Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Lelaki asing "Rai"


__ADS_3

Hyerin tidak bisa menghentikan rona wajahnya yang memerah, meskipun lelaki asing itu tidak bereaksi apapun seperti dirinya. Dia kemudian mundur selangkah dengan ekspresi cemas sebagaimana menggambarkan perasaannya yang belum tenang, bayang-bayang ketika maut mengantarkannya sampai ke tempat ini masih membekas diingatan. Antara percaya dan tidak tapi kenyataannya dia sudah ada di dunia ini, mungkin itu alasannya dia mati karena penasaran.


Dengan perasaan yang masih tidak karuan Hyerin harus menanggung semua beban yang tiba-tiba membuatnya kembali merasa terpuruk, selain kenyataan bahwa kematian sudah dihadapi, dia pun tidak menemukan orang tuanya. Padahal hanya tinggal sedikit lagi waktu, namun dengan egois waktu kembali membawa Hyerin dan lelaki yang bersamanya ke tempat yang sama.


Pandangannya kosong memandangi langit-langit ruangan, tubuh Hyerin berbaring di atas kasur, dia tidak lagi menghiraukan kehadiran lelaki itu, Hyerin dengan santai kembali mencerna semua ingatan yang terus tergambar jelas di otaknya. Bahkan Hyerin tak tahan lagi menahan sesak yang semakin lama semakin terasa, hingga akhirnya dia terisak sendiri memikirkan semua hal yang akan dihadapinya.


Rasanya tidak adil, dia harus menanggung semuanya sendirian terutama semua kesalahan yang pernah diperbuatnya sampai dia tidak pernah bisa mengatakan kata maaf sedikitpun.


Wajah ibunya kini semakin jelas terlihat saat Hyerin memendamkan wajahnya dibalik bantal sambil terus terisak. Tidak ada hal apapun yang ingin dilakukannya selain mengatakan maaf sebelum dia benar-benar akan pergi ke tempat penantian selanjutnya.


Tanpa sadar tubuh dingin seseorang memeluk erat tubuh Hyerin yang masih tertidur di atas kasur, kali ini dia tidak bereaksi hanya mulai merasakan sedikit tenang dan lega saja.


Di bawah pencahayaan ruangan yang redup, dalam remang-remang keduanya saling mendukung, Hyerin merasa tenang dan aman, begitupun lelaki yang tanpa berekspresi sedikitpun. Hingga waktu membuat Hyerin terlelap sekali lagi dalam mimpi buruk yang terus mengejarnya secara diam-diam.


Mimpi yang mempertegas bagaimana sikapnya yang sangat salah semasa dia bersama ibunya, dan bagaimana dia tidak pernah menghargai bahkan memandang ibunya secara utuh, Hyerin yang kesal tidak bisa bertemu ayah menjadikan kekesalannya sebagai bibit kebencian yang terus berkembang dan ditanggung sendiri oleh ibu nya. Selain itu tentang hidupnya yang susah, Hyerin harus bekerja sendiri mencari makan saat masih sekolah, dia selalu memungut barang-barang yang bisa dijualnya dan menghasilkan uang. Kemudian mimpi beralih tentang kehidupan pertemanannya yang ternyata tidak pernah berjalan mulus, Hyerin yang selalu dikucilkan sampai-sampai tidak mempunyai teman selain mereka berdua.


Matanya langsung membulat lebar, Dari sisi kanan, kiri, dan semua sisi tidak lepas dari perhatiannya. Yang diingat Hyerin setelah bangun adalah lelaki asing itu yang sudah tidak ada. "Rai" tiba-tiba ingatannya langsung mengingatkan sebuah nama,

__ADS_1


Rai yang selalu bersikap dingin. Namanya mulai terbaca jika dalam jarak yang dekat, tanda pengenalnya sudah terbaca Hyerin sejak semalam.


Tiba-tiba pupil matanya kembali melebar, Hyerin berteriak karena dia baru sadar apa yang sudah dilaluinya semalam. Seorang lelaki asing bersamanya dalam waktu semalaman? Hyerin tidak bisa mempercayai kebenaran itu. Dia masih merasa kaget, tidak percaya, dan khawatir. Sikapnya sangat berbeda jauh dengan Hyerin yang dulu. Kemudian dia segera berlari ke arah pintu, namun seketika perhatiannya teralihkan lagi, Hyerin menatap tubuhnya yang samar dan tidak bisa menyentuh gagang pintu itu. Untuk memastikan Hyerin kembali memandangi setiap sudut ruangan, hatinya takjub ternyata ruangannya sangat bersih dan terlihat hidup. Tiba-tiba gagang pintu bergerak dan seorang dokter dengan seragamnya berjalan masuk melewati tubuh Hyerin. Hyerin hanya acuh tak acuh dan memilih berlalu meninggalkan ruangan.


Satu hal yang sudah dilewatkan, Hyerin pergi tanpa memastikan apa yang dilakukan dokter tersebut? Dia tidak tahu jika tubuh seorang perempuan yang terlihat lemah masih terbaring di atas kasur.


Matanya melihat semua kesibukan dan keributan orang-orang yang berlalu lalang di rumah sakit, dia melihat ke arah orang-orang. Tapi Hyerin baru teringat sebuah kejadian tentang anak kecil yang indigo tidak bisa melihat ke arahnya, hal tersebut menjadikannya sebuah pertanyaan. Dia harus bertanya ke orang-orang yang lebih tahu. Namun siapa? Hyerin berpikir untuk menemui seorang wanita sebagai guru di tempat sekolah itu.


Hal bagusnya tempat yang akan dia tuju sekarang tidak begitu jauh, Hyerin hanya tinggal melangkah ke depan dan berbelok di persimpangan lalu memasuki sebuah gedung yang dia ingat persis posisinya.


Di tengah kerumunan orang, lagi-lagi perhatian nya teralihkan, matanya menangkap sosok yang sedang berdiri. Dia menggeser tubuhnya dan semakin mengamati, tubuhnya tersentak melihat sosok lelaki yang sudah tidak asing lagi, dia sangat tidak percaya apa mungkin Rai kembali mengikutinya?


Hyerin berlari menghindar dan bersembunyi dari kerumunan orang. Tapi tidak berhasil, dia melihat Rai sudah ada terlihat dari kejauhan di depannya. Hyerin sampai terheran-heran lelaki asing itu selalu mendekat ke arahnya bahkan sekarang dia mengikutinya secara terang-terangan.


Di tengah perasaan nya yang panik tiba-tiba Hyerin merasakan tangan lain menarik tangannya membawa dia kembali ke kerumunan dan tubuhnya berhasil terhalang oleh beberapa orang.


"Akemi!" Pikirnya panik melihat Akemi sudah ada di hadapannya dengan tersenyum ramah.

__ADS_1


Hyerin belum bisa merasa aman terlebih sekarang dia bersama Akemi.


Hyerin menepis lembut tangan Akemi, namun Akemi tidak terheran dia balas memandangi Hyerin dengan tatapan penuh percaya diri.


Dalam hatinya Hyerin sangat bingung, dia tidak bisa terlepas dari rumor yang beredar.


"Kamu diikuti Rai?" Tanya Akemi sambil mengendap dan mengawasi di balik gedung.


Mata Hyerin membulat menanggapi pernyataan Akemi.


"Apa urusanmu?" Jawab Hyerin dengan judes


"Rai itu adalah seorang dewa kematian, sebaiknya kamu menghindari dia."


Hyerin tidak menjawab, dia seperti mencerna kembali perkataan Akemi dengan hati-hati.


Saat Akemi berbalik ke arah Hyerin ternyata terlihat sudah dari kejauhan Hyerin berlari mengendap tanpa memperdulikan Akemi. Dia berlari menghindar ke arah jalan raya. Jika dari pengamatan Hyerin masih berusaha pergi ke tempat gurunya ke arah gedung di seberang jalan tidak jauh.

__ADS_1


__ADS_2