sekarang orang-orang sepertinya sudah jadi setengah dari penghuni kota. Kau harus bisa menghindarinya untuk selamat, ingatlah selalu." Bibi itu menjelaskan, terdengar seperti sesuatu yang tidak baik.
Hyerin menghela napas. Ketika dia akan berbicara lagi ternyata bibi tadi sudah tidak ada. Mungkin sudah pergi entah kemana.
Hyerin berusaha untuk membuat tubuhnya kuat, meski harus berjalan dengan sulit tapi dia tidak bisa hanya diam saja kan.
"Aaaaa..." Sebuah teriakkan.
Spontan Hyerin langsung melihat ke sumber suara, seorang anak kecil yang sedang dikejar oleh sekelompok orang.
Kedua pasang mata Hyerin terbelalak melihatnya, padahal hanya anak kecil tapi mengapa harus diperlakukan seperti itu.
Ketika seseorang mengarahkan sesuatu ke anak tersebut bahkan anak itu setengah mati sangat ketakutan. Hyerin tidak bisa diam saja tanpa bertanya atau melihat situasinya dia langsung berlari memburu anak itu. Mendekapnya dengan erat.
Melihat pemandangan itu semua pasang mata menatapnya aneh, Hyerin melihat orang-orang berekspresi tidak seharusnya, apa yang salah?
Perlahan Hyerin melepaskan anak itu, menatap ke arah orang-orang yang kini tampak melihatnya kesal.
"Iblis! Dia sudah tercemar jangan biarkan dia lolos!" Teriak seorang perempuan dari barisan orang-orang yang mulai berkerumun.
__ADS_1
Hyerin menatap dirinya lagi, dan melihat ke arah anak itu. Matanya melebar karena melihat anak itu sudah berubah tidak seperti penampilan yang tadi dia lihat.
Seseorang datang padanya membawa sebuah borgol, kemudian tanpa perlawanan tangan Hyerin diborgol oleh orang-orang itu. Hyerin Hannya bisa menundukkan wajahnya, dia sama sekali tidak mengerti dan tidak tahu, akhirnya karena bertindak seperti tadi dia harus diadili di tempat yang baru saja dia kunjungi. Apa yang akan mereka lakukan padanya?
Hyerin menoleh lagi, anak itu berubah menjadi seperti jelly hitam yang semakin lama penampilannya membesar. Benar-benar mengerikan. Apanyang akan terjadi jika anak itu dibiarkan? Pantas saja semua orang memburunya, tapi karena kejadian itu apakah dia harus dikurung juga diperlakukan seperti ini?
Hyerin dibawa ke salah satu ruangan, di sana tampak banyak orang sepertinya. Kemudian gilirannya berjajar mengantri seperti yang lain mengikuti orang-orang.
Tidak ada yang protes dan bertindak bodoh, semua orang patuh.
"Cepat kemari!" Seseorang yang memakai pakaian tertutup bicara pada Hyerin.
"Ulurkan kedua tangan mu!" Perintahnya.
Hyerin segera mengulurkan tangan yang diborgol itu.
"Bodoh, sudah tahu mereka itu harus dijauhi kau malah mendekatinya." Komentarnya. Mendengarkan hal itu Hyerin hanya tertunduk saat itu, dia benar-benar tidak tahu apapun, jika saja dengan bicara bisa membuat orang lain memahaminya tapi sepertinya lebih baik diam saja.
Sebuah gelang dipasangkan pada pergelangan tangan Hyerin. "Ingat jangan sampai lepas! Kau tidak boleh membiarkannya terlepas dari tangan mu." Ucapnya memperingatkan.
Ketika melihat ke sekelilingnya dia Samapi tidak bisa percaya karena ada begitu banyak orang yang menerima gelang itu, artinya orang seperti bocah tadi begitu banyak di tempat ini.
Hyerin masih tidak tahu seberapa bahayanya dua orang anak yang dia temui sekarang. Pertama lelaki asing yang kasar dan kedua bocah itu.
Ding...Ding...dong...
Suara dentuman jarum jam.
Hyerin menatap ke arah langit-langit, suara yang selalu membuat jantungnya berdegup kencang. Suara peralihan, suara waktu akan berganti. Selanjutnya pemandangan yang ada saat ini akan berubah menjadi pemandangan kehidupan manusia kan.
Hyerin terdiam mendengarkan nya, bukan hanya dia namun semua orang di sana. Hyerin penasaran kehidupan manusia seperti apa yang akan dia lihat sekarang.
Beberapa saat Hyerin masih menunggu, dia terus berdiri menatap langit. Dia merasa sudah terlalu lama, kemudian matanya menatap ke arah orang-orang. Dan mereka semua tampak seperti biasa saja di sana, beraktivitas seperti biasa. Hyerin merasa aneh lagi, dia kemudian menoleh ke segala tempat di sana. Ternyata tidak terjadi seperti dulu, tidak ada perubahan waktu sekarang.
__ADS_1
Sebuah fakta yang membuat dia tidak bisa berkata-kata. Hyerin merasa khawatir, dia berjalan terus kemana saja tak menentu, pikirannya benar-benar gusar. Pertanyaan terbesarnya apakah dia sudah memasuki dimensi waktu yang tepat atau salah? Kenapa sangat berbeda, semua yang ada di tempat ini sangat berbeda dari sebelumnya. Pasti ada kekeliruan terbesar dan jika dia sudah salah memilih jalannya apapun yang dilakukan sekarang pasti sia-sia.
Hyerin merasa benar-benar terpuruk saat itu. Seluruh beban di kepalanya membuat dia frustasi. Dalam kasus ini dia tidak bisa pergi manapun maupun kembali, harusnya dia bisa kembali dan menemukan lagi jalan yang benar, tapi bagaimana caranya? Dia tidak tahu.
Merasa frustasi Hyerin tak peduli jika sekarang di sekelilingnya sudah tidak tampak ada orang satupun, di sana orang-orang pergi ke tempatnya masing-masing. Tapi Hyerin? Dia sendirian di bawah langit yang semakin gelap. Tidak ada yang bisa dilakukannya, dia hanya ingin menyelamatkan semua tapi kenapa dia sendiri yang tidak bisa selamat seperti ini?
Suasana benar-benar gelap menandakan jika malam sudah datang. Hyerin melihat lagi ke arah langit, dia cukup kesal karena tidak tahu harus kemana pulang lagi. Apakah ke tempat kumuh tadi? Tempat ketika dia awal datang ke sini.
Mungkin sekarang hanya dia satu-satunya yang berjalan di bawah suasana yang sudah gelap.
"Siapa di sana?" Sebuah suara mengejutkan. Ketika Hyerin berbalik seseorang sudah ada di hadapan mengejutkan.
"Kau tidak takut berjalan sendirian?" Tanyanya.
Hyerin menatapnya tak peduli, dia hanya ingin kembali dan memikirkan semua kesulitan itu dengan tenang.
"Hei, cobalah untuk peduli. Aku bicara padamu." Protesnya ada Hyerin.
"Oh, astaga. Kau terinfeksi. Sama seperti ku!" Ucapnya menunjukkan tanda gelang di tangan.
"Apa kau tidak bisa pulang ke rumah karena gelang ini?" Tanyanya lagi.
Hyerin masih tidak memperdulikannya, dia tidak peduli dan tak ingin membahasnya.
"Kau harus tetap pulang untuk selamat. Kau harus peduli pada hidupmu itu!" Oceh nya.
"Cepatlah pulang dan urungkan niatnya!" Lanjutnya lagi.
"Berhenti!" Teriak Hyerin di depan wajahnya.
Hyerin menatap nanar. "Jangan ganggu aku!" Ucap Hyerin marah.
"Astaga, memangnya kau mau kemana? Aku sangat peduli jadi tolonglah jangan bersikap seperti anak-anak." Ucapnya lagi.
__ADS_1
Hyerin sangat marah dan memejamkan mata untuk mengatur emosinya. Namun ketika mata terbuka dia langsung mendapati dirinya berada di tempat lain.