Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Rahasia Ken bagian 1


__ADS_3

Hyerin masih menyeret kakinya pelan mengikuti jejak Ken yang sudah lebih dulu menepi di luar gedung.


Setelah dia juga berdiri di sana Hyerin sudah bisa tahu apa yang sedang terjadi di dalam ruangan itu.


Mata Hyerin sangat fokus memperhatikan ke arah Ken. Dia cukup menjaga diri dengan selalu hati-hati sampai akhirnya dia harus mengikuti Ken ke tempat yang pernah dia datangi juga.


Sejauh ini Hyerin masih belum bisa membayangkan bagaimana sambutan orang-orang jika sekarang melihatnya. Dulu memang orang-orang di tempat ini sangat masing-masing tidak terlalu memperhatikannya, tapi di tempat ini juga Hyerin mengalami insiden yang tidak bisa dia lupakan juga. Benar, karena dia dulu bukan seorang roh yang utuh dan itu sebabnya dia menjadi pusat perhatian salah satu orang yang iseng dan penasaran tentangnya.


"Aku masuk duluan!" Ucap Ken singkat.


Hyerin hanya bisa melihatnya melangkah pergi hingga masuk ke dalam ruangan. Kali ini dia juga harus pergi mengikuti Ken.


Apa harus pergi ke dalam ruangan itu lagi? Pikir Hyerin sangat takut. Dia tidak bisa menghadapi orang-orang yang akan menyudutkannya atau menyalahkannya karena semua kondisi yang terjadi di tempat ini. Terutama Bu Guru dan teman-teman yang lain, apakah sekarang orang-orang nya sudah berbeda?


Tak terasa memikirkan semua pertanyaan yang berdebat di dalam pikirannya itu berhasil mengalihkan keberanian Hyerin, dia kini sudah berdiri tepat di ambang pintu. Secepat itu.


Hyerin masih menundukkan kepala menyembunyikan wajah yang terkesan tidak memiliki keberanian sedikitpun.


Jika harus pergi begitu saja setelah sudah sejauh ini, apa tidak terkesan keterlaluan? Pikir Hyerin yang masih berusaha mengumpulkan keberaniannya.


Sangat perlahan Hyerin mengangkat wajah ingin menyaksikan segala sesuatu yang akan tampak di depan matanya saat itu.

__ADS_1


Tapi... Saat menghela napas dan mendapatkan napasnya lagi, Hyerin langsung membisu. Apa yang sedang dipikirkan Ken tentang semua ini? Tidak ada satupun orang di gedung itu. Dan Ken hanya duduk santai di salah satu meja.


Sekali lagi amarahnya hampir tersulut. Padahal Hyerin sempat memikirkan cara menghadapi orang-orang, tapi kenyataannya dia malah tidak melihat satupun orang di sana.


Sorot matanya langsung beralih ke tempat Ken yang masih duduk. Hyerin melihat Ken yang bersikap biasa saja tanpa merasa bersalah jika sikapnya sejauh ini sudah membuatnya merasa dipermainkan. Apanya yang harus menunggu orang-orang, dia bohong karena di tempat yang sudah dikatakannya tidak ada satupun orang seperti yang disebut Ken.


Hyerin ingin meluapkan amarahnya, tapi dia kembali menghela napas dan mempertimbangkan sikap yang harus dilakukannya. Sia-siakan jika dia harus mengeluarkan tenaga hanya untuk marah-marah di tempat dan kepada orang seperti Ken. Hyerin juga tidak memiliki waktu sebanyak itu, sekarang dia masih memiliki misi yang belum disentuhnya sama sekali.


Hyerin berbalik dan kembali menarik kaki kanannya yang hampir masuk ke dalam ruangan. Dia terlihat berusaha tenang untuk menghadapi Ken dan sikapnya yang seperti sekarang. Hyerin hanya perlu pergi dari tempat itu. Dia tidak ingin berlama-lama membiarkan dirinya lebih dikuasi oleh amarah yang dengan susah payah dia kubur dalam-dalam pada batas kewarasannya.


"Masuk!" Ucap Ken terdengar berusaha menghentikan rencana Hyerin untuk pergi.


Sepertinya tekadnya kini berhasil meyakinkan Hyerin untuk tidak mengikuti atau mendengarkan kata-kata Ken lagi. Dia tidak ingin terjebak lagi dengan kebohongan yang dibuat Ken.


Saat berbalik Hyerin mulai melihat 1,2 orang yang bermunculan. Tak lama ruangan pun diisi penuh oleh orang-orang tak dikenal.


Hyerin melihat ke arah Ken, tapi tentu saja dia tidak memiliki kesempatan untuk bertanya. Hyerin melihat Ken seperti mengajaknya untuk duduk diantara orang-orang.


Hyerin bingung tidak bisa cepat mengerti maksud itu hingga dia hanya berdiri. Hingga sebuah tangan cepat menariknya. Mata Hyerin menangkap Ken yang bersikap dingin sambil menarik lengan Hyerin dan menyeretnya untuk duduk diantara orang-orang.


Melihat situasi di depan mata hati Hyerin berasumsi jika tidak ada waktu dan kesempatan untuk kabur, justru Hyerin melihat jika dia harus hati-hati berada di tengah orang-orang tak di kenalnya sama sekali. Hatinya seperti memiliki firasat untuk tetap tenang dan mengikuti Ken.

__ADS_1


Tak terasa dia sampai di sebuah kursi kosong, sekali lagi sorot mata Hyerin memastikan ke arah Ken dia mulai ragu untuk melakukan apapun kini harus memastikannya dengan bertanya pada Ken.


Dari pengamatannya Ken mengisyaratkan agar dia tetap tenang dan duduk di kursi itu.


Sedikit merasa tidak nyaman karena letak kursi duduk yang Hyerin dapatkan tidak berdampingan dengan Ken, terhalang oleh beberapa orang jarak antara dirinya dan Ken. Tapi harus bagaimana lagi, dia tidak ingin bertanya apapun hingga suatu kesalahan dia lakukan tanpa sengaja.


"Saya akan paparkan situasi yang terjadi saat ini." Sebuah suara menepis perasaan Hyerin saat itu. Mendengarnya sekilas bisa langsung membuat perhatian Hyerin teralihkan.


"Ada iblis di tempat ini, ternyata dugaan tentang iblis itu sudah terbukti." Paparnya lagi.


Hyerin terdiam dan tidak berani sedikitpun untuk menarik perhatian orang-orang, karena itu meskipun keadaannya sangat sulit Hyerin tidak bisa mengalihkan perhatiannya lagi pada Ken.


"Iblis dan lelaki itu juga wanita yang disebut-sebut sebagai kekasih dari lelaki itu sudah bekerjasama."


Hyerin sedikit tersinggung dengan pernyataan yang terdengar melintas ke telinganya saat itu. Dia merasa orang yang diceritakan adalah dirinya dan Rai. Tapi kenyataan yang dia katakan itu sangat tidak benar, rasanya terkesan jika Hyerin dan Rai adalah orang jahat. Padahal tidak seperti itu kan.


"Kita semua tidak bisa mencari lagi mereka karena diduga ke dua roh ini sudah pergi ke dunia iblis. Masalah entah rencana apa yang dipikirkan oleh kedua roh itu, tapi pastinya akan menimbulkan kekacauan besar jauh dari insiden yang sering terjadi sekarang."


Sebuah kalimat yang dirangkai dan memaparkan tentangnya sangat tidak bisa diterima Hyerin. Dia memang sudah tidak bisa tahan dan ingin cepat mengakhiri pidato tidak benar itu. Tapi apakah akan menimbulkan sesuatu masalah jika dia langsung menampik semua tudingan itu.


Hyerin tampak tidak tenang. Ken terus memperhatikannya dengan perasaan cemas. Dia khawatir jika Hyerin akan melakukan sesuatu kebodohan dan mengacaukan situasinya.

__ADS_1


Perasaan itu menyiksanya, Hyerin tidak bisa diam dan mendengarkan fitnah tentang dirinya itu. Dia harus menghentikan semua kata-kata dari orang yang terus berbicara tanpa henti di depan. Hyerin tidak tahan, dia tidak bisa menerima tuduhan itu dengan mudah.


__ADS_2