
Ada fakta yang perlu dipikirkannya dalam-dalam. Sebuah kenyataan menampar keras kesadarannya, Hyerin tidak bisa berkata apa-apa karena nasibnya sebagai roh dari kamar 13 dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Sekarang bukan hanya orang lain yang benci dengan latar belakang nya namun dirinya sendiri mulai merasa risih. Ditambah dengan masalah yang hanya bisa dipikirkannya, tentang Akemi ceritanya yang semakin jelas menguak misteri di tempat ini. Satu hal yang harus dilakukan untuk meyakinkan semua orang bahwa dewa kematian yang perlu dijadikan tersangka sebenarnya adalah dewa kematian yang mirip Rai. Dia sendiri juga harus menceritakan tentang masalah sebenarnya tentang Akemi dan perjanjian yang sudah dilakukannya.
Waktu semakin terasa melambat, Hyerin kalut dengan fakta baru yang membuatnya harus berpikiran keras sendirian karena semua masalah besar sudah menghampirinya tanpa ampun. Satu masalah belum selesai muncul lagi masalah lain yang lebih menakjubkan.
Matanya menatap tajam ke arah Rai yang masih berdiam tidak berkutik sedikitpun setelah menceritakan rahasia terbesar yang seharusnya sudah diketahui banyak orang. Ada sedikit kesal sikap Rai yang terlalu tidak peduli dan selalu bersikap dingin dengannya, lalu sekarang tiba-tiba menceritakan masalah yang sangat besar.
Mondar-mandir di tempat, Hyerin tidak bisa membuang jauh pikirannya yang semakin mengganggu, dia tidak sabar ingin menyelesaikan masalahnya itu, namun dengan cara seperti apa? Dia hanya menendangkan kaki kosong ke sembarang arah. Bola matanya sedikit mendelik ke arah Rai, tanpa menunggu waktu dia segera berlari melarikan diri berharap jika kali ini dia bisa lolos menghindari Rai.
Dengan sangat bersusah payah Hyerin berlari sepenuh tenaga, pandangannya tidak lepas mengamati Rai hingga sosoknya tidak terlihat lagi. Seharusnya sudah cukup membuat Hyerin terhindar sedetik saja. Mungkin Rai kali ini tidak akan menemukannya, begitulah yang dipikirkan Hyerin. Setelah bersusah payah dia mengatur irama napasnya yang terdengar berat.
Mengendap di balik gedung lain, tubuhnya berusaha ia tutupi sebaik mungkin sampai semua terasa aman.
Seluruh penglihatannya tertuju ke semua arah yang dia edarkan dengan teliti, kali ini seharusnya Rai benar sudah tidak ada dan Hyerin baru bisa keluar dari tempat persembunyiannya.
Sekarang apa yang bisa dilakukannya? Dengan detail Hyerin merencanakan sebuah rencana sebaik mungkin. Dari yang terpikirkan Hyerin perlu memberitahukan kepada orang-orang yang sebelumnya menemuinya dan menceritakan bahwa perempuan yang pergi dengannya sudah hilang. Lalu Hyerin akan menceritakan kasusnya, tentang Akemi dan Rai. Mencari jalan keluar dan cepat menyelesaikan masalahnya. Terdengar tidak begitu rumit karena mungkin jika dipikirkan bersama sesuatu yang tidak pernah terpikirkan bisa menjadikan salah satu jawaban terbaik untuk menyudahi masalah yang terus menghantuinya.
Sangat percaya diri, membuatnya bisa berani untuk mengikuti kata hatinya dan dengan tekad yang sudah tidak bisa ditawar lagi semakin menambah energi untuk Hyerin.
Akhirnya dia melihat sekumpulan roh yang sedang berbincang tidak begitu jauh. Kali ini harus berhasil tidak boleh gagal lagi. Tekadnya membuat Hyerin berani menghampiri orang-orang meski sebagian hati tetap mengusik perasaannya.
__ADS_1
Ke dua kakinya ragu menghitung setiap langkah yang akhirnya dia sudah berdiri di hadapan orang-orang. Kali ini apa yang akan dikatakannya? Dengan ragu-ragu Hyerin mengulurkan tangan berniat untuk menyapa salah satu dari mereka.
Tangannya sudah sampai menyentuh bahu orang yang terus dilihatinya. "Maaf. Aku ingin bertanya." Tanyanya gugup. Hyerin hanya menelan ludah yang hampir terasa kesat di bagian tenggorokan.
Orang-orang langsung memandanginya aneh.
Mata orang-orang yang langsung mengarah ke bagian identitas dirinya membuat semuanya terkejut dan hanya melongo menatap Hyerin penuh dengan perasaan tidak percaya.
Satu hal yang harus diingatnya lagi, tentang asumsi pasien di kamar 13 masih terkesan buruk dipikiran orang-orang.
Mendapatkan reaksi yang tidak diinginkannya, Hyerin mundur dan mempercepat lagi langkahnya ke bagian lain di tempat yang sangat luas. Dia kalut bisa kehilangan rasa percaya dirinya dengan cara yang singkat.
Tubuhnya yang mematung dalam keramaian manusia tidak membuatnya tersentuh sedikitpun. Kebingungan yang menyelimuti perasaannya kini membuat Hyerin tidak bisa berpikiran lebih tenang sampai dapat menemukan jalan keluarnya. Setengah kesal Hyerin berlalu ke sembarang arah dengan setengah perasaan frustasi.
Samar terlihat sekilas orang yang terus mondar-mandir, membuat Hyerin menyipitkan mata melihat lebih jelas orang yang terus diperhatikannya saat itu. Sedikit aneh, Hyerin melangkah mendekat ke arah orang yang sepertinya terlihat cemas. Tanpa disangka matanya menangkap tatapan orang itu yang langsung mengenalinya, menyeret lengan Hyerin dan berlari bersamanya.
Bukan suatu kebetulan lagi, orang yang dilihatnya mungkin sudah mengenal Hyerin sebelum dia kehilangan sebagian ingatannya itu.
Jauh memasuki kota hingga membawa Hyerin ke tempat yang tidak dikenalinya. Mungkin sedikit salah jika Hyerin memutuskan orang yang baru saja dilihatnya membawa dia dengan bebas. Mendapatkan keganjilan yang dirasakan Hyerin segera menarik lengannya dan menatap orang yang langsung berhenti dan membalas tatapannya juga.
__ADS_1
"Kenapa? Ada yang salah?" Tanyanya mendahului.
Hyerin hanya mengernyitkan dahi tanda sedang berpikir maksud dan tujuan orang itu membawanya. "Siapa kau?" Tanya Hyerin ketus.
Orang yang ada di hadapannya langsung melebarkan mata melotot tidak percaya dengan perkataan Hyerin.
"Kau tidak ingat apapun?" Tanyanya tanda tidak percaya.
Hyerin hanya menggelengkan kepala.
Orang asing yang bersikap seperti sudah mengenalnya dengan baik, perasaan cemas yang tergambar jelas dari siluet wajah anggun wanita yang sudah melarikan diri bersama Hyerin. Beruntung waktu tidak cepat berlalu, Hyerin menatap ke arah langit yang masih cerah, begitupun wanita itu melakukan hal yang sama. Menyadari kesamaan yang tanpa disengaja itu membuat kedua kembali saling membalaskan pandangan satu sama lain.
"Ternyata kau sedang melarikan diri dari orang yang mirip dengan Rai? Kau bisa melakukannya dengan baik." Ucap Hyerin setelah waktu berlalu keduanya sudah berbincang mengenai hal yang sedang dihadapi wanita itu.
"Keadaannya sudah sangat gawat, kali ini orang yang mirip dengan Rai tidak bisa dikendalikan lagi. Kau tahu kejadian ini memang sudah sangat sering terjadi, dan kami semua ber tiga sebenarnya sudah pernah mengurus hal yang sama. Tapi kali ini berbeda." Jelasnya panjang lebar seperti tidak memiliki waktu lagi untuk mengatakannya pada Hyerin.
"Sekarang kita akan pergi lagi?" Tanya Hyerin yang sebenarnya dia ingin berkata lain lebih lanjut. Perasaannya kini sudah sangat ketakutan. Membayangkan ketika waktu berlalu kemudian dia kembali ke tempat itu, entah apa yang akan terjadi. Bisa saja dia juga dihilangkan oleh orang yang mirip dengan Rai.
"Aku ingin menemui yang lainnya tapi sangat tidak mungkin, mereka semua bisa terancam juga." Keluhnya terdengar sangat frustrasi. "Rai, dimanakah dia? Seharusnya kita sedikit aman dengan Rai." Ucapnya lagi yang membuat Hyerin hanya bisa mematung tidak percaya.
__ADS_1
Hyerin sangat bersusah payah untuk menghindari Rai tapi kali ini Rai adalah salah satu alasan untuk keselamatannya.
Matanya hanya membulat tidak percaya. Hyerin tidak mengatakan apapun karena sudah melakukan hal bodoh.