
"Rai!" Ucapnya lirih. Yang dia lihat hanya satu seorang lelaki dengan rupa dan tubuh Rai. Tanpa sadar Hyerin terus berjalan hingga dia tidak tahu lagi apa yang sedang dilakukannya.
Orang-orang dengan sendirinya memberi Hyerin jalan memasang mata dan ekspresi yang sama. Tentu saja mereka bertanya-tanya memutar mata menatap heran. Ada satu aturan yang dipahami Hyerin jika tidak ada roh biasa yang sanggup bertahan dalam kabut itu, dan satu hal yang mereka pahami jika tidak ada bangsa mereka yang memiliki wujud dan rupa seperti Hyerin.
"Rai aku sudah menunggu!" Batin Hyerin. Mata yang tak sedetikpun berpaling fokus menatap Rai di depan matanya. Tapi waktu tak bergulir lama, singkat semuanya menghilang. Rasanya seperti menerima satu Sambaran petir di siang hari. Hatinya terhenyak kaget, hanyut dalam pandangan yang baru saja dia dapat. Nampak seperti mimpi, tapi segenap hatinya tak terima jika itu disebut mimpi.
Hyerin mencari kesemua sisi, rasa kecewa langsung membuat hatinya sesak. Padahal tadi sudah terlihat, Rai ada di depan mata dalam penglihatannya tapi sekarang sudah menghilang lagi.
Nanar rasanya seperti dipermainkan dengan sebuah takdir yang tak pernah dia harapkan sama sekali. Mengapa kali ini lebih sakit dari sebelumnya.
Bahkan Hyerin tak sadar dia sudah tersungkur sujud di atas tanah sendirian menangisi sesuatu yang membuatnya harus berulangkali merasa kecewa.
Dia yakin jika penglihatannya itu tidak salah, tapi apa yang dilakukan dengan takdir? Mengapa Rai menghilang lagi dan entah pergi kemana.
Sekarang apa yang bisa dilakukannya sendirian? Di tanah asing mencari satu kebenaran takdir yang seperti mimpi buruk. Satu persatu dia harus kehilangan wujud dan peran seorang teman.
Suasana gelap yang masih tenang, sepi tak bergeming. Bahkan tak ada udara dalam atmosfir saat itu, hembusannya hilang, aromanya berganti.
Apakah sekarang hanya dia satu-satunya? Pikir Hyerin sangat kalut. Yang dikhawatirkan jika saat ini dia memang sendirian dan orang-orang sebenarnya pergi ke tempat yang seharusnya. Lantas bagaimana caranya untuk menyusul mereka?
Hyerin mendongak saat telinganya mendengar sebuah langkah lembut mendekat. Dengan sigap dia langsung melakukan ancang-ancang, tak tahu siapa yang datang tapi dia harus hati-hati karena situasi yang semakin tak stabil itu.
Hahaha....
Suara tertawaan yang terdengar tidak asing.
Matanya meneliti ke setiap sudut yang terlihat tapi masih tak nampak.
"Sekarang mau melakukan perjanjian lagi?" Tiba-tiba pertanyaan itu terdengar seperti kata-kata yang pernah diucapkan oleh seorang iblis padanya.
__ADS_1
"Aku di sini!" Ucapnya lagi langsung mengalihkan penglihatan Hyerin.
Benar dengan dugaannya jika iblis sedang berbicara dalam jarak yang tidak begitu jauh dengan tempatnya berdiri.
Hyerin tak bisa lengah dia tahu iblis sangat licik.
"Kita lakukan perjanjian lagi sekarang." Celoteh iblis dengan rupa yang tak pernah bisa dia relakan. Iblis yang berwajah Rai berbicara dengan lantang seolah percaya jika Hyerin bisa terlena dengan perkataannya.
Hyerin diam, sebenarnya dia menahan emosi yang bisa kapan saja meledak.
Sebuah senyuman iblis seperti menampar kasar ke pipinya. Kesan seperti merendahkan Hyerin.
"Tunggu saja. Sekarang sampai saat ini apa kau sudah menyadari sesuatu?" Cetus iblis itu semakin membuat Hyerin kesal.
"Semua orang tidak di sini lagi. Dan aku sudah menawarkan niat baiknya. Akhirnya terserah saja!"
Hyerin terus memperhatikan iblis itu, mencoba mencerna setiap kata yang seperti memberinya sebuah penyesalan. Tapi dia bukan tipe orang yang akan kembali terperosok ke dalam kesalahan yang sama, sesulit apapun asalkan tidak dengan iblis itu.
****
Berdiam diri bukan satu-satunya jalan. Hyerin memutuskan untuk kembali, apapun itu semoga saja dia mendapatkan ketenangan di tempat yang seharusnya.
Ekspresi wajahnya sudah terlihat jengah. Dia harus menata kembali kewarasannya agar bisa merencanakan segala sesuatu sebelum harus melakukan segalanya sendirian.
Matanya hanya bisa menatap sepasang kaki yang berjalan di atas tanah. Semua pandangan dari arah depan, belakang, dan dimana saja yang tampak hanya gelap. Awalnya Hyerin berencana untuk langsung pergi ke tempat tujuannya. Tapi dia tidak begitu percaya diri dan memutuskan untuk berjalan seberapa jauh di tempat itu melihat beberapa tempat. Apakah sangat mungkin jika semua tempat dengan keadaan yang sama? Apakah mungkin?
Hatinya terus bertanya-tanya kadang pertanyaan muncul seberapa jauh dia sudah berjalan. Kadang juga dia berpikir apakah di suatu tempat masih ada orang?
Sejauh yang dirasa hatinya, semua tampak sama dan masih sepi seperti sebelumnya.
__ADS_1
Akhirnya dia harus kecewa lagi dan waktunya untuk menyerah, hanya sampai saat ini?
Langkah gontai mengiringi waktu yang semakin terasa melambat.
Tapi satu detik kemudian pandangan Hyerin berubah, kedua matanya membulat menatap kerlip cahaya lampu yang tergantung di tempat sama. Keriuhan dan tawa orang-orang membuat Hatinya terhenyak kaget, Hyerin hanya bisa percaya jika saat itu dia sedang bermimpi bukan dalam keadaan nyata.
"Yerin!" Teriak Rere dengan senyum yang terlukis di kedua sudut bibirnya.
Hyerin tidak langsung menjawab dia seolah langsung terhipnotis dengan suasana keramaian dan orang-oramg di sana.
Bukannya balik menyambut tapi Hyerin perlahan mundur menolak Rere.
"Kamu dari mana tadi?" Tanya Rere dengan nada bicara dan gaya yang menurut Hyerin masih sama. Tapi dominan hatinya menolak dengan tegas jika perempuan yang ada di hadapannya adalah Rere yang sama.
"Kenapa diam saja? Cepat masuk!" Ajak Rere.
Keyakinan Hyerin semakin bertambah karena saat itu matanya menangkap dengan jelas bahwa Rere tepat berdiri baik-baik saja di dalam kabut itu. Seharusnya kan dia tidak bisa baik-baik saja.
"Apa uang kamu lihat?" Tanya Rere sekali lagi, tapi itu masih tidak berhasil membuat kesadaran Hyerin berpaling padanya.
Beberapa saat kemudian, bola matanya bergerak dan menangkap lagi sorot mata Rere yang langsung membuat Hyerin tak percaya. Tanda mata dan semua kesan yang diperlihatkan menjelaskan jika Rere sama sepertinya, sekarang ini. Dia adalah dewa kematian yang sudah melakukan perjanjian dengan iblis? Masalahnya sejak kapan?
"Oh, sudah lihat." Cetus Rere, sikapnya drastis berubah.
"Kamu sudah melakukannya." Timpal Hyerin menegaskan apa yang dia percayai sekarang tentang Rere.
"Dan semua orang." Timpal Rere seolah mendukung penjelasan Hyerin.
Hyerin terdiam membalas tatapan tajam Rere yang sedikitpun saat ini tidak memperlihatkan sisi baik Rere yang asli. Hyerin seolah sedang berhadapan dengan orang asing di depan matanya. Dan bukan Rere yang sama lagi.
__ADS_1
Apakah semua orang seperti anak kecil itu? Pertanyaan serupa masih membuat pikiran Hyerin terganggu.