
Rai kembali lagi ke tempatnya dengan perasaan yang akan terus menyiksa batin lagi. Sekarang dia lebih tidak tenang karena Hyerin sudah hidup lagi di tengah-tengah kehidupan yang berbeda dengannya.
Saat pikirannya terus melayang membawanya terlarut dalam lamunan panjang, tiba-tiba sebuah ingatan menarik kesadarannya untuk menemui orang-orang di perkumpulan itu. Rai ingat jika ada sebuah janji yang akan mempertemukannya dengan seorang yang penting dan yang lebih tahu akan menjelaskan semua masalah dan insiden yang tidak diketahuinya tentang Hyerin.
Tanpa menunggu waktu Rai langsung pergi lagi menuju gedung untuk menemui yang lainnya. Tapi langkahnya terhenti saat dia bersiap ingin keluar. Di depan matanya tampak seorang wanita yang sudah tersenyum lebar padanya. Sebaliknya dengan Rai yang langsung membulatkan mata tanda khawatir dan segera menarik lengan wanita itu untuk dibawanya pergi sekalian.
"Kenapa datang lagi ke gedung? Kamu kan sudah melihat sendiri bagaimana IBLIS itu ada di sana." Omel Rai yang amarahnya langsung tumpah. Dia sebenarnya sangat khawatir karena Rai tidak mengharapkan siapapun akan menjadi korban lagi.
"Tidak penting." Ucap wanita itu yang langsung menghilang di hadapan Rai. Rai bahkan tidak sempat untuk mengomelinya lagi lebih lama, tapi wanig
a yang tidak diketahui namanya itu sudah hilang lagi. Terdengar tidak masalah Rai menduga akan menemuinya lagi di tempat itu.
Rai sudah ada di sebuah gedung yang masih ramai. Kakinya sudah bersiap untuk menginjakkan kaki dan masuk ke dalam gedung.
Ding.. Ding..
Suara jarum jam berdenging lagi, pergantian waktu di waktu dan tempat yang tepat bagi Rai. Karena artinya keadaan akan berubah dan pemandangannya yang dia lihat sekarang juga akan hilang.
Rai masih berdiri mematung, sedangkan roh lain sudah menghilang dengan sendirinya dan kembali ke tempat yang paling pantas, kecuali Rai karena dia adalah dewa kematian.
Rai melanjutkan lagi langkah kakinya, dia sekarang sedikit merasa percaya diri karena tidak ada keramaian manusia.
"Wanita itu." Sebut Rai dan bersiap untuk menghampiri lagi.
Seperti yang terlihat wanita itu sudah hilang lagi. Membuat Rai hanya bisa menggelengkan kepala. Tidak masalah karena tujuannya untuk menemui orang-orang di dalam ruangan itu.
Rai masuk ke dalam ruangan yang seperti biasa sudah dijanjikan sejak awal. Tapi dia tidak melihat ada satupun orang, kecuali ada Ken.
__ADS_1
Perasaan Rai berbeda saat melihat Ken, selain dia penasaran mengapa Ken bergabung dengan perkumpulan ini Rai juga penasaran apa yang ingin dilakukan Ken terhadapnya jika sudah ada dalam ruangan yang sama dan hanya ada mereka berdua.
Rai melihat dari kejauhan, dia tetap menjaga jaraknya , begitupun Rai yang masih tetap diam tidak mengawali pembicaraan. Padahal Rai melihat jika sesekali Ken memastikan ke arahnya. Tapi yang terjadi keduanya masih saling diam.
Rai melihat lagi ke arah Ken, dan Ken langsung memalingkan wajahnya bersikap seperti tidak menyadari ada Rai di tempat yang sama dengannya.
Rai mengerti jika Ken sama sepertinya, tidak bisa mengawali pembicaraan bahkan sebuah obrolan ringan yang akan membuat Rai merasa tidak bersalah lagi tentang insiden Sani.
Waktu terus berlalu. Rai sudah bosan karena tidak ada orang-orang kali ini yang ada di ruangan, setengah mati kesal dan jenuh.
"Kamu harus jauhi wanita itu!" Cetus Ken menghalau lamunan Rai dan langsung memperhatikan ke arah Ken.
"Wanita? Siapa?" Tanya Rai tidak mengerti.
"Wanita yang belum menyebutkan nama." Jelas Ken singkat.
Rai terus terpikirkan tentang pernyataan Ken.
"Mau apa kesini?" Tanya seorang wanita yang suaranya tidak asing bagi Rai.
Gisya memandangi Rai dengan heran.
"Ada janji kan?" Jawab Rai singkat.
Gisya kembali mengingat setelah perkumpulan itu, dia harusnya sudah mempertemukan Rai dengan orang itu.
Dari diamnya Gisya membuat Rai langsung mengerti artinya.
__ADS_1
"Waktunya juga belum ditentukan, kenapa juga kamu harus cepat ke sini?" Gisya terus menyalahkan Rai.
Rai tidak melihat kemarahan Gisya, melainkan perasaan tidak amannya seperti ada sesuatu yang disembunyikan.
"Aku sudah bertemu dengan Ken. Dia sudah bicara semuanya." Ucap Rai dengan mata yang teliti terus melihat ke arah Gisya.
Seperti dugaannya ada sesuatu yang disembunyikan dari ekspresi Gisya saat mendengar kabar itu.
Gisya tidak menjawab dan bicara lagi. Dia diam menunggu Rai selanjutnya.
"Kenapa harus disembunyikan semuanya? Sekarang apakah aku tidak bisa dipercayai?" Tanya Rai terus menekan Gisya yang saat itu sudah tidak bisa mengatakan apapun lagi.
"Lupakan saja Ken dan ucapannya. Dia juga bukan anggota dari kelompok ini lagi!" Terang Gisya menambah penasaran.
Rai tidak mengerti apa maksudnya. Dia tidak meladeni lagi Gisya dan tanpa berkata apapun Rai langsung pergi ke tempatnya.
Di gedung rumah sakit itu hanya ada dirinya lagi seorang, tidak ada siapapun termasuk iblis itu yang sudah tidak terlihat.
Rai merasakan banyak keanehan. Sesaat pikirannya menjelaskan jika Gisya berpihak padanya, tapi kemudian Gisya berubah dan balik mengasingkan Ken, menyatakan jika Ken sekarang bukan bagian dari mereka. Tapi sebelumnya Ken malah memperingatkan jika dirinya harus berhati-hati pada wanita yang belum menyebutkan namanya.
Rai terus berpikiran cukup keras, membolak balik seisi pikirannya yang tidak membaurkan dia cepat mengerti dan memahami kondisi yang dia alami sendiri. Rai tidak bisa menjamin jika salah satu dari mereka mungkin membahayakan atau tidak berpihak padanya. Tujuannya hanya ingin menyelamatkan Hyerin dengan bantuan mereka.
Rai cukup bingung dan masih tidak bisa beranjak dari tempat tidur yang ada di kamar Hyerin dulu.
Sekilas pikirannya kembali melayang pada Hyerin yang terus menghantui. Kesadarannya yang cukup waras untuk mengharapkan Hyerin setelah berabad lamanya. Apa sekarang adalah batasannya? Harus merelakan Hyerin dan menghentikan semua usahanya.
Mengingat umurnya yang tidak lama, Rai sedikit terganggu dan tidak bisa membuat dirinya aman dalam satu kondisi. Jika dia tidak ada dengan sendirinya mungkin tidak akan ada bedanya jika usaha yang dilakukannya sekarang kembali sia-sia. Tapi usaha apa yang bisa dilakukannya jika saja umurnya terbatas, tidak ada cara dan jalan lain mungkin jika ada dia tidak akan pernah melakukan perjanjian itu hingga membuatnya terus merasa bersalah seperti ini. Andai saja dia tidak pernah melakukannya mungkin hidupnya akan berjalan seperti roda yang berputar. Bereinkarnasi dan menjalani takdir sebagai pasangan Hyerin atau sebagai siapapun itu di masa depan. Tapi penyesalan tidak dibutuhkan lagi karena semua sudah terlanjur dia lakukan. Rai hanya harus membuka mata dan memikirkan pilihannya selanjutnya.
__ADS_1