
"Apa kita memang perlu kesana lagi?" Tanya Hyerin. "Untuk apa?" Sambungnya lagi. Garis wajah Hyerin sangat jelas memperlihatkan kebingungannya.
"Yerin, kita harus kesana. Aku sangat penasaran sebab di balik kejadian di sana. Apa kamu mau diam saja?" Balas Rere terlihat yang paling antusias.
"Aku tidak terlalu mau ke tempat itu." Timpal Ken. Membuat bola mata Hyerin bergerak memperhatikan ke arahnya.
"Ken kamu sih gak ngerti banget, kita kan harus tahu sebab semua kejadiannya. Itu penting kan!" Rere masih bersikeras dengan pendapatnya.
Hyerin diam merenung, dia berpikir cukup keras untuk masalah ini.
"Apa yang membuat kalian semua ragu? Tujuan kita kan untuk penyelidikan ini." Rere Masih saja berusaha mempengaruhi kedua orang di depannya yang sama-sama diam.
"Yasudah biar aku sendiri saja." Simpul Rere karena tak sabar melihat Hyerin dan Ken yang terlalu berpikir panjang.
"Kita tidak pergi ke sana Re." Seru Hyerin.
"Lantas mau kemana?"
"Kita ke gedung sekolah!" Ucap Hyerin.
"Ia, lebih baik pergi ke sana saja sudah jelas kan di sana orang-orang berkumpul." Ken menguatkan pendapat Hyerin.
Rere terlihat tidak senang, dia bahkan memalingkan wajahnya ke sisi lain.
__ADS_1
"Masalahnya kan bukan di sana, mau apa pergi kesana? Menunda-nunda waktu. Kalau masalahnya lebih besar kan yang terkena imbasnya kita juga." Celoteh Rere dengan nada kesal.
"Benar juga. Ken sebaiknya kita ke sana dulu. Sebentar kita cari sumber masalahnya lalu segera pergi ke gedung sekolah." Imbuh Hyerin mengajak Ken.
"Terserah kamu saja!" Balas Ken.
Akhirnya kesepakatan terjadi, Ken yang hanya bergantung pada keputusan Hyerin bisa langsung setuju untuk pergi lagi ke tempat sebelumnya. Di sana pangkal kejadian berawal.
Jika dipikir-pikir semakin lama banyak kejadian aneh yang membuat semua hati langsung berprasangka buruk. Sangat beralasan mungkin sebabnya memang iblis.
"Semua sudah siap? Kita pergi sekarang!" Seru Rere bersemangat.
Hyerin menganggukkan kepala saat Rere melihat ke arahnya, begitupun yang dilakukan Ken.
Tidak butuh waktu lama. Hanya hitungan detik tak sampai menit mereka bertiga tiba di tempat awal. Rere memilih ketiganya mendarat di kamar yang ditempati Ken.
"Aku hanya menjadi penonton saja." Protes Ken. Dia terlihat menarik napas dan memperhatikan kedua orang wanita yang sibuk melakukan rencananya.
Hyerin berbalik melihat ke arah Rere, dia menggelengkan kepala seperti memberikan isyarat jika di luar tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Sedangkan Rere mengacungkan jempolnya karena sepanjang pengamatan dari balik pintu Rere juga tidak melihat hal apapun di dalam ruangan lain. Keduanya kompak sepakat untuk pergi ke luar melewati ruangan masuk dari pintu kamar itu.
"Aku bagaimana?" Teriak Ken karena terkejut saat keduanya akan pergi meninggalkan dia sendirian di dalam kamar.
Berbarengan Hyerin dan Rere langsung menghentikan Ken, memberikan isyarat agar Ken diam saja di tempat tanpa harus membuat keributan.
__ADS_1
Ken hanya bisa menghela napas lagi, bagaimanapun keputusan yang mereka ambil dia harus terima dengan ikhlas. Akhirnya Ken menganggukkan kepala tanpa mengucapkan apapun.
Hyerin dan Rere kembali berjalan pelan melewati pintu yang sudah berhasil dilaluinya tanpa hambatan, sepasang matanya benar-benar digunakan baik untuk diedarkan ke setiap sudut tanpa celah. Meski semua dilakukan dengan perasaan terpaksa, tentu saja keduanya harus melawan rasa takut yang tak hentinya menyelimuti hati mereka masing-masing. Degup jantung mulai terasa kencang, Hyerin harus menahan gemetar di tangan dan kakinya yang ia seret untuk terus pergi ke arah pintu keluar. Matanya fokus melihat ke arah yang sama dengan Rere. Setidaknya dalam kondisi itu cukup membuat mereka merasa beruntung karena bisa menjalankan rencana bersama dan tidak ada alasan untuk membagi rasa takut keduanya.
Hyerin berhasil lebih awal tiba di balik pintu, dia masih menunggu Rere untuk menyusul yang tertinggal beberapa langkah di belakang. Rere menginstruksikan untuk segera membuka pintu, tapi Hyerin tidak ada keberanian yang cukup untuk menuruti maksud baik Rere.
Perlahan diaturnya rasa gentar karena takut yang dibiarkan beberapa saat mengalir dengan napas yang sedikit demi sedikit keluar dari mulutnya. Meskipun kini sudah menjadi dewa kematian tapi dia tetap saja tidak bisa menghilangkan sepenuhnya perasaan takut yang spontan terjadi saat berpapasan dengan iblis. Apalagi Rere yang hanya roh biasa, dia menghadapi semuanya dengan mengandalkan keberuntungan saja.
Hyerin kembali mengatur napas mengambil persiapan untuk segera membuka pintu. Dan dalam hitungan ketiga pintu pun terbuka lebar.
"Astaga!" Seru Hyerin saat langsung mengedarkan penglihatannya ke luar. Di depan gedung yang masih diselimuti kabut tebal tampak banyak roh yang tergeletak di tanah di sepanjang jalanan. Hyerin langsung mematung kaku dan penglihatannya itu seolah langsung membuat dia sulit bernapas. Entah apa yang terjadi sebenarnya mengapa rasanya kejadian itu sama seperti ketika Rere yang pingsan di depan pintu. "Rere!" Gumamnya cemas. Hyerin berbalik dan melihat Rere yang juga tergeletak di lantai gedung. Sekarang lengkap sudah perasaan was-was nya bercampur menjadi satu. Hyerin tertatih berjalan ke arah Rere.
"Jangan bercanda Re!"
"Rere!"
Beberapa kali Hyerin membangunkan Rere dengan memanggil dan menggoyangkan tubuhnya, tapi Rere tak merespon juga. Rere tetap pingsan seperti kejadian awal tadi. Pikiran Hyerin langsung mengingatkannya pada Ken, dia langsung pergi ke tempat Ken.
"Ken!" Teriaknya. Saat tiba dengan sisa napas yang masih naik turun dan degup jantung yang tidak bisa berkompromi baik itu menambah suasana menjadi semakin ketir. Ken juga tergeletak di atas kasur seperti pingsan. "Ken!" Teriak lagi Hyerin yang juga tidak direspon Ken.
Sekarang Hyerin benar-benar bingung, apa yang harus dilakukannya? Ken dan Rere juga? Tiba-tiba dia sadar ada sesuatu yang kini mengganggu penglihatannya. Arah kabut yang sudah penuh sesak memasuki gedung dan kabutnya juga sampai di kamar tempat Ken.
Asumsi pertama yang dibisikkan hatinya beranggapan jika saja kedua orang yang bersama Hyerin pingsan karena sebab kabut tebal yang muncul dan memenuhi sisa oksigen di dalam ruangan. Apa bisa terjadi semacam itu?
__ADS_1
Hyerin tak bisa berpikir lebih lama, apalagi harus tetap berdiam diri di tempat yang sama. Bayangan sesuatu yang akan terjadi lebih buruk dari sekarang langsung menghantuinya hingga dia tidak mungkin bisa berpikir waras dalam kondisi seperti sekarang. Hyerin hanya ingat dengan rencananya untuk pergi ke gedung sekolah, rencana itu juga sudah diceritakan bersama kedua orang yang kini menjadi tanggung jawabnya.
Dengan susah payah Hyerin menyeret Rere untuk berdekatan dengan Ken, tujuannya agar dia bisa membawa sekaligus Ken dan Rere pergi. Hyerin mengedarkan lagi penglihatannya ke sekeliling, pemandangannya sudah gelap dan pekat layaknya malam. Tak menunggu waktu Hyerin pergi langsung ke tempat tujuan.