
"Aku akan melanjutkan lagi perjalanan kita." Ucap Hyerin dengan nada datar.
Rai menatapnya tapi dia tidak berkomentar. Sedangkan Kai berdiri masih merenungkan kata-kata Hyerin.
"Aku ikut." Ucap Kak membuat Hyerin langsung berbalik menatapnya.
"Lebih baik jangan." Ucap Hyerin tanpa memberikan kejelasan.
Kai menundukkan wajahnya, dia sedikit berpikir lagi jika memang dengan keadaannya sekarang tidak ada yang bisa dia bantu, yang ada Kai akan menyulitkan Hyerin dan Rai.
"Sebenarnya aku ingin bertanya lebih banyak lagi, aku ingin tahu apakah pemikiran kita sama?" Rai tiba-tiba bicara, dengan perkataannya itu seolah dia ingin menunda lagi keputusan Hyerin.
"Aku sepertinya akan cepat pergi, tidak ada waktu lagi kan?" Tegas Hyerin.
"Kai, kau bukan bagian dari para sekte itu?" Rai mengabaikan Hyerin, dia tampak membutuhkan jawaban Kai yang lebih penting dibandingkan sekarang harus melanjutkan perjalanan mereka, sebenarnya Rai tidak begitu yakin untuk mengikuti Hyerin pergi ke tempat itu.
"Yasudah aku pergi sendirian." Hyerin masih kekeh dengan pendiriannya.
"Tunggu." Ucap Kai dan Rai bersamaan, hingga keduanya langsung saling pandang.
Hyerin memutar bola matanya memperhatikan kekompakan kedua orang yang tidak begitu lama tadi mereka bahkan saling bertengkar.
"Seperti kita di sini dulu. Kita harus memastikan sesuatu." Rai terburu-buru memberikan alasan.
"Benar. Kalian di tempat ini dulu, lagi pula kita lebih baik membicarakan banyak hal dulu." kilah Kai yang dari makna keduanya tetaplah sama, Kai dan Rai tidak menginginkan Hyerin untuk pergi dulu.
Hyerin memutar badannya berbalik ke arah kursi dan duduk di sana dengan ekspresi frustasi. "Aku pusing sekali!" Keluh Hyerin yang membuat Kai dan Rai saling pandang dan menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Sekarang aku tak ingin berbicara dengan Kelian sebaiknya sekarang kalian pergi." Hyerin yang terduduk merobohkan tubuhnya ke kursi.
Entah apa yang sedang terjadi, lagi-lagi Kai dan Rai begitu kompak keluar dari ruangan itu menuju ruangan lain.
"Aku sebenarnya penasaran dari tadi, ada banyak yang ingin ku tanyakan." Ucap Kai pada Rai ketika mereka duduk berdua di ruangan lain.
"Sepertinya aku juga sama." Timpal Rai.
Keduanya kompak lagi menghela napas.
"Hyerin masih di sini." Ucap keduanya bersamaan lagi.
Kai diam lagi begitupun Rai.
"Kau dulu yang bicara." Ucap keduanya lagi bersamaan sampai Kai dan Rai saling pandang lagi.
Kai mengisyaratkan lagi dengan gerakkan matanya ketika Rai menatapnya.
"Ternyata kita masih menghadapi masalah yang sama, kita tidak menyelesaikan masalah di dunia roh, tapi kita melarikan diri ke tempat ini." Sambung Kai setelah Rai berhenti bicara.
"Aku tidak ingat apapun itu, jadi aku tidak tahu apa yang terjadi dengan semua roh di dunia itu. Sayang sekali." Rai membicarakan tentang dirinya.
"Jika ada roh sepertimu dengan masalah seperti itu, harusnya sudah menandakan jika kamu sudah menjadi roh sangat lama. Karena semakin lama roh tinggal di dunia roh semua ingatannya akan berangsur hilang." Jelas Kai tentang hal paling dasar yang diketahuinya.
Rai terdiam memikirkan sesuatu. "Aku jadi penasaran bagaimana kehidupan ku dulu. Apa ingatan kita bisa kembali?" Tanya Rai seolah dia baru saja bisa memikirkan sesuatu.
Kai tampak mengerutkan dahi. "Sepertinya hanya kamu orang pertama yang bertanya seperti itu." Ucapnya ketus.
__ADS_1
"Jadi tidak ada yang peduli ya dengan masalalu mereka?" Timpal Rai membalas perkataan Kai.
"Bukan seperti itu, lagi pula untuk apa?" Kai memperjelas lagi cara berpikirnya. "Lagipula kita hanya roh, tidak ada artinya untuk hal itu. Kita hanya akan terus bertemu dengan orang yang sama dan bertemu lagi dengan mereka yang baru datang. Seperti itu kan?"
Rai terdiam lagi, yang dia bayangkan masih sama. Seorang wanita yang pergi karena ulah para sekte itu.
"Hanya roh? Untuk apa?" Rai mengulangi kata-kata Kai tadi. Mendengarnya Kai langsung mengalihkan penglihatan nya ke arah Rai.
"Kau bertanya untuk apa? Apakah kehidupan kita di tempat ini tidak sama dengan manusia? Apakah kehidupan ini palsu? Bahkan kita masih memiliki perasaan seperti manusia. Apa itu tidak cukup jika kehidupan bagi roh juga cukup berarti." Rai langsung mengatakan argumen nya. Dia memang adalah orang yang paling tidak setuju jika ada orang yang mempermainkan kehidupan, karena kehidupan itu sangat berharga. Setelah orang pergi bukankah dia sudah tidak memiliki kesempatan lagi.
Kai terdiam mendengarnya. Selama ini tentu saja dia berpikir jika kehidupan roh hanya sebuah sesi dimana setiap orang bisa datang hidup lagi lalu pergi dan reinkarnasi lagi. Siklus kehidupan memang seperti itu.
"Kau pernah berpikir bagaimana jika dalam kehidupan ini, ada seseorang yang tak mungkin bisa reinkarnasi artinya di kehidupan ini adalah kesempatan terakhirnya. Bagaimana jika seperti itu, apakah kehidupan masih tidak ada artinya bagi roh seperti kita?" Rai masih mendominasi bicara.
"Aku pikir setiap orang berhak menentukan pilihan, tidak ada yang bisa merenggut kehidupan orang lain dengan paksa."
Kai benar-benar tak bisa menjawab apapun lagi, perkataan Rai sudah menghapus asumsinya selama ini. Benar saja, kehidupan masih tetap berharga meski seseorang sudah menjadi roh.
Tanpa diketahui Kai dan Rai, Hyerin berdiri di balik dinding, dia sangat jelas mendengarkan perdebatan keduanya.
"Masalahnya bukan itu, masalahnya sekarang kenapa aku dan Rai yang menjadi manusia lagi? Begitupun dengan masalah mu Kai." Celoteh Hyerin berpendapat.
Rai langsung berjalan ke arah pintu, melihat jika Hyerin ada di sana.
"Kalian benar-benar bicara tak berguna." Ucap Hyerin membuat keduanya langsung menatapnya.
"Dia yang bicara asal." Tuduh Kai.
__ADS_1
Rai langsung membulatkan matanya. "Apa katamu?" Rai marah lagi.
"Sudah hentikan! Aku bosan melihat orang yang bertengkar saja, tidak ada gunanya."