Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Kesedihan Ken


__ADS_3

Ken terus mencari Sani kemanapun, kemana saja tempat yang pernah didatangi dengan dirinya.


Hatinya sangat tidak tenang, cemas dan bingung. Kemana lagi mencari Sani yang tidak dilihatnya beberapa saat ini.


Tiba-tiba suara jam berdentang. Ada perasaan sesal yang membuat Ken kesal saat itu, kenapa harus dalam waktu yang tidak tepat seperti ini.


Semua pemandangan di setiap ujung penglihatannya saat itu sudah berubah, lebih terang dan lebih hidup. Ken menarik perhatiannya kepada keramaian yang tiba-tiba menyelimuti tempat di depan matanya itu. Jika keadaannya sudah terlihat seperti ini maka itu semakin menyulitkan Ken untuk mencari Sani.


Ken tidak bisa lagi mengekspresikan perasaan kesalnya saat itu, dia tidak bisa berdiam diri meski hanya sedetik saja. Tapi saat rasa putus asa menghantui membuat Ken semakin sulit mengendalikan dirinya. Yang ada dalam pikirannya saat itu hanya ingin pulang saja.


Akhirnya Ken harus berada dalam titik terendah, dia menyerah dan memutuskan untuk kembali ke tempat nya. Dia akan melanjutkan pencarian mulai dari awal lagi.


Sebuah gedung terlihat di depan matanya, sebuah gedung maha megah. Ken tidak ingat setiap kali dia keluar masuk dari gedung itu semakin lama ingatan tentang dirinya dan alasannya berada di dalam gedung itu sudah hilang sepenuhnya. Dia hanya kosong, jiwa kosong yang hanya memiliki sebuah misi dan janji.


Dengan perasaan tenang Ken masuk ke dalam gedung. Tapi matanya langsung tertahan saat melihat sesuatu tergeletak di lantai dan bahkan setiap orang yang lewat tidak pernah menghiraukannya juga. Apakah orang itu adalah seorang roh? Saat semakin mendekat perasaannya bertambah tidak tenang. Ada yang mengganggu dan sangat membuatnya gugup.


"SANI!!" Teriaknya. Spontan Ken berlari menghampiri.


Saat ingin meraih tubuh Sani Ken langsung terkejut, secepat cahaya tubuh Sani berubah menjadi debu yang diterbangkan angin.


Ken duduk terdiam, matanya terbelalak. Beberapa saat Ken tidak bergerak sama sekali.


Sesuatu yang terjadi di depan matanya hanya seperti bayangan selintas di depan mata yang kemudian hilang bagaikan mimpi di malam hari.

__ADS_1


Apa yang terjadi dengan Sani, tangan Ken kembali meraih tempat yang tadinya di tempat itu Sani masih terlihat tidur tergeletak tidak berdaya.


Ken memandangi kedua tangannya saat itu. Tidak ada Apapun bahkan setitik debu yang menempel.


Apakah yang dia lihat hanya seperti halusinasi?


Saat Ken berbalik dan melihat semua seisi ruangan di tempatnya saat itu menegaskan bahwa dia tidak sedang bermimpi.


Otaknya seperti langsung berhenti berpikir, dadanya terasa sesak, tubuhnya lemas tidak berdaya. Pandangan Ken hanya terlihat kosong, dia masih duduk terdiam tidak menghiraukan jika orang-orang yang melaluinya ke sana kemari. Baginya hanya ada dia sendiri dalam sebuah ruangan yang sangat gelap.


Cetus dalam hatinya tentang kematian Sani, apakah memang kejadian itu nyata dan Sani sudah tiada?


Ken berlari frustrasi ke sembarang tempat. Berteriak mencari Sani yang tidak pernah dilihatnya walau hanya sebatas bayangan saja. Tidak ada Sani yang terlihat.


Ken berteriak lagi memanggil Sani dengan perasaan nanar, dia tidak tahan dengan pikirannya yang mendeskripsikan jika bayangan tadi adalah kematian Sani. Semua isi pikirannya, naluri, logika, tidak bisa menerima jika Sani sudah tiada. Sampai kapanpun Ken tidak bisa menerima hal itu. Itu bukan nyata!


Sekali lagi Kem memastikan ke tempat terakhir dimana dia melihat Sani tergeletak di sana. Tapi dia memang tidak melihatnya juga. Kem tidak bisa percaya dengan sesuatu yang terus menimpanya. Kehilangan Sani adalah kehilangan teman hidupnya juga.


Padahal Sani lebih muda darinya, Sani lebih penting untuk hidup. Tapi mengapa takdir tidak membiarkannya untuk sedikit lagi tinggal di dunia ini.


Kesedihan yang terasa sesak dan menusuk di dadanya membuat Ken hanya terdiam dengan tatapan kosong. Dia tidak bisa lagi mengekspresikan bagaimana keadaan hatinya saat itu.


Tubuhnya berdiri dan melangkah gontai, menabrak siapa saja yang pasti tidak akan pernah bersentuhan dengannya. Ken tidak memperdulikan apapun, tidak mengindahkan setiap yang ada di depan matanya. Baginya hanya terdapat ruang kosong yang tersisa hanya dirinya di sana.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, ingatan tentang Sani bermunculan bagaikan film yang terus memutar di dalam ingatannya. Semuanya tidak terlewatkan. Momen kebersamaan dengan Sani semakin nyata di depan matanya.


Tubuh Ken ambruk hingga dia berlutut menahan tubuhnya yang begitu saja terasa lemas. Wajahnya menunduk ke bawah dalam waktu yang cukup tidak singkat. Tak terasa air membanjiri bagaikan hujan yang turun dari wajah Ken. Dan setelah hitungan waktu terus berlalu tangis Ken semakin terdengar, dari nada pelan hingga dia terisak. Semuanya dia luapkan dalam tangis. Apa yang bisa dilakukannya kini? Dia hanya bisa menangis kan?


Ken terus larut dalam tangisan yang tidak membuatnya lelah. Dia masih menangis dan menundukkan wajah. Kehilangannya kini bukanlah suatu insiden yang mudah dia lupakan. Setiap napasnya, setiap waktunya, semua ada Sani, cerita Sani selalu menemani. Dan apa jadinya jika kini sosok Sani sudah tidak ada lagi bahkan sekedar bayangan pun tidak akan pernah ada lagi. Apa yang bisa dia lakukan sekarang?


Tak terasa suara jam kembali terdengar lagi, secepat cahaya semuanya berubah. Tapi Ken masih menundukkan wajah dengan tangisan yang diperdengarkan. Tangisnya tak seberapa dengan perasaan menyiksa yang tersisa di dadanya. Rasanya tidak akan lagi ada hari untuk besok, Ken merasa tidak akan bisa menemui orang-orang lagi, dia tidak bisa melakukannya.


Perasaan putus asa semakin menguasai, ditambah dengan kesedihan yang tidak selesai juga. Dan saat itu tidak ada satupun orang yang tahu bagaimana kesedihannya ini, dan tidak akan pernah ada orang lagi yang selalu ada di sampingnya.


Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Ken yang terlihat masih menundukkan kepala.


Ken masih tidak bergerak juga.


"Sani sudah tiada Ken." Ucapnya yang langsung membuat Ken bereaksi.


Ken berdiri dan melihat Rai di depan matanya.


Seketika amarahnya tersulut membuat Ken secepatnya menarik kerah baju Rai dan bersiap untuk melayangkan pukulan.


"Semua salah mu dan iblis itu." Ucap Ken yang sangat kesal.


Saat Ken melayangkan tinjunya ke bagian perut, Rai diam tidak melawan hingga membuat Rai tersungkur. Ken masih tidak puas meski melihat Rai sudah terjatuh, dia kembali bersiap untuk melayangkan kakinya hingga mengenai tubuh Rai.

__ADS_1


Beberapa kali tinjunya terus mengenai Rai yang tidak melawan sedikitpun. Tapi Ken masih belum puas juga.


"Seharusnya kau yang tiada bukan orang-orang." Sebut Ken setengah mati kesal.


__ADS_2