
"Kau sudah sadar belum?" Tanya Rere serius.
"Gak penting!" Ucap Ken berniat pergi dari hadapan Rere.
Tak disangka Rere menahannya lagi.
"Aku akan mengatakan semuanya jadi tolong jangan bertanya pada Yerin lagi!" Cetus Rere seperti orang yang tahu segalanya.
Mendengarnya Ken langsung memalingkan wajah, dia tidak tertarik dengan kata-kata Rere dan sikapnya yang so tahu.
"Dia cukup banyak tertekan Ken. Kau harus paham bagaimana kondisi hatinya Yerin saat ini." Rere terus memperingatkan sesuatu hal yang tidak bisa Ken pahami dari sudut pandangnya.
"Tentang apa? Aku tidak tahu apa-apa. Sekarang jika aku bertanya mengapa itu jadi salah?" Elak Ken membela diri.
"Tidak sekarang dan lupakan saja semoga aku tidak berubah pikiran harus mengatakannya padamu." Gerutu Rere sambil menarik napas.
Ken semakin bingung dia segera menarik lengan Rere hingga membawanya ke tempat lain. Kebetulan saat itu teman Rere tidak bersamanya jadi tidak ada yang menyulitkan Ken.
"Apa Ken lepas! Kau seenaknya seperti ini. Kau bisa saja membunuh kita berdua jika seenaknya seperti ini." Protes Rere kesal.
Ken melihat dan menggelengkan kepala.
"Sekarang kau bebas kan mengatakannya padaku? Cepat katakan apa?" Tekan Ken terlihat menantang.
Rere memandanginya penuh emosi, selain karena Ken yang asal berpindah tempat tanpa bertanya dan juga sikap Ken yang tidak sabar dari awal, apalagi saat bersikeras bertanya pada Hyerin, dan semua hal itu tidak disukai Rere. Padahal Ken tidak tahu apa-apa dia merasa wajar melakukan apapun sampai Rere menyerah dan berbicara padanya.
Ken diam berusaha menahan emosi yang dia pendam di hatinya, tapi melihat Rere yang keras kepala dan tidak mengindahkan sedikitpun permintaannya bagaimana bisa Ken terus menahan sabar.
"Aku bisa membunuh mu sekarang kan!" Ancam Ken yang tanpa diduga langsung menarik Rere menahan kepalanya dengan kedua tangan. Rere merintih sakit tapi masih belum membuat Ken peduli.
"Kau sudah memburu kami dari awal, apa ini rencana mu untuk kembali menjebak Hyerin dan membawanya pergi lagi? Kau pikir siapa bisa seenaknya seperti itu?" Emosi Ken kian tak tertahan membuat dia terus mengatakan segala hal, apalagi tuduhan Ken menggambarkan sudut pandangnya tentang Rere.
"Aaaa.. Ken sadar!" Teriak Rere tidak diindahkan Ken, yang dia mau hanya Rere yang akan menceritakan segalanya sekarang.
__ADS_1
"Jangan pikir karena Hyerin mudah ditipu kau juga bisa seenaknya melibatkan ku ke dalam rencana busuk dengan iblis ya! Dan sebaiknya kau mati saja itu cukup." Ken mengoceh seperti orang yang sudah kehilangan kesadarannya. Padahal jelas terlihat Rere semakin kesulitan dan sakit di lehernya karena ulah kedua tangan Ken. Sebisa mungkin tangan mungil Rere dan sisa tenaganya yang tidak banyak terus memberontak ingin melepaskan siksaan Ken
Tidak lama Ken langsung melepaskan tangan dan mendorong Rere hingga dia tersungkur ke tanah. Ken berteriak kesal, padahal apa salahnya? Apa karena memang Hyerin sudah tidak menginginkannya lagi? Mengapa rasanya jika memikirkan hal itu sesaat membuat Ken tidak bisa tenang dan sabar, dia marah karena sepenuhnya Ken berharap jika Hyerin yang akan selalu bergantung padanya.
"Kau gila Ken! Kau tidak pantas untuk tahu apapun." Celoteh Rere masih sempat mempersulit hati Ken untuk sabar.
Spontan Ken melihatnya dengan penuh amarah.
"Sekarang kau tidak terlihat seperti perempuan di mataku!" Ucap Ken singkat.
Sesaat melihat cara Ken melihatnya dan dari ekspresi yang dia lihat membuat Rere ketakutan sendiri.
"Aku akan mengatakannya!" Seru Rere berusaha meredamkan situasi yang sekilas terasa menyudutkannya.
"Jangan basa-basi lagi!" Timpal Ken merasa sudah tidak sabar.
"Baik aku akan mengatakannya!" Jawab Rere terbata dan masih berusaha menjaga jarak dengan Ken.
"Kenapa kamu ingin aku bertemu dengan iblis?" Tanya Hyerin saat diam-diam bertemu dengan Rere di satu tempat yang kedatangannya itu membuat Rere tak percaya.
"Kamu kesini juga?" Ucap Rere spontan karena tak percaya.
Hyerin diam memandang Rere berharap ingin cepat mendengar sebuah jawaban.
"Aku tidak bermaksud sebenarnya. Aku dan temanku benar-benar tidak berniat untuk membawa kalian sebagai perjanjian dengan iblis. Aku tidak berbohong kau bisa percaya kan?" Celoteh Rere berusaha ingin meyakinkan Hyerin.
"Bukannya kau ingin menjadikanku sebagai jaminan?" Tanya Hyerin menebaknya.
Rere terlihat terus mencari alasan dan itu membuatnya kesulitan. "Aku tidak seperti itu Yerin itu tidak mungkin!" Rere masih bersikeras menyangkal meski perasaan gugupnya tidak bisa dia tutupi.
Sebaliknya Hyerin diam tidak kembali melanjutkan kata-katanya untuk mengomentari alasan Rere.
Rere semakin gelisah dia sudah tidak tenang berdiam diri.
__ADS_1
"Re dimana?" Sebuah teriakkan membuat Rere langsung terjaga. Terburu-buru dia menarik lengan Hyerin dan langsung membawanya ke tempat lain.
Ternyata itu adalah temannya yang sedang mencari Rere.
Rere menghela napas lega akhirnya dia bisa pergi menghindar.
Sedangkan Hyerin masih diam dan menunggu jawaban, dia tidak protes bahkan jika harus pergi lagi ke tempat lain.
"Sekarang aku akan menceritakannya." Ucap Rere masih mengatur napasnya.
"Aku akan mengatakan semuanya dengan jujur jadi tolong kamu harus percaya. Pertama semua ini adalah rencana temanku, tapi bisa dikatakan juga karena persetujuanku. Dalam satu sisi aku tidak bisa membiarkan kedua sahabatku yang sekarang entah bagaimana nasibnya. Iblis mengatakan semua hal hingga dia ingin kamu dan Ken datang ke sana." Jelas Rere tapi perkataannya terkesan belum selesai.
Hyerin mengerutkan dahi tanda masih tidak puas. "Untuk apa aku ke sana?" Tanya Hyerin mulai merespon.
"Sayangnya aku tidak tahu. Tapi dari awal aku sangat tidak bisa melakukan itu karena bagaimana bisa aku menyerahkan kalian hanya untuk menyelamatkan sahabatku. Itu juga bukan salah kalian." Ucap Rere terdengar menyesal.
"Kapan aku bisa menemui iblis itu?" Tanya Hyerin.
Mendengar nya Rere langsung mematung tak percaya, seperti Hyerin sedang ingin memudahkan tujuannya dan itu membuat Rere sangat senang.
"Kau ingin melakukannya?" Komentar Rere karena saking senangnya dia sampai tidak memperhatikan raut wajah Hyerin.
"Aku bisa menemui iblis sekarang, kita bisa pergi?" Hyerin bertanya lagi.
"Tunggu! Tapi aku akan mengajak temanku juga, itu tak masalah kan?" Cetus Rere teringat dengan temannya.
Persetujuan yang mudah diberikan Hyerin membuat Rere mengerti setelah semuanya terlambat.
Awalnya dengan percaya diri Rere datang dan temannya juga Hyerin sendirian. Rere benar-benar tidak bertanya mengapa dia sendirian tanpa Ken atau sedikitpun merasa sesuatu yang aneh dari sikapnya. Di sana sesuatu terjadi tanpa diharapkan bahkan akan menjadi kesaksian Rere yang tidak pernah bisa dilupakannya.
Iblis mengingkari janji yang dia suguhkan hanya sehelai kain yang tersisa, karena kedua sahabat Rere sudah tiada. Tapi iblis serakah dia langsung membawa Hyerin tanpa mengatakan apapun, Rere bisa melihat saat Hyerin harus pergi bersama iblis karena kesalahannya dan dia sangat menyesal mengapa harus percaya kepada iblis yang jelas tidak bisa memegang janji. Rere kehilangan kedua sahabat yang sangat berarti sekaligus kehilangan Hyerin.
Penyelidikan besar dilakukan oleh Rere dan beberapa orang yang berpihak kepadanya. Merupakan rencana yang sangat beresiko karena harus mengirim orang ke tempat iblis dan melakukan banyak rencana di sana.
__ADS_1