Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Hyerin tersinggung


__ADS_3

Melihat sebuah aba-aba, mengikuti instruksi teman untuknya. Rai mendekat mengarahkan telinga menerima beberapa kata yang diucapkan. Sontak raut wajah terkejut tampak begitu saja. Rai kembali membalik wajahnya menatap Hyerin yang duduk berjarak diantara dia dan teman-temannya. Matanya kembali menatap ke arah seorang teman tadi, Rai menerima sebuah anggukan sebagai tanda.


Hyerin langsung menatap wajah Rai, merasa aneh ketika Rai memperlihatkan ekspresinya itu. "Kau mau apa?" Tanya Hyerin cetus.


Rai masih diam saja dia sudah memikirkan sesuatu, rencana yang dikatakan oleh temannya tadi.


Hyerin merasa ada yang tidak beres, spontan dia menjauh dari dekat Rai. Padahal Rai tidak seperti itu namun seketika berubah karena temannya. Mata Hyerin kembali mengabsen beberapa orang roh yang berdiri di tempat tadi.


"Aku tidak bisa." Teriak Rai frustasi. Suaranya mengalihkan perhatian Hyerin, pernyataan Rai membuat penasaran sebenarnya apa maksudnya?


Rai sudah berjalan menjauhi Hyerin duduk frustasi di tempat itu.


"Kau harus mati, barulah kalian bisa kembali menjadi roh." Ucap temannya Rai yang tiba-tiba ada dekat di hadapan Hyerin.


Rai dan Hyerin mendengarnya langsung terkejut, Hyerin tak menyangka jika itu rencana Rai saat mendekatinya tadi dan Rai tak menyangka jika temannya akan mengatakan hal itu dengan mudah, padahal tidak harus diceritakan langsung pada Hyerin Kan? Dia sendiri saja tidak berani, tapi temannya dengan lancang mengatakan hal itu.


Hyerin tertegun tak bereaksi, matanya terus menatap Rai yang sama sekali tak berani membalas tatapan matanya itu. Harusnya dia tidak mudah percaya, seketika saja semuanya runtuh ketika mendengarkan rencana yang sebenarnya. Padahal Hyerin sudah membuat rencana dan kesepakatan juga sudah dilakukan, tapi kepercayaan itu harus diruntuhkan oleh Rai sendiri.


"Harusnya itu tidak membuatmu keberatan kan? Bukankah tujuan kalian berdua mencari jawaban itu. Dengan begitu harusnya masalah sudah beres." Sindir temannya yang masih berani mengatakan sesuatu di hadapan Hyerin.


Rai tak bisa berbuat apapun, bahkan nalarnya langsung menerima rencana itu dengan begitu saja harusnya memang benar jika Hyerin tidak merasa keberatan dan langsung menerima rencana itu. Tapi? saat Rai menatap Hyerin dari kedua matanya dia henar-benar menyimpan perasaan kesal.


Rai tak tahan dia berdiri dan kembali berjalan ke arah Hyerin. "Ayo kita lanjutkan lagi perjalanannya." Rai meraih tangan Hyerin bermaksud untuk kembali melanjutkan rencana pertama mereka berdua.

__ADS_1


Tapi Hyerin tak bereaksi, dia benar-benar sedang menahan amarah di mulut dan matanya. Hyerin bungkam tidak mengatakan apapun dia juga memalingkan tatapannya.


Rai menarik napas melepaskan tangan Hyerin, dia merasa serba salah harus mengatakan apalagi karena sejujurnya meskipun Hyerin mengatakan tidak setuju dia tidak akan keberatan dan menerima keputusan itu. Daripada seperti sekarang dia hanya didiamkan seperti ini.


Hyerin berjalan sendiri memilih arah jalannya, dia tidak perduli mungkin kini telinganya tidak akan lagi mendengar kata-kata siapapun lagi, bahkan Hyerin sudah tidak peduli jika dia hanya sendirian.


"Aku ikut!" Teriak Rai masih tidak menyerah. Dia berjalan lagi mengikuti Hyerin yang berada di depan matanya.


Batin Hyerin benar tersiksa, seiring waktu dia mulai menyadari sikapnya sendiri. Harusnya Hyerin tak tersinggung ketika Rai menerima rencana itu dari temannya, lagipula dia sudah mati dan menjadi roh jadi tidak apa-apa jika dia harus mati lagi kan? Dia salah sudah merasa tersinggung seperti itu.


Tapi sebaiknya Hyerin tidak menunjukkan sikap jika dia sudah merasa bersalah, harusnya dia sendiri mencari alasan mengapa dia bisa sampai merasa marah. Tentu saja karena Rai yang sudah lancang mengganti rencana mereka dengan menerima saran dari orang lain tanpa memikirkannya untuk mempertimbangkan sebaik-baiknya.


"Sudahlah aku sangat kesal." Ucap Hyerin frustasi. Dia berhenti dan langsung duduk, tidak peduli jika Rai melihatnya saat itu.


Tapi ketika selesai bicara Rai malah menerima tatapan Hyerin yang begitu kesal, menatapnya tajam penuh amarah yang terpendam.


"Kenapa tidak kau sendiri saja yang mati? Kenapa harus aku dulu?" Teriak Hyerin tak terima. Sebenarnya dalam hati Hyerin berbicara spontan dan dia tak menyangka akan berpikiran seperti itu.


Rai menarik napas membuang wajahnya ke arah lain. Dia tidak bisa mengelak lagi atau membela diri karena sudah jelas benar jika dirinya yang sudah bersalah, harusnya dia tidak menggunakan Hyerin untuk mencoba rencana dari temannya itu.


"Aku bersalah. Dan aku minta maaf, sebaiknya aku harus begitu sabar menjalankan satu-satu rencana terlebih dulu kan." Rai menundukkan wajah, dia sekarang mengerti betapa keterlaluan nya dia saat harus bersikap egois seperti itu, apalagi kematian bukan sesuatu yang biasa saja bagi manusia biasa kan? Lantas ketika mereka menjadi manusia tidak ada satupun yang berencana untuk cepat mati.


"Sebaiknya kita lupakan, aku ingin mencari orang yang dikatakan Nenek. Jika kau tidak ikut pun itu tidak masalah." Tak disangka Hyerin langsung berencana melupakan masalah itu dengan mudah. Tapi Rai tak ingin jika dia sendirian dan dibiarkan tak berguna seperti itu.

__ADS_1


"Aku pun akan tetap ikut." Ucap Rai.


Hyerin mengabaikannya, dia benar-benar ingin fokus untuk kembali berjalan dan tidak membuang waktu sia-sia. Hanya seperti itu saja.


Tak begitu berarti dari awal dia datang ke dimensi ini sendirian karena tidak tahu jalan lain. Anggap saja pertemuannya sekarang dengan orang-orang itu hanya kebetulan, jadi tidak begitu berpengaruh jika dia akhirnya harus sendirian lagi kan.


Hyerin masih tenang berjalan dia sudah berhasil tidak mendengar kata-kata Rai saat terus mengoceh sepanjang jalan.


Rai menarik napas lagi, sepanjang jalan dia sudah berapa kali merasa putus asa. Tapi Hyerin yang tak goyah membuatnya harus bersemangat menanti sedikit saja sampai Hyerin menyerah dengan batasannya sendiri.


Setelah lama berlalu tanpa ada percakapan diantara keduanya. Lagi-lagi batasannya sebagai manusia menyadarkan Hyerin akan perasaan lemah karena lelah. Dia sudah sangat baik menahan rasa lelahnya bahkan sekarang dia sangat haus.


Ketika berbalik sambil memikirkan minuman yang bisa didapatnya, Hyerin tertegun melihat Rai yang sedang meneguk minuman segar sampai sepasang matanya tertahan karena secara naluri keadaannya yang sangat haus.


Rai menyadari ketika Hyerin menatapnya, dia langsung menghabiskan semua minuman dalam botol itu dengan puas. Berpura-pura jika dia berbalik dan melihat Hyerin yang sudah cukup sedih karena kehilangan harapan untuk bisa minum.


Rai tersenyum licik, hal itu menyadarkan Hyerin kembali yang segera menarik pandangannya itu dari Rai.


"Minuman yang bisa ku beli ternyata cukup menyegarkan." Ucap Rai sebenarnya sengaja menggoda Hyerin dengan kata-katanya itu.


Hyerin sangat kesal tapi dia tidak bisa berekspresi berlebihan di hadapan Rai, apalagi jika harus marah karena dia yang sudah menghabiskan semua minuman tanpa menawarkannya.


"Aku bisa belikan lagi, satu, dua, bahkan lebih dari itu." Goda Rai memang maksudnya sengaja untuk membuat Hyerin bicara.

__ADS_1


__ADS_2