
Semarak suara orang-orang menyentuh telinga Ken dan berhasil menarik perhatiannya.
Tubuh Ken bergerak mengikuti cahaya terang yang berada di luar, dari tempatnya dia bisa melihat banyak orang berlalu lalang. Perhatian itu membuatnya tertarik dan terus membawa kaki Ken melangkah berjalan hingga keluar dari gang sempit yang menyembunyikan tubuhnya dari tadi.
Kehidupan memang singkat dan dirindukan. Sampai sekarang semua ingatan semasa hidup sudah hilang dan hanya tinggal nama. Sedihnya menjadi Ken seperti sekarang, entah bagaimana Ken dulu hidup ketika awalnya bisa sampai ke dunia ini yang orang bilang tempat pembelot bagi roh penasaran. Pikiran itu muncul lagi, Ken tidak pernah tahu alasannya mengapa dia hidup di tempat seperti sekarang hingga dia sudah tidak sadar lagi berapa waktu lama yang dia lewatkan.
Keramahan hidup mencerminkan manusia sosial yang gampang berbaur dengan banyak orang tidak dikenal awalnya, tidak jauh berbeda kehidupan roh pun sama persis.
Meski hidup dalam satu tempat dan waktu yang sama tapi bagi roh dan manusia jelas memiliki batasan yang sangat kontras. Roh tidak seenaknya datang ke tengah-tengah kehidupan manusia, hanya roh tertentu yang memiliki kemampuan bisa melakukannya, bagi roh biasa melihat kehidupan manusia hanya pada waktu yang sudah ditentukan saja.
Ken terus berdiri mengamati hingga tak terasa dia sudah pergi cukup jauh dari tempatnya tadi.
Kehangatan, kebersamaan, dan keluarga. Pemandangan yang tidak pernah bosan dia saksikan.
Tiba-tiba sekumpulan orang berlari dan menghalau perhatian Ken. Orang langsung berkerumun di jalan yang tidak jauh jaraknya dari tempat berdiri Ken. Mungkin sebuah kecelakaan, Ken melihat seorang roh wanita yang baru saja keluar dari kerumunan itu. Wajahnya menunduk menandakan kesedihan dan tak lama langsung menghilang. Ken sedikit mengerutkan dahinya, kemana perginya? Dia sempat bertanya tanpa sadar dewa kematiannya sudah menjemput. Tapi perhatian itu hanya sekilas dan Kem kembali tidak memperdulikannya lagi. Dia langsung berjalan ke arah sebaliknya, waktunya untuk jalan-jalan dan menikmati sedikit kehangatan hidup manusia yang hidup berbaur dengan para roh.
__ADS_1
Dari banyak pandangan yang dia bagikan sesuatu hal kembali membuat perhatiannya teralihkan. Ada lagi seorang manusia yang berkomunikasi dengan seorang roh. Kemampuan manusia memang tidak bisa ditebak. Ken kembali melanjutkan langkahnya menyusuri jalanan kota yang sangat ramai. Hingga semua suara yang berbaur dengan bising kendaraan atau berasal dari aktivitas lain, sama sekali tidak mengganggu, Ken tidak merasa terganggu karena sesuatu yang langka ini tidak bisa dilewatkannya dengan begitu saja.
Semuanya memiliki arti tersendiri, hidup sebagai manusia atau roh memiliki perannya masing-masing. Dan apakah keseimbangan hidup ini akan terus berlalu dengan damai?
Pikirannya langsung melayang lagi membayangkan sebuah masalah yang diketahuinya dan tidak semua roh mengetahuinya.
Ken langsung bersikap hati-hati, dia harus selalu sigap dan bisa menghindari ancaman. Benar saja keberadaannya sudah sama dengan Hyerin, tidak ada bedanya. Jika kini dia harus menjadi incaran iblis dan roh lain yang mengikutinya.
Ken berdecak kesal dengan ekspresi yang sudah berubah. Dia merasa tidak aman dan sangat terganggu. Mengapa keberadaannya bisa sama dengan Hyerin? Itu sangat membuat dirinya kesal.
Ken yang berkutat dengan pikirannya itu terlarut lama hingga waktu tak terasa kembali berganti.
Suara khas dentuman jam dinding menggema dan seolah menjadi alarm pengingat. Dan dalam hitungan kurang dari detik semua berubah menjadi pemandangan seperti biasa. Ken sudah berada di tempatnya, karena pergantian waktu itu kembali membawanya ke tempat asal.
Ken benci dengan kondisi dan aturan ini. Sekarang yang ada dalam pikirannya adalah Hyerin, dia menebak mungkin Hyerin kembali ke gedung itu, Hyerin sudah pasti ada di sana. Dan apa yang akan dilakukannya di tempat itu? Bukankah ada seorang iblis di sana.
__ADS_1
Kedua mata Ken membulat, rasanya dia langsung berhenti bernapas. Teringat dengan hal itu membuat pikirannya tersadarkan akan sesuatu hal. Ken takut jika Hyerin melakukan hal bodoh dan menyerahkan diri dengan mudah pada iblis, dia bisa saja melakukannya karena sudah putus asa kan? Ken dengan kesal segera bergegas menyiapkan diri ke tempat yang dianggapnya sangat terkutuk. Yang tidak ingin dia lihat adalah Hyerin mati dengan mudah di tangan iblis, harusnya ada hal yang lebih menyakitkan untuk Hyerin, karena itu artinya tidak adil.
Ken langsung pergi ke tempat yang menurutnya terkutuk, dia tidak ingin lagi melihat tempat dimana Sani hilang untuk selamanya di tempat itu.
Tepat di depan pintu masuk rumah sakit yang riuh suasananya oleh orang-orang berjalan ke sana kemari, langkah gontai Ken berjalan dengan tergesa-gesa. Jauh dalam hatinya dia tidak pernah bisa tenang. Siapa yang akan menyangka jika sesuatu sudah terjadi. Ken sangat khawatir jika dia sudah telat.
Tanpa terpikirkan tiba-tiba Hyerin terlihat berjalan di hadapannya. Ken spontan menghentikan langkahnya saat itu. Sekarang artinya dia sudah bisa tenang karena kejadian yang dia khawatirkan tidak terjadi.
Sepanjang Ken melihat ke arah Hyerin dengan jelasnya dia melihat raut wajah Hyerin saat itu. Kesedihan terpancar begitu jelas.
Sepintas memikirkan kisah Hyerin dan Rai membuat nalurinya iba, Ken tidak bisa lupa dengan perasaan sakit yang sama dan dia rasakan ketika kehilangan Sani, rasanya tidak tega. Tapi ketika ingatan sebab Sani tiada membuat perasaannya langsung kecewa lagi, dia tidak bisa meredam rasa sakitnya itu lebih dari apapun.
Akhirnya Ken hanya diam saja memandangi Hyerin yang terus berlalu dari pandangannya. Langkahnya tertahan karena perasaan kecewa yang masih tidak bisa dia lupakan.
Waktu terus berjalan tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah semua akan berjalan baik-baik saja? Dengan hilangnya Rai apakah hatinya sangat puas? Pertanyaan itu kadang mengganggu, dan Ken tidak bisa menampik jika sebagian hatinya merasa kasihan dan tidak tega, tapi apa yang bisa dilakukannya, dia tidak bisa melupakan Sani di hari dia tiada. Dia tidak bisa mengubur dalam kejadian itu dengan melupakannya.
__ADS_1
Dari keramaian di rumah sakit Ken hanya satu-satunya orang yang terlihat tidak sibuk, dia hanya berjalan santai tanpa tujuan.