
Setiap orang pernah melampaui perasaannya sendiri, pernah merasa sangat terpuruk, sangat tidak pantas, sangat putus asa, dan sangat menyedihkan. Suatu kondisi siapapun yang tidak pernah menginginkannya.
Rai setengah putus asa hanya meratap sendiri memandangi langit-langit ruangan yang menanungi saat itu. Pikirannya kembali mengulangi kejadian tadi ketika Hyerin berlalu dengan marah dari hadapannya.
Saat ini perasaan menyesal terasa semakin sesak di dadanya. Rai mulai kehilangan percaya dirinya. Tapi jika diam saja itupun bukan pilihan yang tepat. Selamanya tidak akan ada yang berubah atau sesuatu yang buruk kembali terjadi lagi lebih besar.
Bayangan Akemi yang hilang setelah insiden itu kembali mengingatkannya, bahwa sebenarnya diapun bisa bernasib sama dan Hyerin atau siapapun tidak menutupi kemungkinannya juga.
Rai bangkit dari duduknya, dia tidak boleh diam saja, ada banyak yang harus dilakukan sekarang.
Di sisi lain Hyerin sangat terkejut dan masih tidak bisa menerima semua kenyataan dengan nalarnya. Iblis yang disebutkan itu berdialog dengan Rai dan dari kesannya seperti ada sesuatu yang disembunyikan dan yang lebih mengejutkan baginya ternyata Rai sangat mengetahui tentang iblis itu. Hyerin hanya berulangkali kesal dan tidak bisa melampiaskan kemarahannya itu.
Seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa, dan Rai seenaknya membawa dia dan memperlakukan emosinya dengan seenaknya. Kali ini Rai tidak akan mudah mendapatkan kepercayaannya lagi, itu akan sulit. Meskipun Hyerin tidak pernah mengingat apapun tentang dirinya karena kehilangan ingatan tapi hal teresebut tidak akan menyurutkan semangatnya. Kali ini dia harus melakukan sesuatu, bukan hanya diam saja. Dia harus bertindak dan mulai mengungkap siapa saja yang nyata dan baik dan siapa musuh sebenarnya.
Tubuh Hyerin kemudian bangkit dari duduknya. Dia tidak lagi membayangkan kegagalan dan keraguan lagi. Ekspresi penuh ambisinya semakin terlihat jelas. Sekali lagi pikirannya menjelaskan jika dia tidak boleh diam saja ada yang harus dilakukannya sekarang.
__ADS_1
Akhirnya tekad Hyerin dan Rai untuk memulai sesuatu yang baru dan entah akan membawanya kemana baru saja dimulai.
####
"Sekarang sudah berakhir dan tidak ada yang bisa diperbaiki lagi." Ucap seorang lelaki diantara ketiga orang dan dua orang lainnya adalah seorang wanita .
"Percuma saja, setiap usaha yang kita lakukan dan berakhir gagal juga!" Protes orang lainnya.
Keadaan saat itu dalam percakapan yang serius mulai tidak bisa tenang. Satu sama lainnya tidak bisa menyembunyikan masing-masing perasaan khawatir di wajah mereka.
"Jadi sebaiknya semua sudah berakhir?" Tanya satu orang lainnya lebih tenang. Wajah yang lebih tenang diantara ke tiga orang itu.
"Hyerin tidak menjalankan janjinya." Cetus wanita yang terlihat tenang dengan wajah kesal.
"Itu karena dia sudah kehilangan ingatannya." Terang lagi lelaki itu terdengar sedikit membela.
__ADS_1
"Baiklah sudah cukup! Ini sudah berakhir kan? Kalau begitu ayo kita bubar saja lanjutkan kehidupan dengan normal." Suara lain terdengar kembali menghentikan sedikit suasana pertengkaran tadi.
Akhirnya ke tiga orang pergi sendiri-sendiri berbeda arah. Di tempat itu, sebuah gedung yang dulunya adalah tempat tinggal guru di sebuah sekolah dan Hyerin pernah 3 kali pergi ke sekolah dan ke gedung itu. Hingga saat Hyerin kehilangan ingatannya dia tidak pernah lagi ke tempat-tempat dimana ada orang yang ingin menemuinya dan mengharapkan sebuah perubahan yang berbeda dari dirinya.
Di tempat lain Hyerin masih menatap seisi ruang dengan ragu, seperti orang-orang yang sekilas menurut hatinya seperti memandanginya dengan sinis, mata yang jelas-jelas mendelik ke arahnya. Lalu dalam keramaian pandangannya teralihkan ketika menatap lagi semua pemandangan kota yang sudah berubah di hadapannya. Meski sudah sangat sering dan tidak asing lagi, tapi baginya semua tetap terlihat menakjubkan.
Hyerin terllihat sedikit senang terbebas dari beban yang terus menumpuk di pikirannya, hingga terlihat senyum mengembang dari kedua sudut bibir mungil nya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, mulai terbiasa dan tidak merasa asing lagi. Saat kepalanya kembali mengarah ke depan seketika ujung kakinya tertahan serentak, Hyerin membenarkan posisi wajahnya saat itu. "Rai!" Ucapnya dengan nada heran.
Rai yang sudah berjalan dari arah berlawanan dengan santai dan melakukan semua yang dilakukannya, pergi berjalan-jalan. Hingga langkah kakinya lagi tertahan saat tubuhnya hampir menabrak Hyerin. Tatapan matanya yang langsung mengarah pada mata Hyerin membuat dia membisu tidak mengatakan apapun. Hyerin pun bersikap sama, dia hanya menatapinya sekilas dan tidak peduli jika Rai sudah memalingkan wajahnya tanpa mengatakan apapun dan saat kaki Rai melangkah melewati tubuhnya hal tersebut tidak menyinggungnya sedikitpun. Yang dia pikirkan bukan tentang masalalu lagi, dia akan memulai semuanya tanpa masalah di masalalu. Kebebasan itu yang membuat Hyerin percaya diri dan tidak lagi mengecek ke arah belakang jika Rai sudah mengikutinya. Kali ini tidak lagi, Rai melakukan niat yang sama dengannya. Untuk pertama kalinya Rai pergi jauh dan tidak mengkhawatirkan Hyerin.
Hembusan angin saat itu sedikit membuat aroma berbeda di tempat yang sama. Sudah sangat lama dan banyak yang sudah di lalui, meskipun begitu Hyerin tidak bisa membuang semua ingatan dengan gampang. Ada seorang wanita yang tidak pernah diketahui namanya, ada Akemi yang sesekali muncul di pikirannya, Tania, dan Rai. Semua tetap menjadi cerita di sisa ingatan yang tidak akan pernah bisa datang lagi.
"Kakak, bisa Carikan ibuku!" Terdengar suara anak kecil membuat Hyerin menghentikan langkah kakinya. Matanya menangkap sosok roh anak kecil yang sedang meneriaki orang di hadapannya.
Dalam pikiran Hyerin langsung muncul banyak tanya yang tidak bisa dicernanya. Dia penasaran dan mendekat tanpa berkata apapun.
__ADS_1
Matanya melihat heran dengan yang dilakukan anak kecil itu, sedangkan orang di hadapannya setengah kesal dan sesekali memalingkan matanya. Apakah manusia bisa melihat roh yang tak kasat mata? Tiba-tiba pertanyaan kecil muncul. Hyerin segera terperanjat dari pikirannya itu. Dia menatap dalam-dalam wajah seorang gadis di hadapannya dan berusaha mencari binar dari sorot mata gadis itu yang akan balas menatapnya. Berulangkali dia memastikan. "Kakak tolong jangan mengganggu!" Tegur anak kecil itu dengan wajah polosnya. Hyerin langsung sadar jika dia sudah mengganggu nya, dia tidak peduli lagi dan segera berdiri lalu melanjutkan lagi berjalan dengan santai.
Sedikit terlihat tenang dari raut wajahnya, namun lagi-lagi dia harus menghentikan lagi kakinya dengan tiba-tiba. Kali ini bayangan yang melintas di pikirannya sedikit mengganggu. Hyerin melihat dirinya dengan seorang wanita pernah melakukan hal yang sama seperti tadi yang dilakukannya, dia melihat perempuan itu membawanya ke sebuah tempat yang jika dia ingat-ingat lagi tempat itu pernah didatanginya juga. Selesai di sana, ingatan itu tidak lagi berlanjut.