
"Rai. Apakah kau pernah berpikir jika roh seperti kita akan baik-baik saja dan bisa tetap tinggal di tempat ini? Dunia kita bukan disini kan?" Tanya Hyerin tiba-tiba.
"Aku sudah memikirkannya, bahkan aku berpikir bagaimana jika kita tinggal di sini itu berarti hidup kita akan cepat berakhir." Lanjut Rai membuat Hyerin membulatkan matanya.
"Lalu apa kau pernah berpikir sebenarnya mengapa kita masih bertahan?" Tanya Hyerin.
"Pikirkan saja sekarang kenapa kita malah menjadi manusia seperti ini. Aku pikir ada yang salah." Komentar Rai.
"Kau sendiri tak tahu kenapa, bagaimana dengan ku." Hyerin bercerita sesuai faktanya.
"Sebaiknya jika kita besok masih hidup, kau mau kan menemui anak kecil itu?" Tanya Rai seperti sebuah kesepakatan.
"Aku sendiri tidak tahu dimana anak itu, dia datang tiba-tiba, dia datang yang menghampiri ku." Jawab Hyerin.
Rai menjadi terdiam, dia benar-benar kembali memikirkan sebuah cara yang bisa dilakukannya bersama.
"Aku bahkan tidak tahu bagaimana kedepannya, nasib kita, aku tidak tahu." Lanjut Rai.
"Kita pasrah saja, bagaimana pun nanti akan kita lakukan dengan cara yang terbaik." Timpal Hyerin.
Rai tersenyum. "Yang terpenting nikmati saja sekarang, siapa tahu kau tidak bisa memakan makanan itu besok. Seperti itu kan?" Sindir Rai yang kemudian membuat Hyerin tertawa.
#####
Hyerin dan Rai tiba-tiba menjadi manusia, satu hari pertama Rai masih cemas dan tidak bisa menjamin jika besok pagi dia masih bisa bertahan, atau karena perubahannya inilah sebagai tanda kematian mereka berdua.
Sebelum memikirkan hari besok, Rai dan Hyerin terlalu pusing memikirkan alasan mengapa mereka terjebak dengan kondisinya sekarang. Hanya ada sebagian alasan yang Hyerin simpulkan. Dia berbicara tentang anak kecil, anak kecil yang dia temui ketika menjadi roh, lalu anak kecil itu masih datang setelah dia menjadi manusia.
Satu-satunya cara untuk mengetahui semuanya adalah menemui anak kecil yang dibicarakan Hyerin. Namun masalahnya Hyerin tak pernah tahu harus menemui anak itu dimana.
Dengan masalah yang sangat rumit, bahkan rasanya tidak ada lagi harapan untuk hidup, namun Hyerin mencoba belajar agar tidak akan melewati apapun yang menjadi kesempatan nya saat ini. Hyerin berjanji akan menikmati hidupnya sebagai manusia dan tidak akan menyesal suatu hari nanti.
Rai dan Hyerin masih terlena dengan kebahagiaan sekarang, seolah momen ini sangat langka dan membuat keduanya tidak akan melewatkan satu detik pun.
Bagaimana dengan hari esok? Apakah mentari masih bisa menyambutnya?
Tak terasa waktu terus bergulir, Rai dan Hyerin sudah sangat kelelahan. Wujudnya sebagai manusia memberikan keduanya rasa lelah. Tak terasa Hyerin langsung tertidur begitu sampai di kamar begitupun dengan Rai.
__ADS_1
Dan malam pun berganti pada waktunya. Pagi sudah menyambut dengan matahari yang sangat cerah, cahayanya bahkan masuk ke dalam kamar.
Hyerin yang tertidur lelap mulai merasa ada sesuatu yang mengganggu matanya. Ternyata silau matahari berhasil membangunkan Hyerin dari tidur.
Pandangannya masih buram, tampak samar saja seorang lelaki yang tertidur di lantai dengan alas kasur lantai.
Hyerin masih belum menyadari semuanya, rasanya dia butuh waktu hingga kesadarannya benar-benar terkumpul.
Tapi rasa kantuk itu membuat matanya benar-benar enggan terbuka menyisakan sedikit saja celah.
Hyerin kembali tertidur menikmati jam tidur yang sudah lama dia lupakan.
"Bangun! Hyerin! Bangun!" Entah harus senang atau sebaliknya, Rai bingung melihat matahari sudah tinggi dan cuaca cukup panas di atas langit.
Hyerin tahu ada seseorang yang membangunkannya, dia tidak susah untuk bangun.
Ketika membuka mata dia melihat cahaya yang benar-benar terang menerobos kaca kamar itu.
"Sudah siang! Kau bisa bangun sekarang?" Rai masih berusaha menarik kesadaran Hyerin.
"Kita hidup?" Cetusnya Hyerin bertanya.
"Kau tunggu apalagi? Cepat bangun dan bersiap kita harus mencari anak itu." Rai langsung semangat padahal jam masih pagi dan perut yang sudah lapar.
"Kita akan cari makan, lapar rasanya." Komentar Rai.
"Kita akan mencari teman-teman ku, ada kabar yang harus mereka ketahui."
"Kita juga harus memastikan sesuatu."
Tanpa jeda Rai terus saja mengoceh tentang rencana yang akan dilakukan.
"Aku tahu." Sebaliknya Hyerin tak begitu terburu-buru.
"Apa lagi yang kau tunggu? Cepat!" Rai masih berusaha membuat Hyerin agar lebih gesit.
Hyerin melihat Rai jengkel, tidak bisakah dia lebih tenang.
__ADS_1
Meski dengan sedikit pertengkaran di pagi hari, namun Hyerin dan Rai tetap gesit melakukan rencana yang sudah dipikirkan sejak malam.
Hyerin harus bisa menemukan anak kecil itu bagaimanapun caranya.
Tapi dengan perut yang lapar tidak cukup membuat dia bisa berjalan lebih jauh.
Wajah yang murung, bagaimana lagi caranya dia menahan lapar seperti ini. Rai tidak bisa marah melihat Hyerin yang lesu dia pun merasakan lapar sepertinya.
"Susah kan menjadi manusia lagi, kita tidak mempunyai makanan." Keluh Rai. Keduanya sudah duduk terhuyung di sebuah gedung.
Hyerin tak membalas perkataan Rai, dia tahu sekarang kesulitannya semakin bertambah sebagai manusia. Mau bagaimana lagi lagi-lagi tidak ada jalan yang bisa dipilih kan.
Seseorang tiba-tiba menyimpan selembar kertas di dekat Hyerin, seperti uang. Hyerin terperanjat melihatnya. Ada uang lagi yang tiba-tiba jatuh lagi?
Dengan ekspresi yang senang Hyerin menunjukkan selembar uang yang didapatkan. Setidaknya kali ini mereka bisa bertahan.
Rai bersemangat sekali, setidaknya masih ada keberuntungan yang membuat mereka bisa bertahan hidup. Untuk kedepannya nanti akan mereka pikirkan harus bagaimana.
"Rai, teman mu bisa ke sini kan? Memangnya mereka tahu kalau kita di sini?" Tanya Hyerin.
Rai yang sedang makan langsung terdiam, benar saja mereka tidak mungkin tahu harusnya Rai dan Hyerin menunggu di rumah itu.
"Cepat kita pulang!" Seru Rai.
"Kemana?"
"Kau pikir teman-teman ku akan menemuka kita disini? Cepat kita pulang!"
Hyerin mengerti dan bergegas untuk kembali ke rumah itu.
Di sepanjang jalan, di pagi hari seperti ini masih saja ramai. Bukan hanya orang-orang tapi lebih banyak roh yang datang, Hyerin canggung dan mulai menyembunyikan wajahnya ketika roh itu menatapnya dengan aneh.
"Jangan mencurigakan ! Ingat jangan sampai mereka tahu siapa kamu." Rai memperingatkan. Hyerin semakin mempercepat langkahnya sampai akhirnya dia bisa mengimbangi Rai ketika berjalan.
Hyerin tak menyangka walaupun dalam wujudnya sekarang dia masih bisa melihat roh lainnya, rasanya aneh saja ketika melihat mereka dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika saja mereka tahu siapa sebenarnya dirinya.
"Jangan melamun!" Rai memperingatkannya lagi. Benar saja Hyerin sampai salah jalan, dia terburu-buru kembali mengikuti Rai dari belakang.
__ADS_1