Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Misi Ken


__ADS_3

"Tolong kalian jangan sampai bersikap ceroboh. Ingat kalian tidak boleh terlalu menunjukkan diri seperti tadi. Keadaannya tidak sesantai yang kalian pikirkan. Setiap kabar akan kalian dengar sendiri setelah ini, dan lakukan semuanya dengan hati-hati." Ucap Rai lebih terlihat khawatir.


Ken yang saat itu bersama Sani terlihat lebih senang karena temannya Sani sudah ada bersamanya lagi. Dia tersenyum saat kembali menatap Sani.


"Apa yang kalian lakukan lagi? Aku berbicara di sini." Ucap Rai kesal.


Ken hanya menatap Rai dan mentertawakan nya merasa dia tidak melakukan kesalahan. Mungkin Rai hanya iri melihat kedekatannya dengan Sani.


Sani yang melihat tingkah Ken seperti sependapat, untuk bersama mempermainkan Rai, dia pun ikut tertawa.


"Baiklah lakukan apa yang kalian mau!" Ucap Rai dan bersiap untuk pergi dari tempat itu.


"Jangan tersinggung dulu!" Cegah Ken. "Kami tidak tahu apa yang akan kami lakukan berdua, kami bahkan tidak tahu siapa kau." Jelas ya berhasil menghentikan Rai.


Rai berdecak kesal, dia sudah melupakan sesuatu yang penting. "Kalian roh tapi tidak bisa melakukannya sendiri, kenapa harus bertanya jika ada cara lain." Ocehan Rai yang terdengar lebih kesal dan menyalahkan.


Ken kembali memandangi Sani seperti bertanya apa yang sudah salah?


"Ingat ini ya!" Ucap Rai dan memandangi sorot mata Ken seperti mentransfer kata-kata dan identitasnya melalui pikiran.


Ken tertegun, dia tidak bicara seperti tadi lagi.


"Ingat, jika pergi maka harus kembali lagi ke sini!" Ucap lagi Rai yang langsung hilang dari hadapan ke duanya.


Sani cukup penasaran dengan reaksi Ken saat itu. Menurut matanya Ken sangat aneh, Ken langsung terdiam dan tidak bereaksi setelah mendapat sesuatu dari lelaki tadi.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Sani membisik.


"Dia yang kita cari." Ucap Ken singkat.


Sani hanya melihat mata Ken yang sangat ketakutan saat itu. Firasat nya mengatakan jika ada sesuatu yang salah, dia harus tahu.


"Jelaskan saja apa itu?" Tanya Sani.


Ken masih tidak menjawab, seperti jiwanya belum sepenuhnya sadar dan tertahan dalam ingatan yang baru saja dia terima dari Rai.


"Jawab Ken!" Sani sedikit membentak.


Ken baru bereaksi setelah mendengar suara Sani.


"Tidak ada. Em akan ku jelaskan, tapi sekarang yang terpenting..."

__ADS_1


Ding... dong...


Suara jam kembali terdengar lagi sampai perkataan Ken berhenti. "Kita bertemu lagi di sini!" Teriak Ken saat itu sebelum dia kehilangan Sani dan sebelum keadaan langsung berubah. Suara jam dinding itu kembali menarik Ken dan Sani ke tempat asalnya. Ken yang masih khawatir mencoba menenangkan dirinya, semoga saja kata-katanya tadi sampai dan didengarkan oleh Sani, dan mereka akan bertemu di tempat itu lagi.


Di tempat Ken, sebuah gedung yang sangat ramai didatangi manusia. Kini adalah waktu kehidupan manusia. Ken tidak langsung pergi lagi ke gedung di mana yang dia janjikan untuk kembali lagi bertemu dengan Sani. Ken terlihat sangat sedih, gusar dengan hal yang memenuhi pikirannya saat itu juga.


Berulangkali Ken berjalan satu arah, bolak-balik berjalan satu arah.


Ken tidak bisa tenang dengan yang dia dapatkan dalam penglihatan tadi dari Rai.


Ken tidak pernah menyangka jika pertemuannya dengan Rai bisa semudah itu, dia sangat tidak percaya. Informasi yang terakhir dia dengar adalah Rai dan Hyerin dua orang yang harus dia cari tahu sendiri dengan hati-hati. Tapi Ken belum mendapatkan informasi bahwa Hyerin sudah hidup kembali, bagaimana bisa? Dan apa artinya?


Dan tentang Tania. Tania ternyata sudah tidak ada karena suatu tragedi yang terjadi, dalam insiden itupun ada Hyerin dan Rai. Sebenarnya apa yang terjadi?


Ken mulai memikirkannya sebagai salah satu pengamat. Dia fokus dan menimbang semua kejadian yang dilihatnya.


Selain dari dua fakta itu, Ken tidak mendapatkan lebih informasi karena Rai terlalu singkat memberinya kesempatan. Tapi apakah salah jika langsung bertanya pada Rai? Pikirnya, Ken mulai berpikir untuk lebih baik bekerjasama dengan Rai bukan melakukan semua misinya dengan diam-diam. Apakah hal tersebut terdengar salah?


Dalam hatinya Ken bimbang, dia tidak bisa mengabaikan pesan dari orang sebelumnya. Memang benar jika menjalankan misi secara diam-diam hal itu bisa meningkatkan kemungkinan dia selamat, tapi bagaimana jadinya jika Kem sudah lebih awal diketahui oleh Rai. Sama saja bohong. Yang paling mudah sekarang itu hanya mengajak Rai untuk bekerja sama.


Setelah lama memikirkannya Ken memutuskan untuk kembali ke tempat tadi, mungkin Sani sudah ada di tempat itu juga.


"Lama sekali." Gerutu Sani seketika mendapati Ken baru saja datang.


Ken tidak langsung menanggapi.


Ken memastikan sesuatu, dia melihat ke semua arah, ternyata tidak ada siapapun.


Ken mengalihkan pandangannya ke arah Sani dan memberinya tanda untuk segera masuk ke dalam ruangan.


Sani langsung bisa menangkap maksud Ken saat itu. Yang pasti Ken akan memberitahu ya semua informasi yang belum sempat dia sampaikan.


"Dengar yang aku sampaikan. Pertama kamu harus mengerti jika situasi sekarang sangat berbahaya." Ucap Ken setengah berbisik.


"Kita akan saling menunggu di tempat yang sama dalam waktu tertentu." Ken lanjut menjelaskan dengan detail.


"Langsung saja pada intinya." Pinta Sani yang sudah tidak sabar. "Bagaimana dengan Tania?" Tanyanya lagi.


"Akan ku ceritakan dari awal." Jelas Ken.


"Bagaimana dengan Tania?" Tanya lagi Sani untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Ken terlihat membuang napas. "Dia sudah tidak ada."


"Apa yang kau katakan?" Protes Sani tidak terima.


"Semuanya aku lihat sendiri dari Rai." Jelas Ken yang menunjukkan sedikit kesal karena sikap Sani yang terus menanyai Tania, padahal jauh dalam hatinya dia tidak ingin mengingat lagi Tania dan tentang insiden itu.


Sani membulatkan mata. "Siapa Rai?" Tanyanya mulai serius.


"Rai adalah lelaki yang kemarin."


"Oh jadi dia yang akan kita cari tahu." Sambung Sani mencela perkataan Ken.


Ken hanya menganggukkan kepala. Dia bingung dan berpikir apakah tentang insiden itu sebaiknya hanya dia yang tahu? Melihat Sani yang masih tidak mengerti seperti ini menunjukkan tidak akan ada untungnya juga.


"Lantas bagaimana dengan Tania?" Pertanyaan yang sama dari Sani terdengar lagi.


Ken semakin gelisah, dia tidak bisa mengatakan semuanya tapi di sisi lain Ken juga sangat tidak bisa berbohong. "Dia sudah tidak ada." Ucap Ken.


"Sebabnya dia tidak ada kenapa? Kau pasti melihatnya kan dari orang itu?"


Mendengar pertanyaan Sani bagaikan di sambar petir. Ken terus mencari alasannya yang bisa dia sampaikan tanpa mencurigakan.


"Tidak ada. Sudahlah!" Ucap Kem yang tidak bisa menyembunyikan sikapnya yang gusar.


"Kenapa dengan Tania? Kamu pasti tahu kan Ken?" Tanya lagi Sani bersikeras.


"Sudahlah Sani, sekarang kita fokus dengan keselamatan kita saja dan misi yang akan kita cari. Jangan bertanya sesuatu yang sudah terjadi." Jelas Ken sudah sangat putus asa menyampaikannya pada Sani.


"Apa yang kau katakan? Hal itu tidak penting? Kamu sudah melupakan Tania?"


Lagi-lagi pernyataan itu, Ken tidak menjawabnya karena kesal. Dia juga tidak ada jawaban untuk pertanyaan Sani. Dan juga Ken tidak ingin berdebat.


Sani mulai kesal. Dia tidak bertanya lagi apa yang ingin dia ketahui tentang temannya itu. Akhirnya Sani hanya diam cemberut dan duduk di atas kursi.


Ken sesekali melihat ke arah Sani, tapi dia tidak mengatakan apapun juga. Ken tidak bisa membuat Sani lebih takut dan khawatir dari sekarang. Biar saja sementara dia sendiri yang menyimpan semuanya.


"Baiklah yang kita lakukan sekarang adalah mengikuti Rai, bisa memintanya untuk pergi bersama atau menawarkan diri untuk ikut." Jelas Rai yang mengabaikan bagaimana situasinya saat itu.


Sani langsung bangkit dari duduk. "Apa yang kamu katakan, mengikutinya? Secara terang-terangan? Tanya Sani merasa terkejut dengan pernyataan Ken.


"Sudahlah Sani, kamu hanya perlu mengikuti instruksi dari ku saja kan!" Jawab Ken tegas.

__ADS_1


__ADS_2