
Waktu malam cepat sekali menyergap langit dan menggantinya menjadi pemandangan gelap pekat di mana-mana. Hyerin masih terduduk memandangi ke arah jendelanya. Bahkan sudah hampir beberapa jam terlewat, tidak terhitung juga sudah berapa kali Ibunya memastikan dan untuk kesekian kalinya Ibunya tetap melihat pemandangan Hyerin yang masih duduk di dekat jendela dan membagikan pandangannya ke arah luar. Meskipun begitu Ibunya tidak mungkin mengganggu sedikitpun aktifitas yang dilakukan Hyerin, apapun. Ibunya kembali menutup pintu dengan hati-hati.
Tatapan Hyerin yang kosong selalu mengarah ke luar jendela, apapun yang dilihatnya adalah sesuatu yang tidak disadari oleh orang biasa. Sekarang dia sedang melihat pemandangan yang berbeda, dan orang-orang tak kasat mata yang muncul dan berlalu lalang di depan matanya. Hal itu yang membuat Hyerin bisa berjam-jam duduk dan berdiam diri tanpa melakukan apapun.
"Akemi." Ucapnya lirih saat itu. Sebuah nama asing yang disebutnya. Nama orang yang belum ditemuinya dalam kehidupan nyata dan hanya pernah ditemuinya di kehidupan di alam bawah sadarnya waktu itu.
Hyerin bisa melihat semua yang terjadi di sekitarnya dan bisa merasakan kehadiran roh lain juga dunia mereka. Itulah Hyerin yang sekarang. Dia ingat dan semua ingatannya semasa hidup sangat melekat dipikirannya. Dia juga tahu bagaimana cerita di kehidupannya pada tahun-tahun yang tidak ditentukan, pada tahun-tahun dia hidup sampai bereinkarnasi lagi, hingga sekarang karena suatu insiden semua ingatan itu muncul lagi, dia juga adalah Hyerin yang sudah hidup dan Beratus kali reinkarnasi. Rohnya terjebak dalam raga di tahun ini dengan semua ingatan masalalu yang menumpuk di pikirannya.
Pantas saja keanehan terjadi, semua yang terlihat aneh oleh orang-orang memang karena sikap dan ingatannya sekarang.
Hyerin juga ingat tentang Rai dan cerita mereka berdua, sebuah kisah yang selalu menjadi penantian panjang Rai sampai sekarang.
Mau apalagi, Hyerin yang berada di dunia manusia terjebak dalam raganya sekarang.
Padahal jauh dalam keinginannya dia juga ingin menemui Rai dan melanjutkan kisahnya yang tidak pernah selesai itu. Dia tahu Rai sangat rapuh dan terluka karena penantiannya itu, apalagi sekarang. Rai pasti terluka karena dirinya sempat datang lagi ke dunia roh dan malah kembali lagi hidup.
Apa yang bisa dilakukannya dan kepada siapa dia akan menceritakan semua yang terdengar tidak masuk akal.
Hyerin bingung, hatinya sangat sesak dan sedih. Berulangkali bayangan Rai masuk dan membuat lamunan panjang baginya.
__ADS_1
Ketika melihat semua roh rasanya Hyerin tidak tahan lagi ingin menyapa mereka dan menanyakan kabar tentang Rai, tapi dia tahu jika hal itu sampai dilakukannya sesuatu yang berbahaya akan mengintai. Iblis itu, Hyerin masih ingat bagaimana ulah iblis itu sampai membawa petaka baginya.
Karena alasan itu Hyerin tidak mungkin melibatkan orang lain lagi dalam masalahnya. Dia juga tidak tahu bagaimana kondisi terakhir di dunia roh itu. Apakah sudah banyak roh yang hilang lagi atau malahan Rai yang sedang menghadapi masalah.
Pikirannya sangat kacau namun dia harus tetap bersikap tenang dan bertingkah sesuai dengan dirinya sekarang di kehidupan nyata. Hyerin harus menyesuaikannya agar semua orang tidak ada yang curiga. Padahal bukan sesuatu yang mudah ketika menahan perasaannya sendiri di hadapan Ibunya, teman-temannya dan semua orang. Tapi harus bagaimana lagi, dia hanya bisa bertindak seperti sekarang.
Baginya tidak ada pilihan dan tidak ada jalan keluar. Hyerin hanya bisa menenggelamkan diri ke dalam ingatan yang terus membuat dadanya semakin terasa sesak. Dia tidak mungkin bisa terus-terusan bersikap seperti sekarang dan berada di tengah-tengah semua orang, karena sebenarnya ingatannya tentang Rai terus mengganggu.
Apakah dia bisa memastikan sesuatu dengan penglihatannya itu tanpa harus bertanya? Pikir Hyerin. Dia hanya perlu pergi ke rumah sakit yang ada di kota, namun memang jaraknya tidak dekat. Tapi atas alasan apa dia ingin pergi ke sana? Untuk pengobatan?
Sejenak dia berpikir lebih detail lagi. Menimbang semua masalah dan sedikit solusi yang bisa dilakukannya.
"Yerin, masih tidak tidur?" Sebuah suara menerobos masuk ke dalam Indra pendengarannya. Hyerin terperanjat sambil menoleh ke arah sumber suara. Dia melihat Ibunya berdiri di ambang pintu.
Ibunya tidak berbicara apapun lagi, saat Hyerin menoleh ke arahnya Ibunya langsung menunduk dan ragu-ragu pergi dari kamarnya tanpa mengatakan apapun.
Hatinya saat itu sedikit teriris, Hyerin tahu jika pada tahun di usianya sekarang dia tidak pernah bersikap baik. Bahkan sampai terakhir kali sebelum koma. Hyerin hanya bisa menarik napas dan melupakannya.
Saat tubuhnya sudah berbaring di atas kasur, sebenarnya dia tidak bisa langsung tidur. Terlalu banyak yang mengganggu pikiran dan membuat perasaannya tidak bisa tenang.
__ADS_1
Dia juga menyesalkan mengapa sesuatu seperti ini bisa menimpanya. Dia tidak bisa terus memerankan hidupnya dengan beban ingatan yang kini mengisi. Tapi memang harus bagaimana lagi, semua terlanjur terjadi dan memang tidak ada pilihan untuknya.
Hyerin kembali membuang selimut dari tubuhnya, kembali duduk di atas kasur kemudian berdiri dan pergi menuju jendela sebelumnya.
Pemandangan yang dilihatnya sudah hilang. Entah apa artinya dia tidak melihat pemandangan tadi.
Mungkin kali ini waktu roh sudah habis. Dan waktunya sudah bergulir.
Hyerin semakin tidak tenang, sedikitpun dia tidak bisa diam dan beristirahat. Semuanya terlalu mengganggu.
Ceklek...
Suara pintu terbuka menarik perhatiannya. Dengan wajah yang gelisah Hyerin menoleh dan melihat Ibunya membuka pintu. Namun seperti biasa mungkin Ibunya hanya memastikannya lagi, tanpa berbicara kemudian menutup pintu. Bisa merasa canggung seperti ini. Perasaan yang kemudian mengganggunya. Rasanya sudah sangat tidak tahan.
Hyerin menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan memandangi langit-langit kamar. Dia berharap saat itu bisa bertemu Rai dan menceritakan bahwa ada sesuatu yang terjadi dengan dirinya. Hanya pada Rai dia bisa menceritakan semuanya, Rai satu-satunya yang bisa dia percayai. Andai saja Rai datang semua bebannya mungkin bisa hilang.
Hitungan waktu terus berputar, jam terus berganti sampai menunjukkan waktu tepat di jam 01.00 pagi Hyerin sudah menutup matanya dan terlihat tenang tidur tanpa menutup diri dengan selimut.
Bisa ditebak dari arah pintu dengan hati-hati ibunya datang dan memastikan Hyerin sudah tidur. Saat melihat putrinya tidur tanpa memakai selimut Ibunya langsung menghampiri dan membenarkan selimutnya. Sampai beberapa saat terdiam memandangi wajah putrinya.
__ADS_1
Padahal sudah sangat larut, tapi Ibunya seperti biasa selalu memperhatikan Hyerin tanpa sedikitpun terlewatkan. Bahkan menunggu Hyerin tertidur.
Matanya terlihat sedikit sendu, bulir air mata tidak tahan lagi segera berjatuhan. Dan dengan hati-hati Ibunya segera pergi dari kamar.