Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Apa yang terjadi?


__ADS_3

Dari kiri dan ke kanan Ken mencari Hyerin yang masih tidak terlihat juga. Lantas kemanakah perginya Hyerin?


Ken semakin cemas dan berjalan ke setiap tempat, saat menuju pergi keluar dia mengintip di balik pintu dari dalam gedung dan di luar sana terlihat banyak sekali orang membuat Ken kembali membatalkan niatnya untuk keluar.


Ding... ding... dong.


Suara jam dinding bergema memecah suasana.


Satu hal yang Ken tahu itu saatnya dia kembali ke tempat semula, Hyerin juga ke tempat itu lagi? Mengingatnya membuat Ken membulatkan matanya dengan cemas.


Secepat cahaya Ken sudah berada di tempat lain lagi, sebuah tempat yang selalu menjadi tempat dia kembali saat jam berdentang menunjukkan pergantian waktu. Dimensi ruang pun juga berubah, warna dan cahaya cerah dari pantulan langit sudah pudar tertutup dinding gedung yang meninggalkan celah besar, juga pernik keragaman nuansa bangunan dan sekitarnya drastis menjadi gambaran gelap dan mencekam. Sekarang bisa tercium lagi bau kotor debu yang berhamburan tersapu angin masuk, ubin keramik lantai berantakan dan sebagian besar tersisa tanah yang sangat lembab.


Satu detik saja Ken tidak bisa membiarkan dirinya diam dan menunggu kecemasan yang semakin menguasai pikirannya. Dia perlu pergi cepat ke tempat yang pasti Hyerin sudah ada di sana.


Tepat di depan penglihatannya sebuah gedung rumah sakit yang usang dan mungkin masih banyak orang tidak berani datang ke tempat ini, kecuali sekarang dirinya karena terpaksa dia harus pergi ke dalam sana lagi.


Matanya menjadi waspada merinci setiap sudut ruangan dengan hati-hati, itu syaratnya jika pergi sendirian ke tempat Hyerin. Telinga yang sudah siap menjangkau suara apapun yang mencurigakan, Ken harus siap dan tetap hati-hati.


Langkahnya mengendap melewati lorong rumah sakit yang dari sisi kanan dan kiri semuanya adalah ruangan pasien, gambaran pintu yang banyak berjajar hanya saja semuanya tidak seutuh awal.

__ADS_1


Tap...tap...tap


Suara langkah terdengar samar, Ken langsung mencari ke setiap tempat dan dia mundur menuju dinding dengan teratur. Dia tidak tahu siapa yang datang sekarang karena dua hal yang memungkinkan, yaitu Hyerin atau iblis yang tinggal di tempat ini? Tapi hatinya berharap itu bukan pertanda bahaya yang akan menjebaknya.


Saat membalikkan wajah Ken terkejut melihat seseorang sudah berdiri dekat di samping kirinya hingga dia terperanjat dan mundur kemudian menabrak dinding di belakang.


Ken meringis sakit, dia baru saja menabrakkan tubuhnya dengan sengaja hingga rasanya lumayan sakit.


"Hyerin." Ucap Ken singkat.


Hyerin tidak menjawab dan masih memandanginya dengan heran. Tepatnya mungkin dia berpikir mengapa Ken Sudi datang ke tempat yang dia takuti dari awal.


Sedangkan Hyerin masih diam dan seolah tak peduli dia berjalan gontai melewati Ken yang saat itu masih berusaha untuk bisa berdiri.


Ken menatap Hyerin dengan penuh tanya, mengapa dia bisa bersikap dingin seperti itu. Semakin penasaran Ken langsung mengejarnya dengan susah payah, hanya saja usahanya tidak berhasil karena saat Ken ingin menangkap lengan tangan Hyerin tapi malah sudah hilang lagi. Padahal Ken sudah susah payah dagang melawan rasa takut dan keraguannya, tapi Hyerin sepertinya tidak tahu dan dengan enteng pergi tanpa mengucapkan apapun, sungguh menyakitkan bukan?


Ken hanya bisa menyesal dan sedikit emosi, sekarang dia tidak tahu pasti kemanakah Hyerin pergi dia tidak tahu harus kemana lagi.


Tidak ingin lebih lama tinggal sendirian Ken menyusul Hyerin meski mungkin tujuan Ken berbeda dengannya. Tidak penting, yang pasti Ken harus pergi dulu.

__ADS_1


Angin berhembus menerbangkan sampah yang berhamburan di badan jalan, bukan sampah dari daun yang berjatuhan karena pohon yang berdiri tegak hanya meninggalkan batang kering dan ranting yang sedikit. Ken berjalan di bawah langit yang masih terlihat sama, sekarang dia berada di lapangan tanah luas tapi tidak lagi dipagari dengan pohon hijau dan rindang semua pemandangan itu hilang sudah tidak ada yang tersisa hanya batang pohon yang sudah ditebang. Akhirnya terkesan tandus.


Ken duduk tenang menyaksikan semua sisi yang terlihat di depan matanya. Tak peduli pemandangan sudah berubah tapi di tempat itu Ken masih merasakan kesan yang sama, tidak lain kenangannya saat bersama Sani dulu.


Ketenangan yang dirasakan Ken tidak berlangsung lama, dari kejauhan Ken melihat ada seseorang yang berlari dengan susah payah. Ken terus memperhatikannya dan mulai bertanya-tanya hal apa yang sedang dia takuti sampai berlari seperti itu?


Seorang roh berlari ketakutan ke arah Ken, dia berlari dan melambaikan tangan membuat Ken langsung memperhatikannya dengan serius. Saat Ken bangkit dan berusaha mendekat tiba-tiba saja orang itu langsung mematung lemas dengan mata yang melotot dan langsung berubah menjadi abu.


Ken melotot tak percaya, satu alasan yang dia tahu jika terjadi sesuatu seperti itu mungkin karena ulah iblis karena hanya iblis yang bisa melakukannya. Rasanya Ken langsung merasa lemas dan tidak bisa membendung perasaan takut, tapi dia penasaran dari mana datangnya iblis itu? Mengapa di sepanjang yang dia lihat dari arah depan, samping kiri, kanan, dan belakang tidak ada apapun lagi. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?


Ken merasa harus pergi lagi lebih baik dia pergi ke tempat tertutup seperti gedung, dia yakin di luar tidak menjamin keselamatannya dan juga kejadian itu mengingatkan Ken akan kejadian yang sudah berlalu, sebuah pembantaian yang dilakukan iblis kepada roh yang ada di dekat pusat alun-alun kota.


Bagaimana jika kejadian itu berulang lagi? Pikir Ken cemas. Di dalam gedung gelap yang tak lain adalah salah satu gedung yang ada di kota tempat Ken datang, di sana dia diam membisu sendirian karena Ken tidak melihat ada penghuni sebelumnya yang masih tinggal. Ken cemas dia sangat ketakutan jika kejadian itu berulang lagi.


"Tidak. Hyerin?" Ucap Ken dengan nada was-was. Ken ingat harus memberitahukan kejadian yang dilihatnya pada Hyerin, karena dia belum memiliki kesempatan sebelumnya dan sampai sekarang Hyerin pasti tidak tahu apa-apa.


Beban pikirannya semakin menjadi-jadi. Tekanan yang dirasakan batinnya tak kunjung selesai, apalagi masalah yang terus dihadapi selalu saja ada alasan untuk datang lagi.


Ken pergi lagi dari tempat itu, dia mengingat sesuatu jika Hyerin selalu datang ke alun-alun kota di sana Ken selalu menemukannya sendirian berjalan atau melamun di taman kota. Mungkin sekarang dia di sana.

__ADS_1


Berat rasanya harus pergi ke tempat itu karena Ken tahu jika keributan sebelumnya terjadi di sana, tapi bagaimana lagi dia harus memastikan sesuatu dan mencari Hyerin.


__ADS_2